
Pagi-pagi aku sudah bergulat dengan kasur. Tentu saja, untuk membersihkan dan mencuci seprei. Akibat dari ide kejutan konyolnya semalam, akhirnya pagi ini ia menambah jadwal kesibukanku. Jelas sekali, tubuhku sudah dipenuhi keringat dan lengket begini karena belum mandi. Setelah menjemur pakaian, lalu menjemur corak satin lembut ini.
Tubuhku seketika tersentak, terkejut saat menemukan sosok itu berdiri di hadapanku, tak jauh dariku. Dia menatapku dalam senyum lebar yang sekilas memutar pandangan.
Astaga! Apa yang dilakukannya di sini?
"Hai." Sapanya yang masih dalam senyuman.
"H-Hai."
Benarkah dia di sini?
"Mengapa kamu selalu terlihat sexy dan mempesona ketika berantakan seperti itu,sih?" Suara merdu yang keluar dari bibir tipis nan merah itu, kini membentuk senyuman.
Oh, God! Tatapannya begitu intens menggoda. Bola mata dengan iris kecokelatan emas itu selalu saja berhasil membuatku terhanyut dan meleleh.
Jemari putihnya terangkat lalu mengusap di sekitar rambutku setelah menghampiri. Tubuh kokoh dan kekar itu berdiri begitu dekat di depanku. "Bahkan dalam tercuci sekali pun!" Bisiknya, lalu mendecakkan lidah saat memperlihatkan busa sabun yang ia ambil di kepalaku tadi.
Tercuci?
O-oh! Sepertinya aku salah tingkah*!
"Sedang apa di sini?" Alihku cepat-cepat.
Senyumannya lagi-lagi dibiarkan menguap, seolah sengaja menggodaku. "Umm … mengintipmu!"
"Apa?" mataku melebar sambil mengulum senyum.
Tawanya menggema dalam wajah tampan itu pagi ini. Ia selalu saja membuat terpesona.
"Oh, ayolah, aku rindu masakanmu, Baby!" Tukasnya mengajak yang menarikku masuk ke dalam rumah sembari tangan panjang itu melingkar di pinggulku.
__ADS_1
Ada apa dengannya? Dia berubah? Kembali?
"Jadi, apa yang sebenarnya membuatmu kemari?" Tanyaku memulai obrolan ketika tiba di dapur dan mulai mempersiapkan dan membersihkan bahan makanan.
Lelaki ini meminta roti isi lagi. Tubuh tegapnya kini tepat berada di dekatku, sangat begitu dekat sembari kedua tangan panjangnya menopang di bar dapur, tepat di kedua sisiku sambil menatap intens seperti mengintimidasi. "Kamu terdengar … seolah-olah menolakku kemari!" Curiganya menyipit dan sengaja menekan kosakata terakhir itu di akhir kalimat. Kemudian, mencondongkan kepalanya hingga sangat dekat dari wajah ini. Jelas saja tubuhku seketika terkunci dan terperanjat atas sikap dan sorotan mata menggoda itu. Ia begitu menatapku sejenak, lalu bibir itu mendarat lembut di kening ini, mengecup begitu lama. Mengucapkan sapaan pagi, berpindah pada kedua mata yang sedari menatap dan terhenyak ini, lalu berhenti pada bibir polosku yang tanpa sedikit pun di poles lipstik. Hanya beberapa detik merasakan kelembutan dan harum napasnya, kemudian melepaskan. Namun, wajah itu masih mematung begitu dekat dan menatap mata elang ini.
"Uhuk! Air di mana, ya?" Gumaman sembari batuk Farah yang tiba-tiba dan menggoda entah dari arah mana seketika membuat kami tersentak.
Lelaki di hadapanku ini sontak memundurkan diri, seraya sejenak menarik napas dalam-dalam lalu mengulum senyum sambil menutup mulutnya sembari berkacak pinggang ketika tangannya tak lagi berada di kedua sisiku. Ia berusaha menahan senyumnya dan tetap stay cool. Bisa kurasakan, sepertinya wajahnya memerah karena malu. Begitu pun aku yang beralih menyibukkan diri dengan kembali mengurus bahan-bahan makananku sembari menggigit bibir menahan senyum malu.
