Terjebak Cinta Sang Imigran

Terjebak Cinta Sang Imigran
Perubahan Yang Tetiba


__ADS_3

"Hai, Nona Pakistan!" Sapa gadis manis itu yang telah melambai dan tersenyum lebar. Dia Farah, sahabatku yang masih pagi-pagi buta meneleponku via video call. Kulirik sekilas miniature jam berbentuk gitar, telah menunjukkan pukul empat pagi.


"Hei, sadarkah kau menelepon jam berapa?" Tegurku mengingatkan sambil memicingkan mata, berusaha membiaskan cahaya ponsel yang menimpa retina, begitu membuka mata sesaat.


Benar-benar mengganggu tidurku yang baru saja di mulai!


Farah hanya terkekeh dengan raut wajah innocent. "Aku tidak bisa menunggu pagi lagi!" Tukasnya berlebihan yang membuat senyuman ini merekah dalam mata masih terpejam.


"Kau terdengar menakutkan, seolah diam-diam memendam rasa padaku!"


Gelak tawa kami bersamaan terdengar saat gurauan itu terlontar di mulutku. Sudah lama memang kami tak bercanda seperti ini, sejak ia pergi ke Jakarta beberapa waktu lalu.


"Bagaimana kabarmu di sana?"


Farah menarik napas, lalu tersenyum. "Sangat baik.


"Bisakah kau membiarkanku istirahat dulu? Aku baru mendapatkan tidur, Nona Jakarta!" Sungutku yang kembali memejamkan mata.


"Oh, ayolah! Aku rindu padamu!"


"Rindu padaku atau ceritaku?"


Suara kekehannya masih terdeteksi di indera ini. Ia rupanya mengerti.


"Hehe, lebih tepatnya, keduanya,"


"Dasar paparasi gak jelas!"


"Dan kamu tahu betul, paparasi tidak mengenal waktu!" timpal Farah, lalu diikuti dengan tawa menggema.


"Sayangnya, untuk channel-ku, waktu siarannya terbatas, Babe. So, see you!" Seruku sarkasme, kemudian menutup telepon, sebelum ia menyela dan cerewet.


Detik berikutnya, tubuhku benar-benar beristirahat. Sekilas yang kuingat, bayang-bayang lelaki itu melintas dipikiranku, lalu setelah itu, aku tak ingat apa-apa lagi.


* * *


Entah apa yang membuatku terbangun, tapi rasanya begitu gerah. Kipas angin di kamar ini benar-benar tak berfungsi. Mungkin, lampu tengah padam, entah itu pemadaman bergilir atau apa pun. Tubuhku menggeliat dalam selimut. Rasanya, benar-benar lelah, bahkan terasa ngilu.


Navroy. Entah ke mana dia saat ini. Dia bahkan tak memberiku kabar beberapa hari ini. Terlebih, chat-ku pun tak pernah di balas lagi. Jangankan di balas, di read pun tak pernah.


Ada apa? Apa yang terjadi padanya? Apa ia baik-baik saja di sana? Atau, apa aku melakukan kesalahan hingga ia begitu marah? Tapi, apa?


Lagi-lagi otakku kembali memikirkannya. Sosok itu benar-benar membuatku cemas dan resah.


Kamu ke mana, sih, Babe? Please?


Aku menarik napas dalam-dalam, lalu mengecek ponselku lagi. Tapi, tetap saja, tak ada perubahan. Cukup lama aku menatap layar ponsel chatting ini—seolah ada keajaiban—dengan background foto lelaki itu. Rasanya sesak. Ada kesedihan yang kurasakan dalam benak ini. Tetapi ... Lagi, aku mendesah berat. Kumainkan jemariku pada touchscreen keybord ponsel dan mulai mengirim chat lagi padanya.


Keysa


Afternoon, Babe. Bagaimana kabarmu? Have a nice day, ya. If can, please, don't so hard of workout and take care of there. 

__ADS_1


Ya, lagi. Hanya berisi pesan itu yang kukirimkan untuknya. Untuk kali ke sekian yang mengingatkan kesehatan dan latihan workout yang dilakoni setiap hari. Setidaknya, perhatian kecil yang kuberikan itu sebagai pertanda bahwa hubungan kami tak seperti hutan yang senyap dan dingin, namun mengerikan atau terlihat seperti hubungan yang mati. Pun, menjauh darinya. Tidak, aku tidak ingin hubungan kami seperti itu.


Cukup lama aku menatap isi pesan itu, lalu kukirimkan kepadanya.


Dasar bodoh! Rutukku memekik, kemudian membenamkan wajah ini di antara lengan dan bantal bersama selimut.


