
Senja telah lama menghias cakrawala. Tepat pukul tujuhbelas lewat dua menit, aku baru pulang bekerja dan saat ini tengah berada di jalan trotoar kawasan Mall Karebosi Link, namun tak jauh dari Area jogging Track. Beberapa kendaraan terparkir di tepi trotoar. Entah milik pribadi atau angkutan umum. Terlebih, jalan di sini berada di sekitar sekolah dasar dan jam pulang mereka bertepatan dengan saat ini. Jadi, bisa di bayangkan, beberapa orang dan murid juga tengah berdiri tak jauh dariku menunggu angkutan umum. Saat aku menengok ke belakang, raut wajah tampan yang tersenyum lebar itu berada di sana. Tubuh tinggi dan tegapnya begitu sempurna nampak sembari kedua tangan panjang itu menyusup masuk di balik saku celana sporty-nya yang sepadan dengan sepatu kelabu. Otot-otot di lengannya begitu bebas terlihat karena memakai kaus tanpa lengan. Rambut spike—di cat perunggu gold itu—yang sengaja di jabrik hingga semakin menampakkan kharisma lelaki ini.
Aku berdehem setelah sejenak lagi-lagi di buat terpesona olehnya. Dia hanya tersenyum simpul saat melihat ekspresi konyolku ini.
“Hai.” Sapa Navroy yang membuat raut wajahku mengernyit saat baru menyadari, benar-benar bukan delusi.
D-dia di sini? Menyapa? Menghampiri?
Benarkah?
Lelaki itu berdehem hingga membuatku tersadar. “Apa kau mendengarku?” Cobanya lagi dalam bahasa Inggris.
Sesaat, kepalaku celingak-celinguk, namun yang kutemukan hanya beberapa gadis muda yang memperhatikan kami, terlebih menatap berlebihan lelaki di hadapanku ini yang sesekali berbisik sembari tersenyum dengan mata yang tak lepas dari pandangan.
“Oh, Maaf. Kau di sini?” kalimatku ini sesaat membuatnya terkekeh.
Dia bahkan jauh lebih tampan saat tertawa seperti itu. Shit!
“Yeah, seperti yang kau tahu, aku di sini workout,” desahnya. “Bisa kita bicara di sana?” lanjutnya bertanya saat menuding halte yang tak jauh dari sini. Halte itu tepat berada di area jogging track yang hanya diberi pembatas pagar jaring besi.
Aku mengangguk, lalu mengikutinya saat ia melangkah terlebih dahulu menghampiri.
“Apa kabar?” tanyaku yang memulai setelah kami duduk. Raut wajahnya tak berekspresi, namun sorotan mata itu seolah kosong.
“Baik.” Singkatnya.
“Sendirian saja?”
“Teman-temanku sedang workout di sana.”
“Oh.”
“Yeah.”
Kembali hening lagi.
__ADS_1
Aku hanya menggigit bibir, menatap dalam pandangan menunduk. Pada akhirnya, ia kembali dingin lagi. Kubiarkan helaan napas begitu bebas keluar, tapi terdengar berat.
“Apa kau sudah punya pacar?” pertanyaan itu keluar begitu saja yang membuatku seketika menggigit bibir dan menyesali.
Bodoh!
“Maaf.” Sahutku cepat-cepat.
Hening sejenak.
Bahkan, suasana ini sangat canggung.
Orang-orang menatap ke arah kami, namun lelaki itu ... entah apa yang dipikirkannya dalam bungkaman saat ini. ia terdiam dalam pandangan lurus, dengan tatapan kosong.
Apa yang mengganggunya? Apa ia dalam masalah? Tapi—
“Yeah,”
Dan pengakuannya, membuat kepalaku memutar cepat ke arahnya. Ada rasa aneh yang kurasakan dalam benakku. Dia memandang lurus ke depan, tanpa memandangku yang kini menatapnya.
