
Apa yang telah terjadi, tak bisa menjadi indah kembali lagi. Meski, kau berusaha sekuat tenaga apa pun mencoba, berdiri tegap dalam kekelaman, tetapi pada akhirnya, kau akan temukan sakit itu lagi yang telah kau abaikan selama beberapa waktu lalu.
Rasanya semua tak ada artinya, ketika kau pergi, Navroy. Semuanya hancur dan hilang tanpa sisa. Mirisnya, yang kau tinggalkan hanya luka yang teramat sakit setiap detiknya. Di sini, di dalam hati kecil ini. Hidupku seperti tak ada indahnya lagi. Setiap saat, aku terbangun dengan isakan tangis yang begitu memilukan dan menohok, bahkan dalam tidurku yang begitu menyiksa.
Sebelum tidur, airmata itu membasuh wajahku, tak peduli raut ini telah pucat atau tidak, bahkan kelopak mata ini telah membengkak atau tidak. Kau ... telah merampasnya tanpa sisa, terlebih senyuman ini. Bahkan, untuk bersosialisai dengan lingkungan sekitar pun, tak lagi. Rasanya hariku begitu muak, tak seindah lagi. Ya, seperti hujan yang setiap saat membasahi bumi, namun bedanya, hujanku tak menampakkan pelangi. Yang ada hanyalah, airmata yang semakin menyakitkan setiap harinya, tak peduli waktu dan tempat, seperti badai. Inilah aku yang tak berdaya, menutup diri dengan pengecutnya. Aku benar-benar sangat lemah, payah dan rapuh saat ini. Diam tanpa kata, menyendiri di kamar dalam pandangan kosong, kini mewarnai dunia dan hariku. Benar! Otak dan hidupku saat ini berotasi tentangmu. Lagi-lagi, sosok tentangmu kutemukan dalam pikiranku, serasa tiada hentinya mencabik hingga meninggalkan luka yang begitu dalam.
Semakin aku mengalihkan diri, namun sakit itu semakin menyiksaku pula. Seolah mempunyai celah untuk masuk dalam pikiran, lalu mengobrak-abrik semuanya tanpa sisa. Kenangan yang dulunya kusebut keindahan, kini sepaket dengan kesakitan.
Bekerja, lalu mengunci diri di kamar, hanya itu yang bisa kulakukan. Rasanya semuanya tak ada lagi. Hampa ... begitu hampa, hingga bahkan dalam mimpi pun tak kutemukan dirimu lagi. Berulang kali Sadeev dan teman-teman lain menelepon, namun hanya kuabaikan. Terlebih, Farah dan Sadeev yang sering mengunjungiku di kamar ini, berusaha menyemangati dan bangkit, namun tetap saja kutemukan diriku terkapar tak berdaya di sudut kelam sana. Ya, tubuh terdiam kaku dengan pandangan kelam yang mereka temukan dariku. Entah sudah hari ke berapa, minggu ke berapa, diri ini begitu larut dalam kerapuhan. Berulang kali mencoba bangkit, tapi tetap saja ia terus mencoba masuk di celah pikiran ini.
Aku membencinya! Membenci dengan segala sisa daya yang kupunya, terlebih sikap dan keputusannya itu. Benci dengan tingkahnya yang seenaknya menjadikan cinta ini taruhan, tapi menohok dan mirisnya, pada akhirnya, cinta ini tetaplah tak bisa mengenyahkan dipikiran. Ia masih bak Dewa Yunani di hati ini, meski kini telah sebagai dewa badai yang setiap saat mengobrak-abrik hidupku hingga merenggut damai ini.
Tak jarang, aku menangisi dirinya di kamar yang tak luas ini, terlebih ketika aku melihatnya bersama gadis lain yang mendekat.
Mengapa? Secepat itukah? Apa salahku?
Aku lalu melipat kedua kaki yang kutekuk sedari tadi sembari menangis sejadi-jadinya dalam isakan tangis yang mendalam. Dalam hati yang terdalam, di sudut kelam, kutemukan jeritan cinta ini bahwa, aku masih begitu mencintainya.
* * *
“Hai.” Farah menyapa dengan ragu, saat ia muncul di ambang pintu setelah mengetuk.
Lagi-lagi sahabatku itu menemukanku terbaring lemah tak berdaya dengan kaki di tekuk sambil memunggungi.
“Ada yang mencarimu. Dia seorang diri, di ruang tamu. Jika bisa memberi saran, kamu boleh saja terpaut pada Navroy, Key, tapi bukan berarti kamu menutup diri dan mengabaikan orang-orang yang mempedulikanmu,” lirihnya yang masih berdiri di sana. Namun, masih membuatku terdiam. “Temuilah, please? Setidaknya, kamu sudah berusaha menarik dirimu dalam kekelaman. Dan itu, takkan bisa dilakukan oleh orang lain jika bukan dari dirimu sendiri!”
Kubenamkan kepalaku dalam selimut. Lagi, air bening ini menetes dalam diam.
