Terjebak Cinta Sang Imigran

Terjebak Cinta Sang Imigran
Liburan Perdana Bersamanya


__ADS_3

Navroy duduk di sampingku, memandang orang-orang di sekelilingnya yang sesekali memandang kemari. Benar, kami telah berada dalam kendaraan panjang nan besar yang dingin ini, meski tak terlalu ramai. Duduk di pojok paling belakang, dengan jok penumpang yang langsung menghadap ke utara, ke arah jalan. Sedang jok-jok yang saling bersebelahan dan berhadapan yang tepat memenuhi seluruh kabin itu, hanya beberapa yang terisi oleh penumpang.


"Baby, kamu yakin?" bisikku ragu yang kini menatapnya.


Senyumnya merekah ketika menelengkan kepala melirik. Ia semakin mengkeret dan mempererat genggaman ini, mengusapnya sesekali dengan tangan satunya, lalu kembali tersenyum. Tubuhnya sangat dekat denganku, bahkan aroma parfum itu semakin tercium.


"Kamu sudah mengatakan itu, kan? Tidak apa-apa, Baby, sungguh! Jangan khawatir, oke?" sahutnya yang nyaris berbisik dan membuatku menghela napas sejenak.


Kutatap wajahnya yang masih memandangku.


Aku tak tahu, entah mengapa hatiku seolah-olah ingin menangis pilu. Desakan dalam dadaku itu begitu sangat aneh rasanya saat ini. Namun, aku tak tahu alasannya apa. Aku bersedih, tetapi rasa yang kini sangat membuat tak tenang dan mengganggu ini, benar-benar tak kuketahui penyebabnya. Setiap melihatnya, memandang senyuman itu, terlebih kasih sayangnya saat inibenar-benar membuat benak seakan ingin meledak dan melebur hingga kesedihan itu semakin menekan di dalam.


Aku tak tahu ada apa dan mengapa. Bukan! Bukan karena tak bahagia dengannya, aku bahkan sangat bahagia telah bersamanya. Sejauh ini, sedikit pun tak pernah menyakitiku, terlebih sesuatu yang membuatku kecewa atau bahkan membuatku tak nyaman, tidak! Bukan karena itu! Tetapi, aku tahu, entah ke mana kebahagiaanku itu saat ini, entah bersembunyi di mana, aku tak tahu!


Kuusap pelipisnya yang mulai dipenuhi keringat, rambut dan keningnya benar-benar basah. Ia hanya melirikku dengan senyuman, lalu mengusap tanganku yang telah mengusap pelipisnya.


Dia benar-benar tak terbiasa, tapi tetap mau kuajak seperti ini.


"Mengapa?" tanyaku yang tetiba saja terlontar begitu saja dari mulutku.


Navroy menelengkan wajah, menatapnya penuh tanya yang membuat alisnya mengeryit. Jelas sekali raut itu kebingungan.


"Mengapa mengikuti keinginanku jika itu tidak cocok untukmu? Bahkan, tidak membuatmu nyaman, Baby?" lanjutku masih menatap kedua mata indah itu yang kini bertemu pandang, wajahnya kini berubah berseri, secercah senyum damai terbit di sana hingga menyentuh matanya. Lalu, detik berikutnya, pandangan lelaki itu lurus ke depan.


"Terkadang, kita harus berjuang dan berkorban hanya untuk sesuatu hal yang bisa membuat orang yang kita cinta bahagia,"


Dan jawabannya itu, cukup membuatku tersenyum puas.


Ada seseorang yang mengatakan bahwa, cinta itu butuh logika. Tetapi menurutku itu tidak perlu! Mengapa? Karena jika sekali saja kau mencoba membutuhkannya melalui hatimu, akan merasakan kenikmatan dan keindahannya. Memang, sesekali mengajari rasa sakit, namun perjuangan dan pengorbanan itulah yang akan membawa pada titik kebahagiaan.


Ya, dia benar! Berkorban dan berjuanglah untuk membuat cintamu bahagia. Mengapa? Karena, itu telah menunjukkan, bahwa betapa kau tidak egoisnya hanya untuk orang lain.


* * *


"Jadi, kita ke Pulau Lae-lae?" simpulku saat membaca bangunan besar yang bertuliskan isi penyambutan di tempat tersebut, tepat di depan pintu masuk dermaga ini.


"Benar! Aku ingin mengajakmu ke sana! Kenapa? Kamu pernah ke sana?"


