
HARI ini begitu melelahkan. Rasanya, kakiku menjerit kesakitan. Jelas saja, sudah sangat memerah kerana seharian ini begitu disibuki dengan pertemuan klien-klien dan anehnya, mereka mendadak meminta jadwal meeting di lakukan secepatnya. Aku yang tak terbiasa memakai sepatu Heel's, namun karena sebuah tuntutan dalam perusahaan, memang sudah resikonya. Sesampainya di rumah, aku lalu menghempaskan tubuhdi punggung sofa sembari melempar tas dan blazer kelabu yang telah terlepas dari tubuh sedari tadi.
"Hai, baru pulang?" sapa Farah dengan raut wajah semringah, sekilas melirik jam bulat berwarna biru-putih yang menempel di dinding ruang tamu ini.
Rupanya sudah pukul sembilan malam.
"Ya. Dan kamu sendiri, mengundang seseorang kemari?" Selidikku curiga seketika saat melihat puntung rokok di asbak kayu yang tergeletak di meja kaca berbentuk persegi panjang itu.
Matanya terpejam, tapi wajahnya menyimpan kecemasan di sana. "Iya! Dewa tadi kemari dan—"
"Apa harus secepat itu kamu mempercayainya?"
Ya, Tuhan, anak ini kapan berubahnya?
Aku mengusap poniku yang selalu bertengger di kening. Rasa pegal dan nyeri pada kaki seketika hilang dan berubah menjadi kekhawatiran pada gadis itu.
"Memang apa salahnya? Dia hanya berkunjung kemari dan kupikir itu tidak masalah. Semuanya baik-baik saja,"
"Memang tidak ada salahnya dan sebenarnya tidak melarang, Farah. Terlebih, siapapun yang kamu cintai, itu boleh. Tapi, aku harap kamu bisa lebih berhati-hati, oke?"
Gadis itu mengangguk dalam pandangan menunduk, tapi raut wajahnya masih cemas di sana. Lalu detik kemudian, "Coba saja kamu membuka hati, kamu pasti akan mengerti semuanya," gumamnya yang nyaris berbisik namun masih bisa terdengar olehku.
Aku menghela napas dan tersenyum. Jelas sekali raut wajah tidak enak hatinya itu.
"Tidak apa-apa, Farah. Baiklah aku minta maaf jika membuatmu tersinggung. Oh ya, besok aku off kerja. Bisa antar aku berbelanja? Aku mau membeli beberapa helai pakaian." Senyuman Farah seketika terbit. Mudah memang membuatnya tersenyum dan mengembalikan mood-nya. Cukup satu kata kuncinya, belanja!
"Wah, sungguh? Tapi kamu yang Traktir juga, kan?"
Aku terkekeh mendengar antusiasmenya itu.
Sudah kuduga!
"Dasar! Dengar kata belanja sangat antusias begitu!"
"Dan, kamu tahu betul aku!" Serunya riang memelukku, lalu mengecup pipi dan pergi berlalu dengan riangnya.
* * *
"Jadi, kamu di sini tinggal sendiri?" tanyaku dalam aksen Inggris sembari memandangnya yang duduk di sebelahku.
Siang ini, kami memang janjian akan bertemu di sebuah Taman Macan, tentunya atas permintaanku. Tampak orang berlalu-lalang dan setiap sepasang mata yang melintas lagi-lagi menatap kami, begitu memandang dengan aneh. Jelas sekali, aku bisa melihat sorot mata terpesona dalam tatapan kagum mereka ke arah lelaki di sebelahku ini. Tapi yang membuatku terusik, bukan itu. Namun, lelaki ini. Lelaki dengan pandangan lurus ke depan, yang bahkan tak terusik dan dengan tak acuhnya menanggapi tatapan-tatapan yang kelewat sopan itu. Mungkin baginya sudah terbiasa. Jelas memang! Tapi, sepertinya dia tengah memikirkan sesuatu, sesuatu yang berat dan mengusik pikirannya, entah apa. Rambut spike yang kini dicat perunggu, sesekali bergoyang di embus lembut oleh angin, tanpa sedikit pun sorotan mata eksotik itu berkedip.
