Terjebak Cinta Sang Imigran

Terjebak Cinta Sang Imigran
Detik Terakhir


__ADS_3

SENJA mulai terlihat, saat lelaki itu datang membawa mobil. Tubuhnya berbalut kaus singlet tanpa lengan berwarna hitam dengan celana kain sporty berwarna kelabu yang senada dengan sepatu sport-nya. Rambut spike kecokelatan pirangnya tertutupi topi woll hitam dengan jabrik bertengger yang sengaja di tonjolkan sedikit ke depan.


Ia mengerling padaku saat diri ini takjub melihatnya. “Sudah siap?” tanya Navroy yang sejenak menatap tubuhku dari atas kepala hingga kaki. Aku hanya memakai kaus biru dengan celana pendek mini yang dipadukan dengan sepatu biru dan rambut panjang yang telah di kuncir.


Anggukan mantap dariku membuatnya tersenyum lebar. “Perfect!”


Senyumku melebar. “Aku pikir kita naik sepeda!” tukasku.


“Kamu benar-benar cewek unik, Babe!”


Ia mengulurkan tangan dan kuraih tangannya saat kerlingan itu lagi-lagi memikatku.


Bisakah sekali saja tak membuatku terpesona?


Setelah membukakan pintu mobil , aku lalu masuk dan diikuti dirinya, mobil kemudian meninggalkan rumah, melaju dengan cepat menuju Jogging Track Area Karebosi.


Ya, lagi-lagi tempat ini. Tempat yang memiliki cerita tentang aku dan dirinya.


Setelah melakukan pemanasan, kami lalu sejenak berolahraga dan jalan santai, sebelum berlari. “Kau mau ikut running juga?” simpulku sembari menatapnya di sebelahku yang tengah melangkah menyeimbangkanku.


Senyumnya menguap bersamaan anggukan kepalanya. “Aku ingin menemanimu,”


“Kupikir kamu hanya latihan workout pull-up saja?”

__ADS_1


“Benar, tapi tidak ada salahnya jika sekali-sekali jogging juga. Freeletic, Babe!”


Senyumanku menyetujui gagasannya.


Lengan kekar Navroy yang tampak bebas karena mengenakan kaus tak berlengan, kini mulai mengeluarkan bulir-bulir cairan. Benar, ia mulai berkeringat setelah limabelas menit berolahraga jalan cepat, yang sesekali diselingi, lalu tigapuluh menit melakukan running, kemudian selesai. Setelah sejenak beristirahat sambil mengobrol, ia lalu melakukan olahraga favorite-nya. Tentu saja olahraga pull-up dan senam chalistenic. Memang, olahraga melatih otat dan menahan beban tubuh itu kerap dilakoninya. Sesekali ia mengerling ke arahku, lalu detik berikutnya tersenyum lebar saat aku berhasil mengulum senyum dengan pipi memanas terpesona yang tengah duduk tepat satu meter tak jauh dari hadapannya, di bangku yang terbuat dari semen. Beberapa orang menatapnya dengan tatapan kagum, di antara orang-orang berlalu-lalang yang tengah jogging. Navroy tetap fokus dan bersemangat menikmati tubuh tegapnya naik-turun melewati besi melintang panjang itu dengan tangan menggenggam pada besi, bergelantungan hanya beberapa detik sebelum menahan beban tubuh agar tetap stabil bergerak pull-up yang sesekali diselingi dengan kolaborasi chalistenic senam di udara sembari diiringi house music yang berasal dari speaker ponselnya.


Beberapa variasi Navroy lakukan , hingga saat tubuh itu berputar mengitari besi melintang itu dengan kepala menghadap kebawah dan kaki di atas besi sambil memompa tubuh kekar itu, layaknya sit-up. Kerlingan mata eksotiknya membuatku lagi-lagi tertegun merona dan membuat beberapa gadis yang sengaja mendekat untuk menontonnya sedari tadi melirik sesaat ke arahku. Detik berikutnya, dalam satu sentakan tubuhnya melayang dan terdorong ke depan, tepat berada di hadapanku, ia menatapku sendu dalam bibir yang sedikit mengerucut, menunjukkan sebuah benda bulat berwarna emas.


Apa itu? Cincin?


Dia masih menatapku dengan anggukan sekali untu meyakinkan saat aku balas menatap. Ekspresi wajahnya jelas sekali menahan bobot tubuhnya masih ia lakukan.