Aku menggeleng. "Hanya pernah mendengar namanya,"


"Asli di kota ini, tapi belum pernah ke tempat wisatanya? Benar-benar anak muda yang gagal cinta negara!" gumam Navroy mengejek sembari memasang raut wajah menyebalkan dan mendecakkan lidah yang sengaja dibuat-buat berlebihan sambil menggeleng kepala prihatin berulang kali dan hanya membuatku memutar mata.


"Memangnya siapa yang bilang?" elakku menimpali dan tak mau kalah.


"Telingaku masih berfungsi, Baby sayang, aku bahkan mendengarnya belum semenit!"


Aku mencebik. "Memang benar! Tapi maksudku, baru on the way, ini sudah berada di depan dermaganya," timpalku membela diri cepat-cepat di akhir kalimat dan giliran dia yang memutar mata sambil mengulum senyum.

__ADS_1


Sungguh, ekspresinya itu benar-benar sengaja dibuat dan berlebihan!


Aku mencubit pinggangnya seketika dan hanya tawa rendah yang terdengar darinya sambil berusaha menghindar. Navroy lalu mencubit hidung mungilku dengan gemas, kemudian menarikku masuk.


Begitu memasuki dermaga ini, kau akan disambut oleh motor-motor dan sepeda yang berjejer—terparkir dengan rapi laksana pagar ayu yang hendak menyambut sang pengantin. Memang, tempat ini tak besar. Pintu masuk yang seperti yang besar, pun di jadikan sebagai parkiran kendaraan pengunjung yang begitu disesaki, dan begitu sampai di penghujung, seketika dermaga kau temukan yang dipenuhi kapal-kapal kecil wisata yang tertambat indah di sana sembari sesekali bergoyang di terpa ombak sedang.


Embusan lembut laut kini menerpa di wajah kami. Seketika, suguhan pemandangan laut yang berkilau di tempa cahaya matahari dan juga pulau yang tampak dari sini, menambah keindahan tersendiri yang begitu eksotik. Terlebih, bak hiasan laut yang berjejer kapal-kapal yang cantik dengan kilauan cat putihnya di tempa cahaya siang ini. Rasanya benar-benar indah dan menakjubkan. Aku bahkan tak menyangka, ia sampai membawaku kemari.


Kapal yang tak bertingkat itu, salah satunya kini telah disewa kekasihku. Setelah menarikku ke tepi dermaga, ia lalu melompat terlebih dahulu ke kapal yang berukuran sedang itu, kemudian mengulurkan tangannya ketika telah berdiri di anjungan kapal, mengangguk meyakinkan saat memandangnya ragu. Begitu berhasil meraih tanganku, ia lalu menuntunku ke arahnya—sembari instruksi 'hati-hati' dikumandangkan selalu untuk mengingatkan—dan merengkuhku ketika tubuh ini telah berada di sampingnya.


Tubuh kami ikut bergoyang karena kapal ini akibat terpaan ombak. Navroy merangkul dengan erat, lalu berpindah memegang pinggulku, kemudian menuntun dan melangkah bersama yang menuruni anjungan dan melewati beberapa dek kabin. Begitu berada di tengah-tengah, kami lalu duduk hati-hati.


Deru mesin kapal yang mulai bergerak membelah lautan dan deburan ombak yang saat ini terdengar tumpang-tindih. Angin seketika menerpa wajah kami hingga rambut menari-nari. Kacamata hitam Navroy kini bertengger di wajah kokoh nan eksotiknya, yang membuat senyumku merekah. Tangannya masih menggenggam erat tanganku sembari tangan satunya menarik kepala ini bersandar di dada bidangnya, menikmati perjalanan dengan percikan air laut yang berasal dari kapal yang membelah lautan—melaju sedang dan embusan kasar angin. Rasanya indah melihat laut lepas seperti ini, terlebih deburan ombak yang menggulung dan terdengar ketika kapal menghantamnya. Kilauan airnya bak permata di tebar yang di tempa cahaya. Meski, cuaca begitu terik, namun tak kalah dengan keindahan semua ini.


"Ah, sangat indah!" desahku bergumam dalam senyuman sembari masih menikmati pemandangan sambil tetap bersandar di dada lelaki ini dengan degub jantung yang berirama teratur, semakin menularkan kedamaian.


"Sama sepertimu," selanya yang membuatku menengadah dan senyuman manisnya tampak.