*Apa ia ada masalah? Tapi, apa?
Mengapa tiba-tiba mencampuri urusan orang begini, sih*?
Aku menghela napas. Lalu, "Navroy?" panggilku yang membuatnya tersentak, lalu menoleh ke arahku. "Ada apa? Apa kamu sibuk?" lanjutku. Dia menggeleng, lalu tersenyum. Jelas sekali, lelaki itu berusaha se-rileks mungkin dan terlihat baik-baik saja.
"Apa ada yang mengganggu pikiranmu?" tanyaku lagi memandangnya cemas yang keluar begitu saja.
Navroy memandang lurus lagi ke depan. Namun kali ini, pandangannya ke arah gadis-gadis yang tersenyum di sana pada lelaki ini. Bahkan, ada yang nekat melambai, namun hanya di balas senyum simpul darinya kemudian menoleh ke arahku.
"Sepertinya dia menyukaimu."
"Lalu?"
"Umm, tidak. Aku bertanya tadi, jadi kamu tinggal sendiri di sini bersama teman-temanmu?"
"Ya, aku pernah memberitahumu, kan, Key?"
Aku mengangguk, lalu menundukkan pandangan. Menatap kedua tanganku yang berada di pangkuanku. Benar-benar tidak bisa mengendalikan rasa ingin tahuku tentangnya.
Sepertinya dia lagi badmood, tapi apa?
"Navroy?"
"Ya?"
"Kamu—"
"Key, sepertinya aku harus kembali dan tidak melakukan ini,"
"Apa?"
O-oh. Apa dia menyesal menemuiku?
Lelaki itu menatap wajahku yang bisa kupastikan tengah berusaha keras menyembunyikan kesedihan, lalu berdiri yang diikuti aku. Tapi tatapannya, tatapan itu seolah-olah seperti—
"Maaf, tapi mungkin lain waktu." Sahutnya akhirnya bicara.
"Benarkah? Maksudku, ya, sepertinya kamu sibuk."
Navroy mengulum senyum, aneh, seperti menyesali sesuatu, namun kali ini hanya melirikku sekilas, lalu mendesah. "Key, tapi percayalah, akan lebih baik jika ini tidak pernah terjadi dan kita tidak saling mengenal," tukasnya menatapku dengan serius seperti ada sesuatu. Dan, kalimatnya itu berhasil membuatku tersinggung. Rasanya menyakitkan.
Mengapa?
__ADS_1
"Kamu mau ikut denganku pulang? Aku bisa mengantarmu," Desahnya bertanya.
Sadar atau tidak, entah mengapa, gelengan kecilku ini begitu saja terjadi dan kali ini tanpa menatapnya. "Tidak, thanks."
Navroy terdiam sejenak, lalu detik berikutnya. "Baiklah." desahnya, lalu berlalu meninggalkanku sendiri di sini dalam pandangan menunduk.
*Aku tak tahu, entah ada apa siang ini. Apa yang terjadi antara aku dengan dirinya dan mengapa bisa terjadi, bahkan membawaku berada di sini. Semakin aku mencari tahu alasan logis dalam diri ini, semakin tak menemukan jawaban apa pun. Namun, mengapa ketika ia pergi, rasanya ada yang aneh? Seperti dalam sebuah dongeng dan mimpi, di mana di sisi lain ada rasa seakan kau menyadari tengah berada di dunia nyata, terjaga dan hanya bermimpi saat itu juga, tetapi mirisnya, rasa sesak dan perih itu terasa menohok dan menghimpit dengan jelasnya.
Mengapa harus sesakit ini saat mendengar kalimatnya yang seolah sebagai peringatan untuk menjauhinya? Ada apa?
Navroy, mungkin Linka benar! Aku mulai menyukaimu, sebagai pengagummu saat ini, bahkan mungkin lebih*!
