Terjebak Cinta Sang Imigran

Terjebak Cinta Sang Imigran
I'm Yours


__ADS_3

"Mengapa kita kemari?" tanyaku yang berjalan hati-hati di sebelahnya, sembari menggenggam tanganku dan seketika embusan angin pantai ini menyambut. Kami memang datang kemari, ke pantai Losari setelah menonton di bioskop.


Ah, rasanya kakiku sakit sekali.


"Ada apa meringis seperti itu? Ada yang luka?" tanyanya saat kuputuskan duduk di salah satu tempat duduk di sini yang terbuat dari semen dan dilapisi keramik.


"Hanya Kakiku terasa sangat sakit." ringisku. Belum-belum aku membuka sepatu dan hendak memijit kakiku, ia sudah berjongkok di depanku, lalu membuka heel's ini. Dengan hati-hati dan perlahan, dipijitnya tumit dan jemari kakiku.


"Hei, Ms. Indonesia, biasakah kakimu diam sebentar? Aku tidak bisa memijit dengan baik, Babe."


"Iya, tapi please, jauhkan tanganmu dari sana,"


"Kenapa?" tanya Navroy polos.


Aku menghela napas. "Apa kamu tidak jijik?"


Dia mengulum senyum, lalu bangkit dari jongkoknya kemudian menundukkan tubuh untuk menyeimbangi tinggi tubuhku yang tengah duduk saat ini.


"Apa pun yang ada pada dirimu, aku tidak pernah jijik. Rambut, wajah, tangan dan bahkan kakimu pun, semuanya milikku. Bagiku, itu keindahan yang kupunya darimu. Jadi, berhentilah berpikiran aneh-aneh, Ms. Indonesia. Mengerti? " jelasnya mengakui yang membuatku tersenyum menatapnya sambil mengangguk


.


Ya, aku harap itu benar, Navroy!


"You're welcome!" selanya tiba-tiba.


"Apa?"


Senyumnya merekah. "Aku tahu, hatimu bilang terima kasih!" Senyumku mengembang lagi saat mendengar percaya dirinya itu saat menatapnya yang kini kembali berjongkok dan memijit Sembari mengusap rambutnya dengan lembut.


Kadang-kadang dia menggemaskan, terkadang pula aku takut dan cemas karena suatu hari melakukan kesalahan padanya dan dia menjauh. Tapi untuk kali ini, ia begitu terlalu percaya diri. Terserah saja, Sayang. Tetapi yang jelas, hatiku selalu ingin mendengarmu berbicara terus. Rasanya, suara dan intonasi itu seakan menyejukkan hati, terlebih senyuman dan tawanya, sangat mendamaikan.


"Kalau sakit, mengapa di pakai, Babe? Terkadang aku heran dengan wanita, dia sangat menyukai sesuatu yang menyakitinya," gumamnya di akhir kalimat tetiba yang membuatku tersenyum geli.


Bersungut sendiri, dasar Mr. Pakistan!


"Itulah wanita, jika telah mencintai, ia lebih rela merasakan sakit dari pada harus melepasnya, terlebih hatinya," gumamku menimpali.


"Mengapa malah mengaitkan dengan perasaan?"


"Karena kenyataannya seperti itu! Kalian para lelaki mana mengerti hal itu,"


"Tidak! Lelaki bahkan sangat mengerti, meski harus dengan cara gengsi melakukannya,"


"Kalian lelaki atau wanita, sih? Gengsi, kan, identik dengan wanita!"


"Tapi, tidak dengan perasaan!"


"Iya!"


"Tidak!"


"Seharusnya kamu mengalah dengan wanita!"


"Bukan tidak mau mengalah, tapi para lelaki memang hanya suka meluruskan pikiran picik wanita,"


"Bukan picik, tapi pikiran hati, tahu!


"Sudah kubilang, tidak gengsi dengan perasaan!"


"Gengsi!"


"Tidak! Buktinya, mengapa kamu mengeluh kesakitan dihadapanku yang sudah jelas membuatku sedih? "

__ADS_1


Aku melongo, memandangnya tak percaya dengan kalimat pertanyaan terakhirnya itu. Kepalanya masih tertunduk seraya masih sibuk memijit. Pijitan lembutnya semakin membuat kakiku nyaman.


"Apa? Kamu? Sedih?"


Dia tak meresponku.


"Babe?"


Lagi, terdiam. Hanya suara angin di pantai ini, kendaraan berlalu-lalang yang memang berhadapan langsung dengan jalan protokol dan suara beberapa pengunjung yang saling tumpang-tindih. Hanya itu yang terdengar, selebihnya, detak jantungku yan semakin berdegub cepat, saat sedari tadi ia mulai memijit.


"Biasanya, sebelum kita pacaran, saat sering ketemu di Karebosi ketika kamu pulang dari bekerja, kamu selalu memakai sepatu kets, mengapa kali ini heels?"


Jadi, Dia memperhatikanku selama ini?


