Terjebak Cinta Sang Imigran

Terjebak Cinta Sang Imigran
Mimpi Buruk


__ADS_3

Bocah kecil itu memandangiku. Bocah tampan yang menggemaskan dan tengah merangkak di bawah meja kayu besar sembari menatapku penuh ketakutan sekaligus cemas.


"Lari, Key! Pergilah dari sini!" Sergah Farah teriak sambil memandangku penuh linangan air mata.


Gadis manis itu muncul tetiba dalam keremangan malam, tetapi nada suaranya seperti menyimpan kepedihan di sana.


"Kumohon, Keysa? " Desisnya meringis dan kali ini memelas.


Aku menatap sahabatku itu. Ingin sekali berhambur di pelukannya dan bertanya apa yang terjadi. Namun, entah mengapa, suara itu terasa tercekat di kerongkongan dan hanya sia-sia saja. Detik kemudian, seorang pria berkepala botak tersenyum sarkasme ke arahku, lalu bergantian ke arah Farah yang tengah berdiri begitu rapuh di sebelahnya. Lalu, lelaki itu mengacungkan gunting berlumuran darah sembari tersenyum lebar mengerikan ke arahku hingga menampakkan sederet gigi patah.


"Ya, berlarilah anak manis. Berlarilah sampai arwahmu terlepas dari ragamu!" lirih seorang gadis di sudut keremangan sana yang tersenyum licik dengan mengerikan dalam nada suara yang nyaris berbisik.


Linka? Sedang apa dia—


"Aarrgghh!" Jeritan panjang Farah dengan lolongan terdengar menggema dan seketika menyela pikiranku hingga membuatku terkejut.


Aku bahkan tak bisa berbuat apapun ketika lelaki berkepala pelontos itu menyeretnya di lantai dengan kasar sembari menarik rambut Farah tanpa ampun kwmudian berlalu*.


Gelak tawa innocent Linka menggema di ruangan hening ini yang begitu terdengar menyeramkan bersama suara mesin—entah apa yang memekakan telinga. Saat aku menoleh ke arah sumber suara itu, rupanya berasal dari tempat persembunyian bocah itu. Mengerikannya lagi, wajahnya telah berlumuran darah dengan bor besar yang kini telah menembus tanpa sisa—di depan wajah—tengkoraknya sambil mesin itu masih bergerak di sana bersama pancuran darah segar. Ingin rasanya aku berteriak sekencang-kencangnya, namun suara ini tetap saja tak terdengar, seolah pita suaraku menghilang seketika. Mataku hanya melotot lebar penuh ketakutan dan cemas.


"Hei, Babe, bangun, Sayang, aku di sini! Please, open your eyes, wake up!" Suara familiar kini menembus indera pendengarku, kemudian detik berikutnya, kurasakan wajahku seperti tersentuh–lebih tepatnya, seperti diusap, lalu tubuhku tersentak dengan mata terbuka lebar, terkejut, sesak, cemas, takut, bersamaan suara napas terengah-engah—yang rupanya pemiliknya adalah aku.


Rasanya begitu sesak. Aku mencoba mengerjap berulang kali untuk meyakinkan diriku bahwa itu hanya mimpi yang mengganggu. Mataku kini mengamati ruangan setelah sekilas menemukan lelaki tampan itu berada di depanku. Benar! Itu hanya mimpi! Sesaat, aku merasakan seseorang menyeka sudut mata dan pelipisku. Ya, Navroy masih di sana. Duduk di sebelahku dengan wajah yang begitu cemas, tetapi penuh tanya. Sesekali tangan besar itu membelai lembut rambut ini, mengusap sisa keringat di sana. Punggung dan kening serta rambutku terasa lembab, mungkin karena keringat yang mengucur sedari tadi, meski ruangan ini dipasangi pendingin. Rasanya tidak nyaman, aku perlu udara.


Sejenak, ia mengambilkan segelas air lalu membantuku minum. Begitu napas ini perlahan teratur dan mulai tenang, suara helaan napas leganya terdengar sembari raut wajah rileks itu tampak.


Tapi, apa itu tadi? Linka, Farah, bocah kecil dan pria menyeramkan itu? Apa itu?


"Baby, are you okay?" Suara cemasnya lagi saat ini terdengar, meski ia mencoba berusaha rileks, tapi tetap saja secercah kecemasan di sana tak bisa ia sembunyikan.


"Mmhh." Desahku mengangguk perlahan, lalu menghela napas lagi dengan beratnya.


