
“Jadi, hari ini pengurusan penugasanku telah di acc oleh pimpinan, Pak?” tanyaku riang sembari berbicara di telepon, saat kepala dokter meneleponku beberapa menit lalu dan memberitahu semuanya.
“Iya. Jika tidak ada halangan, kamu dan tiga orang suster lainnya akan di kirim ke Bandung pekan depan,”
Aku menghela napas lega mendengar informasi itu.
“Untuk lebih jelasnya lagi, datanglah kemari dan bertemu pimpinan. Oh iya, Dokter Keysa, di sana anda yang memimpin para medis, jadi kuharap itu tak membuat anda keberatan. Para medis yang berasal dari rumah sakit lain juga sepertinya bisa diajak kerjasama. Jadi, semoga medis di sana bisa distabilkan kembali ke sedia kala dengan baik. Terlebih, anda juga kepala ruangan ICU dan dokter yang teladan, aku pernah mendengar nama dan prestasi anda,”
Senyumku melebar. “Terima kasih, Pak, itu sama sekali tidak membuat saya keberatan. Bahkan, saya sangat merasa berterima kasih karena baru beberapa bulan join di rumah sakit itu, tapi diberi kepercayaan penuh,” desahku masih dalam senyuman.
Beliau tertawa. “Terima kasih kembali. Kami menunggu kedatangan anda di sini. Selamat malam.”
“Malam, Pak.” Sahutku lalu menutup telepon.
Aku lalu merebahkan tubuh di kasur empukku, menghela napas lalu tersenyum lebar dalam mata terpejam sambil merentangkan tangan.
Memang, aku sengaja mengambil pekerjaan itu. Meski, tempat yang terpencil, tapi setidaknya bisa membantu masyarakat di sana yang telah jauh dari dunia kesehatan. Maksudku, kudengar mereka masih terpaut pada pengobatan dukun, jadi tak ada salahnya membantu minat medis di sana. Lagi pula, kebahagiaan yang indah dari para medis adalah ketika kami berhasil menyembuhkan atau melihat pasien tersenyum dalam kesembuhannya. Itu kebahagiaan yang tak ternilai. Dan juga, kuakui, memang sengaja mengambil tugas itu untuk mengalihkan pikiranku. Setidaknya sedikit demi sedikit melupakan lelaki itu. Namun, toh aku sadar, kenangan tetaplah kenangan yang akan mendarah daging dalam pikiran. Sekeras apa pun kumencoba, pada akhirnya akan kembali juga mengusik suatu saat nanti. Tapi, tak ada salahnya juga jika kita mengupayakan, setidaknya mengalihkan.
Sejak kejadian itu, aku tak pernah berhubungan lagi dengannya, dan itu sudah lewat beberapa bulan. Bahkan, mengunjungi tempat yang bisa memicu delusiku tentangnya, pun aku hindari. Sudah cukup sampai di sini. Pada akhirnya, mungkin itulah yang terbaik. Ia memang terkadang hinggap di ingatan dan hariku, tapi aku terus mencoba melawan itu, terlebih rasa rindu ini yang kadang-kadang datang menghunus dengan kejamnya begitu menohok, bahkan seperti candu dan sakaw tentangnya.
__ADS_1
Lamunanku buyar saat deringan terdengar yang berasal dari ponsel milikku. Keningku mengernyit saat nomor baru tertera di sana. “Ya, Halo? Malam?”
“Kak Key di mana?” alisku mengernyit.
Suaranya seperti familiar.
“Di rumah. Ini siapa?”
“Linka, Kak. Apa kakak sendirian di sana?”
“Umm, sepertinya masih ada Farah di bawah, sahabat kakak yang waktu kamu lihat itu. Tapi entahlah, mungkin ia keluar juga dengan pacarnya. Biasanya malam minggu seperti ini ia keluar. Kakak tidak tahu juga, sih, karena saat ini sedang di kamar.”
Dia mendesah di sana. “Oh, baguslah jika sendiri di sana,”
“Tidak apa-apa! Hanya memastikan!” ringannya.
“Apanya yang mau—“ belum selesai kalimatku, telepon seketika terputus.
Aku memandang ponsel dalam perasaan tidak enak sekaligus heran.
Aneh!
__ADS_1
Aku lalu bangkit dari pembaringan, membuka pintu lalu melesat keluar menuruni tangga, menuju dapur sekaligus yang menyatu dengan ruang makan. Rasanya haus melanda. Aku sengaja tak menyalakan lampu dapur, karena selain hemat listrik juga hanya mengambil minum. Setelah mengambil sebotol air dari frezeer, lalu meneguknya dan sengaja kubiarkan pintunya masih terbuka.
“Arrrrrrgggghhhhh!!!” jeritku seketika saat berbalik ke belakang dan menemukan sosok berpakaian serba hitam dengan topeng badut mengerikan kini berdiri begitu dekat dariku.
Dia mengacungkan kapak mengkilapnya dengan darah kering di sana menghias, lalu detik berikutnya di layangkan ke arahku.
Sebelum benda besar itu menebas kepalaku dan menancap dengan mengerikan, aku berusaha menghindar hingga berhasil mengenai pintu lemari pendingin itu yang sedari tadi terbuka. Lalu, melemperkan botol minuman kemudian berusaha menjauh darinya. Ia tetap mengikuti saat aku berusaha melemparkan kursi makan, dan lalu memutari meja dan berdiri di seberangnya.
“S-siapa kau? Pergi dari sini!”
Ia tak menjawab. Hanya satu hantaman dengan kapaknya, meja makanku seketika roboh.
“Aaaarrrrrggghhhh! Faraaaahhhh? Tolooooooonngg!!” jeritku mencari Farah sembari berlari sekuat tenaga.
Deru napasku memburu, ketakutan dan panik yang mulai menyebar di segala pembuluh darah. Begitu melihat tangga, aku lalu berlari naik ke atas. Namun, baru melewati beberapa anak tangga, seseorang berjubah itu telah di sana, tepat di bawahku sembari menarik kaki ini.
“Lepaskan, sialan!” geramku bergetar berusaha berontak pada cengkeraman eratnya sambil berusaha menendangnya. Namun, ia lebih kuat dariku. Bersama cengkeraman kukunya yang menancap di kulitku yang terasa perih, ia berhasil menyeret dalam satu sentakan dan membuatku terperosok ke bawah, berguling dalam ringisan sakit.
Tubuhku terasa sakit dan kepala seperti basah. Dalam sekejap, darah mengalir di hidungku hingga mengusapnya. Berulang kali berusaha bangkit hendak berlari menyelamatkan diri, tapi tetap saja tubuhku sangat lemah. Samar-samar dalam pandangan buram, sosok berjubah dan bertopeng badut itu melangkah menghampiriku, lalu berdiri di hadapanku sejenak. Ia menjambak lagi rambut panjangku, kemudian di hempas kasar hingga terpelanting ke arah tangga dan terjatuh di lantai dingin.
Sebelum aku benar-benar tak sadarkan diri, kurasakan kepalaku di remas kasar tanpa ampun, lalu menjambak sembari menarik rambut ini dan menyeretku entah ke mana.
__ADS_1
* * *