
"Kakak jadi penasaran, siapa sih Navroy-mu itu? Berani-beraninya berada dalam hidup adikku dan mengacaukan jadwal kemoterapinya!" racau Sadeev yang mulai saat memasangkan helm pada adiknya, hendak berangkat.
"Ish, kakak nih!" decaknya. Lalu melanjutkan. "Kalau kakak Navroy itu, ya, orangnya tuh—"
"Sudah, ah! Yuk, berangkat!" potong Sadev yang membuat Enemy kesal.
"perasaan kakak tadi yang nanya deh, kok di jawab responnya gitu?" protes Enemy.
"Mau pergi gak nih? Kakak tinggal, loh!" ancam Sadeev yang membuat Enemy berhambur naik di motor kakaknya sambil menggerutu.
Cukup limabelas menit, mereka telah sampai di tempat tujuan. Tournament itu di adakan di sebuah lapangan besar. Biasanya tempat itu ramai akan senam atau sekadar main bola. Tapi kali ini, nyaris tak ada yang berolahraga atau bahkan memakai baju sport khusus yang berolahraga. Semua pengunjung datang untuk melihat penampilan lelaki itu. Sadeev mendengus dengan kesal.
Yang benar saja! Kenapa seramai ini, sih?
"Pulang aja yuk dek? Kakak malas nih berdesak-desakkan seperti ini!"
"Kok pulang sih? Kan belum ketemu dengan Kak Navroynya!"
Sadeev memutar mata. "Memang belum cukup, ya, ketampanan kakakmu ini yang setiap hari kau pandang?"
Enemy terkekeh geli. "Ya beda dong! Kak Navroy ini lebih kelihatan gantengnya! Belum lagi kalau senyum, yaa Tuhan, meleleh hati Enemy, Kak!"
"Jahat ih, membandingkan kakak dengan orang lain!"
Namun hanya juluran lidah yang di respon Enemy kemudian tertawa.
__ADS_1
"Yaudah, kakak tunggu di sini aja. Aku mau masuk agak ke dalam. Kali aja bisa lihat mukanya lebih dekat," senyum Enemy seolah membayangkan.
"Enak aja! Mana bisa sih kakak diam, tenang di sini liat kamu di sana sendirian. Yaa kali kamu bisa sampai di depan? Kalau baru mulai masuk aja udah di injak-injak sampai penonton brutal gimana? Bisa murka kakak membanting semuanya!"
Enemy tertawa. "Yaudah, ikut makanya!"
Belum sempat sang kakak menjawab, Enemy sudah menarik lelaki itu untuk masuk ke dalam dan lebih dekat dari panggung. Tidak ada pembatas yang di berikan di depan panggung sebagai sekat antara pengunjung dengan yang akan perform—seperti acara-acara konser pada umumnya. Bahkan, acara tournament ini sukses membuat penonton heboh tapi tidak brutal. Penonton kebanyakan remaja-remaja cewek. Dan kami berhasil berdiri tepat di tengah dekat panggung.
Beberapa model sudah tampil, memperlihatkan kekokohan otot di tubuhnya yang diisi dengan atraksi senam calistenic dan pull up. Dan sepanjang acara itu, Sadeev berusaha menutup telinganya rapat-rapat karena teriakan-teriakan gemas dari penonton cewek. Belum lagi di kiri-kanannya yang terus berceloteh memuja lelaki itu terlebih ketika sang idola muncul di balik backstage dengan kaus singlet tanpa lengan. Kalau saja Sadeev tidak sadar bahwa dirinya di tengah-tengah lautan remaja cewek alay, mungkin sedari tadi dia sudah mikir kalau sang adik sedang kesurupan. Mau tidak mau dia hanya memainkan gadgetnya sembari berjongkok yang kini di tutupi dengan lautan penonton. Bahkan memakai headset saat ini dan memutar musik heavy atau alternative rock saat ini, tidak akan membantu mengalahkan kebisingan tempat itu. Dia benar-benar muak dan memilih berusaha mengabaikan suasana yang mulai menyebalkan itu.
Acaranya lumayan lama, tapi Enemy lebih memilih cepat pulang dan meninggalkan tempat itu dari biasanya. Selain karena kasihan dengan kakaknya yang terpaksa berada di sana, juga karena performance Navroy memang hanya sedikit.