* * *
"Jadi, bagaimana?" Tanya Farah yang sedari tadi berusaha mengorek privasiku. Seperti biasa, rasa ingin tahu tingkat levelnya itu mulai kumat. Mulutnya sibuk mengunyah makanan. Tapi herannya, pula tak berhenti berceloteh menanyakan tentang lelaki itu.
"Ya, hubunganmu dengan Navroy?" tambahnya lagi, ketika aku memandang dia dengan sok polos.
"Kenapa memangnya?"
"Astaga, aku hanya ingin tahu, bagaimana perkembangannya,"
Tanganku seketika berhenti mengaduk nasi goreng yang tengah kubuat sedari tadi dan beralih memandangnya tajam yang duduk di kursi meja makan tak jauh dariku. Ia masih menikmati sarapan 'ronde pertamanya', dengan roti selai di meja makan kayu bermotif itu.
"Setelah kupikir-pikir, mengapa kamu tidak beralih profesi jadi Reporter saja? Atau Jurnalis? Yeah, sepertinya cocok untukmu," alihku sarkasme asal setelah berdehem dan menghela napas yang membuatnya mendengus. Diam-diam aku tersenyum.
"Pimpinannya tidak jadi menerimaku, karena takut kalah saing cantiknya!" sambarnya asal yang berhasil membuat tawaku meledak.
Dengan tak acuh, ia masih mengunyah roti yang ada di mulutnya. Sebenarnya, aku sengaja menyindirnya atas ketidaksukaanku yang begitu terlalu mencampuri privasiku dan sudah sangat jelas dia tahu itu. Tapi, yeah, bukan Farah namanya jika ia tidak seperti itu, bahkan dengan innocent-nya.
Benar-benar tidak peka, menyebalkan!
Mataku memutar, lalu melanjutkan mengaduk masakan. Cukup memasukkan udang dan cumi yang telah terpotong-potong sebagai bahan terakhir, maka semuanya pun selesai.
"Aku serius, Key?" Desaknya lagi memulai.
Tuh, kan? Sudah kuduga! Selalu pantang menyerah jika hal seperti ini!
Aku menghela napas. "Apa aku terlihat bercanda?" sergahku menimpali. Farah mendesah lagi. Lalu, "Key?" cobanya lagi dengan nada mendesak namun kedengarannya seperti memaksa dan kali ini memegang tanganku saat membawa dua piring nasi goreng di meja makan.
"Penasaran pada privasi orang lain, itu sungguh tidak baik, Far. Tapi, dasar sungguh keras kepala!"
Dia hanya menyengir polos, mengabaikan makianku, terlebih ketika aku memukul keningnya dengan pelan. Masih dalam tatapan menunggu. "So?" Desaknya lagi-lagi mencoba tanpa henti sembari melirik sekilas arlojinya.
Akhirnya, desahan mengalah itu terdengar dari bibirku. "Selama pertemuan itu, kami hanya berkomunikasi via chatting dan sangat sering juga. Itu pun, jika aku yang memulai, telepon juga seperti itu."
Entahlah, tapi hati kecilku setuju untuk itu.
Kekehan Farah seketika membuat aku sedikit terkejut, saat hendak menyuap nasi di piringku. "Hati-hati, loh, bisa jatuh cinta sama dia!" lanjutnya.
"Apaan, sih."
"Tapi memang benar, sih, aku pernah melihat fotonya di akun id sosmednya. Siapa yang tidak jatuh cinta dengannya? Siapa pun yang melihat ketampanannya itu membuat terpesona, bahkan mirip bintang Hollywood yang—"
"Ini masih pagi, Far, imajinasimu berlebihan," selaku cepat-cepat menimpali dan membuatnya mencebik. Lagi-lagi sosok lelaki itu mengusik pikiranku.
"Lagi pula, kalian, kan, sudah tukaran nomor ponsel, dan terkadang teleponan, kan?" tukas Farah yang kini mulai mencicipi nasi gorengnya.
