Terjebak Cinta Sang Imigran

Terjebak Cinta Sang Imigran
Pilihan


__ADS_3

Sadeev masih bergeming, setelah mengingat kembali adiknya dalam ingatannya itu. sesaat pria itu flashback dengan kenangan menyedihkannya itu yang kini menjadi motif dasar rencananya saat ini. Dia tersenyum separuh, penuh sarkasme, ketika seberkas senyuman itu masih tersimpan rapat dalam ingatannya. Sebuah senyuman manis pada adiknya, Enemy. Gadis itu sempat mengusap airmata kakaknya dalam detik-detik kepergiannya—seolah berusaha menguatkan kakaknya, dalam senyuman dengan tutur kata yang terbata-bata dan nyaris berbisik, dia berkata bahwa dia melihat Navroy.


Sadeev menarik napas dalam sambil memejamkan mata, kemudian tersenyum setelah menghembuskannya. Yang terlintas dipikirannya adalah, mengapa dia dengan tololnya membiarkan lelaki itu masih hidup bahkan hingga sekarang dam kini menceritakan kisah itu pada lelaki itu. Bukankah saat ini penjelasan akan alasannya di balik semua ini hanyalah sia-sia? Toh, dia juga tidak ingin bernegosiasi pada pria yang dia benci saat ini di hadapannya.


"Maafkan aku.' Lirih Navroy yang kini suaranya terdengar di keheningan ruangan ini. Hingga tawa besar suara Sadeev memecah kesunyian. Pria yang rupanya kekasih masa lalu Keysa itu adalah lelaki sama yang bernama Alan.


"Aku tahu ini memang berat untukmu, aku melukaimu hingga meninggalkan kenangan buruk. Tapi sungguh, Sadeev, kami atau aku bahkan baru mengetahui hal ini," sahut Navroy yang berusaha menjelaskan kesalahpahaman yang telah bertahun-tahun itu. Namun, respon lelaki itu hanya tersenyum sarkas.


"Tidak ... tidak! Kau bahkan masih belum mengerti, situasi saat ini dan apa yang kurasakan. Izinkan aku menjelaskan, wahai tuan idola adikku," elak Sadeev lalu menundukkan tubuh layaknya memberi penghormatan pada kalimat terakhirnya.


“Enemy tersenyum. Wajah pucatnya saat itu begitu bahagia, ketika matanya tak sengaja menemukanmu di pinggir jalan yang tal jauh beberapa meter darinya. Dia bahkan melangkah cepat, masih dalam tatapan bahagia menghampirimu. Setidaknya, mungkin hanya untuk mengatakan hai saja." Suara Sadeev sengaja dibuat dramatis. "Lalu, saat dengan bodohnya mengikutimu, dia tidak menyadari ada malaikat pencabut nyawa yang menunggunya di jalan sana. Malaikat yang dilihatnya begitu indah, tampan, dan membuatnya tersenyum selalu bahkan hanya melihat live streamingnya di sosial media rupanya itu adalah mautnya... Dan lalu ... wusshhh ... mobil container ice cream melesat di jalan, dan, Bumm!! Semua hati kami hancur seketika!! Ck-ck, terasa menyakitkan," lanjutnya lirihnya yang nyaris berbisik.


“Seperti ini!” Serunya berteriak.


"KEYSAAAAAA!!!"


Braaakkk!!


Suara di keheningan itu terdengar kencang, bersamaan dengan suara teriakan yang melolong kesakitan yang terdengar memenuhi seluruh ruangan penjuru ruangab ini. Kursi itu ternyata menghantam tubuh Keysa yang masih tergantung. Lalu tak lama, tubuh Kesya terjatuh ke lantai. Tubuh yang telah basah karena darah. Beberapa darah mengalir di antara pelipis, hidung, dan mulutnya. Suara mengerang kesakitan Keysa lah yang membuat Navroy yakin kalau wanitu masih hidup, meski terluka parah.


Begitu tatapan sinis dan murka Navroy di lemparkan ke arah lelaki yang masih berdiri santai itu, Sadeev tertawa puas. Tertawa dengan panjang hingga memuakkan telinga lelaki itu. Ingin rasanya dia melepas tali yang melilit ke tubuhnya itu dan menghajar lelaki itu.


"Tenanglah, Bung! Tanpa kau berusaha melepaskan ikatan itu, aku pasti akan melepaskan. Tapi, setelah kau ... Mati!" byaris berbisik di akhir kata.