“Namanya Risa. Benar, kami memang pacaran, tapi akhir-akhir ini dia sangat berubah. Dia tak pernah lagi punya waktu untukku. Entahlah, mungkin dia sudah bosan.... “ akuinya bercerita yang masih tak memandangku, namun di akhir kalimat, berhasil mengangkat wajah dan melirikku saat senyum sarkasme itu terlihat.
Untuk kali pertama, dia terbuka padaku dan bercerita panjang seperti itu.
Navroy, apa ini keaslian hatimu di balik sikap dingin dan cuekmu? Kau rupannya menyimpan kesedihan dan pandai menyembunyikan. Bisa kurasakan itu, Mr, Pakistan!
“Mungkin dia sibuk,” selaku mencoba menghibur dirinya.
Dia lagi-lagi tersenyum sarkasme dan menggeleng. “Aku rasa tidak! Dia sibuk apa? Bekerja saja tidak. Dia hanya tinggal di rumah,”
“Tapi, mungkin memang ada sesuatu yang tidak bisa diberitahu padamu, Navroy.” Aku mencoba lagi dan matanya melirikku sejenak.
“Entahlah! Tapi aku tidak tahu, Key. Semoga saja benar! Umm ... omong-omong, kamu baru pulang bekerja?”
Aku menggangguk dan tersenyum.
__ADS_1
“Itu bagus!” ringannya mengangguk kecil dan tersenyum serileks mungkin. Detik kemudian, hening kembali, canggung lagi.
“Baiklah! Aku harus pulang! Tetap semangat, oke? Tetaplah mengabarinya dan jangan lupa tanyakan padanya apa yang sesungguhnya terjadi. Ingat, tanpa amarah, jangan sampai membuatnya tidak nyaman,” jelasku mengingatkan.
Dan untuk kali ini, senyuman itu begitu lebar merekah di sana. Rasanya, seketika seperti menyentuh hatiku, menyejukkan.
“Terima kasih.” Desahnya akhirnya yang membuatku mengangguk dalam senyuman, lalu berdiri.
“Bye. “ desahku dalam senyum simpul, menatap wajah itu sesaat.
Entah mengapa, rasanya sesak, hatiku terasa menangis, entah....
Bye ... untuk mungkin pertemuan terakhir kita. Ya, mungkin terakhir, kekasihnya gadis lain.
“Mm—bye. “ Sahutnya melambai seperti ragu sembari trsenyum simpul, menatapku.
Aku lalu melangkah dan melangkah, menatap kosong, lurus ke depan. Airmataku mengambang di pelupuk mata, lalu senyuman kecil merekah di bibirku.
Hari ini ada keanehan terjadi. Kau tahu, Ma, dia mulai membuka diri dengan kehidupanya. Tetapi, entah mengapa, seakan-akan ingin terus menjadi penyemangatnya. Senyumnya tadi, cukup membuat luka hati ini yang seolah mengatakan bahwa semuanya akan baik-baik saja.
Navroy, sedingin apa pun kau, yang bahkan terkadang membuatku frustasi, entah mengapa kenyamanan itu ada, saat kita mengobrol. Aku yakin, kau sebenarnya orang yang menyenangkan dan baik.
Langit senja mulai tak terlihat, kala awan mendung menutupi kecerahan langit sore hari ini. Dalam sekejap, aku bertemu denganmu dan mengenalmu perlahan-lahan.
Senyumku seketika terbit dan menggeleng prihatin, di antara orang-orang yang tengah berada di dalam angkutan umum, saat aku mengutak-atik ponsel dan menemukan chat lama yang masuk, namun belum sempat kubaca saat tadi siang.
Navroy Grey
Keysa, apa kamu mau bertemu denganku di depan lapangan karebosi sore ini? Aku latihan di sini, dan kupikir tempat kerjamu tak jauh dari sini.
14:56, 18 August
Navroy
Lupakan saja! Maaf, aku salah kirim.
__ADS_1
14:58, 18 August
* * * *