"Tidak juga! Aku bahkan tidak tahu nomor ponselnya berapa,"
"Sungguh? Loh, kok? Lalu?" sendok yang hendak menyuap nasi ke dalam mulutnya seketika terhenti, lalu meletakkan kembali di piringnya dan menatapku dengan penasaran.
Hmm, mulai lagi, kan, penasarannya? Aku memang benar-benar bodoh!
"Hanya di akun id. Sekarang puas?"
Dia menyengir sekilas sebelum menyuap nasi gorengnya. "Oh. Kalian tidak ketemuan hari ini? Kamu lagi off kerja, kan? Jadi, kalian mau ke mana?" tanyanya setelah melanjutkan makan.
"Siapa?" tanyaku menatapnya dengan alis mengernyit setelah meminum air mineral.
"Kamu dan dia!"
"Navroy?"
"Iya, memangnya siapa lagi yang berhasil membuka gembok cinta kamu selama empat tahun belakangan ini? Hanya dia, kan?"
Senyum prihatinku menguap.
Lama-lama bisa tersedak, Dia!
Farah lalu kembali menyuap nasinya, tapi tetap saja, mata itu masuh mengawasiku dan menunggu. "Tidak, aku hanya di rumah." Jelasku.
"Tidak ingin ketemu?" Tanyanya tak menyerah. Sesaat aku terdiam. Lalu, "Entahlah. Sebenarnya aku sudah jarang mengabarinya,"
Yeah, sejak pertemuan terakhir itu di Taman.
__ADS_1
"Kenapa?"
Aku menaikkan bahu dan kembali menyuap nasiku. "Lagi pula, jam begini dia pasti latihan bersama teman-teman komunitasnya."
"Wah, kamu tahu segala tentangnya rupanya. Well, Latihan apa?"
"Ah, dasar Nona keras kepala! Kamu terlalu banyak tanya, Sayang." Timpalku sembari menarik hidung mungilnya yang membuat wanita ini meringis kesakitan dan aku tersenyum puas dengan innocent. Namun kaliamt awal Farah cukup menggangguku, aku bahkan baru menyadari.
Setelah berdiri dan membawa piring kotorku ke wastafel, kemudiam meneguk segelas air mineral.
"Tapi, sepertinya, dia suka kamu, Key,"
"Hmm, dia mulai asal lagi." Gumamku mengabaikan dan hanya menggeleng prihatin.
Kalimat konyol!
* * *
Hari ini, tugas kantor cepat selesai. Hanya menulis laporan harian dan menelepon beberapa klien, untuk konfirmasi ulang jadwal meeting kami dan juga mengirim via email hasil laporan meeting tadi pagi dengan klien serta database perusahaan di pimpinan. Hanya itu! Selebihnya, santai dengan penuh kebosanan di ruangan ini yang begitu dingin sambil duduk sendirian sembari menunggu jam pulang. Baru pukul satu siang, rasanya benar-benar membosankan.
Pandangan lurus ke depan, menatap keluar jendela saat berdiri mematung di tepi jendela kaca besar ini yang tak bertirai seraya menatap perkotaan yang menyuguhkan beberapa bangunan yang berada di hadapan hotel ini, dengan kaki yang tak mengenakan alas apapun. Aku sengaja membuka sepatuku, terasa seperti membuat kaki ini bernapas kembali.
Helaan napas keluar dari bibir tipis yang terpoles lipstick merah jambu soft-fresh dan seketika membuat pandanganku teralih saat denting halus dari ponsel yang sengaja kuletakkan di atas meja kerjaku berbunyi. Keningku berkerut saat mengetahui siapa yang mengirimkanku pesan di akun Id-ku.
Navroy Grey
Hi, Fhay
13:47 Sept, 02
Tidak seperti biasanya?!
