
Sudah beberapa hari aku menenggelamkan diriku dengan kesibukan, namun Sadeev tetap saja mengganggu dengan main ke tempat kerja, sekadar say hai atau mengajak makan jika telah break time. Ya, pertemanan kami memang begitu dekat saat ini, bahkan bisa dikatakan kami telah bersahabat. Entah mengapa, ia begitu mampu membuatku tertawa dan tersenyum di saat hati ini masih menangis dan berdarah-darah. Ia mampu membuatku tenang, mampu mengendalikan diri ini yang larut dalam kesedihan, namun satu hal yang masih belum bisa membantuku, adalah mampu melepas jeratan cinta ini pada lelaki Pakistan itu. Rasanya masih begitu sulit melupakan dirinya, bahkan menghilangkan bayang-bayang tentang dirinya, terlebih tentang kami berdua. Mirisnya, di mana pun aku berada, bahkan berinteraksi dengan siapa pun, lagi-lagi sosok itu berhasil mengusik dan masuk di celah pikiran ini. Sungguh, lelaki itu benar-benar nyaris membuatku gila. Cinta ini, benar-benar menjelma menjadi menyakitkan, namun konyolnya, begitu indah kurasakan dan kunikmati.
“Kali ini apa lagi yang ingin kau rayu?” tanyaku saat lelaki itu telah berada di ruanganku.
Aku sedang bersiap pulang. Pasien hari ini cukup banyak dan begitu ramai, dan aku senang menghabiskan waktu dalam kerjaan ini. Membantu orang lain, sekaligus membantuku melupakan lelaki itu, meski hanya sesaat.
Sadeev masih menatapku dengan menggoda, sembari bersandar di atas meja kerjaku sambil kedua tangannya disusupkan disaku celana jinsnya. “Masih seperti kemarin, Ms. Makassar, nonton,”
Aku memutar mata, lalu mendesah. “Kau benar-benar tak bosan, ya? Kita sudah empat hari berturut-turut menonton di bioskop, dan hari ini ingin lagi?”
“Perlu di catat, Girl, sekali untuk karaoke,” selanya mengoreksi.
“ya, ya, itu sama saja! lagi pula, apa kau tak pernah berpikir untuk menyimpan uangmu? Setidaknya ketika kau mendapatkan freedom-mu nanti di negara lain,”
Sadeev menghela napas panjang. “Itu masih belum jelas, Keysa, dan kau tahu sendiri hal itu,” sahutnya kelam.
Sepertinya aku mematahkan semangatnya.
Entah mengapa, setiap aku membicarakan tentang Freedom mereka—para imigran—ekspresi dan jawaban yang sama kudengar. Siapa yang tak bersedih jika mengingat kebebasan masih belum jelas. Bisa waktunya tiba besok, atau mungkin tahun depan, atau tiga tahun ke depan atau mungkin saja lebih. Tak ada yang tahu. Terlebih, jumlah populasi imigran di negara ini cukup banyak dan menyebar di kota-kota mana pun. Bahkan, mirisnya, mereka harus berpisah dari keluarga, bahkan orangtua untuk waktu yang begitu lama mengungsi. Dan yang membuatku geram adalah, seringkali mereka di judge atau di bully dengan kalimat kasar seperti tak berguna, atau semacamnya oleh orang-orang di negara ini. Entah secara langsung, maupun dari sosial media. Sungguh, itu benar-benar memuakkan. Andai saja, andai mereka tahu bagaimana rasanya menjadi seperti mereka. Aku yang bahkan hanya mendengar cerita-cerita kelam mereka, rasanya begitu sakit, apalagi menjadi mereka. Memang, terkadang kita dipaksa dengan kondisi kita tak pernah bayangkan dan ingjngkan, tapi itu harus dijalani.
Jadi, dalam keadaan seperti ini, pada bagian ini, siapakah yang menginginkan hal seperti itu? Tak ada, bukan?
“Aku hanya ingin membuat hidup dan hari-hariku seperti orang normal, Babe, sama seperti mereka. Jadi tak ada salahnya menghabiskan waktu dengan menyibukkan workout atau yang lainnya, kan? Setidaknya, melupakan sejenak kesedihan ini yang seperti terpenjara dalam sebuah hotel. Rasanya bosan, capek, jika tak melakukan kegiatan apa pun dan hanya terpaku dalam kamar tak berdaya,” akui Navroy saat itu, ketika aku menanyakan hobinya yang setiap hari rutin dilakukan, tanpa lelah.
