Terjebak Cinta Sang Imigran

Terjebak Cinta Sang Imigran
Kedatangan tiba-tiba


__ADS_3

Tubuhku tersentak kaget saat sosok sahabatku tengah duduk tersenyum di sana. Wanita itu dengan tenang dan manisnya duduk di tepi tempat tidur sembari menatapku sedari tidur, asumsiku.


“Pagi, Sayang!” sapa Farah, lalu mengacak-acak rambutku hingga membuat aku menggeliat dalam ringisan. Kekehannya menggema di kamar yang tak luas ini.


Ada apa? Tidak seperti biasanya ia bersikap manis begini dan tak rusuh di kamarku. Biasanya-


“Aku membuatkanmu sarapan. Roti isi martabak sayur. Ayo, bangun dan makanlah!” serunya yang membuat alisku mengernyit.


Sarapan? Ia membuatnya? Sejak kapan ia telah pandai masak?


“Kamu sehat-sehat saja, kan?”tukasku menatapnya bertanya dalam pandangan heran penuh curiga yang membuat wanita mungil ini mendesah sembari memutar mata.


“Ya, Tuhan! Tentu saja aku aku sangat sehat! Sudahlah, jangan banyak berpikir yang tidak penting begitu. Lagi pula,memang apa salahnya jika sekali-sekali aku memasakkan untukmu?” keningku berkerut, menatap wajah kesungguhannya.


Ada benarnya juga, sih!


“Jadi, selama ini kamu jarang di rumah karena belajar masak, ya?”


Kekehannya menimpali pertanyaan konyolku. “Tidak juga! Hanya saja, aku kadang belajar masak dari Dewa!”


“Dewa? Oh, lelaki itu?” Farah mengangguk mengerti maksudku. Ia memang tengah dekat beberapa waktu terakhir ini pada lelaki dewasa dengan kepala plontos. Bahkan, telah sering menagajaknya kemari. Terkadang juga aku memergokinya bersama di sini.


“Baiklah. But, thank’s a lot, Farah rese’!” lanjutku yang sengaja menambahkan istilah baru itu dan berhasil membuatnya mendengus kesal, lalu menarik hidungku hingga ringisan terdengar, tawa evil-nya berderai, kemudian berhambur memeluk.


Pagi ini sikapnya memang benar-benar aneh.


Entahlah, tapi rasanya aku tak menyukai pelukannya kali ini.


Tapi, tunggu! Bahuku basah?


“Hei, kamu menangis?” tanyaku seketika melepas pelukan, namun hanya di balas senyuman sambil mengusap di tepi kedua matanya, membersihkan sisa air yang menetes sekali lagi.

__ADS_1


Entah ada apa dengan wanita ini. Ia yang begitu ceria dan periang, bahkan sedikit pun tak pernah melihatnya menangis. Jangankan menangis, sedih pun tidak. Itulah mengapa, ia seperti vitamin penyemangat dan positif untukku. Terakhir yang kuingat saat ia menangis begitu lepasnya adalah, ketika kali pertama bertemu dengannya—bercerita tentang hidupnya dan masalah yang ia hadapi dengan keluarganya.


“Jangan menatapku seperti itu! Sungguh, aku tidak apa-apa!” selanya meyakinkan.


Helaan napas berat terdengar dariku, lalu menatap mata sipit itu, mencari sesuatu yang mungkin saja ia sembunyikan dariku. Namun, bola mata itu hanya mengalihkan lalu menunduk.


“Hei, kamu tahu, kan, kamu bisa cerita apa saja padaku? Ya, meski kadang-kadang menyebalkan dengan sifat ‘paparasi-mu’ itu kumat!” lirihku menatapnya saat tangan ini menggenggam kedua tangannya. Jelas sekali, ada kesedihan dan sakit di sana. Meski, mata itu berkaca-kaca berusaha menunjukkan bahwa ia baik-baik saja sembari terkekeh, tetapi aku bisa merasakannya.


Tubuh mungil itu seketika berhambur memelukku, setelah kekehan itu mereda. Dan, untuk kali pertama, setelah sekian lama, tangisan terisak itu terdengar dalam pelukanku. Samar-samar yang terdengar, ia berusaha meyakinkanku bahwa semuanya baik-baik saja.


*Kau tahu, Sahabat, seberapa kuat pun kau menyembunyikan luka itu, aku di sini,


merasakannya juga*.


