
"Ayolah, Baby, please!"
Teriakan seorang lelaki dengan nada memelas saat ini menembus pendengaranku. Entah siapa pemilik suara itu, tetapi begitu sangat familiar. Dalam waktu yang bersamaan, aku merasakan seperti melayang, begitu damai dan hening, namun terasa aneh juga. Rasanya dadaku terasa panas, sesak dan seperti terguncang, lalu seketika terbatuk saat kurasakan air melesak keluar dari mulut dan memuntahkan.
"Oh, Thank's my God, syukurlah!"
Gumaman itu masih memenuhi kepalaku sembari diikuti pelukan hangat yang sangat erat sejenak. Hidung masih terasa sakit dan juga tenggorokan. Telingaku mulai berdenging.
Sayup-sayup mata dalam kelelahan dan terasa lemas kini menatap sosok di sebelahku itu, setelah pelukannya terlepas. Ya, dia di sini, masih bersamaku. Tentu saja, Navroy, kekasihku. Kepalanya kini menutupi cahaya matahari yang menyilaukan wajah dan pandangan. Wajahnya begitu cemas dalam secercah kesedihan dalam matanya. Wajah tampannya dipenuhi bulir-bulir keringat. Tetapi ... Apa itu? Airmata? Apa dia telah menangis?
Kuangkat perlahan tanganku, menyentuh wajah itu dengan lembut, lalu mengusap air yang masih bersisa di tepi matanya. Rasanya sakit melihatnya seperti ini. Raut wajah itu, kesedihan sekaligus penyesalan itu, begitu tampak jelas di sana. Navroy yang begitu kokoh dalam paras mempesonanya yang selama ini terlihat, tapi mengapa di sisi lain ada kekelaman yang begitu jelas kulihat? Seperti–
"Maafkan aku, Baby? Seharusnya, aku tidak melakukan itu, memaksamu seperti itu tadi–"
"Hey, aku baik-baik saja, Sayang," selaku berusaha mengeluarkan suaraku, meski cukup serak. Dia masih menatapku sedih dan cemas, seperti tak yakin.
Desah napas kasarku terdengar bersama suara debur ombak. Senyum tipis dan lemah kini tampak di wajah ini. "Really, Babe," tatapku berusaha meyakinkan sembari menepis kembali airmata yang entah mengapa mengalir begitu saja di matanya.
Dia menarikku seketika dalam pelukannya, begitu erat seraya mengusap rambut ini yang masih basah.
"Don't worry, Babe, really. Please, don't be sad like that,"
"Bagaimana bisa aku tidak cemas dan tenang jika kamu hampir mati karena keegoisanku dan–"
"Tidak! Bukan salahmu. Seharusnya aku memberitahumu terlebih dahulu bahwa ak tidak bisa berenang. Maafkan aku? Maaf jika membuatmu cemas, bahkan sampai sedih dan bersalah seperti itu," jelasku meyakinkan.
Dia melepas pelukan, lalu menatapku begitu dalam.
"Kamu tahu, Babe, aku bahkan lebih memilih mati jika harus melihatmu bersedih seperti ini. Aku mencintaimu, Navroy, sangat mencintaimu," lirihku lemah menatap kedua mata itu yang kini mengusap pipi ini dengan lembut, menyeka airmataku di sudut mata ini. Dia mengecup keningku begitu lama, sangat lama, bahkan tak peduli ini di mana sembari memelukku yang kini dalam rengkuhannya, dalam masih posisi tubuhku berbaring.
Sejenak, lelaki itu terdiam. Raut wajahnya seperti memikirkan sesuatu. Entah apa, tetapi kepalaku saat ini benar-benar gak bisa berpikir. Dia Lalu membantuku bangkit, kemudian duduk di gazebo yang kami sewa.
"Ini, Kak." Gadis muda berkisar usia limabelas itu mengulurkan kantong plastic hitam pada kami, Lalu bergegas pergi sembari tersenyum malu-malu saat Navroy tersenyum memandangnya sambil ucapan terima kasih terlontar dari mulutnya.
"Apa itu?" Pandangku penuh tanya.
"Hanya beberapa pakaian untuk kita. Aku sengaja meminta mereka untuk membelikan di pasar dekat sini. Bukankah kamu takut jika masuk angin?"
Kekehan lemahku terdengar, meski dadaku masih terasa sakit dan panas.
Dia mengangguk dalam senyuman simpul, namun tampak sekali kecemasan itu berada di sana menatapku.
"Bagaimana keadaanmu?" Tanyanya sambil meraih tanganku dan menggenggamnya. Sesekali diusap dengan lembut namun terasa hangat.