Aku menatapnya dalam diam. Dia masih menunduk dalam aktivitasnya, meski orang-orang yang berlalu-lalang memandang kami, namun tetap saja, ia seperti tak peduli dan masih berlutut dihadapanku sembari memijit. Lalu detik kemudian, dia menengadah saat aku meraih tangannya dan mengisyaratkan untuk duduk di sampingku.


Rasanya aku tidak enak hati padanya, saat orang-orang menatap aneh seperti itu, seolah wibawanya kuhancurkan sebagai lelaki.


"Tidak apa-apa, sudah cukup, Babe. Terima kasih, ya, tapi sungguh kakiku sudah membaik." jelasku. "Maaf." lanjutku bergumam yang nyaris berbisik, namun terdengar olehnya yang seketika menoleh.


"Apa?"


"Tidak, maksudku, sebenarnya memang begitu, jika berada di area kantor, terlebih bertemu dengan klien atau relasi, pasti harus menggunakan sepatu heel's, tapi jika pulang baru menggantinya dengan kets,"


"Lalu, mengapa tadi tidak diganti?"


"Kamu yang langsung menarikku pergi, kan? Lagi pula, kupikir kamu lebih suka dengan cewek yang memakai heel's. Bukankah itu terlihat anggun?"


Dia menghela napas panjang, mengubah posisi duduk menghadapku sembari mata itu begitu lekat menatap dengan intens. "Pikiranmu salah, My Lovely! Sejujurnya, Baby, aku lebih menyukai cewek apa adanya. Maksudku, ia tidak perlu susah-payah meniru orang lain hanya untuk membuatnya nyaman, aku bahkan melihat keanggunan dalam dirinya jika seperti itu. Senang, tanpa menyakiti diri hanya untuk orang lain melihatnya sempurna. Kamu tahu, bagiku, kecantikan itu adalah di mana seseorang masih tetap menjadi dirinya sendiri, meski dunia telah berubah tigaratus enampuluh derajat sekali pun!"


Aku hanya tersenyum mendengar penilaiannya itu.


*Kupikir, dia lelaki picik yang hanya memandang seseorang hanya dari penampilan, rupanya tidak.


Jadi, apa aku salah jika kukatakan hatiku memang benar tak salah memilihmu?


Ya, aku memang mencintainya. Namun, bukan mencintai dalam keluarbiasaannya itu yang menurutku kesempurnaan, tapi ... entahlah, aku juga tak tahu alasannya. Seandainya pun aku mencintai karena kelebihan-kelebihan—membuat tergila-gila para wanita—yang ada dalam dirinya itu, mungkin aku juga samanya telah mencintai James bown, Jackie Chan atau Van Diesel bahkan Shahrukh Khan. Tetapi, tidak! Yang kupahami, kuyakini dan tahu adalah aku mencintainya dari dasar hati sanubariku ini, sanubari seorang wanita yang telah trauma karena cinta hingga mati dan kini kembali lagi karenanya.


Kamu tahu, jikalau pun harus memilih, melepaskan tanganmu atau bersama lelaki tampan lainnya yang mungkin bahkan melebihi darimu, dengan lantang kuteriakkan bahwa aku mencintai lelaki yang telah mencuri hatiku, lelaki yang telah merenggut kewarasanku di kala rindu ini mengobrak-abrik hati dan pikiranku akan candu tentangmu, lelaki yang bahkan nyaris membuatku gila dan tak peduli risiko ke depannya nanti akan seperti apa*.


"Seperti pelangi yang selalu hadir mengindahkan langit yang berhujan dan mendung, meski suatu hari, entah di detik mana, ia akan menghilang tiba-tiba, namun selalu berbekas dan pasti kembali," gumam Navroy saat kami bersama memandang hujan, tepat ketika berteduh di senja saat itu.


* * *


"Bolehkah aku bertanya?" Selaku memecah kesunyian saat kami tengah memandang ke arah laut. Laut lepas dengan debur ombak yang terdengar bersamaan dengan embusan angin keras. Andai saja jaket bombar milik Navroy ini tak membalut tubuh, mungkin telah sedari tadi aku bersin. Tubuhku memang sensitif dengan cuaca dan sangat rentan dengan angin.


"Boleh. Mau tanya apa, Babe?" sahut Navroy dengan ringan lalu mengait dan menyatukan tangan kami.


"Apa ... kamu tidak pernah risih dengan tatapan orang-orang itu? Maksudku, setiap menatapmu. Aku tahu, kamu pasti juga merasakan dan menyadarinya."


Dia tersenyum dalam pandangan menunduk, lalu melirikku. Mata itu benar-benar bersinar dalam tempa cahaya lampu orange Pantai ini, mata yang begitu indah dalam rahang kokohnya.


"Risih? Yaa, sebenarnya aku risih dengan pandangan kelewat sopan mereka, tetapi, kupikir itu hak mereka juga. Aku hanya tidak ingin ambil pusing. Mungkin, anugerah yang diberi Tuhan ini, bisa membuat orang senang, terlebih tersenyum, meski dari jauh menatapnya!" jelasnya lalu mengerling padaku di akhir kalimat yang membuatku tersenyum merona dengan melebar.