Cukup lama aku menatap pesan yang bertuliskan dengan bahasa Inggris itu. Tidak! Aku tahu, ini memang akunnya dan hanya dia teman yang bukan berasal dari negara ini, terlepas dari hubunganku pada Alan yang mengharuskan menjauhi teman-temanku termasuk dari luar negeri. Terlebih, dia satu-satunya saat ini yang berteman padaku selain Farah.
Tapi, ada apa dengannya? Apa yang terjadi?
Aku mendesah. Kuputuskan untuk membalasnya. Mungkin, dia butuh sesuatu dan—Sudahlah, Fhay, jangan terlalu berharap, yakin dan percaya diri begitu!
Sekali lagi, aku menghela napas berat dan berusaha sekeras mungkin mengenyahkan pikiran-pikiran konyol itu yang mulai mengusik pikiranku.
Keysa
Hai, Mr. Pakistan.
13:57 Sept, 02
Navroy Grey
Ke mana saja kamu? Bagaimana kabarmu?
13:57 Sept, 02
Pesannya lagi-lagi membuatku terhenyak.
Apa yang sebenarnya terjadi? Tidak seperti biasanya!
Dengan ragu, aku memainkan jemariku di keyboard screen ponselku dan mulai membalas chat-nya lagi.
Apa aku merasakan tanganku bergetar? Sial!
Keysa
Kamu mencariku? Aku baik. Dan kamu?
14:05 Sept, 02
Cukup lama ia membalasnya dan ketika aku melihatnya lagi, hanya di read. Lalu tak membalas dan membiarkanku … Seperti ini? Mendiamkanku? Benar-benar!
Aku mendesah. "Sepertinya aku salah bicara lagi."
Denting halus ponselku kembali berbunyi, saat berdiri hendak ke Toilet, namun ketika tergesa-gesa mengambil ponsel yang terlanjur kuletakkan di laci meja kerja, bahkan nyaris terjatuh setelah berada di genggaman. Untunglah, dengan sigap menangkapnya. Kekehan berat terdengar dari ambang pintu dan membuat seketika pipiku memanas karena malu. Asumsiku, itu adalah Pak Dion. Dan memang benar.
"Pelan-pelan saja, Nak. Dia tidak akan lari ke manapun." Timpalnya bergurau yang membuat pipiku semakin memanas, namun menahan senyum juga.
"Eh, Bapak. Halo, Pak, sudah datang?" kikukku basa-basi yang membuat beliau tersenyum lebar. "Iya, tadi ada urusan kecil di luar. Omong-omong, semuanya sudah selesai?"
Aku mengangguk mantap. Syukurlah, General Manager-ku ini begitu pengertian. Topiknya ia sengaja alihkan di akhir kalimat dan membuatku cukup rileks sekarang.
"Oh ya, Linka tadi berangkat ke Eropa. Dia menitip salam padamu dan mengatakan bahwa tidak suka jika kalian harus bersaing dan memaksanya. Memangnya kalian sedang bertarung apa? Dan memaksa apa?" jelas Pak Dion memberitahu, namun kalimat terakhirnya itu membuatku mengernyit heran dan bingung.
Linka mengatakan itu? Apa maksudnya? Aku bahkan sungguh benar-benar tidak tahu.
"Em, aku juga tidak mengerti, Pak. Apa Linka tidak pernah cerita sesuatu?" Beliau menggeleng dan menatapku heran. "Tidak! Dia tidak pernah mengatakan apa pun tentang persaingan kalian, apalagi sesuatu yang harus memaksanya. Sudahlah, jangan di pikirkan, Nak. Mungkin dia hanya iseng. Tahu sendiri, kan, dia bagaimana? Oh ya, besok, kita harus ke kantor Dinas untuk meeting dengan klien. Siapkan berkasnya, ya."
Aku mengangguk patuh dan tersenyum. Pak Dion kemudian berlalu ke meja kerjanya. Sepanjang hari itu, pesan Linka yang dititipkan ke ayahnya berhasil menggangguku. Entah apa yang dimaksud gadis itu.
__ADS_1
* * * *