Senyumanku tampak. "Cukup membaik, tapi dadaku masih teras panas. Terima kasih, tapi tidak usah khawatir, Babe, "
Begitu ia mendengar keluhanku, ia pergi tanpa sepatah kata, lalu kembali tak beberapa lama bersama sebuah kelapa muda. Sesaat, aku memandangnya. "Dari mana kamu mendapatkan itu?"
"Aku membelinya. Ayo, minumlah. Itu sangat membantu tenggorokanmu yang sakit,"
Ia membantuku meminum air buah berwarna hijau itu. Begitu mengulurkan dan kuminum, rasanya tenggorkan dan dada ini cukup membaik.
Senyumku merekah kembali. "Terima kasih."
"Your welcome, Babe. Ayo!" kecupnya di kening ini, lalu menggenggam tanganku dan mengajakku hendak beranjak dari tempat duduk.
"Kita mau ke mana? Pulang?"
Langkahnya terhenti. "Kita tidak mungkin berlama-lama di sini jika kamu—"
"Sungguh, kita benar-benar pulang ke rumah?"
Navroy mendesah saat mendengar selaanku. "Baby, kamu baru saja tenggelam dan hampir mati. Aku tidak mungkin—"
"Dan aku tidak ingin membatalkan planning kita! Ingat, kamu masih punya janji kuliner sore denganku hari ini. Lagi pula, aku tidak apa-apa, kok." dalihku bersikeras yang membuatnya menatapku frustasi.
Kaus basah yang masih menempel di tubuhya itu, benar-benar menampakkan sixpack seksinya.
"Baby, please?" mohonku menangkupkan kedua tangan di hadapannya yang membuatnya mendesah, lalu memegang tangan ini dan melepas tangkupan itu.
"Aku tidak suka melihatmu seperti ini yang memohon. Baiklah, tapi jangan melakukan itu dengan tangan seperti itu. Kamu tahu, aku bisa melakukan apapun untukmu, tanpa kamu harus memohon, " gumamannya itu membuatku tersenyum seraya menatapnya.
"Benarkah?"
Dia tersentak lalu tersenyum simpul. "Ayo, kita harus mengganti baju!" sahutnya meraih tanganku lalu menarikku pergi dari tempat ini.
Sebelum meninggalkan pulau, kemudian menyewa kamar mandi salah satu rumah penduduk yang dekat dari dermaga—untuk membersihkan tubuh, mandi dan berganti pakaian.
* * *
Setelah dengan susah payahnya membujukku pulang untuk beristirahat dan menunda hingga pukul lima sore, akhirnya aku mengalah dan mengikuti keinginanya. Kami janjian di tempat workout-nya, Karebosi Jogging Track Area, lalu setelah dari sana, kami kuliner untuk dinner, begitu rencananya. Pukul lima tigapuluh, aku baru tiba di sana dan telah melihatnya tengah workout bersama teman-teman senegaranya. Dia tampak segar dan tampan, meski keringat membasahi. Seperti biasa, ia mengenakan kaus oblong tanpa lengan yang dipadu dengan celana pendek. Dia tersenyum manis dengan lebar, saat kedua mata indah itu menemukanku melintas di kumpulannya sembari tubuh tegak dan tangan menopang bobot tubuhnya di atas palang besi yang panjang—sebagai alat pull-up dan chalistenic workout-nya. Aku tidak ingin mengganggunya dengan teman-temannya. Mungkin, kita bisa mengobrol setelah dia selesai, begitu pun aku yang menyelesaikan running. Itulah mengapa, aku sengaja mengabaikannya dan tetap melangkah melewati, meski ia telah mengedipkan mata bermaksud menggoda sebelum melanjutkan chalistenic-nya.
"Sugar, hey, Cewek cantik? Apa sedang butuh bantuan?" suara khas yang tidak asing di telingaku itu membuat diri ini menoleh saat aku mulai melakukan lari-lari kecil. Senyuman manis yang diikuti dengan kerlingan mata menggoda itu seketika membuatku tergoda.
"Dasar dewana!"
Lagi, hanya senyum lebar nan manisnya yang tampak.
__ADS_1
"Permisi, Ms. Indonesia, mau ojek sepeda?"
Tawaku tetiba lepas yang masih membuatnya tersenyum. Entah ia tahu dari mana istilah itu. Sejauh ini, dia bahkan tak mengerti apa itu 'ojek'.
"Oh, come on, Babe, don't shy like that!" cobanya lagi yang kali ini menggunakan bahasa inggris dan menbuatku mengulum senyum.
Orang-orang yang berlalu-lalang saat ini, kini memperhatikan kami. Tempat ini memang semakin ramai jika malam hampir menyambut.
