Terjebak Cinta Sang Imigran

Terjebak Cinta Sang Imigran
Ketika Tanpa Sengaja


__ADS_3

“Ada apa senyum-senyum, Babe?” bisikku di sebelahnya saat kami berada di angkutan umum yang cukup ramai.


Matanya beralih seketika ke arahku, yang sebelumnya sedari tadi menatap seorang wanita paruh baya yang tengah duduk di pojok belakang, tak jauh dari tempat duduk kami. Kedua mata eksotik itu memberi isyarat ke arah wanita paruh baya yang di tatapnya tadi. Wanita itu tengah tertidur, meski sesekali tersentak karena kepalanya terdorong ke depan atau tergeser akibat laju mobil.


Aku memandang wanita itu, lalu ikut tersenyum saat melihat lelaki itu tersenyum.


“Ada apa?” bisikku lagi padanya. Tangannya semakin mempererat genggamannya di pangkuanku. Tubuhnya begitu dekat, hingga aroma parfum maskulin favorit yang kuberikan padanya menggelitik di hidung.


“Mengapa dia tertidur?”


“Mungkin dia sangat lelah, Baby. Jangan di tertawakan, Sayang.” Bisiku lagi menatapnya dalam senyuman. Senyuman lebar itu masih di sana mengambang di wajah tampannya.


“Bukan menertawakannya, Azizm. Hanya, aku sedih melihatnya, dia sampai tertidur di sini.” Lirihnya lagi, lalu tersenyum kembali saat melirikku. Matanya berkaca, entahlah apa yang dipikirkannya saat ini, tapi pandangan teduh itu begitu ... menyentuh, seperti tengah mengenang sesuatu. Mungkin, ia rindu keluarganya, terlebih ibunya.


Aku lalu mengusap pundaknya, lalu berpindah ke telapak tangannya yang kini tergenggam erat di tanganku.


Begitu angkutan umum berhenti sejenak, lalu beberapa penumpang turun, Navroy lalu berpindah tempat sembari menarikku ikut bersamanya, duduk di seberang, tepat di sebelah wanita paruh baya yang tertidur itu.


Genggaman kami di lepas, lalu menarik perlahan kepala wanita paruh baya hijab itu ke pundaknya untuk bersandar. Sekilas, Navroy tersenyum manis saat melirikku. Rupanya itu alasannya mengapa memilih berpindah jok duduk. Ia lalu kembali mengkeret tanganku lalu menggenggamnya dengan erat.


“Keysa? Kau mendengarku?”


“Ya, Babe?” tubuhku tersentak saat tangan itu menyentuh perlahan tanganku dan spontan mengucapkan panggilan itu. Begitu aku menyadari siapa di sampingku, rasanya hati ini menangis, sesak. Rupanya aku kembali mengingat Navroy, mengingat tentang dirinya dan kenangan kita, saat sekarang ini berada di angkutan umum bersama sahabatnya.


Dia menatapku, punuh tanya. “Ada apa?” gelenganku membuat Sadeev mengusap kepalaku.


“Ingat dia lagi, ya?” asumsinya menebak.


Helaan napas beratku terdengar. “Entahlah, di mana pun aku berada, ia tetaplah mengusik,” gumamku lalu menatap ke arah lain, berusaha keras menahan rasa sakit yang mulai menjalar ke tubuh ini.


“Aku tak tahu apa yang sebenarnya terjadi pada kalian. Dan sejujurnya, aku juga tak yakin, ia setega itu melakukannya padamu. Tapi ingatlah satu hal, Key, sesuatu yang di perjuangkan itu, suatu hari akan memberikan jawaban yang membuat mengerti. Mungkin, saat ini belum, tapi percayalah, akan ada saatnya kau mengerti semuanya. Ikhlaslah, kuatlah, Keysa, aku tahu kau pasti bisa,”


Dan kalimat yang terakhir dari mulutku sendiri yang kudengar menyedihkan dan kelam adalah, “Apa kabarnya baik-baik saja di sana?” bisikku yang membuat lelaki di sebelahku ini mengusap lenganku, bermaksud menyemangati dan tersenyum simpul.


“Yeah, dia pasti baik-baik saja di sana, dan kau harus seperti itu juga,” desahnya berbisik yang membuat air mata ini mengambang di pelupuk mata, hingga aku harus berusaha keras menahannya.


* * *


Sudah beberapa hari, aku mengeluarkan ia dari pikiranku. Meski seperti itu, tetap saja membuatku sakit dan menangis pilu. Rasanya, duniaku hampa, bahkan nyaris mati. Aku seolah-olah menemukan diriku tengah terkapar tak berdaya, terlepas dari kepergiannya itu.

__ADS_1


Rasanya begitu sakit, ngilu, dan hati ini menjerit dalam tangis, ketika kedua kaki ini melangkah melintasi jalan trotoar depan karebosi. Dia seolah-olah di sana, mentapku dalam senyuman sambil menunggu di bawah tirai hujan. Kenangan itu terasa terulang kembali, seperti baru kemarin saja.


Aku menghela napas berat. Mengangkat wajahku agar tetap menatap lurus ke depan, sebisa mungkin berusaha keras untuk tak menoleh ke arah pohon besar di seberang jalan sana, tepat di depan bangunan pencakar langit megah itu. Aku tak ingin, bayang akan sosoknya tampak di celah pikiranku ketika memandang tempat itu. Tidak! Sudah cukup itu menyiksaku untuk kali ke sekian terjadi saat melewati tempat itu.