Lagi, Navroy mengulurkan minum dan tanpa mengatakan apapun, aku patuh padanya.


Bayangan dalam kegelapan dan mimpi itu, benar-benar mengusik yang kini masuk di celah pikiran.


"Masih sesak?"


Aku menggeleng dan berusaha tersenyum simpul padanya. Jelas sekali, raut wajah cemasnya masih di sana.

__ADS_1


Dia masih sama, bertelanjang dada di sebelahku dengan selimut menutupi pinggang hingga kaki kami. Sesaat, ketika tubuhku bangkit dari pembaringan dan duduk, tubuhnya kini tak dicondongkan lagi dihadapanku, dan lalu kini melepas ikatan di rambut ini, mengatur, kemudian menguncirnya dengan lembut lalu mengusap pipi dan rambutku.


"Sebenarnya, aku sangat suka kamu mengurainya," tukasnya bergumam mengakui dengan mencoba mengalihkan, lalu tersenyum. "Tenanglah, hanya mimpi, aku di sini," lirihnya lanjut berusaha menenangkan yang nyaris berbisik.


"Aku ingin ke toilet."


Sejenak ia memandangku, lalu akhirnya mengangguk. Dengan gontai, kulangkahkan kakiku masuk ke dalam ruangan yang persegi empat ini. Toiletnya berada tak jauh dari bathub—kamar mandi—itu. Dindingnya masih sama, putih polos berselimut keramik bercorak, dengan penerangan cahaya putih. Tak jauh di antara pintu kamar mandi dan toilet, tampak sebuah wastafel putih dengan dipasangi cermin besar di sana dengan hiasan beberapa perlengkapan kebersihan diri yang sengaja di letakkan. Begitu kran mengalirkan air, aku lalu membasuh wajah dan seketika terasa segar menyesap ke dalam pori. Wajahku benar-benar tampak kusut saat menatap di cermin persegi ini. Raut pucat, berantakan dan secercah ketakutan serta kengerian masih tampak jelas di sana. Aku bahkan baru mengalami mimpi semacam itu.


*Tapi, apa itu?


Sungguh, ini benar-benar memusingkan dan mengganggu*!


Lagi, kubasuh wajah dan berusaha mengatur napas sebaik mungkin. Lalu, kuputuskan untuk keluar, kembali menemui kekasihku itu.


Navroy di sana, masih terbaring dalam diamnya. Matanya tak mengerjap, seolah memikirkan sesuatu.


"Sudah membaik?" Tanyanya masih cemas begitu menyadari kehadiranku. Senyuman dan anggukanku itu sepertinya membuatnya lega.


"Bisa kita pulang?"


Dia tersenyum. "Tentu saja, Babe!" Sahutnya saat aku duduk di sebelahnya, di tepi tempat tidur. "Sebenarnya, aku masih ingin berlama-lama bersamamu, tapi tidak apa-apa. Aku akan membersihkan diri dulu, lalu kita pergi, okay? Lagi pula, aku takut jika berlama-lama di sini, bisa-bisa tergoda denganmu!" Akuinya lanjut lalu menimpali dengan menggoda di akhir kalimat yang membuatku tersenyum.


Tawanya berderai. "Yeah! Aku bukan lelaki impotent, Baby. Jadi, normal saja jika berdekatan dengan wanita terlebih kamu mencintainya,"


Pipinya kenapa seperti merona begitu?


Senyumku merekah, hendak mengalihkan. "Berarti, kamu mencintai wanita karena nafsu?"


Ia kini tersenyum menanggapi timpalan asalku itu, lalu mengusap poniku, kemudian wajah ini. "Kamu tahu, terkadang, ada lelaki yang hanya ingin sex dengan wanita yang dicintainya. Jikalau pun, itu terjadi namun tanpa cinta, horny tetaplah ada tentu saja, namun gairahnya tak seperti dengan bersama yang dicintai,"


"Kamu terdengar seperti professional saja! Berpengalaman, ya?" Godaku lagi yang hanya menanggapinya dengan lelucon.


"Dewana!" Pekiknya lalu menarikku dalam pelukannya, mengecup pipi ini sejenak lalu menggelitiki hingga tawa geli terdengar, sampai kami terjungkal bersama di kasur, masih dalam pelukannya.


"Thank's." Desahku setelah tawa kami mereda.


"For what?"


Senyumku menguap. "Untuk segalanya, Babe."

__ADS_1


"Apapun untukmu, meski harus menyakitiku,"


"Hubungan yang baik itu ketika kebahagiaan itu tak sepihak! Sudahlah, pergilah bersihkan diri, Babe, bisa-bisa petugas hotel kemari memperingatkan atau mendenda!"


