
Keysa
Semoga malammu menyenangkan. Maaf, kehadiranku mengganggumu. Jaga kesehatan, ya, dan jika bisa usahakan jangan tidur lama. Aku harap, kau selalu baik-baik saja di sana.
Night, nice dream, Babe!
Navroy
Thank's. Sorry, aku baru membaca pesanmu dan beberapa sebelumnya. Dan juga, aku sangat minta maaf tidak sempat menemuimu tadi, teman-teman bersamaku.
Aku menatap sekali lagi isi chat itu yang telah berulang kali terbaca.
Mengapa? Apa dia malu?
Berusaha keras aku menepis prasangka buruk ini dan tetap berpikir positif tentangnya. Namun, tetap saja airmata menetes begitu saja di wajah dan meninggalkan efek dingin karena angin malam yang menerpa seketika. Aku memang sedang duduk terdiam menatap langit cerah penuh bintang malam ini, di atas mobil pick-up yang sedang melaju cepat keluar ke jalan metro tol ini—sengaja menumpang hingga di pantai.
Mataku terpejam. Seberharga itukah kau, Navroy? Hingga, aku bahkan tak mengenali diriku saat ini, hanya karena dirimu?
Dan mirisnya, hatiku membenarkan hal itu.
Entah aku tiba jam berapa di rumah, tapi seketika tubuhku langsung ambruk di kasur karena kelelahan.
"Aduh! Tubuhmu mengapa berat begini, Ms. Pakistan?" Wajahku melongo idiot dengan cemasnya.
Ada orang lain di kamarku? Siapa?
Setelah bangkit dari pembaringan dan mencari sesuatu di sekitarku, tetap saja tidak ada siapa pun kutemukan. Mungkin efek lelah sedari tadi. Bahuku sekilas terangkat lalu kembali menghempaskan tubuh di kasur empuk ini.
"Aduh! Oh, Tuhan! Tubuhku benar-benar remuk!" Rintihan itu terdengar lagi, lalu detik berikutnya tubuhku terdorong ke depan hingga membuatku berguling ke samping, Dengan cepat, mataku melihat siapa di sana.
Tawa renyahku terdengar, saat Farah berusaha mengeluarkan tubuh mungilnya dari selimut. Rambutnya kini sangat berantakan terlebih raut wajah kesakitan dan kesal itu. Seketika tubuhnya kutarik lagi ke dalam kasur saat ia bangkit, lalu menindihnya. Rintihannya yang tak karuan membuatku semakin tertawa.
Hahaha, itulah resikonya yang berniat mengganggu tidurku! Tapi, tunggu! Mengapa gadis itu ada di sini? Bukankah dia berada di Jakarta dan–
Prek! Suara sesuatu tertindih terdengar. Sejenak, kami saling berpandangan, lalu detik berikutnya, mata gadis itu melebar.
"Astaga!" Pekik Farah dengan wajah cemasnya. Kepalaku melongo memandang.
"Ada apa?" Tanyaku polos dengan innocent.
"Kau merusak kejutanku!"
Tawaku menggema dalam ruangan hening ini di telan oleh malam yang larut. Ia mendorongku agar menyingkir, lalu menoleh ke belakang setelah menyingkap selimut tebal itu.
"Astaga, kasur empukku!" Pekikku saat melihat kue tart telah melumer ke mana-mana—akibat tertindih—bahkan dari kotaknya pun.
"Bajuku juga kotor!" Sekilas melirik gadis itu yang tengah prihatin dan membuatku tersenyum.
"Lagi pula, dapat ide dari mana, sih, menyembunyikan tart di bawah selimut? Jadinya kotor, kan! Aku tidak mau tahu, malam ini aku tidur di kamarmu!"
Dan dia malah berjingkat-jingkat kegirangan, lalu berhambur memelukku.
"Selamat ulangtahun! Wish-nya, semoga hibunganmu dengan Navroy langgeng dan bahagia selalu. Aamiin!" Serunya setelah mengecup pipiku.
Langgeng dan bahagia? Navroy?
__ADS_1
Aku tersenyum masam dalam pelukannya.
Sepertinya air bodoh ini mulai menghiasi mataku lagi.
Aku harap juga demikian do’amu terkabul, Far, tapi sayang, dia….