Entah mengapa rasanya tersindir.


"Apa?"


"Mata itu kadang kudapati tengah menatapku diam-diam, kan?"


Kekehanku tak dapat tertahan, dan seketika menggema, benar-benar pipi ini terasa semakin bersemu. Dia terdengar bukan seperti bertanya, tapi sebuah tuduhan atau menuntut. Kecupannya kini mendarat di punggung tangan ini, lalu tersenyum lebar begitu aku menatapnya takjub dengan membalas masih menatapku.


"Ya benar, seperti katamu, aku juga bisa merasakan dan menyadarinya," lagi-lagi dia tersenyum lebar penuh percaya diri.

__ADS_1


Sungguh rasanya sangat malu, pipiku semakin merona. Dia memang benar!


"Jadi, mau makan apa?" Alih Navroy setelah sejenak kami terdiam, masih dalam senyum.


Aku menghela napas berat. "Bisakah kita pulang saja?" pertanyaanku seperti terdengar memohon. Dan itu berhasil, saat ia sejenak memandangku dan membuatnya mengangguk.


"Baiklah, sepertinya kamu harus istirahat."


Aku mengangguk menyetujui kesimpulannya itu. "Benar, punggungku rasanya berat sekali, terlebih kepalaku." Gerutuku tanpa sadar memijit-mijit punggungku dengan lemas.


"Kamu bisa jalan?"


Aku mengangguk lemah, namun tatapannya sejenak aneh ke arahku.


Tubuh Navroy kini berjongkok di hadapanku yang masih duduk. "Naiklah!" titahnya ringan.


Aku sejenak terdiam, memandang sejenak lelaki itu, lalu melirik sesaat orang-orang di sekitar kami yang masih menatap.


"Baby?" panggilnya saat aku masih terdiam tak bergerak.


"Tapi—"


"Jangan sampai memaksaku membuat keputusan untuk menggendongmu, bisa kupastikan gadis-gadis di sini menatapmu seperti pencuri!"


Istilahnya itu membuatku tertawa. Ya, pencuri cowok tampan yang selalu membuat mereka terpesona dan kagum.


Navroy mendesah berat dan kesal. "Satu menit berlalu.... " datarnya mulai menghitung konyol, namun anehnya terdengar menggemaskan. "Satu jam berlalu.... "lanjutnya di detik berikutnya. "Dua—"


"Oke, oke, aku mau!" selaku cepat saat lelaki itu hendak berdiri. Sekilas, senyum lebarnya tampak.


Setelah sejenak memandang orang-orang di sekitar, dengan ragu aku lalu mematuhi ucapannya. Dia menggendong dengan begitu mudah. Benarkah?


"Umm, Babe, aku ... berat, ya?" bisikku sembari diam-diam mengintip orang-orang di balik rambutku namun sedikit ragu di akhir kalimatku untuk menanyakan hal itu.


Kekehan kekasihku ini terdengar. "Aku bahkan biasa mengangkat beban lebih berat dari ini!" akuinya terdengar mengandung senyum.


Tanganku masih melingkar di lehernya.


"Jadi, maksudmu, kamu menyamakanku dengan peralatan gym-mu? Begitu?"


Tawanya menggema lagi. "Memangnya, siapa bilang kamu sama dengan peralatan? Bahkan kalian beratnya berbeda!"


"Kalian? Jadi kamu bilang aku gemuk?"


"Tidak, aku hanya bilang, beratmu berbeda!"


"Itu sama saja!"


Navroy semakin tertawa. "Astaga, kenapa para wanita sangat sensitif dengan istilah berat—jangan banyak goyang, kita nanti bisa terjatuh!" tawanya berderai dalam peringatan saat aku menggoda dengan mengguncangkan tubuh.


"Ayo, jujur saja! Kamu mau bilang aku gemuk, kan? Jangan di edit!"


dia tertawa lagi yang membuatku tak bisa menahan tawa. "Tidak gemuk, Baby, tapi sexy!"


Istilahnya itu semakin membuat tawaku menggema. Sepanjang jalan, ia terus menggoda hingga kami tertawa lepas dengan konyol.


Tepat di dalam taksi hitam, aku tertidur dalam rengkuhan di dadanya hingga mata ini terbuka sayu dan menyadari saat lelaki itu merebahkanku di kasur empuk yang rupanya telah berada di kamarku.


Hari ini melelahkan sekali.


Sejenak, tubuhnya menunduk, mendekatkan wajah itu, lalu bibir tipis lembutnya terasa manis di mulutku dalam kulumannya, kemudian menyelimuti, lalu mengusap lembut kepala ini perlahan. Sebelum dia pamit dan benar-benar pulang, ia meninggalkan forehead kiss di sana, mengucapkan selamat tidur lalu berlalu dalam senyuman damainya.


* * * *

__ADS_1


__ADS_2