
Dia tersenyum di sana, masih berdiri mematung dengan innocent-nya sembari menatapku konyol. Senyumanku seketika menguap begitu saja.
“Masih ingat aku?”
“Dewana!” sahutku menimpali sembari mengulum senyum. Dia terkekeh lalu menghampiri mejaku.
“Apa kabar, Keysa?” tanyanya dalam bahasa Ingris sembari berjabat tangan.
“Baik, Sadeev. Dan kau, sakit apa?” tanyaku dalam aksen Inggris juga, saat dia duduk di kursi hadapan mejaku—kursi di khususkan pasien. Ya, dia teman Navroy—saat menolongku mengambilkan taksi, ketika dengan susah payahnya menunggu teman imigrannya itu di sebuah Mall.
Dia terkekeh menggoda. Tubuhnya kini di sandarkan dengan rileks di kursi besi merah itu sembari kedua tangan terlipat di dada dan dalam sorot mata masih menggoda ke arahku.
“Jangan bilang kau hanya ingin mengunjungiku di sini?”
Senyuman merekahnya bersama anggukan pelan itu membuat asumsiku benar hingga kekehan ini menggema di ruangan yang tak terlalu luas dalam dinding yang di cat putih keseluruhan.
“Dasar dewana!” sungutku tersenyum.
“Benar! Karena seseorang yang sudah melupakan temannya, harus diberi kejutan seperti ini,” jelasnya yang semksin membuatku tersenyum lebar.
“Tahu dari mana rumah sakit ini? Maksudku, aku bahkan belum bercerita padamu bahwa aku telah pindah bekerja di sini.”
Dia menatapku sejenak, dalam *** senyum khasnya. “Navroy!”
Aku terperanjat. Cukup membuatku terkejut. Hanya mendengar nama itu, membuatku seketika bungkam dan sesak itu mulai terasa.
“Kau baik-baik saja?” tanya Sadeev cemas yang menyadari perubahan suasana hati dan emosionalku.
Tidak untuk hati ini!
Aku mengangguk, berusaha tersenyum, se-rileks mungkin.
“Kau terlalu pandai menyembunyikan luka itu, hingga aku tak menyadari selama ini—“
“Tidak apa-apa, Sadeev, sunguh!” dia tersenyum masam, begitu aku menyela.
“Baiklah. Aku hari ini mau ke pantai. Kau boleh saja ikut jika mau,” ajaknya mencoba menghibur.
“Terima kasih, tapi maaf, hari ini aku tak bisa.”
Dia menunduk, mendesah berat, lalu mengangkat wajah diikut detik berikutnya senyuman simpul.
“Tapi, mungkin next time bisa,” sahutku cepat-cepat berusaha tersenyum.
Jelas sekali ia memaksakan senyumannya agar terlihat baik-baik saja. “Terima kasih, Key. Tapi sungguh, kau tak perlu melakukan itu hanya untukku. Semuanya baik-baik saja dan aku harap juga kau seperti itu. Hanya saja, hati berbeda dengan pikiran, bukan? Tak bisa dipaksakan, meski pada akhirnya ada ujung menyakitkan, ya, kan, Key?”
Aku tersenyum masam, rasa tidak enak hati padanya menjalar begitu saja dalam syarafku. Entah apa yang dibicarakannya, namun yang pasti kurasakan adalah, dia lelaki yang baik, yang berusaha melindungiku, terlebih dari rasa sakit sekali pun.
__ADS_1
“Jadi, kau Dokter paling cantik di sini, heh?” pertanyaan mengalihkannya itu membuat pandangan yang sedari tadi menunduk berhasil meliriknya, lalu terkekeh bersamaan dengan senyuman manisnya.
Dia benar-benar berhasil membuat suasana ini rileks kembali.
“Karena, aku melihat, di sini Dokternya lelaki semua,” lanjutnya saat melihat tatapan penuh tanya ke arahnya. Tawaku berderai seketika yang menular padanya, aku baru mengerti maksud lelucon itu.