Aku ragu memandangnya, menatap dia yang semakin menggodaku dengan senyuman mautnya dan sesiapa saja meleleh, terpesona, sembari menepuk-menepuk batang besi yang ada di depannya, tepat di belakang stir sepedanya.
Sungguh, lelaki ini benar-benar membuat pipiku memanas karena malu.
Dengan malu dan ragu, aku lalu duduk di hadapannya, sesuai yang ia minta dan tersenyum berseri saat aku mengalah dan mengikuti ajakannya.
Pipiku semakin merona, saat ia mengayuh sepedanya melewati jalan-jalan track di lapangan besar ini. Melewati orang-orang yang tengah jogging, atau sekadar duduk menonton dan nongkrong, bermain bola atau pun melakukan olahraga lainnya. Setiap sepasang mata yang kami lewati, langsung menatap lekat ke arah kami. Navroy bahkan tak peduli akan hal itu.
"Jadi, kamu sengaja mengabaikanku tadi, ya?" tanyanya mulai setelah beberapa saat hening sembari mengayuh sepeda dengan santai.
"Tidak, aku tidak mengabaikan! Hanya saja, kupikir aku tidak ingin mengganggumu dengan teman-temanmu. Jadi, kita bisa mengobrol setelah selesai nanti."
"Kamu tidak pernah mengganggu, Babe. Dan, siapa menyuruhmu olahraga hari ini?"
Aku menelengkan wajah—sedikit menengadah ke samping sambil memandang wajah tampannya itu yang begitu dekat dariku.
Pertanyaan apa itu?
"Bukannya kamu mengajakku kemari untuk berolahraga, kan? Bukan hanya untuk melihat tubuh seksimu itu di atas besi panjang yang melintang itu, kan?"
Dia terkekeh. "Jadi, aku seksi, ya?" Godanya membuatku merona, namun sengaja mengabaikannya dengan memutar mata dan tak memandangnya lagi hingga membuatnya terkekeh.
Kecupan di pipi ini membuatku tersentak dan memandangnya tajam yang hanya di balas menyengir, lalu mengerling padaku. Ia benar-benar mengabaikan teman-temannya saat riuhan-menggoda itu terdengar untuk dirinya.
Tidak! Lebih tepatnya kami!
"Kamu tidak malu?"
"Sudah kubilang, kritikan adalah dasar dari kecemburuan! Mereka iri melihatku bersama Ms. Indonesia yang begitu cantik,"
Senyumku benar-benar menguap. "Dewana!"
Dia mengapa banyak memuji hari ini?
Sudah satu putaran kami melewati lapangan ini.
"Jadi, apa yang membuatmu terlambat? Kupikir, kita janjian jam lima, kan?
"Ketiduran? Ah, mengapa kamu harus mengingatnya, ya? Mengapa tidak istirahat saja?" Gumamnya yang membuat mataku melirik tajam.
"Kamu sengaja tidak mau ketemu? Lagi pula, aku bukan typikal yang mudah melanggar janji,"
"Jangan negative thinking, Baby. Hanya ingin keadaanmu baik-baik saja."
"Stop!"
Navroy berhenti mengayuh, saat aku telah turun dari sepeda dan berdiri di sebelahnya.
"Kamu marah?" Rautnya tetiba cemas menatap.
Aku menggeleng. "Hanya ingin ke toilet. Aku nanti menemuimu." Jelasku.
"Sungguh? Kamu benar-benar tidak marah, kan?" Tanyanya lagi menyakinkan.
Senyumanku merekah lalu menarik hidung mancung itu. "Astaga, iya! Lagi pula siapa yang sanggup marah dengan kekasihku ini? Sedetik saja sudah membuatku sangat rindu!"
Dia tersenyum. "Baiklah, My baby. Ayo! " ajaknya berlalu.
"Mau ke mana?"
"Katanya kamu mau ke toilet?"
"Iya. Lalu?"
"Aku mengantarmu."
"Astaga, Tidak usah, Sayang."
Dia menatapku serius. "Kenapa?"
"Hanya Tidak ingin merepotkan. Sungguh, Tidak apa-apa, aku bisa sendiri." Tukasku meyakinkan setelah tersenyum.
Dia memandangku sejenak. Lalu, "Baiklah. Aku menunggumu di tempat workout-ku. Be careful. Tapi, kabari aku jika terjadi apa-apa," sahutnya cepat-cepat mengingatkan di akhir kalimat.
"Iya, Sayangku." Anggukku dalam senyuman. Sebelum aku berlalu, ia mengusap rambut ini.