"Baiklah!" Desahnya patuh akhirnya.


Sebelum ia berlalu ke kamar mandi dengan privasinya, Navroy sejenak membuatku tertegun. Saat aku berdiri berlutut di atas tempat tidur, ia sejenak menarikku dalam pelukannya yang tengah berdiri menapaki lantai, kemudian bibir tipis itu sekejap mengecup bibirku dengan manis, lalu beralih ke kening ini begitu lama. Sungguh, forehead kiss itu benar-benar membuatku terpesona dan nyaris meleleh karena tertegun. Aku tak bisa membohongi diriku, aku merasakan kehangatan dan kasih sayangnya.


*Benarkah ia mencintaiku?


Ya, dia mencintaiku, mencintaiku*! Kurasakan teriakan antusias itu dalam benakku. Rasanya pipiku masih bersemu merah karena malu.


Entah apa yang terjadi, namun saat ini aku memang begitu bahagia memilikinya. Terlebih, ketika aku menyadari, bahwa ia menekan egonya hanya untukku. Aku tahu, betapa sulit untuk kaum lelaki menahan birahinya dan meski ia mengakui, tapi tetap saja, lagi-lagi ia membuatku takjub, hanya demi diriku. Benar, ia menepati janjinya.


Aku lalu merapikan barang-barangku dan memasukkannya dalam tas, dan juga merapikan barang milik kekasihku itu.


"Sudah siap, Baby?" Tanyanya tetiba. Rupanya ia telah selesai dengan privasinya.


"Kamu mandi?" Tanyaku saat dada telanjang—dibalut handuk putih dan wajahnya tampak basah, sebelum ia menyeka dengan handuk lainnya yang telah di genggamnya. Ia benar-benar seperti pahatan indah dengan tubuh sexy yang sixpack seputih marmer.


"Tidak! Hanya menyegarkan tubuh, Babe." Jelasnya lalu memakai pakaiannya.


Kulirik lelaki sempurna itu yang tengah berkaca di meja rias, ia seketika menarikku ke dalam pangkuannya begitu menemukanku hendak merapikan penampilan. Rasanya dadaku berdegub kencang. Namun, hanya senyum innocent yang tampak di wajah mempesona itu. Asumsiku, ia mendengar suara degub jantung ini yang mulai tak teratur.


Dengan terampil, tangannya kini menyisir, merapikan rambutku. Terkadang, rambutku di seka ke belakang telinga, kemudian diubah lagi dengan mengurainya tepat di depan dada dan selebihnya dibiarkan tergerai di punggung. Dia tersenyum, seolah puas dengan penataannya.


"Sejujurnya, Babe, aku lebih suka dengan wajah natural seperti ini. Masih terlihat cantik tanpa memakai make up atau lipstick, bahkan jauh lebih cantik," akuinya yang membuat pipiku merona.


"Baiklah, Mr. Pakistan-ku. Well, Bisa Turunkan aku? Sepatuku menunggu untuk dipakai!" pintaku dan hanya membuatnya tersenyum.


Navroy menatapku sejenak dengan sorotan mata sendu dan berbinar. Masih dalam senyuman. Lalu, "Oke, Ms. Indonesia!" lirihnya lalu mengusap lemburmt rambutku.


Ia kini melepaskan tangannya yang melingkar sedari tadi dipinggulku dan membiarkan aku berlalu melakukan privasiku. Begitu aku duduk di sebelahnya, tubuhnya kini berjongkok di hadapanku dan memakaikan sepatu.


"Babe, please?" Pintaku menatapnya saat berusaha menahannya untuk membantuku mengikat tali sepatu. Rasanya kodrat dan wibawa lelaki hilang ketika ia berlebihan seperti itu, walau membuatku sejenak tersanjung.


"Ada yang bilang, sepatu akan membawamu ke tempat indah, jika baik dikenakan. Tapi menurutku, tempat indah itu akan ditemukan dengan sendirinya, jika langkah bersamanya beriringan baik." Sahutnya lalu mengambil tasku kemudian meletakkan di meja rias.


Setelah ia memakai sepatunya dan mengajakku foto bersama, sebelum kami meninggalkan ruangan ini. Aku lalu merapikan pakaiannya—saat ia meminta pendapatku, kemudian rambutnua dan hanya membuatnya tersenyum manis sambil menatapku ketika melakukan itu untuknya.

__ADS_1


* * * *


__ADS_2