__ADS_1


Sadeev tertawa lagi. "Lihat, bahkan keahlian yang di sanjung-sanjung cewek-cewek selama ini pun, tak bisa menyelamatkanmu sekarang. Lalu, apa gunanya kau latihan pull up dan parkour setiap hari?" ejeknya di akhir kalimat yang membuat lelaki itu tertawa kemudian ketika Navroy yang terdiam dengan ekspresi datar.


Diam-diam, lelaki itu menyusun strategi agar terlepas dari tali yang mengikat dan menggantung tubuhnya sedari tadi itu. Karena kalimat Sadeev yang berceloteh terus, dia mendapatkan ide. Benar saja, karena situasi yang membuatnya panik, dia bahkan tak bisa berpikir baik tadi. Mungkin waktunya menguji dirinya, apa latihan pull up dan parkournya selama ini baik atau tidak? Jadi, tidak ada salahnya mencoba. Pikirnya yang masih berekspresi sama menatap Sadeev yang masih berceloteh panjang lebar.


Sepanjang Sadeev berceloteh dan sesekali memunggunginya, Navroy mencoba membuka ikatan tali yang berada di kakinya. Lewat kekuatan yang di dapatkan dari keahlian pull up dan parkournya, dia bisa melipat tubuhnya naik ke atas untuk mencapai kaki yang sengaja di gantung ke atas hingga tubuhnya terbalik menjadi kepala di bawah. Namun, tali besar itu belum terlepas.


BRAAAKKK!!


Suara gedebuk keras itu terdengar lagi dan tak menyangka, kursi kayu itu akan di lemparkan ke arahnya dan mengenai tubuh atletisnya itu. Serpihan kayu jatuh ke lantai, bersamaan dengan rasa sakit pada tubuhnya yang begitu luar biasa. ngilu, nyeri, panas, lalu darah mulai jatuh menetes ke lantai. Kepalanya berdarah, rupanya menghantam tubuh dan kepalannya. Tubunya masih bergeming, diam, dan hanya berayun terus hingga berhenti dengan sendirinya. Di sisi lain, lolongan tawa Sadeev yang begitu puas mengerjai lelaki itu kini memenuhi ruangan.


"Kau bahkan hanya bisa tertawa seperti orang idiot di sana, karena tak bisa membunuhku!" lirih Navroy dalam menahan sakit. Dia berusaha terlihat baik-baik saja di hadapan lelaki saiko itu. Dan seketika membuat Sadeev menghentikan tawanya dan menatapnya tajam.


"Cukup! Aku sudah muak bermain-main denganmu. Mungkin dengan cara membunuh orang kau cinta, kau akan mati perlahan-lahan!" tukas Sadeev yang mengandung ancaman dalam perkataannya.


Tawa Sadeev kembali pecah. "Oh, ya? Haruskah aku takut?" Tawanya kembali lagi yang kali ini mengejek penuh sarkas. "Baiklah, mari kita lihat, apa kau bisa menghentikan waktu dalam bersamaan?" tantang Sadeev dengan senyum separuh liciknya.


"Jangan, Sadeev! Sudah cukup! Jangan menyakiti Keysa lagi! Dia bisa mati!" teriak Farah yang memohon dengan linangan airmata ketika lelaki itu merebut pistol dari wanita itu. Navroy yang melihat hanya kebingungan. Entah drama apa lagi yang dibuat mereka.


"Diamlah, kau! Aku bahkan tak membutuhkanmu lagi!" Seru Sadeev murka. Dan yang membuat Navroy terkejut, lelaki itu bahkan tak segan menampar kekasihnya itu, kemudian menembakkan sekali ke arah Farah yanf tersungkur.


"Lihat, siapapun yang menghalangiku, aku bahkan akan membunuhnya!"


"Kau benar-benar sudah gila, Sadeev! Dia bahkan kekasihmu!"

__ADS_1


Sadev terkekeh. " Tidak, jika dia berani menghalangiku. Yang kutahu saat ini adalah, bagaimana mengirimmu juga ke akhirat, agar Enemyku bisa tersenyum di sana begitu melihatmu,"


"Kau benar-benar tidak waras! Enemy bahkan sedih jika tahu kakaknya seperti ini,'


"Sssstt, diamlah, Tuan idol. Lebih baik kau berpikir sekarang, bagaimana menghentikan waktu untuk membunuhmu. Aku jadi bersemangat. Siapa, ya, yang akan kau pilih untuk selamatkan?" Tukas Sadeev. "Begitu linka kulempar ke arah lemari etalase kaca di sana bersama kursi ini, maka seketika itu juga kutarik pelatuk ini dan kutembakkan ke arah Keysa-mu tersayang. Dan bemm ... bemm. bem.... semuanya hancur dan mati!" Dia tertawa lagi yang membuat Navroy menggeram murka.