Tidak butuh waktu lama, aku telah selesai. Toilet ini memang tak jauh dari lapangan. Letaknya beberapa meter tepat di pintu keluar utara.
"Hi. Wait ... Wait!" Suara berat dengan aksen inggris itu kini mencegat yang tetiba saja muncul di hadapanku.
__ADS_1
Lelaki asing, tapi raut wajahnya tidak terlalu jelas karena cahaya di sini kurang memadai. Sedikit remang.
"Sorry, do you know me?" Tanyaku sedikit kikuk. Meski aku menyipitkan mata bermaksud melihat jelas, tapi wajah lelaki itu benar-benar tak biasa terlihat jelas. Ia memakai topi wol putih dengan syal biru di lehernya yang dipadukan dengan Jaket bombar hitam.
"So, you are a girlfriend Navroy?" Tanyanya mengabaikan pertanyaanku dan membuat kening ini berkerut begitu mendengar pertanyaan anehnya itu.
Ada apa dia bertanya seperti itu?
Aku berusaha tersenyum sembari memandang sorot mata yang tak kusuka itu ke arahku.
Di sini benar-benar sepi. Dia lalu menghampiri, kemudian tangan besar itu mendarat kasar dengan keras di pipiku hingga membuatku meringis seketika dan meninggalkan jejak perih di sana.
"What do you want? Why you hurt me? I did'nt wrongs with you!" Geramku menatapnya tajam dan membuatnya tersenyum sarkasme. Senyuman dalam keremangan itu benar-benar terlihat menakutkan.
"Listen! You should leaving Navroy, okay? And then, don't disturb him anymore! It's proof to makes your understand, if together with him, it is impossible dan just dream," sahutnya menekan kosakatanya lalu pergi dengan innocent.
Dengusanku terdengar. "I don't care what do you saying!" timpalku kesal dengan geram. Berharap, kalimatku itu bisa di dengarnya yang telah melangkah menjauh di kegelapan malam.
Aku mengusap airmata lalu menemui kekasihku di tempat latihan workoutnya. Setidaknya, hanya pamitan padanya.
Aku tidak tahu, apa maksud lelaki itu. Terlebih, mengapa sampai melakukan ini padaku. Tapi yang jelas, yang aku cukup tahu dan mengerti adalah sepertinya dia dekat dengan Navroy dan memiliki alasan kuat atas sikapnya ini, meski aku tak tahu.
Navrot tersenyum menyambut, saat aku menghampiri. Lalu, senyum itu memudar seketika saat memandang wajah ini.
"Apa ini, Baby? Apa yang terjadi?"tanyanya cemas saat menemukan memar sialan itu.
Aku bahkan tak menyangka, tamparan lelaki misterius itu cukup berbekas hingga dalam keremangan pun masih terlihat oleh lelaki itu.
Ringisan kecil—sedikit kutahan itu—terdengar dalam mata terpejam, saat Navroy mencoba menyentuhnya hati-hati. Raut wajahnya semakin cemas.
"Tidak apa-apa, ini hanya–"
"Baby, bukanlah sudah janji padaku untuk tidak bohong dan mengatakan apa yang terjadi? So, please, honest of me?" Permohonan, tatapan mata cemasnya, raut wajah sedihnya, kini melumpuhkanku.
"A-ada seseorang yang.... " getirku tak bisa melanjutkan kalimatku dan mulai meneteskan airmata. Raut wajahnya berubah dingin dan geram seketika. Detik berikutnya, ponselnya berdering, menatap sejenak layar ponselnya. Lalu, "Shitt!" dengusnya geram bergumam.
Tangannya terlepas dari wajahku, lalu berlalu tanpa memperdulikan teriakanku yang memanggilnya atau pun teman-temannya yang berusaha mencegat.
Dia sudut sana—lelaki misterius yang menamparku itu—seolah memang seperti menunggu. Navroy berhasil menemukan orang itu—entah bagaimana. Kekasihku itu memukul, melayangkan tinju dengan membabi buta dengan geram, tanpa ampun dan melepaskan semua amarah dan kekesalannya sembari berteriak dengan bahasa yang tak kumengerti, setelah dilerai oleh teman-temannya. Aku bahkan tak menyangka, ia semarah itu. Mereka lalu berdebat entah apa, lalu menghampiriku dan menarikku pergi dari tempat ini dengan raut wajah yang masih geram. Aku bahkan takut sekaligus cemas melihat keadaannya saat ini.
"Maafkan aku? Karena aku, kamu–"
"Kamu tidak bersalah," selanya dalam nada defensif tanpa menatap, meski aku menatapnya.