Denting halus yang terdengar seketika membuat kepala reflek menoleh dan dengan cepat mengecek ponsel.


Asumsiku benar. Aku bahkan merasakan bernapas setelah sejenak seperti menahan.


Navroy


Hi. Yeah, thank's. I hope you too.


Hanya itu? Ya, hanya itu!


"Aku rindulah!" rengekku berbicara sendiri.


Dan entah mengapa, rasanya hatiku seolah tengah menangis. Seperti sesak, namun terasa perih juga. Lalu di detik berikutnya, diikuti air mata menetes di pipi kala wajah ini kubenamkan kembali di antara selimut dan lenganku. Aku tak bisa menahannya lagi, tak bisa menahan airmata ini.


Mengapa ia kembali ke sedia kala? Mengapa ia begitu defensive? Secepat itukah?


Dan untuk kali pertama, hati dan mata ini menangis untuknya, hingga membawaku dalam tidur yang tengah kelelahan.


 


* * *


Eh, siapa?


"Halo? Hi!" Suara asing yang tak kukenali mendahuluiku menyapa ketika menjawab telepon. Alisku mengernyit.


"How are you?" Suara ramah dalam aksen inggris itu membuatku semakin heran. Sekali lagi, kucek nomor pemanggilnya, tapi tetap saja sama.


"Who are you?" Tanyaku dengan aksen Inggris pula. Suaraku terdengar serak.


"Are you Keysa?"


Keningku berkerut. Dia mengenalku? Tapi, siapa?


"Iya. Siapa? Maaf, saya tidak tahu kamu." Sahutku dengan masih berbahasa Inggris.


Kekehanannya semakin membuatku penasaran. Lalu, "Mungkin, kamu tidak tahu aku, atau lupa padaku. Saya Sadeev, temannya Navroy." Jelas Sadeev yang baru kuketahui setelah memberi tahu dan berbicara masih dalam bahasa Inggris.


"Sadeev?" Ulangku, lalu bangkit dari pembaringan dan terduduk.


"Ya, cowok yang membantumu di Mall Mari saat itu,"


"Oh, astaga! Maaf, saya tidak tahu jika itu kamu!" Sahutku tersenyum dan tidak enak hati. Sekilas, sosok tegap berparas Arabic—Afghanistan itu seketika melintas di pikiranku.


Dia terkekeh lagi. "Tidak apa-apa. Apa kamu sibuk?"

__ADS_1


Senyum lemah ini menguap. "Tidak juga, hanya baru bangun tidur."


"Wow! Okay!" Sahutnya yang bersamaan dengan kekehan. Tapi, seperti terdengar mengejek.


Ia terdiam sejenak. "Kamu baik-baik saja, kan?" Tanyanya dengan nada curiga.


"Umm-ya! Smuanya baik." Ringanku setelah berdehem.


"Termasuk dengan temanku?"


Seketika membuatku terhenyak. Lagi, sosok tentang lelaki Pakistan itu berhasil masuk dalam celah pikiran ini.


"Oh, kamu tahu." Gumamku lirih yang terlontar begitu saja.


Tawanya menggema. "Tentu saja aku tahu! Meski, dia bukan tipe lelaki yang terbuka dengan privasinya, tapi kami tahu,"


Kami? O-oh!


"Aku pikir tidak ada yang tahu." Timpalku keluar begitu saja.


"Take care of there, okay? Baik-baik di sana dan jangan sedih. Saya harus prepare untuk acara Zumba Of Workout nanti malam. Kupikir, kamu tidak sibuk malam ini. Jadi, tak ada salahnya menemuinya di Mall nanti. Okay, see you later if your want!" Jelasnya yang kali ini ucapannya di campur dengan bahasa Indonesia, lalu pamit di akhir kalimat sebelum memutuskan telepon. Tubuhku tak bergeming dan hanya menatap terpaku mendengarkan informasi darilelaki itu. Tanpa sadar, aku menggigit bibir, menimbang-nimbang sesuatu.


Haruskah aku yang memulai lagi? Tapi, jika memang benar, aku memang sangat merindukannya. Bisa jadi, aku bertemu dengannya. Ya, mungkin saja!


Kulirik jam sekilas di ponsel, sudah senja. Perjalanan dari sini ke tempat itu cukup menyita banyak waktu beberap jam. Aku memaksa tubuhku untuk bangkit dan berjalan menyambar handuk yang tersampir di punggung kursi plastik, lalu bersiap untuk membersihkan diri.