"Dan kamu pun lebih dari itu," bisikku yang membuat senyumnya melebar. Ia mengecup ubun-ubunku, lalu tangannya terangkat mengelus lembut rambut ini seraya masih bersandar di dadanya dan kembali menikmati laut. Senyum tersinggung lebar setelah menghela napas. Kurasakan kebahagiaan itu mengalir dalam pembuluh darahku.


Setelah kapal berbelok haluan ke arah timur, tepat tak jauh dari sana, dermaga sederhana dengan atap yang ditutupi daun pelepah kelapa kini terlihat . Setibanya kami di sana, Navroy lalu turun terlebih dahulu ketika kapal berhenti di tepi dermaga, mengulurkan tangan untuk membantu turun dan tetap berhati-hati. Seketika, disambut kanak-kanak yang bermain di sana. Terlebih, senyumku merekah saat melihat mereka melompat dari atas dermaga, kemudian terjun ke laut lepas. Dan keceriaan mereka benar-benar membuatku ikut bersemangat.


"Mau ikutan berenang di sana?" tanya Navroy saat aku masih memandang lekat mereka.


Aku menggeleng. "Hanya teringat dengan masa kecil. Bedanya, kami yang hidup di tengah kota, hanya merasakan di tempat wisata permandian atau kolam renang, itu pun bayar. Sedang mereka, bisa menikmati itu dengan bebasnya dan juga free. Bahkan, lebih menakjubkan lagi, bersama keindahan alam ini dan terumbu karang di laut serta udara bebas yang begitu menyenangkan." Celotehku dalam senyuman tanpa memandangnya dan menatap anak-anak itu.


Sejenak hening, tak ada sedikit pun sahutan darinya. Hanya terdengar cekikikan mereka yang masih asyik dengan kesenangannya.


"Kamu baik-baik saja?"


Senyuman lebar itu nampak, tetapi tak menyentuh mata. Seolah, dipaksa keluar dari sesuatu yang tengah dipikirkannya.


Ada apa?


"Baby, ayo kita ke sana!" Alihnya mengajak sembari melangkah terlebih dahulu sambil menarikku.


Alisku mengernyit, namun tetap saja harus mengikutinya.


Ada beberapa penduduk yang tinggal di pulau ini. Kebanyakan, rumah kecil-kecil tanpa bertingkat, dan ada pula yang sengaja dibentuk menyerupai rumah panggung yang terbuat dari kayu. Sesederhana itu memang.


Setelah melewati jalan setapak dan orang-orang yang tengah berkumpul di beranda rumahnya, seraya memandang ke arah kami dengan begitu aneh. Navroy lalu membawaku di sebuah dermaga yang terbuat dari bebatu karan dan embusan angin yang cukup keras seketika menyambut kami, bahkan membuat rambut panjang ini berantakan hingga lelaki di sampingku seketika membantu mengikatnya.


Dermaga yang masih sepi dan jarang terjamah oleh pengunjung. Kebanyakan hanya orang-orang yang tinggal di sini berkunjung kemari. Beberapa balai yang terbuat dari pelepah daun kelapa kering tampak berjejer di pinggir laut, di tengah-tengah pasir putih. Begitu Navroy menyewa salah satu balai besar di sini dan kami lalu duduk sembari menikmati pesona indah laut, seketika cewek-cewek mengerumuni kekasihku ini hendak meminta foto. Navroy hanya tersenyum kikuk ke arahku dalam isyarat meminta izinnya saat harus mengabaikanku sejenak. Begitu aku mengangguk dalam senyuman, ia seolah tenggelam dalam kerumunan gadis-gadis belia itu yang membuatku hanya menggeleng geli.


Aku tidak ingin memikirkan lelaki itu yang memiliki banyak fans yang sedang bersamaanya saat ini, yang begitu memikat dan mempesona para kaum hawa, tetapi hanya saat ini ingin menikmati ... Ya, bisa dikatakan liburanku.


Hang out yang menyenangkan!

__ADS_1


Laut biru itu berkilau di tempa cahaya matahari siang ini. Begitu bersih, meski angin di sini sangat keras dan juga debur ombak yang tumpang-tindih di indera pendengarku seolah tengah berlomba, suara mana yang lebih terdengar besar. Dress hijau kini terangkat hingga memperlihatkan bagian perutku. Belum-belum memperbaiki pakaian yang tersingkap ini, tetiba tangan panjang putih dan kokoh itu kini terulur dan melingkar sekilas, kemudian membantu dan memperbaiki pakaian yang mulai menyebalkan ini. Saat aku menoleh siapa pemilik tangan yang kini kugenggam dan memunggunginya sedari tadi, rupanya itu Navroy yang telah selesai dengan fansnya dan saat ini menghampiriku yang telah sedari tadi berdiri di tepi laut. Sejenak, ia bertekuk lutut di hadapanku yang telah melepaskan kemejanya dan haya tersisa kausnya.