Sahabatku itu sengaja menyenggol saat mengambil gelas di buffet bar dapur.
"Kudapan sarapanmu boleh juga, Nona Pakistan!" godanya dengan nada berbisik dan membuatku tersenyum malu sembari membelalakkan mata, memperingatkan agar Navroy tak mendengar.
Samar-samar yang kulihat ia juga menahan senyum, lalu mencubitku dengan menggoda ketika berlalu entah ke mana.
Dia tersenyum lebar, saat kutemukan dirinya mengawasi Farah yang telah pergi. Lalu, dehemnya terdengar diikuti kerlingan mata menggoda.
"Masaklah, aku tidak ingin mengganggumu, Nona Pakistan," lirihnya yang menekan istilahnya di akhir kalimat dan membuat mataku melebar terkejut dengan raut wajah merona.
Apa dia mendengar perkataan Farah tadi? Oh, astaga!
"Aku ke depan dulu, ke ruang tamu. Kamu bisa memanggilku jika butuh bantuan," pamitnya memberitahu kemudian berlalu dan membuatku mengangguk dalam senyuman merona.
Kepalaku menggeleng prihatin dan masih malu, ketika melihat lelaki itu telah menghilang di balik pintu ketika berbelok.
Tak memakan waktu lama, masakanku telah jadi dan membawakannya di ruang tamu. Lalu, pamit untuk mandi sembari ia sarapan.
Selang tak beberapa lama, aku kembali dan melihat Navroy tengah mengobrol bersama Farah. Jelas sekali gadis itu banyak tanya.
"… Tidak seperti itu, sih. Mungkin, ya. Jadi–"
__ADS_1
"Oke sudah cukup! Cukup 'paparasi'-nya," selaku tiba-tiba yang membuat sahabatku itu mencebik saat mereka menoleh bersamaan.
Senyuman Navroy begitu hangat menyambut ketika aku menghampiri mereka.
"Hai." Sapa lelaki itu yang selalu terlihat tampan sambil mengulurkan tangannya ke arahku lalu menyusupkan di antara jemari ini.
"Hai juga." Riangku lalu berdiri di sebelahnya.
"Sudah selesai?" Tanya lelaki itu menatapku yang membuat anggukan ini nampak.
"Berangkat sekarang?"
"Let's go!” riangku.
"Mau ke mana? Aku belum selesai!" Sela Farah yang berusaha mencegat.
"Ke mana-mana hatinya senang!" Seru Navroy yang membuatku tertawa.
Terdengar lucu saat lelaki ini mengatakan kalimat itu dalam pelafalan yang tak sempurna. Logat Pakistannya masih menempel.
"Jaga rumah baik-baik, ya, Sayang. Bye!" Seruku juga mengalihkan.
Farah hanya menatapku dalam senyuman saat Navroy menarikku pergi.
***Bukannya bodoh, hanya saja aku ingin menikmati setiap detik ini bersamanya. Bukannya tolol, namun yang kusadari adalah waktu memang menakdirkan semua ini. Aku, hanyalah seolah aktior yang memainkan setiap peran yang terjadi dalam kehidupanku, namun bukan berarti aku tak mengerti dan lupa. Hanya saja, bukankah lebih baik menikmati bahagia itu sebelum semuanya terlambat dan hilang? Ya, aku melakukan itu saat ini. Aku tak tahu apa yang akan terjadi nanti pada kita, tapi aku selalu berharap, kecemasan ini yang mulai mengusikku, tidak akan membawa apapun dalam hubungan kita dan hanya kekhawatiran berlebihan saja.
Bersyukur, karena kau kembali bersamaku dan menciptakan kenangan indah ini, hingga membuat ulangtahunku menjadi indah.
Terima kasih, atas apa yang kau lakukan hari ini. Karena, darimu aku mengerti, hidup tak Selamanya kesedihan terus.
Untukmu, Wahai lelaki Pakistanku, apapun yang terjadi nanti, kuharap dongengku takkan pernah usai. Meski, aku terbangun dan berada di dunia nyataku, tapi kuharap kau benar-benar ada dan bukan menjadi delusiku***.
__ADS_1
* * * *