Dan saat itulah aku mengerti, ia berusaha bertahan di negara orang, berjuang melawan kehancuran yang telah melanda setiap harinya. Kehancuran ketika harus menjauh dari keluarga, terlebih setiap saat dilanda cemas karena mungkin saja tiba-tiba kabar buruk tentang keluarganya di sana, terdengar olehnya.
Lelaki itu menyentuh lenganku, lalu tersenyum kelam saat aku tersentak dan buyar dalam lamunan. “Ingat dia lagi, ya?” asumsi Sadeev.
Aku menatapnya mengernyit.
“Aku kenal ekspresi itu, jadi jangan memasang wajah idiot seperti saat ini,” akuinya yang membuatku tersenyum masam.
Rupanya Sadeev telah hapal ekspresi ini.
Dia menarikku untuk lebih dekat dengannya, lalu menggenggam kedua tanganku saat diri ini telah berdiri di hadapannya yang masih bersandar di meja kerja. “Aku bisa mengerti apa yang kau rasakan, Keysa, dan aku bisa tahu, bagaimana tersiksanya ketika merasakan hal itu. Berusaha melupakan dan terlihat baik-baik saja saat ini, ketika harus menjauh dari orang yang kita cintai, memang begitu menyakitkan. Rasanya setiap saat seperti mencari celah udara karena sesak tanpa oksigen. Tapi kau, kau begitu tegarnya menjalani semua ini yang kutahu memang tak mudah,” ia mengambil napas dalam-dalam, lalu menghela napas berat sembari mata itu masih menatapku dengan intens.
Tangan kanannya kini menggenggam lembut wajahku. “Kau tahu apa yang membuatku bertahan hingga saat ini? Ketika aku berusaha ikhlas, namun percaya bahwa suatu saat Tuhan akan memperbaiki untukku, setidaknya lebih baik untuk saat ini. Dan aku yakin, kau tahu akan hal ini bahwa tak selamanya keadaan akan seperti ini, meski waktu hanya berputar terus. Tersenyumlah, karena itu satu-satunya tameng menghadapi saat ini,” sahutnya dan entah mengapa, kekuatan itu menjalar seketika dalam diriku.
“Terima kasih, Sadeev,” gumamku tersenyum dalam mata berkaca-kaca. Senyum lebarnya tampak di sana.
“Jangan berlebihan, bisa-bisa kau jatuh cinta padaku,” celetuknya asal yang membuatku tertawa.
Kami kemudian pergi berlalu meninggalkan ruangan ini, sembari sesekali bergurau dan tertawa.
“Jadi, apa hari ini kita jadi nonton atau berkaraoke?”
“Dasar dewana, masih saja terus mencoba!” dia hanya tertawa dan menular padaku.
* * *
“Jadi, hari ini kau akan jogging?” tanyanya di telepon saat aku sedang memakai sepatu sport hitam-biruku. Aku sedang bersiap untuk jogging sore ini, tetiba saja Sadeev menelepon.
“Yup! Ini sudah memakai sepatu, sisa berangkat!”
“Tanpa mengajakku?” cemberutnya.
Aku bahkan mengulum senyum karena merasa geli mendengarnya seperti itu, baru kali ini. “Well, kupikir kau sibuk!” timpalku
“Aku tak pernah bilang sibuk,”
“Oke, baiklah! Sekarang kamu di mana?”
“Di Area Jogging Track Karebosi.”
Alisku mengernyit. “Kau sedang workout, ya?”
Tawa renyah innocent-nya terdengar. “Ya! Sudah dua jam yang lalu,”
Aku melirik arloji yang terpasang di tanganku. Saat ini pukul empat sore, artinya ia telah berada di sana saat pukul dua siang.
“Dewana!” pekikiku yang membuatnya tertawa. Jelas saja suara house music terdengar samar-samar dari background teleponnya.
“Lalu, buat apa minta mengajakmu kalau kau telah berada di sana, Dewana?” lanjutku.
__ADS_1
Sekali lagi, tawa itu terdengar. “Hanya ingin mendengar saja, kau mengajakku juga atau tidak,”
Senyumku menguap. “Baiklah! Sampai kapan kau di sana?”
“Sampai kau kemari,”
Oke, dia mulai membuat lelucon! Baiklah!