Tubuhku nyaris bertabrakan pada sosok tegap di hadapanku, yang tetiba saja muncul entah dari mana. Aroma maskulin parfum itu, membuat seketika tubuhku terpaku dan terkunci diam—meski kepalaku menunduk tak memandang pemilik tubuh itu—tapi aku tahu, asumsiku benar. Mataku nyaris tak mengerjap, saat kudapati seseorang yang baru saja mengusik pikiranku, kini berada di hadapanku. Bahkan, mata dengan iris kecoklatan emas itu, seolah tak ingin melepas jeratan tatapan itu. Benar, Navroy di sini, tepat di depanku. Begitu dekat, bahkan hanya beberapa senti dariku. Pandangan teduh namun takjub sekaligus terkejut itu, seolah mengatakan sesuatu dalam bola mata eksotiknya. Tanpa sepatah kata pun, tanpa apa pun, aku seketika mengalihkan pandangan dan memunggunginya—ketika deringan telepon masuk di ponselku yang baru saja kusadari, sekilas kedua matanya kutemukan melirik ke arah ponselku saat aku benar-benar hendak mengabaikannya.


“Key, kau sudah di mana sekarang? Aku.... ” suara Sadeev terdengar di telepon.


Entah itu apa, tapi aku baru merasakan bernapas, setelah menatap Navroy. Seperti dunia begitu hening, suara kendaraan yang berlalu-lalang atau pun klakson, tak terdengar sedikit pun, bahkan hening. Begitu heningnya, hingga suara tumpang-tindih orang-orang di sekitar begitu ramainya yang berseberangan dengan sekolah SDN dan tempat menunggu angkutan umum, benar-benar tak terdeteksi oleh inderaku. Saat aku menoleh ke belakang, ia telah tak ada di sana. Entahlah, mungkin telah pergi.


Tapi, tunggu! Apa benar aku melakukan itu? Mengabaikannya? Sungguh tak bisa dipercaya! Aku benar-benar melakukannya!


“... Keysa? Kau masih di sana, kan? Masih hidup?” suara cemas Sadeev membuatku mengernyit heran.


“Bicara apa, sih?” timpalku menyela dengan innocent.


“Kau dari mana, Mrs. Quetta? Kupikir kau telah diculik.”


“Quetta? Apa itu?” alihku yang mengabaikan pertanyaannya.


“Sejenis cinta!”


“Sadeev?”


Mendengar namanya saja, sudah membuat jantungku berdegub cepat, tapi sangat terasa sesak di sini.


“Key? Apa yang terjadi sebenarnya?”


Aku menggumam tidak jelas.


“Apa? Bicara yang jelas dewana,” protesnya.


“Kami bertemu,”


“Apa? Maksudmu.... “ ia menggantung kalimatnya


Napas beratku terdengar. “Seperti tanpa sengaja,”


“Oh, kupikir. Tapi bukankah itu bagus? Maksudku, kau mendamba itu selalu, kan?”

__ADS_1


Aku memejamkan mata lalu mendongak, seolah beban berat berada di pundakku.


“Memang, sebelum ia meninggalkanku. Tapi saat ini, mungkin ia harus bahagia. Kau tahu, terkadang, kita harus menyakiti diri sendiri, hanya untuk sebuah kebahagiaan seseorang,”


“Dan kau lakukan itu dengan tolol?”


Aku mendecakkan lidah. “Kadang-kadang kita harus menjadi orang lain, agar bisa memahami seseorang,”


Desahannya terdengar di sana. “Kau tahu, menurutku, jika kau ingin membuatnya, cukup memahaminya lalu tunjukkan, bukan dengan cara melepaskan. Jelas, seseorang akan bahagia jika bersama dengan yang dicintai, bukan? Dan kau tahu hal itu! Key, jika kau ingin memahami seseorang, cukup menjadi dirimu sendiri, bukan orang lain. Karena sebenarnya, hanya menjadi diri sendirilah yang bisa mengungkap semuanya. Kau cukup memperbanyak komunikasi tanpa menutup diri, itu lebih dari cukup kurasa!” Sahutnya yang rupanya telah berada di belakangku, telepon telah terputus darinya. Ia tersenyum, lalu mengusap kepala ini.


“Jadi, dia di dalam sana, ya?” sahutnya lagi bertanya saat kedua mata itu mengisyaratkan.


“Sejak kapan kau berada di sini?”


“Sejak tadi! Kau selalu saja mengabaikan pertanyaanku lalu mengalihkan dengan pertanyaan lain,” sungutnya protes, kemudian menarik hidungku hingga membuatku meringis, namun hanya senyum yang tampak darinya.


“Jadi, jogging-nya di cancel?”


“Mengapa?”


“Karena di dalam sana!”


Seulas senyum tampak di wajahku. “ Hanya pengecut yang tak menerima kenyataan dan kekalahan!”


Sadeev tersenyum sembari menatapku sejenak. “Meski pada akhirnya sakit dan sesak itu ada?”


“Sakit dan sesak itu takkan berujung, jika tak menghadapi. Dan jelas, kekuatan itu tercipta, dari orang yang mengusahakan!”


Dan ia terkekeh renyah, sembari mengacak lembut rambut ini saat kami melangkah masuk ke dalam Area jogging Track itu.


“Ayo kita makan bakso dulu sebelum jogging?” ajakku menggoda dalam gurauan.


“Bukankah kau mengatakan ingin melakukan program diet?”


“Bukankah sakit butuh tenaga ekstra untuk kuat?”


Dia terkekeh. “ Dewana!”


Kami lalu tertawa, sembari mengobrol dan melangkah masuk.

__ADS_1


Cinta memang tak se-simple itu. Kau akan temukan jawaban dan ujungnya, jika kau memiliki kekuatan yang luar biasa. Dan untuk menemukan itu, butuh kemauan dan usaha yang kelam agar tercipta kata ‘ada dan bisa’!


* * *


__ADS_2