"Lepaskan bedebah! Dasar pecundang! Jika kau berani, lawan aku!"


Namun teriakan Navroy hanya di tanggapi dengan tawa licik Sadeev.


"Lets to play! Siap tidak siap!" Serunya lagi tertawa.


Sadeev mengangkat kursi berisi Linka yang masih tak sadarkan diri. Wanita itu di lemparkan ke arah sisi lain. bersamaan dengan bunyi beberapa tembakan yang di todongkan ke arah Keysa yang masih terkulai tak sadarkan diri di lantai. Dengan sigap, lelaki itu mengayunkan tubuhnya untuk mencapai gadis itu. Tubuhnya terjatuh ke lantai, lalu dengan cepat bangkit dan memeluk erat Keysa agar punggungnya menjadi tameng beberapa peluru yang dengan cepat ke arah mereka. Rupanya tali yang mengingat di kakiny terlepas sedari tadi dan memang sengaja disembunyikan pada Sadeev saat lelaki itu sibuk mengancamnya.


Tubuh Navroy beberapa kali terguncang, saat dia menahan serangan peluruh yang datang bertubi-tubi melesak masuk ke punggungnya dengan panas, bersamaan dengan pekikan cemas pada gadis yang tengah di peluk itu. Beberapa timah panas itu telah merobek kulit dan daging punggungnya. Bahkan, Navroy masih bisa merasakan dadanya basah ketika wanita itu tengah menangisinya dan dia dengan bodohnya hanya membalas senyuman kecil.


Belum selesai sampai di sana, ingatannya memaksa untuk bangun, melepas pelukannya pada Keysa dan meloncat ke sisi lain. Dalam sekali pijakan ke dinding dan menghentak, tubuhnya terayun melesak ke udara berusaha menggapai Linka yang masih terikat di kursi dan sebentar lagi akan menabrak Lemari etalase kaca. Begitu tubuhnya menabrak gadis itu dengan ringisan kecil karena terkena sudut kursi dan seketika langsung memeluk kursi yang berisi Linka, detik berikutnya begitu cepat hingga tubuh Navroy terasa melayang di udara dan terdorong ke belakang—seolah gravitasi itu menariknya hingga bersamaan dengan suara gedebuk keras dalam dekapan lelaki itu dan terhempas keras di lantai, menerobos lemari kaca itu tanpa bisa di kendalikan. Dia bahkan bisa melihat serpihan-serpihan kaca itu beterbangan di sampingnya dan merasakan seperti ada yang merobek kulitnya dan menancap perih di sana. Suara lemari kaca yang hancur akibat hantaman tubuhnya bersamaan dengan suara jeritan keras Keysa yang memanggil dirinya bagai backsound yang terdengar menyayat hati di telinganya. Bayangan wajah Enemy yang menghembuskan napas terakhir, teror sadeev bahkan wajah Keysa saat di siksa tanpa ampun oleh Sadeev tadi, membuat airmatanya menetes dan rasa benci kini menyeruak di dadanya bersama dengan rasa sakit pada lukanya saat ini. Dia bahkan tak menyangka, kehadirannya seperti bom pada orang di sekitarnya.


Dalam sisa-sisa kesadaran dan ketidakberdayaannya itu, samar-samar Navroy mendengar suara tawa Sadeev. Lelaki itu berdiri dengan mengacungkan pistol ke arah Keysa yang sedang memaksakan tubuhnya bangkit dan berdiri untuk menghampiri Navroy. Dengan sisa daya yang dia miliki, lelaki itu berusaha bangkit dan meloncat ke arah Keysa. Begitu dia berhasil memeluk gadis itu sembari memunggungi Sadeev, bersamaan dengan itu suara tembakan terdengar dan kembali merobek kulit Navroy, melesak masuk yang kali ini terkena di lengan kekar lelaki itu. Mereka masih berdiri, mendekap Keysa dengan erat dan jatuh di pelukan gadis itu, dalam lumuran darah kepala, mulut dan hidung bahkan punggungnya yang telah sangat basah karena darah. Beberapa serpihan kaca juga menancap di sana. Senyuman manisnya mengambang di sana cukup lama dalam tatapannya. Dan kalimat terakhir yang terdengar adalah, "Kamu baik-baik saja?"


Lalu detik berikutnya samar-samar suara tumpang—tindih orang-orang berdatangan dan suara sirine, terdengar, bersamaan dengan suara tembakan berulang kali. Lalu seorang polisi menghampiri mereka berkata, "Bertahanlah, Dek!"


Seketika, tubuhnya ambruk yang masih mendekap Navroy.

__ADS_1


* * * *


__ADS_2