“Dan jika aku tak ke sana?”
“Aku akan menunggu,”
“Benarkah? Sungguh?”
“Ya!”
“Mengapa?”
“Karena kapan pun, aku akan menunggumu, sampai kudapatkan,”
Entah mengapa, kalimatnya kali ini terdengar berbeda. Tanpa sadar aku berdehem. “Baiklah! Kurang-lebih tigapuluh menit aku akan ke sana. Aku akan mengabarimu jika sampai di sana. “ sahutku mengalihkan lalu menutup telepon.
Cukup sejenak ia membuatku terdiam, lalu kemudian tersentak karena mengingat waktu. Lalu berangkat menuju tempat jogging itu.
Tepat di menit ke duapuluh enam, aku tiba di gerbang masuk area itu. Parkirannya tak terlalu ramai. Biasanya padat ketika senja atau saat senja akan tenggelam. Tak jauh dari parkiran, tepat di sebelah kiri, arah timur pintu masuk area jogging ini terbuka lebar. Cukup menaiki empat anak tangga yang terbuat dari semen tanpa di poles apa pun, aku kini berdiri di sudut pintu masuk. Suasana penghijauan seketika menguar di sini, terasa sejuk karena pepohonan hijau semakin di perkaya.
Lapangan football pertama dan kedua telah terisi penuh. Area sit up, push up juga terisi penuh, dan beberapa tempat peristirahatan di tepi area track diisi oleh beberapa orang yang entah hanya berkunjung untuk sekadar melihat-lihat tanpa berolahraga, atau sejenak beristirahat melepas lelah setelah jogging.
Aku berusaha menelepon lelaki itu, untuk memperjelas posisinya saat ini, kalau-kalau mungkin saja ia berpindah posisi. Berulang kali meneleponnya, namun tak ada jawaban. Saat aku mencoba memandang dari jauh area workout pull up, aku tak melihat jelas.
Memang, ada beberapa kelompok di sana yang tengah pull up, selebihnya hanya duduk menonton. Lagi, kucoba menelepon Sadeev, namun lelaki itu masih belum menjawab telepon.
Saat aku berbalik, menjelajah pandangan mencari keberadaan Sadeev, tubuhku seketika kaku, syarafku tak berfungsi dan serasa terkunci mati. Dia di sana! Tepat di area parkiran yang tak jauh dari tangga pintu masuk. Menatapku tanpa mengerjap saat mata kami bertemu—setelah sekian lama. Dadaku berdegub kencang sekaligus sesak dan perih. Dunia terasa berhenti, hening, rasanya sakit itu berguncang hebat di benak ini. Navroy berdiri di sana sembari memegang sepeda sportnya. Sorotan mata teduh itu benar-benar membuat dada ini semakin sesak. Hanya beberapa detik, kenangan tentang kami seketika terputar jelas di otak. Aku bahkan tak sanggup memandangnya saat kedua mata ini mulai berkaca lalu mengalihkan pandangan dengan menunduk. Ya, sama sepertinya. Entahlah, mengapa ia menatapku dengan binar mata itu, mengapa raut wajah itu seolah-olah seperti—
“... Kau sudah di mana? Apa kau tersesat?”
Aku mengulum senyum, diam-diam menyeka air mata yang mulai mengalir di sudut mata ini. Suara Sadeev terdengar bising di telepon. Benar, Sadeev telah mengangkat teleponku sedari tadi. Pandanganku kini telah beralih bersama tubuh ini yang tak lagi menghadap ke arah lelaki Pakistan itu.
“Aku masih di sini, tepat di gerbang pintu masuk utara.” Lirihku berusaha mengontrol degub jantungku yang masih terasa sesak dan berdetak kencang.
Aku tak mengerti, ketika aku berusaha bangkit dan berkorban menyiksa diriku, waktu seolah lagi-lagi berusaha mempertemukan aku denganmu, Navroy. Ya, sesak itu masih ada hingga saat ini, rasanya begitu menyiksa dan sakit. Kau seolah bayangan, di mana pun aku berada, lagi-lagi kau terasa masih ada dalam hidupku. Lalu, apa aku salah jika kukatakan saat ini waktu begitu mempermainkanku? Aku telah mencoba menjauh darimu, namun entah mengapa, seolah waktu berkata lain yang tak kumengerti. Pada detik ini, hatiku masih begitu merindukanmu, sekaligus mencinta, namun rasa benci itu juga ada. Benci ketika kau harus menyeretku dengan begitu jahatnya keluar dari dalam hidupmu. Benci, ketika aku masih merasakan sakit, hanya untuk seorang lelaki yang telah menjadikanku taruhan. Aku benci padamu, Navroy!