"Kakak tadi kayak pengemis tahu, nggak!" komentar Enemy saat mereka di perjalanan. Laju motor Sadeev sengaja normal.
"Mana ada pengemis ganteng begini,"
"Iya deh, kakak gantengnya Enemy. Sudag puas?"
"Bilang makasih juga dong,"
"Gak mau!"
Enemy menjulurkan lidah ketika melihat sang adik di spion. Dia tersenyum.
"Beliin ice cream dan minuman dulu, baru Enemy bilang makasih. Haus tahu, Kak!" lanjutnya memberi syarat.
__ADS_1
"Loh, yang nyuruh desak-desakan, panas-panasan dan teriak-teriak seperti orang gila tadi memang siapa? Memangnya kakak yang nyuruh?"
"Pelit!' umpat Enemy yang membuat lelaki itu tertawa kecil. Tatapannya sendu, saat sekilas melihat di spion gadis itu mengusap wajahnya dengan punggung tangan.
Sedikit terharu. Dia baru menyadari, kalau adik bungsu satu-satunya itu rupanya sudah semakin besar. Tumbuh menjadi gadis yang manis dan cantik. Meski kadang manja seperti anak kecil padanya, tapi kadang-kadang pemikiran bijak kedewasaannya juga muncul jika dibutuhkan.
Limabelas tahun, bukan waktu yang lama dan mudah dirinya berjuang bersama ibunya untuk mencari nafkah dan menyekolahkan adik tercintanya itu. Makan nasi hanya dengan garam sudah pernah dia rasakan, bahkan tidak makan beberapa hari pun sudah pernah di rasakannya. Jadi, pahit manisnya kehidupan memang membentuknya menjadi kuat dan tak mudah memang. Meski pada akhirnya, dia dan ibunya harus menyaksikan gadis remajanya itu melawan kanker otak yang setiap hari menggerogoti hidupnya. Apapun telah berusaha dia lakukan, dan cara terakhir adalah kemo. Sakit sih, bahkan tak tega melihat gadisnya itu tersenyum ke arahnya dengan wajah pucat menyembunyikan kesakitannya, tapi jika dia sendiri yang lemah di hadapan Enemy, maka siapa lagi tempat adiknya itu berpegangan jika bukan dirinya. Rumah pun tidak akan kokoh, jika tiangnya saja rapuh dan goyah akan badai.
Dan saat-saat seperti inilah, dia ingin membahagiakan Enemy. membuatnya tersenyum. Meski dengan cara yang tak disukainya. Termasuk menonton cowok alay yang sejak dulu dia benci itu.
"Kakak, kok melamun?" Ayo, mau dibeliin apa nggak, sih?" guncangan Enemy pada bahunya membuatnya buyar dalam lamunan.
Sadeev tersenyum. "Mau dong! Apapun puteri kecil kakak mau!"
"Kecil lagi ... kecil lagi, sudah dibilangin Enemy sudsh dewasa juga!" protes gadis otu dan membuat Sadeev tertawa.
Sadeev lalu menepi dan berhenti tepat di pinggir jalan. Tak jauh dari seberang sana, tampak ada minimarket. Dan mengizinkan Enemy pergi sendiri membeli dan dia menunggu di atas motornya. Toh, hanya sebentar juga. Pikirnya.
Sadeev tersenyum saat melihat gadis di balik kaca dinding minimarket itu sedang asik berbelanja. Selang beberapa menit, Enemy keluar dari pintu itu. Bukannya langsung ke kakaknya, pandangan gadis itu malah beralih pada sekelompok lelaki yang sedang berdiri di dekat mobil Van sambil mengantri untuk masuk ke dalam mobil. Dan cowok alay itu ada di sana. Sial!
Enemy mengejar mereka yang masih berada di sana, tapi karena perhatiannya hanya terfokus pada Navroy, dari arah berlawanan, dia tidak melihat mobil datang ke arahnya dengan oleng dan—
"ENEEEEMYYYYY!!"
Suara Sadeev tenggelam bersama dengan suara gedebuk dan klakson keras.
__ADS_1
* * * *