Kami saling berpandangan, ketika ponsel berdering. Setelah mengecek, sekali lagi, aku memandang Farah dan ia balas menatap penuh tanya.
"Siapa?" Bisik sahabatku ini yang masih terdengar olehku.
Ya, video call dari Navroy. Entah mungkin mimpi atau tidak, tapi jika bukan karena Farah yang seketika menyambar ponselku dan mengangkatnya, mungkin aku sudah berpikir telah tidak sehat dan nyaris mendekati gila entah level ke berapa.
Ia tersenyum dalam raut wajah lelahnya.
"Hai." Sapanya masih dalam senyuman. Tubuh sixpack itu tampak begitu polos tanpa balutan kain, dalam screen ponsel lebarku.
"Ya, ampun! Dia terlihat sangat sexy!" Celetuk Farah tiba-tiba menyela, rupanya ia mengintip.
"Farah?"
Suara kekehan Navroy terdengar di antara kami.
"Hehe, maaf. Oke, lanjutkan!" nyengir Farah konyol, lalu sibuk memainkan ponselnya
Mengapa ia bertelanjang dada, sih? Itu benar-benar tidak sehat untuk jantung!
Kekehan Navroy lagi-lagi terdengar di ponsel bersama Farah. Aku baru menyadari, rupanya pikiranku kuucapkan dan membuatku memejamkan mata sembari menunduk karena malu.
Setelah mendesah sejenak. Lalu, "Hai juga. Malam!" alihku. Senyuman khasnya yang begitu indah masih di sana, menatap dalam pandangan teduhnya.
Senyuman simpul terbersit di sudut bibirku. Oh, sepertinya aku menangis. Kuseka pelan-pelan air di sudut mata ini dan tersenyum lebar menatapnya.
"Ini sudah pukul duabelas. So, morning!" Senyumanku lagi-lagi menguap kala mendengar koreksinya.
"Yeah, morning! Kenapa belum tidur? Dan pakaianmu? Bukankah sudah kukatakan jika udara malam tidak baik buat kesehatan, terlebih bertelanjang dada? Kamu selalu kebiasaan seperti itu!"
"Tidak baik buat kesehatan atau jantungmu?” dia mulai bergurau. Kukulum senyumku dan membuat pipi ini memanas karena malu.
Mataku masih terpejam. “Astaga dewana!” tawanya terdengar.
“Kupikir, sudah tak mengingatnya!" Sahutnya setelah senyuman khas itu terbit.
*Sungguh, Tuhan, aku merindukan senyuman itu.
Mengapa setiap detiknya ia selalu berhasil membuatku terpesona*?
Kubiarkan senyuman ini merekah lebar lebih lama sambil dalam tatapan lekatku. "Ya, tentu saja, aku selalu mengingat segala tentangmu. Entahlah, aku juga tidak tahu mengapa," gumamku lalu menunduk dan menatap lantai ini, masih dalam senyuman. Namun, entah mengapa berubah menjadi senyuman kelam.
Rasanya hatiku menangis.
Hening. Ya, sejenak hening, begitu pun dirinya di sana.
"Apa kabar?" Pertanyaannya itu membuatku menengadah memandangnya di layar ponsel, ia menatapku sendu, namun hanya sejenak pandanganku kembali tertunduk berbinar. Aku bisa melihat seberkas airmata menghalangi pandangan ini.
Malam ini, aku seperti merasakan ia kembali. Navroy-ku kembali.
__ADS_1
Kuhirup dalam-dalam oksigen, lalu menghembuskan dengan berat. Berharap, aku bisa menenangkan diriku. Lalu, "Selalu baik ... Ketika mendengar suaramu," lirihku yang membuatnya terdiam. "Aku rindu kamu, Navroy, sangat rindu," lirihku melanjutkan dengan nada suara yang nyaris berbisik.
Dia tersenyum masam di sana saat aku diam-diam meliriknya di balik poni. Sorotan mata itu, entah mengapa menatapku dengan aneh, seperti ... Seperti ada sesuatu yang—entahlah, aku juga tak tahu. Navroy lalu memakai kausnya.
"Baby?" Kepalaku seketika mendongak lagi saat sedari tadi kembali menunduk dan mendengar suaranya memanggil, setelah beberapa sejenak hening.