Tidak membutuhkan waktu lama, semuanya selesai dan berangkat. Sejujurnya, aku tak menyukai bepergian sendiri. Terlebih, ke Mall. Rasanya malas berkunjung ke sana. Namun, demi lelaki menyebalkan itu, aku akan melakukannya. Bukankah cinta tetap berjuang dalam badai sekali pun? Ya, pepatah yang konyol! Tapi, benar kata Farah. Kau tidak akan mengerti semuanya, jika kau belum mengalaminya.


Setelah naik angkutan umum, lalu menyambung kendaraan dengan busway, sesampainya di sana, senja telah terbenam.


Cukup ramai Mall megah nan elite yang berdiri di tengah-tengah laut dan dekat pantai ini yang saat ini berada di hadapanku. Aku lalu mengitari Mall ini, mencari-cari entah ke mana acara itu digelar. Dua sampai tiga kali mengitari seluruh kawasan, namun tak kutemukan dirinya.


Mungkinkah Sadeev mengerjaiku? Tapi, untuk apa? Aku menepis pikiran negatifku. Tidak mungkin! Sejauh ini ia sangat baik! Rasanya, tak mungkin ia melakukan itu, terlepas dari keramahan dan kebaikan hatinya yang begitu menghargai wanita.


Tanpa pikir panjang, aku lalu menghampiri meja besar resepsionis yang ada di lobby. Letakbga tak jauh dari pintu masuk utama selatan mall, tepat di sebelah kanan eskalator menuju lantai tiga dan sebelah kiri eskalator menuju lantai dua. Seorang lelaki bersetelan hitam dan juga seorang wanita berpakaian batik dengan sanggul anggunnya tersenyum ramah menyapa saat aku menghampiri. Setelah menanyakan tujuanku pada recepsionis informan itu dan mereka membenarkan atas informasi Sadeev. Sekali lagi, aku mencari tempat yang diberitahu resepsionis tadi. Tubuhku terasa panas membara. Mungkin, aku akan demam.


Benar, dia di sana! Berdiri di antara kerumunan orang-orang berkelompok yang tengah kompak memakai kostum sporty olahraga. Navroy memakai kaus singlet tanpa lengan hingga menampakkan lengan kekarnya dan bentuk tubuh serta dada yang bidang, dengan paduan celana kain pendek berwarna hitam dan sepatu kets sporty yang senada dengan warna celana. Ia tersenyum lebar ke arah teman kelompoknya sembari sesekali mengobrol. Tampak mereka tengah pemanasan. Rasanya senang melihat ia baik-baik saja di sana. Selang tak beberapa lama, instruksi terdengar lalu zumba pun di mulai. Acara itu rupanya di adakan tepat di tengah Mall yang berada tak jauh dari pintu masuk utara dan tempat wahana bermain.


Aku menatapnya dengan mata berbinar yang cukup jauh dari tempatnya latihannya—itu sudah membuat hatiku senang. Sesekali ia bergerak indah dan melompat. Tentu saja, banyak sepasang mata yang mengamatinya. Bahkan, beberapa gadis yang tak jauh dariku tengah bergosip ria dengan centilnya tentang kekasihku itu. Mata eksotik Navroy sejenak menangkap sosok diriku yang tengah berdiri mematung sedari tadi yang tengah menontonnya dan hanya melempar senyum sekilas ke arahku. Terlebih, ketika mereka break latihan sejenak. Ingin sekali menghampiri dan menyeka keringat di wajah itu, tapi … tidak! Mungkin saja itu akan membuatnya malu.


Ugh, Navroy, aku sangat merindukanmu!


Sejam … Bahkan, hingga empat jam, aku masih menunggunya di sini. Duduk mematung di antara orang-orang yang menonton. Setidaknya, aku ingin mengobrol sebentar padanya. Aku sengaja menunggunya selesai, agar latihannya tak terganggu.


Namun, kau tahu apa yang terjadi? Dengan senyum simpul innocent yang ia lontarkan ke arahku dari jauh, ia perlahan melintas begitu saja bersama kelompoknya dan mengabaikanku! Mengabaikan diri ini yang telah lama menunggunya di sini bagai orang tolol yang duduk sendirian di antara kerumunan dan orang-orang berlalu lalang.


Rasanya perih. Mengapa?


Kepalaku seketika tertunduk, ketika sosok yang begitu kucintai itu melangkah yang semakin lama jauh dari pandangan dan berbelok ke arah eskalator di sebelah timur. Sebelum tangga bergerak itu membawanya turun bersama teman-temannya, mata tak mengerjapnya menatapku, menatap tak bergeming dalam pandangan kelam ini, hingga ia menghilang dari pandangan.


Dan saat itulah, aku merasa, dongengku seperti telah usai!

__ADS_1


* * *


__ADS_2