
Cukup lama aku menantinya di sini, tepat di bawah pohon besar ini dengan suasana yang begitu sepi. Tempat ini tak jauh dari pintu masuk sebelah utara dengan tempat duduk yang terbuat dari semen di beberapa titik pada tepi jalan sepanjang area. Ya, aku menunggu. Menunggunya entah telah berapa puluh menit yang terlewat hingga senja telah tenggelam mengganti terang indah rembulan yang kini juga meredup di langit sana.
Bahkan, chatku pun belum di baca oleh Navroy. Konyol memang! Terlalu konyol menunggu hingga lupa pada kodrat seharusnya. Bukankah wanita memiliki harga diri di hadapan lelaki? Berhentilah, dasar murahan! Pekik hati ini yang terus saja mengutuk diri. Airmata bahkan telah berada di ambang pelupuk mata, namun sengaja berusaha keras menahan untuk tak keluar, membasahi pipi.
Lalu, aku harus bagaimana? Salahkah, jika aku yang berjuang? Setidaknya, hanya ingin kejelasan atas hubungan ini. Terlalu banyak! Terlalu banyak pertanyaan yang menggerogoti hariku hingga merenggut damai ini dan perlahan tanpa disadari menjadi lubang luka di dalam hati. Apakah salah? Bisakah sedikit saja menghargaiku?
Sudah pukul delapan malam. Benar, aku menunggu se-lama itu hanya untuknya. Menunggu dua jam lebih di sini hanya untuk lelaki yang begitu kucintai itu. Untuk sebuah hubungan konyol ini. Tubuhku mulai terasa menggigil dengan kaus tipis yang kukenakan akibat efek dingin yng telah menyesap ke dalam raga. Aku baru ingat, jaket yang kupakai memang sengaja menyobek sebagai penutup gips lelaki itu.
Dan, sampai pintu masuk di sebelah utara dan selatan hendak di tutup, dia masih tak kunjung datang. atau setidaknya, lewat di jalan ini.
Ngilu! Rasa perih dan ngilu mulai menyesaki benak ini!
Ada saatnya kau bahagia, ketika waktu itu tiba. Ada saatnya, kau harus bersedih seolah mengenakan topeng. Dan ada saatnya pula, kau seolah-olah bukan menjadi dirimu. Dan ketika waktu itu tiba, tanpa kau sadari, akan mengajarimu dalam waktu bersamaan untuk menjadi pribadi yang kuat. Kau bisa saja lari, kau bisa saja bersembunyi. Tapi ketahuilah, akan ada saatnya, hujan membasahi setiap yang di jumpainya. Seperti itulah luka dan kesedihan.
* * *
Keysa
Hi, Babe!
Bagaimana kabarmu? Bagaimana dengan kakimu? Apa masih sakit?
Tetaplah berhati-hati dan jaga dirimu. Please, don’t so hard of workout.
Keysa
Babe, are you okay?
Please, don’t make me worry :(
Keysa
Babe, i miss you :(
Keysa
Baby, kamu di sana?
Keysa
Baby, maaf aku mengganggumu, tapi kuharap kamu baik-baik saja di sana.
__ADS_1
Keysa
Jaga dirimu dan tetap jaga kesehatan, Azizm-ku, sayangnya aku, dostit daraam mmuuaachh.
Menit....
Jam....
Bahkan, berjam-jam, pesan dari Navroy tak ada. Ya, dia masih belum membalasnya. Bahkan, membaca pun tidak. Ponsel itu seakan-akan lapuk dan berdebu tanpa kabar dan notifikasi darinya. Aku hanya bisa menatap benda lebar pipih itu yang tergeletak di sebelahku dengan sorot mata hampa sambil terbaring dengan memeluk lutut ini.