Benar, itu sebuah cincin emas polos tanpa hiasan apapun yang sedari tadi bertengger dan digigiti Navroy sedari tadi, berkilau di tempa cahaya senja. Aku masih menatapnya, menatap penuh tanya dalam binar mata haru tertegun. Matanya juga basah, ada senyuman terlihat dalam sudut mata lelaki itu, ketika aku meraih cicin itu di antara bibir tipis merahnya yang menggoda. Caranya yang begitu manis dan romantis menurutku, membuat orang-orang di sekitar kami yang menyaksikan bersahutan takjub dengan tumpang-tindih terdeteksi oleh inderaku hingga menbuat pipi ini bersemu merona.


“Untukmu, Babe,” bisiknya mengerling sesaat, lalu tubuhnya terayun kembali ke belakang, memutar tubuh berusaha menggapai besi itu dengan kedua genggaman tangannya dan kembali melakukan pull-up beberapa kali, untuk melenturkan ototnya yang sejenak kaku tadi, asumsiku. Kemudian, melompat ke tanah dengan khasnya sembari tersenyum lebar.


Ada apa?


“Haruskah aku menjelaskannya lagi?” racaunya dengan sikap cemberut, lalu duduk di sebelahku dengan wajah dingin yang diikuti tatapan melirikku dengan berkerut samar di kening, menahan tawa. Aku baru menyadari telah mengucapkan begitu saja apa yang ada dalam pikiranku.


Sungguh, sikapnya itu benar-benar menggemaskan saat ini.


“Apa, sih?” bujukku sengaja memanjakan suara ini.

__ADS_1


Beberapa orang mulai kembali jogging, kecuali para gadis kelewat muda yang masih menatap kami, terlebih menatap lelaki pujaanku di sebelah ini dalam tatapan berlebihan dan ingin tahu.


Tapi, lelaki ini masih diam. Pandangannya masih datar dengan menatap lurus ke depan dan sesekali meneguk air putihnya. Dia benar-benar cemberut dan mengabaikanku.


“Babe?” cobaku lagi. “Babe-ku, cintaku, padamu, azizm-ku, dostit daraam i love you, mmuuaahh!” sahutku lagi yang mengeluarkan istilah itu untuk sekian lama.


Sekilas, aku melihatnya ia berusaha mengulum senyum dan tetap berusaha memasang wajah datar. “Ada apa, Azizm-ku?” lanjutku mencoba kembali.


Tetap saja tak ada sahutan darinya. Helaan napasku terdengar berat sambil tubuhku mengubah posisi menghadap ke arahnya, lalu menatapnya sejenak. Kemudian, entah mengapa, tangan ini terulur, menyentuh wajah putih nan mulus yang mulai basah oleh keringat itu dan membuatnya menoleh menatapku.


“Maaf jika membuatmu kecewa atau kesal.” Lirihku menatapnya sambil masih menggengam wajah kelewat tampan dan mempesona itu.


Ketika kudengar helaan beratnya dan mengubah posisinya ke arahku, aku tahu dirinya mengalah. Gelengan perlahannya membuatku cukup rileks.


“Tadinya kupikir kamu akan menungguku untuk memakaikan cincin itu di jemarimu, tapi .... lupakan saja!“ cecarnya keluh yang membuatku nyaris tertawa geli, tapi berhasil menahannya.


“Ohm, jadi itu alasannya?” ulangku untuk memperjelas sembari menahan tawa.


Sorotan matanya berubah menyipit. Lalu, “Kau mengejekku?”


Tawaku berderai. “Umm ... apa, ya?” tawa sumbangku semakin menggema saat Navroy mulai menggelitiki pinggangku. Tangannya berulang kali menahan tanganku saat aku berusaha menahan tangan jahilnya itu. Dia ikut tertawa, seolah kami berdua melupakan tempat di mana kami berada saat ini. Bahkan, tak peduli yang lagi-lagi menarik tatapan berlebihan orang-orang di sekitar.


Tangan besar dan jemari panjang dan putih itu kini membantuku memasang benda bulat—yang telah jadi favoritku—di jemari manisku ini, saat aku mengacungkan tangan ke arahnya. Dia tersenyum manis, bersamaku, saat menatap pemberiannya itu menyatu dengan cantiknya di sana. Sebelum ia mengerling dan mengusap lembut kepala ini, aku nyaris berbisik mengatakan rasa terima kasihku padanya, dengan begitu bahagia.

__ADS_1


Sungguh, rasanya kebahagiaan itu menjalar seketika dalam tubuhku. Namun, di sisi lain, di sudut kecil terdalam hatiku di sana, kurasakan tangis luar biasa. Entahlah, tapi apa pun itu, kuharap semuanya baik-baik saja.


* * *


__ADS_2