“Please, jangan membuat dirimu terus-menerus dalam kekonyolan,” desahnya sebelum aku mendengar pintu tertutup. Isakan tangis seketika terdengar dariku.
__ADS_1
*Tidak, tak semudah itu!
Andai saja bisa, tapi*....
Setiap kenangan yang terputar jelas di otakku, setiap sosok itu ada dalam pikiranku, rasanya beribu belati mencabik kasar hati ini. Sakit! Begitu perih hingga kutemukan diriku seperti terkapar tak berdaya dalam kekelaman ini.
Ketukan pelan terdengar dari ambang pintu. Sekali ... dua kali ... bahkan berulang kali bersama suara sopran. Ya, aku kenal suara itu. Suara yang telah beberapa hari terakhir ini mecoba menghiburku, kini ia datang menguatkan namun aku dengan begitu jahatnya mengabaikan. Bahkan, masih terbaring di tempat tidur ini tanpa sedikit pun niat untuk bangkit menemui atau membukakan pintu.
Selang tak beberapa kembali hening, kini deringan ponsel itu yang mulai mengganggu. Lagi, aku mengabaikan tanpa sedikit pun melirik siapa yang menelepon. Semakin aku mengacuhkan, semakin pula ponsel itu seperti musik yang tanpa henti terdengar.
Dengan kesal, aku meraba lalu menjawab.
“Ms. Indonesia?” lirihan itu seketika menyentakkanku hingga membuat aku cepat-cepat mengecek ponsel. Namun, ada rasa kecewa yang kutemukan dalam sana ketika telah melihat. Asumsiku salah. Istilah panggilan itu, biasanya dari Navroy, karena umpan balik dariku dan—
“Keysa, masih marah padaku, ya, karena aku masih berada di depan pintu kamarmu?” sela lelaki itu dalam aksen Inggrisnya yang membuyarkan lamunan.
“Apa?”
“Apa yang kau lakukan di sana? Kau menelepon tapi hanya berjarak satu setengah meter jauhnya dariku? Astaga, Sadeev, kau benar-benar!” tawanya terdengar dengan innocent.
“Ini satu-satunya cara aku bisa mengobrol denganmu,” Ia berhasil membuat senyum ini terbit, meski seulas. Hening kembali, lalu detik berikutnya, “Kau off kerja hari ini, kan?” tanyanya kembali.
Aku mengangguk, meski ia tak melihatnya. Mataku terpejam kembali sembari menenggelamkan wajahku pada bedcover satin ini. “Hari ini, kan, hari minggu. Jadi ... mari kita jogging pagi!” lanjutnya riang dalam telepon, tapi suaranya masih terdengar jelas di luar sana. Dia benar-benar masih berada di sana, di depan pintu sesuai pengakuannya.
“Jogging pagi? Sekarang?” tanyaku mengulang dengan terkejut, setelah mata ini kembali melebar.
“iyalah! Kenapa?”
“Lagi malas!”
__ADS_1
"Aku baru tahu dan dengar, rupanya ada dokter yang malas berolahraga!" gumamnya menimpali dengan menyebalkan.
“Sssstt, diamlah!” sergahku kesal.
Suara kekehan Sadeev terdengar dan bersamaan dengan sejenak suara gedebuk pintu, lalu diikuti ringisan kecil yang membuat senyuman lebarku tersungging.
Dia lagi apa, sih, di luar sana?
“Kau lebih suka dia berada dalam kepalamu terus, ya?” sahutnya setelah beberapa detik.
Senyumku sirna seketika, membuat kerutan samar di kening ini.
Dia? Siapa yang Sadeev maksud? Dia ... o-oh!
Tanpa sadar aku mengigit bibir. Sungguh, badmood-ku semakin bertambah kali lipat.
Sadeev, kau benar-benar tahu cara membangunkanku! Jam tidurku jadi terganggu, Mr. Afghanistan dewana!
Tawanya menggema beberapa saat di luar dan di ponsel yang membuatku harus menjauhkan ponsel di telinga beberapa saat karena bising oleh tawa terbahaknya yang bersamaan dalam dua tempat itu—tanpa sadar kalimat di kepalaku terlontar begitu saja. Aku lalu menutup telepon.
“HARUS, YA, KAU MENGINGATKAN SEPERTI ITU?” Teriakku sarkasme setelah mendengus.
Tawanya terdengar lagi dari arah luar, tepat di balik pintu. Tawa yang benar-benar mengejek.
"DASAR GILA!" gerutuku kesal yang masih berteriak namun dengan bahasa indonesia. Entah dia mengerti atau tidak, tapi tawa menyebalkannya itu masih terdengar.
“Cepatlah bersiap, aku menunggumu di bawah, di ruang tamu!” selanya teriak setelah tawa mereda dengan innocent.
"Memangnya, yang bilang bersedia jogging siapa, sih? Benar-benar bule gila!" racauku kesal mengeluh sendirian, ketika terdengar suara langkah kaki seseorang di tangga, lalu menyingkap selimut yang sedari tadi kukenakan dan bergegas prepare.
__ADS_1
* * *