Navroy hanya terdiam dalam keheningan di taksi hitam ini, menarikku dalam pelukannya sembari mengusap rambutku setelah mengecup kening Ini, bermaksud menenangkan, asumsiku. Aku hanya memilih diam juga, menatap wajah yang masih menahan amarah itu dengan tatapan dinginnya dengan sorot mata lurus ke depan, sambil mengusap-usap dengan lembut wajah itu yang sesekali menyeka keringat di pelipisnya.
Sepanjang jalan, ia hanya terdiam tak memandangnya hingga kami tiba di depan rumah, ikut turun dan mengantarku sampai depan pintu, sedang ia meminta sang supir taksi menunggu.
"Aku harus pulang. Istrahatlah." Sahutnya saat aku menatapnya sedih. Raut wajahnya masih dingin, meski melirik sekilas. Ia menarik kepalaku, lalu forehead kiss, kemudian memeluk erat. Begitu ia berbalik hendak pergi, aku mencegatnya.
"Maaf, jika aku memang membuatmu marah dan memberikanmu masalah,"
Dia hanya terdiam, tanpa memandangku.
"Baby?" Panggilku kali ini memelas. "plea–"
Tanpa mengatakan sepatah kata pun, ia seketika menarikku dalam pelukannya, memeluk erat dengan menyela kalimatku.
Rasanya pelukan ini benar-benar terasa hangat hingga airmataku tetiba saja mengalir di pipi.
"Jangan ulangi lagi! Jangan ulangi untuk memohon seperti itu dan mencoba menyembunyikannya dariku," pintanya yang kini menatapku setelah pelukan kami terlepas.
Apa dia benar-benar marah?
"Aku hanya tidak ingin kamu cemas! Aku tahu, itu akan melukaimu atau membuatmu marah, tapi aku tidak akan melakukan itu! Lebih baik aku bungkam demi kau tidak tersakiti dari pada harus melukaimu seperti ini! Aku bahkan rela mempertaruhkan seluruh hidup dan kebahagiaanku, jika memang itu bisa membuatmu baik-baik saja! Aku sangat mencintaimu, bisakah kamu mengerti itu? Bagiku, tamparan tidak berarti apa-apa untukku dari pada harus meninggalkanmu karena ancamannya dan aku tidak ingin tersakiti–"
Navroy membungkam mulutku dengan bibirnya yang membuatku terdiam sejenak, begitu pun dirinya. Semakin aku berusaha melepaskan, semakin ia mengeratkan ciumannya.
"Aku tidak akan takut menutup mulutmu seperti ini bahkan hingga harus sepanjang malam, jika kamu bicara lagi. Jadi, diamlah," ancamnya yang masih menempelkan bibir tipis itu ke bibirku.
"Bukankah itu lebih baik?"
Senyuman simpulnya tampak sesaat. "dewana!"
Senyumanku cukup merekah dan diam-diam menghela napas lega. Setidaknya, berhasil mencairkan suasananya sedikit, terlebih membuat lelaki itu tersenyum yang sedari tadi cukup tegang, bahkan membuatku takut dan cemas.
Entah kapan dan siapa yang memulai, tetapi mulut kami telah saling berpagut, ciuman. Begitu lembut, perlahan namun terasa begitu nikmat dan hangat. Entah ada apa, tetapi ciuman kali ini terasa berbeda, sangat berbeda. Terkesan sangat mendalam, seperti sesuatu akan–
"Take care," bisiknya setelah melepas ciuman kami, lalu menarikku dalam pelukannya. Memeluk begitu erat, sangat erat sembari mengecup pucuk kepala ini, kemudian kembali memeluk lagi dan pergi berlalu tanpa memandangku.
Entah mengapa, airmataku menetes. Mengalir deras tanpa kuketahui alasannya, terlebih benak ini semakin sesak, seolah berontak dalam tangisan di dalam dada, sembari menatapnya pergi berlalu yang hilang dari pandangan begitu ia keluar dari pagar pintu dan berbelok.
* * * *
Halo, aga kareba? Hehe, maaf, maksudnya apa kabar? Itu adalah bahasa di kotaku, Kota Makassar. By the way, alhamdulillah, TCI telah sampai pada bab 18—yeay!!! 😊💃 Boleh, dong, Author meminta jejak komentarnya? Saran dan kritik membangun juga boleh banget. Anyway, terima kasih banyak untuk yang sudah mampir dan membaca cerita ini, bahkan yang beri vote, makasih, ya 🙏 Insya Allah, tetap selalu Update walaupun di kejar kesibukan.
Mohon untuk tetap stay, agar authornya juga semakin semangat berkarya. Salam kiss 😘😊🙏***
__ADS_1