"Sudah kubilang, jangan pakai ini!" ocehnya memulai sambil kemejanya dililitkan ke pinggulku, hingga membuat pakaian ini tidak beterbangan lagi karena di embus angin.


Tubuh atletisnya itu kini tampak saat ia telah berdiri dihadapanku. Kaus putih itu benar-benar ketat di tubuh atletisnya yang begitu tercetak jelas.


"Tapi tidak apa-apa, kan sudah dipadukan dengan celana pendek. "


"Berhentilah bertingkah sok seksi, aku tidak suka tubuhmu dipandang lelaki di sini! Sadarkah kau, pakaianmu benar-benar terangkat tadi hingga ke perut, "


Helaan napas panjangku berembus, lalu meliriknya menggoda. "Jadi, aku tidak seksi, begitu?"


Navroy mendesah berat saat aku mengalihkan dan menimpali dengan asal.


"Baby, please–"


"Memangnya aku tidak cemburu, melihat cewek-cewek itu memandang tubuh sixpack-mu dengan kaus ketat itu?" Raut wajahnya berubah menghangat, bahkan senyuman lebarnya tampak.


"Apa, sih? Kenapa senyum-senyum? Apa yang Lucu?"


Senyumnya semakin melebar. "Aku tidak menyangka, kamu bisa juga cemburu seperti itu dan sangat Lucu terlihat. Kupikir, hanya mencintai ketampananku saja!"


Mataku melebar dalam *** senyum.


Sungguh, dia percaya diri begitu?


Tawanya menggema. Rupanya isi pikiranku terlontar begitu saja yang membuatku tersenyum merona.


"Dan aku tahu sesungguhnya. That's true, right?" timpalnya menggoda yang diikuti kerlingan mata nakalnya hingga membuatku tersenyum lebar.


"Dasar, Mr. Pakistan!"


Navroy tertawa lepas sembari mencubit hidung mungil ini, kemudian menarikku sejenak dalam pelukannya.


Saat kami sejenak menikmati udara laut dalam suguhan pemandangan yang begitu indah, tetiba saja Navroy menggendongku, perlahan menghampiri laut dan masuk ke dalamnya. Deburan ombak yang tidak terlalu keras kini telah membasahi kami, terlebih saat lelaki itu dengan sengaja menjatuhkanku ke dalam air bersama tubuhnya yang masih mendekap. Bahkan, begitu aku ingin bangkit dan hendak pergi, dengan jahilnya ia menarikku ke dalam pelukannya dan membawaku semakin menjauh dari bibir laut, meski aku telah menggeliat karena air telah setinggi leher. Gelak tawanya terdengar yang kini menggenggam wajahku dalam tatapan hangatnya.


"Baby, lepaskan aku, please? Aku tidak mau berenang, Sayang, hanya ingin menikmati di tepi laut saja," mohonku menatapnya.


"Its okay, Baby, don't worry, all is well," ringannya santai berusaha menenangkan yang nyaris berbisik sambil menggenggam wajahku.


"Tapi, Baby–"


Dia tetiba mengecup bibirku, sangat lama. Kemudian, kemudian tangan ini dikaitkan di lehernya dan menggendongku di punggungnya.


"Listen! Jangan melepaskan, okay? Jika kamu takut, tetaplah digendonganku, di atas punggungku, mengerti? Semuanya akan baik-baik saja. Ayo kita menyelam!" teriaknya antusias di akhir kalimatnya.


"Tap–" air seketika masuk ke dalam hidung dan mulutku hingga terbatuk sesaat.

__ADS_1


Kami menyelam bersama, baru beberapa detik menghirup udara, ia lalu membawaku masuk ke dalam air, melihat seisi bawah laut. Satu hal yang kusadari dan ingat saat itu adalah kepalaku terasa pusing, hidung dan tenggorokan mulai terasa sakit dan perih karena tersedak air asin. Lalu, perlahan-lahan membuat pandanganku buram, tubuh terasa ringan namun kram dan setelah itu .... Semuanya gelap. Aku tak ingat apa-apa lagi.


* * *


__ADS_2