Kutemukan mata ini menatapnya, menatap ia yang telah pergi berlalu sembari mengayuh sepedanya.
Oh, sial! Sepertinya mataku berair. Bodoh!
***
“Key?” panggil lelaki berparas Arabic-Afghanistan itu, saat aku hendak berbelok masuk di gang rumahku.
Alisku mengernyit sembari memandangnya heran. “Kau di sini? Sedang apa?”
“Aku menguntitmu,”
“Kau terdengar menakutkan,” ia terkekeh dan menular padaku.
Gang yang cukup ramai, seketika membuat kami jadi pusat perhatian. Mungkin wajah orang asing lelaki di sebelahku ini membuat mereka menatap berlebihan.
“Aku mencarimu tadi di Karebosi,” sahut Sadeev lagi yang mengalihkan ketidaknyamanannya. Jelas saja raut wajah itu begitu tidak nyaman di tatap secara berlebihan.
“Iya, maaf, aku pulang lebih dulu,”
“Bahkan belum jogging?” aku tersenyum masam.
Untuk kali pertama, aku benar-benar menjadi pengecut. Lari dari rasa sesak ini. helaan napas panjangku terdengar.
“Hanya karena dia?” lanjut Sadeev yang mengorek lebih dalam lagi.
“Aku pikir, aku bisa sekuat itu, tapi ternyata tidak. Aku memang masih bisa saja berdiri tegap meski berdarah-darah karena mencintainya, tapi rasanya aku tak berdaya ketika melihatnya,” gumamku kelam.
Sadeev tersenyum. “Ingat, kekuatan ada dalam diri dan itu tercipta jika kau sendiri yang mengupayakan,”
Aku mengangguk. Lelaki itu tersenyum, lalu mengacak lembut rambutku. Kebiasaannya itu seperti hal lumrah padaku. Gurauan kami seketika berhenti dan berubah diam saat kami menemukan sosok Farah menatap dengan tatapan tertegun, lalu detik berikutnya tersenyum seperti rileks.
__ADS_1
“Hai.” Sapa Farah tersenyum simpul sembari menatap lelaki di sebelahku, lalu beralih menatapku.
“Hai.” Sahut kami yang nyaris bersamaan.
“Well, kau masih ingat dia, kan? Sahabatku, Farah,” selaku menyikut Sadeev, mencairkan suasana tegang ini. Farah tersenyum simpul sekilas ke arah lelaki iti dan menular padanya.
“Tentu saja, aku selalu ingat,” Desahnya lalu tersenyum mengerling ke arah Farah, kemudiam melirikku.
“Dari jogging?” sela Farah saat kami beriringan melangkah masuk.
“Ya dan tidak!”
“Ada apa?” tanyanya saat sekilas berhenti di hadapanku, seperti mencegat. Rasa ingin tahunya kumat lagi. Mataku memutar.
“Baiklah, aku menyerah. Sepertinya bukan waktu yang tepat,” Sahutnya lalu tersenyum mengalah.
Tidak seperti biasanya!
Sadeev sekilas menatap arlojinya, lalu memandang kami. “Sepertinya aku harus pulang,” desahnya akhirnya.
“Mengapa? Kita baru sampai,” timpalku menatapnya.
“Masih rindu padaku, ya?” kalimatnya membuatku salah tingkah. Lalu detik berikutnya, “Tenang saja, suatu hari, aku akan membuatmu mengingatku, bahkan seperti selalu bersamaku, Keysa,” bisiknya saat mencondongkan tubuhnya ke arahku yang seketika terhenyak.
“Well, see you!” serunya setelah tersenyum lalu pergi berlalu setelah melambai.
Farah menyikutku, lalu menatap penuh tanya, namun hanya kuabaikan sembari memutar tubuh lalu pergi berlalu masuk ke dalam. Sesaat ia mengikuti dan penuh tanya.