Rasanya diriku tak berdaya. Duniaku tak berarti lagi. Entah berapa tetesan air mata yang telah membasahi wajah ini hingga mengakibatkan seprai satin berwarna merah jambu yng telah membalut kasur empukku menjadi lembab. Mata yang masih sayu, terlebih sulit untuk membuka mata. Terasa pelupuk mata ini menebal, mungkin bengkak karena efek dari airmata bodoh ini. Mirisnya lagi, itu juga selalu terjadi dalam keadaan saat hendak tidur dan terbangun, seolah airmata itu telah menjadi sahabatku akhir-akhir ini, menemani sebelum dan saat terbangun dari tidur.
Sejak pertemuan dan insiden tanpa sengaja kali terakhir itu, aku tak pernah mendapat kabar lagi darinya, bahkan, semua akun sosial medianya non-aktif. Navroy seolah lenyap tanpa jejak.
Wanita yang dahulunya kuat dan tak serapuh ini, mengapa begitu tak berdaya dengan terbaring lemah di tempat tidurnya itu? Menangisi lelaki yang sedikit pun tak memperdulikannya. Bodoh, memang!
Terkadang hatiku bertanya-tanya, mengapa mencintaimu sesakit ini? Serumit inikah cinta sederhana dan tulus yang kumiliki? Apa salahku hingga kau menyiksa dan membunuhku secara perlahan-lahan seperti ini? Aku bahkan tak peduli lagi pada hidup dan diriku saat ini dan lagi-lagi hanya berfokus padamu saja. Cintaku padamu, wahai lelaki imigran Pakistan, merangsek waras dan merenggut damaiku saat ini. Kau ... sungguh keterlaluan!
Aku memejamkan mata, seakan menikmati airmata yang lagi-lagi untuk kali kesekiannya mengalir tiada henti.
Ma, mengapa begitu sakit?
“Kamu sakit?”
Aku hanya menggeliat dalam selimut saat ia mengecek keningku, namun suhu tubuh yang di asumsikan demam, nyatanya membuat wanita yang saat ini terlihat glamour itu mengeryit dalam tatapannya. “Tubuhmu dingin. Apa yang terjadi, sih?” lanjutnya heran.
Lagi, aku mengeliat setelah menggeleng. “Tidak ada. Kupikir kamu sudah lupa jalan pulang,” senyum simpul Farah menguap, tapi mata itu seperti bicara bahwa ada kesedihan di sana. Sulit memandangnya dengan mata sayu seperti ini.
Ya, akhir-akhir ini memang ia jarang pulang ke rumah. Dan ia juga tak pernah menjelaskanku bahwa di mana selama ini ia menginap.
“Kamu menangis?” alihnya menatapku, menuntut.
Ah, wanita ini! sekeras apa pun ia berusaha menyembunyikan, tetap aslinya tetap saja tak mampu ia tahan, terlebih kebiasaan konyolnya kepadaku.
“Aku senang, kamu sudah di sini,” gumamku menatap kosong tanpa memandang gadis mungil yang telah men-cat pirang kekuningan rambutnya itu dan lebih memilih mengabaikan pertanyaan. Bisa kurasakan, ia mendekat, lalu duduk di tepi tempat tidur saat kasur empuk ini sedikit bergoyang.
“Apa dia menyakitimu lagi?”
Pertanyaanya itu membuatku terdiam. Aku tahu, sifat ‘paparasinya mulai kumat. Namun, airmata ini hanya menetes begitu saja di pelipis, hingga membuatku semkain menenggalamkan wajahku dalam selimut ini. Perih itu seolah membara dengan pedihnya dan menjalar dalam tubuhku. Ya, tentu saja yang di maksud Farah adalah Navroy.
“Keysa?” panggilnya lagi mencoba, tapi kali ini berusaha membalikkan tubuhku yang sedari tadi kupunggungi dan aku tetap dengan posisi menyamping, menenggelamkan wajah konyol ini yang semakin membengkak karena airmata.
__ADS_1
“Setidaknya, kamu berada di sini sekarang, membuatku tidak merasa sendirian, terlepas dari kenangan mama dan—“
Farah seketika memelukku sembari terisak, memeluk begitu erat tanpa kata. Entah ada apa dengan wanita ini, seperti ada sesuatu yang menyakitinya.