Kami pun mengobrol panjang lebar, sesekali bergurau, lalu tertawa bersama.
Terima kasih untuk teman seperti dia, Tuhan. Kau menghadirkannya, di saat hati ini tengah mulai rapuh dan tak berdaya dalam kesedihan cinta konyol yang selalu kusebut indah itu.
* * *
Tepat pukul tiga lewat duapuluh menit, aku baru tiba di rumah. Prepare sejenak untuk jogging sore ini, lalu berangkat ke tempat yang kutuju setelah senja mulai menampakkan pada dunia.
Jogging Track Area Karebosi. Yup, inilah tempat yang sengaja kupilih untuk running freeletic sejenak. Melatih dan melancarkan otot-otot dan pembuluh darah, terlebih menjaga stamina dan kesehatan.
Sudah pukul lima sore, tempat ini mulai ramai di kunjungi.
Setelah melakukan pemanasan dan telah mengitari setengah lapangan untuk berjalan santai, mataku terpaku pada sosok di sana. Sosok yang begitu kurindukan selama ini. Ya, Navroy di sana. Lelaki Pakistan mempesona yang begitu kucintai itu berada di sini juga. Ia berdiri di sana, tepat di area workout. Sepertinya tengah melakukan pemanasan pada otot lengan dan tangannya. Sekilas, mata itu menemukanku, menatap sejenak terpaku, lalu beralih ke arah kedua temannya yang sesekali mengobrol dan tersenyum.
Pandangan ini sesekali menunduk, tanpa memandangnya kala melangkah melewatinya. Diam tanpa kata, tanpa sapaan apa pun darinya, dari kita berdua. Ngilu! Entah mengapa, benak ini begitu ngilu dalam perih yang begitu sesak. Mirisnya, ia bahkan seoalh menganggapku tak ada, mengabaikan seakan tak pernah saling mengenal, seperti orang asing. Dan kau tahu, dalam keadaan konyol menyedihkan seperti ini, pikiranku masih saja berusaha menepis untuk tetap berpikir positif padanya, bahkan masih menganggap hubungan konyol macam ini, terlebih dirinya, masih terindah.
Dan pada bagian ini, di sudut hatiku yang paling terdalam dengan kehampaan bertanya, serumit inikah cinta yang kuanggap indah? Harus sesakit inikah aku menggenggam hanya yang kusebut cinta yang begitu indah? Terkadang, cinta memang disebut indah, meski tak terdeteksi dalam nalar dan logika sekali pun hingga tanpa menyadari menjelma menjadi sebuah ketololan. Tapi apa kau tahu, Navroy? Terkonyol sekali pun, entah mengapa hati ini tetap bersikeras mengakui bahwa mencintamu. Bahkan, mirisnya penyesalan itu tak ada sedikit pun terbersit, hingga tanpa kusadari, aku terlalu larut membuat diri ini bodoh, hanya untukmu, yeah hanya untuk yang selama ini kusebut cinta. Tolol, bukan? Bahkan, lebih tolol lagi karena yang kusadari adalah, aku semakin larut menikmati rasa sakit ini. Sakit yang entah kapan berujung dan berkesudahan hingga menjadi kebahagiaan abadi.
“Hai, kau di sini juga?” suara yang mulai dikenal panca inderaku ini, kini membuat menoleh.
Kutampakkan seulas senyum sebagai tanda balasan menyapa dan menjawab pertanyaan untuknya. Ia menyeimbangi langkahku di antara orang-orang yang tengah berjalan santai dan berlari di track jogging ini sambil mengatur napasnya yang masih terdengar berat dan ngos-ngosan.
“Kupikir, kau tak workout hari ini.”Gumamku yang membuat Sadeev tersenyum.
Memang, dia dan Navroy sama-sama menyukai pull-up, senam chalistenic atau semacamnya. Di kota ini, di kalangan imigran, ada beberapa dari mereka yang sibuk melakukan itu dengan rutin, katanya untuk pengisi waktu kekosongan yang membosankan. Begitu kata mereka yang pernah bercerita, terlebih Navroy.