***
Kakiku terperanjat. Seolah mati rasa dan terkunci, berdiri tak berdaya mematung tepat di tengah-tengah jalan masuk area jogging track ini. Seperti sel dan jaringanku berhenti berfungsi, termasuk indera. Begitu hening dan membekukan kala mata itu berhasil menatapku hingga tak bisa memalingkan pandangan. Navroy berdiri di sana menatap kaku, namun pandangan itu seolah melelehkan dan melumpuhkan. Raut wajah yang kurindukan, tatapan intens yang begitu didambakan hingga menyakitkan di setiap hariku. Waktu seakan hanya menyorotnya dan ... Menghentikan dunia ini.
Andai saja aku bisa berlari memelukmu, menangis Sejenak di dada bidang itu untuk mengeluarkan segala kehancuran di benak ini yang sedetik saja tanpa sisa. Andai saja! Tapi, kau tahu apa yang terjadi? Kepalaku hanya berpaling tak memandangnya. Seolah, ia tak ada di sana berdiri—bagai laser sensorid yang otimatis terhubung padaku hingga terasa begitu menyakitkan hati ini. Aroma parfum favoritenya—yang kuhadiahkan waktu itu—menyeruak bebas di hidungku hingga bagai duri yang menusuk turun ke paru-paru ini. Baru beberapa saat melewatiku, ia berhasil menciptakan airmata bodohku.
Apa ini yang dinamakan kebetulan? Ugh, Kebetulan yang konyol!
Lagi, waktu mempertemukanku dengannya, seperti mengejek. Seakan sengaja menyiksaku dalam setiap detiknya.
Kakiku telah ambruk di tanah, membiarkan air bening ini lagi-lagi mengalir bebas di pipi. Bahkan, acuh pada orang-orang yang menatapku berlebihan. Ya, betapa gilanya aku karena dirimu. Separah itu memang. Dia berhasil merangsek segala hidupku, bahkan senyuman dan semangat hariku, kini berhasil merenggut damai dan warasku.
Sungguh, aku membencimu, Navroy, sangat benci!
Kurasakan bahuku bergetar, dengan benak yang begitu perih dan ngilu. Samar-samar karena terhalang air yang menggantung di pelupuk mata, aku melihat sepasang kaki bersepatu sporty cokelat pualam menjejak di hadapanku. Pandangan teduh itu kutemukan menatapku saat wajah basah ini menengadah mencari tahu.
"Maafkan aku," lirih lelaki itu yang nyaris berbisik, lalu mengusap air konyol ini di pipi dengan jemari lembutnya. "Please, jangan ada airmata lagi," bisiknya lanjut, kemudian mengusap airmata ini yang semakin mengalir deras. Ia menggenggam wajahku, lalu menatapku penuh kasih. Ada secercah kesedihan di sana.
“Tapi rasanya sangat sakit di sini, Sadeev,” lirihku kelam dalam linangan airmata yang nyaris berbisik, dalam suara serak dan bergetar sembari tanganku memukul perlahan dadaku.
"Aku tahu kau bisa kuat menghadapi. Please, jangan bunuh dirimu perlahan-lahan. Ikhlaskan, Key, relakan dia, kau harus mengerti itu," bisiknya lalu mengusap airmataku. "Aku yakin kau bisa, Wonder women-ku." Lirih Sadeev lagi menguatkan.
Sadeev lagi-lagi di sini, berada bersamaku, tepat saat aku rapuh dan tak berdaya.
Aku berusaha mengatur napas menenangkan diriku, kemudian berusaha tersenyum ke arahnya. Tapi ada yang ingin kuselesaikan dulu.
"Mau ke mana?" Tanya Sadeev setelah berhasil membantuku berdiri.
"Ke pantai."
"Untuk apa? Haruskah aku ikut?"
Aku menggeleng. Kupaksakan seulas senyum menyertai. "Terima kasih hendak menjagaku, tapi tidak usah, Sadeev. Semuanya baik-baik saja."
Dia mendesah, menatapku sejenak seolah menyakinkan dirinya sendiri. Lalu, "Bisa beritahu aku jika terjadi sesuatu yang tidak diinginkan?"
Anggukanku seperti membuatnya rileks. Bahunya merosot.
"Jaga dirimu, hati-hati, oke? Jangan mudah percaya pada orang lain," kalimat terakhirnya itu membuatku menatapnya sejenak. "Pergilah." gumamnya melanjutkan sambil menepuk pundakku saat menyentakkanku.
"Baiklah. Aku pergi sekarang. See you." Pamitku lalu berlalu.
* * *
__ADS_1