“Maafkan aku, aku sangat merindukanmu,”isaknya yang membuatku tersenyum simpul sembari ikut memeluknya, dalam masih posisi seperti ini, terbaring.
Terkadang, di saat kau merasa sendiri atau bahkan dunia terasa kejam, saat itulah ketika orang yang berada di sekitarmu, ada untukmu, terasa seperti seolah obat sekaligus malaikat yang telah sepaket di kirim Tuhan untuk menjadi penyembuh dan penyemangat, meski sesaat.
Ketika Farah melepaskan pelukannya dan pamit mengambil makanan untukku di lantai bawah, saat itulah, untuk kali pertama, telepon dari Navroy tak kuharapkan masuk di ponselku. Benar, deringan yang berbunyi itu seakan peringatan mengerikan untuk hidupku.
“Hai.” Sapanya setelah beberapa detik telah kujawab teleponnya dan aku hanya bungkam sedari tadi.
“Hai. Bagaimana kakimu? Apa masih sakit?” sayuku yang langsung menanyakan keadaannya. Itu hal yang pertama memang yang ingin kudengar darinya, saat menunggu beberapa hari kabar karena mencemaskannya.
“Yeah, segalanya baik, terima kasih waktu itu dan hingga saat ini.” ia menarik napas, lalu menghela berat. “Maaf aku tak pernah mengabarimu lagi. Tapi, Keysa, Kuharap semuanya tak seperti ini,” lanjutnya dengan berat di sana.
“Apa maksudmu? Keysa? Apa itu? Apa maksudnya sikapmu berubah seperti kita tak memiliki hubungan?” cecarku cepat, seakan ketakutan akan kehilangan kabar lagi darinya.
Hatiku mulai resah, seolah ada yang menikam hingga terasa menohok namun menangis.
Helaan beratnya terdengar lagi, ia terdiam sejenak. Lalu detik berikutnya, “Yeah, maafkan aku, tapi lebih baik kita hentikan ini. Itu ... demi baikmu! Kita broke up, "
“Apa? Kita putus? Mengapa, Babe? Apa salahku? Aku akan berusaha memperbaiki jika ada yang tidak kamu suka dariku,” kelamku yang mulai airmata memenuhi pelupuk mata.
Dia terdiam lagi sejenak. Lalu, “Maafkan aku, aku tidak baik untukmu, demi baikmu.”
“Dan Baikku’, kebahagiaanku itu adalah kamu! Kenapa? Azizm, Please—“
“Kami hanya menjadikanmu taruhan,”
Deg!! Seolah jantungku berhenti berdetak. Seolah oksigen tetiba tak ada. Dia berhasil membuatku berhenti memohon dan bungkam. Airmata yang secepat kilat memenuhi kelopak mata ini kini telah tumpah dengan derasnya. Hancur sudah!
Tubuhku tak bergerak. Yang kurasakan, hanya perih, ngilu, sakit yang begitu menohok, terlebih rasa yang begitu menyakitkan tertahan di tenggorokan, seperti tercekat, lalu menyeruak dengan sesak di segala syaraf yang begitu menyakitkan bagai beribu tombak dan gada mencabik hati ini. Aku bahkan merasakan telah mati. Kalimat itu, seolah mesin bor yang mengikis paksa begitu dalam dengan perihnya dalam pikiran ini yang terus mengulang kalimat itu seperti kaset rusak. Kalimatnya tadi, tentang kenangan kami, tentangnya, semuanya lebur menjadi satu dalam pikiran yang memberikan luka yang begitu menyakitkan saat ini dalam hati. Luka yang yang telah menganga itu, kini pertanda bahwa hari yang kulewati akan seperti itu juga.
Dalam hitungan detik, kau mengubah segalanya dan menghancurkan hidupku, Navroy!
Yang kuingat, suara Farah yang begitu cemas memekik, lalu tubuhku ambruk dalam pelukannya. Terakhir yang kudengar, suara jeritan memilukan bersamaan dengan isakan tangis yang tak tertahan itu, rupanya berasal dariku.
* * * *
__ADS_1