“Apa semuanya baik-baik saja?” tanya lelaki yang masih berdiri di sebelahku ini, menatap dengan sorotan menuntut.
“Semuanya baik.” Ringanku, lalu memulai berlari setelah kurasa cukup untuk berjalan santai, bersama dengan iringan Sadeev yang mengikuti.
Kami berlari, menembus orang-orang yang tengah running. Beberapa orang yang beristirahat atau sekadar melihat-lihat, menatap kami di sepanjang area track ini.
“Mengapa mereka menatap kami seperti itu?” lirikku pada Sadeev. Raut wajahnya telah dipenuhi keringat.
“Mungkin, kau membuat mereka terpesona sore ini.”
“Apa?”
Kekehannya terdengar. “Sadarkah kau? Kecantikanmu membuat Navroy terpesona tadi,” jelasnya yang membuat tawaku menggema.
__ADS_1
“Dewana!” timpalku di sela-sela tawa. Namun, entah menggoda atau bergurau, tapi kalimat itu cukup membuatku terhenyak. Bahkan, terbersit sekilas di hati ini penuh tanya dengan rasa tidak percaya.
“Tapi kuakui, kau memang cantik,” lanjutnya lagi yang membuatku semakin tertawa, lalu menngelengkan kepala beberapa kali, prihatin.
Kami kini berbelok mengikuti area jogging track, melintas tepat di jalan track yang berdekatan dengan pintu masuk utara, lalu tepat seratus meter di sebelah kanan berbelok lagi hingga melewati area skateboard di sisi samping sepanjang jalan, yang tak jauh dari workout dan hanya dibatasi pagar jaring besi. Langkahnya benar-benar terayun mengimbangi, berlari di sebelahku sembari sesekali napasnya terdengar sedang di atur—tengah memburu.
“Jadi, kau bekerja besok—Keysa!” Sahut Sadeev yang memulai kembali obrolan kami, kemudian memekik tiba-tiba di kalimat terakhirnya yang seketika memanggil namaku dengan spontan tanganku untuk menepi bersamanya, hingga tubuh kekar itu nyaris menempel pada tubuhku.
“Kau baik-baik saja?” tanyanya memandangku cemas yang bersamaan kami sepertinya terkejut. Detik berikutnya, aku baru menyadari bahwa tangan itu—masih—merengkuh pinggulku, seperti bermaksud hendak melindungi, setelah anggukan dan nyaris bisikan meyakinkan tampak dan terdengar dariku.
Hanya sekilas memandang sosok yang nyaris menabrakku itu. Sepertinya lelaki, berjaket kelabu dengan topi hitam di kepala sambil bersepeda yang telah jauh dari pandangan. Entahlah, tapi mungkin saja ia tak sengaja tadi.
Sepersekian detik kemudian, tetiba saja Sadeev menarikku tepat tak jauh dari tempat kami berdiri. Raut wajah bingungku seketika memudar, saat menemukan sosok yang kucintai itu di balik kerumunan beberapa orang yang sebagian telah membantunya. Suara tumpang-tindih, namun tak terlalu bising. Di sela-sela suara itu, kutemukan suara khas lembut Navroy yang tengah meringis kesakitan saat seorang lelaki tengah berusaha membantunya dengan mengurut pergelangan kakinya. Raut wajah tampan itu masih saja terlihat begitu mempesona dan berusaha keras tampak stay cool di sana.
Dasar lelaki!
Mungkin, ia malu dengan beberapa gadis yang sedari tadi menontonnya. Pergelangan kaki itu telah begitu memar dan sedikit bengkak, mungkin telah sedari tadi di urut dan asumsi mereka, lelaki imigran ini mengalami keselo, tapi aku curiga, asumsiku ia mengalami cedera yang bahkan lebih. Navroy melirikku dengan aneh sekilas, setelah ia berbicara pada Sadeev dan teman satu negaranya, entah apa yang dibicarakan karena mereka terdengar seperti memakai bahasa negara mereka sendiri, namun wajah-wajah itu terlihat jelas begitu panik.