“Sabarlah, kuatlah! Aku tahu kamu bisa!” bisikku di sela tangisannya yang masih memelukku erat sembari mengusap kepalanya untuk menenangkan, namun isakan itu semakin menjadi. Entahlah, namun kata-kata itu keluar begitu saja.


Entah, apa yang terjadi padamu, Far, entahlah....


* * *


Seminggu...


Dua minggu....


Hingga sebulan ... Bahkan tiga bulan....


Navroy tak ada kabar. Lagi ... dan lagi. Entah apa yang terjadi, namun tanpa kejelasan yang tak berujung itu, semakin membuatku resah.


Ya, dia menggantungkan hubungan ini. Sejujurnya, aku tak pernah mempermasalahkan jika dia seperti ini. Aku hanya ... hanya cemas padanya. Aku tahu, mungkin ia sibuk dan akhir-akhir ini mengakui senang mengikuti challange olahraga atau pun jadwal gym dan workoutnya semakin padat. Tak jarang, teman-teman yang mengetahui hubungan kami yang mulai rumit, menjudge-ku sebagai gadis bodoh, terlalu bodoh dan konyol untuk menunggu dan berharap. Tapi, salahkah aku jika bertahan dan memperjuangkan cinta ini? Bukankah sebuah hubungan tak selamanya manis dan masalah sudah pasti jelas ada? Bahkan, dengan konyol aku masih saja bersikeras untuk menerima hubungan semacam ini sedari awal dengan segala sikap yang tak jarang membuatku nyaris gila.


Lalu, apa yang kau tuntut?

__ADS_1


Bodoh! Kau benar-benar bodoh! Terlalu tolol!


Makian dalam diriku terus saja menggema di dalam kepala ini. Aku mendesah panjang dan berat sembari menyandarkan punggung dan kepala sejenak di kursi empuk ini dengan mata terpejam.


Kubiarkan tetesan-tetesan itu jatuh perlahan satu demi satu mengalir di pelipis.


“Dokter Keysa?” suara gadis yang berasal dari ambang pintu ruanganku, setelah ketukan pelan terdengar membuatku tersentak. Dengan cepat menyeka sisa air mata ini, lalu memutar kursiku menghadap ke meja. Sedari tadi, memang sengaja membelakangi benda berkaca tebal dengan warna pualam itu yang berukuran sedang.


“Ya, masuklah!" Lirihku berusaha seramah mungkin.


“Maaf mengganggu. Aku tahu jam dinasmu telah selesai, tapi bisakah membantu sebentar saja?” sahut perawat berkulit cokelat dengan pakaian khas putih-putih—yang tampaknya baru magang di rumah sakit ini—menatapku ragu , setelah ia masuk lalu berdiri di samping meja. Raut wajahnya merasa tidak enak.


“Ada apa? Aku tidak sibuk, kok.” Tanyaku memandangnya, seperti ia tengah menimbang sesuatu.


“Di luar ... masih ada pasien, Dok," lirihnya memberitahu yang masih kudengarkan seraya tanganku masih bertumpu pada meja ini dengan jemari saling bertaut. “Maaf, kami sudah memberitahu kalau Dokter Keysa telah selesai jam dinasnya, tetapi lelaki itu tetap bersikeras memaksakan dan memohon agar di periksa oleh anda,” lanjutnya yang membuatku mengangguk mengerti.


Senyumanku menguap. “Tidak apa-apa, biarkan saja dia masuk, aku sedang tidak terburu-buru. Lagi pula, kesembuhan pasien juga salah satu kebahagiaan seorang Dokter. Selelah apa pun sang dokter, jika bisa menyembuhkan pasiennya, lelah itu pasti berganti dengan senyuman bahagia. Jadi, tetaplah melayani, meski jam operasional telah tutup, jika hidup masih memberikan kesempatan dan kepercayaan membantu orang lain, cepatlah bertindak, oke?”


Gadis itu terseyum lebar dalam anggukan. “Baik, Dok. Terima kasih atas waktunya.”


“Terima kasih kembali.”


Perawat magang itu kemudian berlalu. Tidak membutuhkan waktu lama, seseorang dari luar pintu mengetuk perlahan, lalu detik berikutnya membuka dalam tatapan melirik ke arah kemari. Kemudian ia masuk dan berdiri di sana, memunggungi pintu dalam senyuman lebarnya yang balas menatapku.


Alisku berkerut, sedikit terkejut.


“Kau? Kau di sini?”


Senyumannya mengambang lebar di sana, menggantung di antara dagu panjangnya.


“Hai, apa kabar?” lirihnya seperti salah tingkah.

__ADS_1


* * * *


__ADS_2