Astaga, panggilan itu, rasanya begitu meresap ke dalam relung hatiku.
Lagi, aku terdiam dalam pandangan menunduk. Mengusap air mata agar ia tak melihat air bening ini, lalu kembali memandangnya yang menatapku sejenak.
Apa itu? Apa ia menangis?
Seberkas cahaya menempa kedua mata eksotiknya, hingga tampak binar mata itu di sana berkaca-kaca.
"Maaf, akhir-akhir ini mengabaikanmu. Aku hanya … Sibuk," akuinya menjelaskan
Kupaksakan senyum 'baik-baik saja'. Lalu, "Please, jaga kesehatanmu di sana, Babe," Lelaki yang nyaris mirip aktris Rizky Nazar itu mengangguk dalam senyuman lemahnya.
"Kuharap kamu juga begitu,"
Ya, tapi saat ini?
Dia menghela napas panjang, kemudian bangkit dari duduknya. Sejenak, lampu padam tanpa ada penerangan, namun tiba-tiba seberkas cahaya tampak hingga keseluruhan.
Mataku tak kuasa menahan binar airmata ini sembari menutup mulutku dengan telapak tangan. Sungguh, ia berhasil membuatku takjub. Benarkah ini? Oh, astaga!
Sebuah lilin menyala membentuk hati yang di tengahnya tampak sederet lilin kecil, di bentuk sedemikian rupa hingga bertuliskan 'Happy Birthday, Baby', lalu ia berdiri tepat di dekat lilin itu dan mengangkat ponselnya tinggi-tinggi agar terlihat jelas tulisan itu bersama dirinya.
"Happy birthday, Azizam!" Serunya riang yang berhasil membuatku meneteskan airmata.
Azizam? Kekehanku berderai bersama airmata ini sembari tak kuasa menahan wajah haru. Ya, Azizam adalah bahasa Afghanistan yang artinya sama dengan kata Sayang atau kekasih.
"Kamu mengingatnya?"
Ia mengerling dalam binar mata riangnya. "Tentu saja! Ini hari indahmu, Babe. Jadi, sekarang tidurlah!"
Aku mengangguk penuh haru dan bahagia. Sejujurnya, aku masih rindu padanya dan tak ingin menghentikan kebahagiaan ini begitu cepat. Aku masih ingin menatap wajah indah itu berlama-lama, terlebih senyuman khas itu yang selalu memikat. Ia seperti candu bagiku. Ibarat sesuatu yang masih begitu langka.
"I miss you," gumamku menatapnya sendu dalam mata berkaca-kaca, yang terlontar begitu saja.
"More than, i miss you always, My Love," gumamnya tersenyum menatapku, lalu memberikan kissbye ke arahku.
"Nice dream, ya. Harus langsung tidur," Pesannya yang membuatku mengangguk patuh. Senyuman lebar nampak darinya, sebelum ia mematikan telepon. "See you." Lanjutnya yang nyaris berbisik.
Kata-kata itu berhasil membuatku terperanjat. See you? Belum-belum aku mengatakan sesuatu, telepon telah terputus dengan meninggalkan jejak senyuman darinya.
Apa artinya itu?
Pelukan Farah yang tetiba berhambur dengan riangnya membuatku tersentak. "Aku ikut senang! Astaga, ia begitu romantis! Sungguh, kamu beruntung memilikinya! Aku jadi iri padamu!" celetuknya riang yang membuatku tersenyum lebar.
"Dia seperti kembali! Terima kasih, Tuhan! Sudahlah, ayo kita ke kamarmu. Aku sudah sangat lelah dan mengantuk." Sahutku, lalu bergegas turun ke lantai bawah bersama Farah.
Dan kalimat terakhir Navroy berhasil mengganggu malam ini.
Kau tahu, Babe? Kadang-kadang, aku merasa kau juga mencintaiku. Tapi entahlah, tapi yang pasti, kau berhasil mengusap luka itu yang telah berdarah-darah, malam ini. Meski, aku tak tahu esok apa yang kutemukan. Duka, kah? Atau bahagia, kah? Tapi kuharap, senyuman itu Selalu kulihat di hadapanku.
__ADS_1
* * * *