Aku menatap cemas Navroy, namun hanya berpaling dengan raut wajah menahan sakit. Jelas sekali, raut wajah itu menahan dengan butiran keringat.
“Sepertinya dia cedera karena terlalu keras latihan dan dia bilang kakinya terpeleset tadi pada besi itu,” terang Sadeev memberitahu saat aku menatapnya cemas dalam tatapan mendesak.
Aku lalu berlari membeli dua minuman botol dingn ke arah pedagang asongan yang berjejer di tepi jalan jogging track ini, lalu tak lama kemudian kembali ke kerumunan.
Tampak beberapa gadis itu mulai sok care pada kekasihku itu.
“Tidak perlu! Kau tidak perlu membantuku!” tolaknya dingin dalam bahasa inggrisnya yang membuatku menatapnya sedih, sekaligus kesal.
“Bisakah kau berhenti egois sekali ini? Please, aku hanya ingin membantumu, setidaknya untuk saat ini dan melihatmu baik-baik saja,” pintaku memandangnya, namun tangan yang dulu pernah selalu menggenggamku dan mengusap wajah serta rambutnya, kini dengan kasarnya menepis tanganku yang hendak memulai pertolongan pertama.
“Kau masih mau jalan dan pull-up, tidak?” pekikku kesal menatapnya. Ia benar-benar menguji kesabaranku saat ini yang sedang sedih dan cemas. Dan, pandangan Navroy seketika di alihkan pada temannya dan mengobrol dengan bahasa mereka, seolah menahan malu yang telah sedari tadi orang-orang mengerumuninya yang sedang menatap kami berdua dengan konyol berdebat.
Dasar menyebalkan!
Tanpa pikir panjang dan menunggu persetujuannya, botol minuman itu kukompres di kakinya sejenak, setelah membantunya merentangkan kaki panjangnya, lalu setelah beberapa menit, aku kemudian mulai membasuh kakinya untuk merilekskan otot, syaraf dan pembuluh darahnya. Saat aku mulai mengecek dengan perlahan menyentuh di sekitarnya, ia sedikit meringis.
“Dostit Daraam, i know you can,” bisikku dalam bahasa negaranya dan Inggris yang membuatnya seperti terhenyak—memandangku sejenak.
Ya, ungkapan cinta tentang hati ini begitu saja terlontar, rasanya kalimat itulah yang tepat untuk menyemangati sekaligus menghiburnya.
Navroy berdehem. “Apa itu parah?” tanyanya mengalihkan sembari menatap kakinya, dalam bahasa Indonesia.
Aku memijit dan mengurutnya pelan. Dia cukup meringis, tapi sambil menggigit bibir dalam pandangan menunduk.
O-oh! Sepertinya dugaanku benar! Dia cedera berat.
Aku coba menggerakkan telapak kakinya, tapi dia meminta berhenti dalam sakit yang tertahan. Sepertinya dia sangat sakit. Dengan cepat, kubuka jaketku, lalu menyobek dengan panjang, menyerupai perban. Setelah membeli bekas papan skateboard bocah yang tak jauh di sana—yang tengah bermain sedari tadi, aku lalu mamatahkan menjadi dua, kemudian mulai menggips kaki lelaki itu dengan kain dari jaket dan papan skateboard ini. Aku tahu, ia menatapku selama memberinya tindakan perawatan, namun aku juga tak ingin mengganggunya dengan menatap wajahnya meski sekilas. Tidak! Aku tahu, sudah pasti ia mengalihkan pandangan itu. Setelah selesai, ia cukup rileks karena tak terlalu merasa sakit. Namun, dasar keras kepala, ia kembali workout. Tapi yang membuat aku sedih, ia menolakku dengan mengobati luka itu, lalu seakan tak menganggapku ada.
__ADS_1
* * *