Terjebak Cinta Sang Imigran

Terjebak Cinta Sang Imigran
Janji?


__ADS_3

Malam ini cuaca begitu dingin, karena baru saja hujan deras mengguyur kota ini. Saat pulang kerja sedari tadi, aku menemukan bahan-bahan di freezer dan semangatku untuk masak muncul seketika. Cukup banyak dinner malam ini yang akan kubuat. Ada kangkung cah asam, cumi goreng terigu—merupakan favorite Farah—udang tumis rica, cumi kukus rica asam pedas dan soup seafood. Begitu Farah terbangun dari tidurnya, dengan girangnya ia duduk manis di kursi meja makan dan mulai mencicipi satu-persatu makanan yang telah tersaji di meja. Anak ini rakusnya kumat lagi. Anehnya, betapa menyenangkannya jadi dirinya, makan sepuas apapun, tapi tetap, berat badannya tetap ideal.


Dasar mungil!


“Eh, kenapa tidak makan? Jangan bilang lagi diet, ya. Kamu mau melewatkan masakan lezat ini?” selanya memandangku yang hanya menatapnya sedari tadi dan itu membuatku tersenyum lebar. Aku menggeleng.


Dia bahkan makan lahap sekali!


“Oh, makan, ya? Kupikir mau di barasanji dulu,” timpalku polos. Suapannya seketika berhenti, lalu menatapku penuh tanya dalam alis mengernyit.


“Barasanji?” dia seperti berpikir sejenak lalu tertawa. Itu memang istilah adat suku di sini untuk hidangan makanan yang akan dibacakan beberapa ayat doa panjang untuk para leluhur, kurang lebih seperti itu. Aku pernah memberitahunya tentang istilah ini.


Farah kembali menyuap makanannya. “Lah, malah melamun! Mau makan atau tidak?” celetuknya lagi yang membuatku tersenyum.


"Iya, aku makan. Tapi, by the way, terakhir makan, kapan?” tanyaku yang membuatnya tersedak dan hanya kekehan yang terdengar dariku sembari mengulurkan segelas air untuknya.


“Pelan-pelan makanya!” timpalku menggoda menahan tawa yang membuat wanita ini hanya memandangku tajam. “Wait!”


“Apa, sih?”


"Jangan bilang kalau ini adalah makanan yang di freezer?"


“Em—hm, lalu?”


“Aduh, Key, itu untuk besok! Sayangku itu akan datang besok dan minta dimasakin,”


“Wah, bagus, dong! Cie, yang sudah pandai masak!” godaku riang, lalu kembali menyuap makanan.


"Keysa? " Rengek Farah yang terdengar dengan nada yang dilebih-lebihkan.


“Key?” ulangnya lagi, kali ini tangannya menarik tanganku berulang kali—perlahan dan membuat makanan yang tengah berada di sendok berserakan di mana-mana.


Astaga, anak ini!


“Apa, sih? Aku sedang makan! Please, biarkan aku menikmati makan malamku!”


“Iya, tapi itu.... “ nada suaranya bahkan sangat lebih manja dan sengaja di lebih-lebihkan.


Aku menyimpan sendok di piring, lalu menatapnya menyipit.


Seperti ada yang tak beres!


Dia senyum malu-malu. Lalu, “Tentu saja kamu, kan, yang masak—eits! Tidak boleh protes, ya, ini sebagai ganti tanggungjawab karena memasak bahanku,” sahutnya cepat-cepat menyela di akhir kalimat saat melihat mulutku separuh terbuka hendak mengatakan sesuatu. Dan akhirnya, aku mendesah dan mengalah setelah memutar mata.


“Siapa yang makan banyak, siapa yang tanggung jawab! Perasaan aku baru mencicipi dan baru sesuap,” sungutku bergumam yang hanya membuatnya terkekeh.


“Baiklah! Lagi pula, aku turut senang, kau memiliki pacar. Ya, semoga saja kau bisa awet bersamanya. Well, jam berapa besok dia datang?”


“Aamin, do’a sahabat baik pasti selalu dikabulin. Dia datang besok siang!”


“Apa?” Farah mengangguk dengan innocent.


Dia pikir aku tak sibuk apa?


“Ayolah, Key, kali ini saja, please? Bantu aku agar terlihat pandai dihadapannya,”


Nah, tinggu!


Mataku memandangnya menyipit. “Sepertinya ada modus, nih.” Gumamku yang membuatnya tersenyum yang seakan dibuat manis. “Beritahu aku!” lanjutku mendesak.


“Apa?” manja Farah.


“Cukup deh, Far, jangan di sok manisin gitu, beritahu aku sesungguhnya!”


Wah, dia terkekeh konyol.


“Key yang baik, manis, cantik, dan segala-galanya aku padamu ... Minta tolong, dong, masak buat kami sebelum berangkat kerja, please?” sahutnya manja yang membuatku memutar mata di kalimat awal, namun seketika melotot di kalimat akhir.


“Maksudnya, kamu ingin mengakui di ‘sayang’-mu itu kalau kamu yang masak?” simpulku menebak.


Dan dia mengangguk innocent dengan senyum yang dibuat-buat. Mataku memutar lagi, lalu mendengus.

__ADS_1


Benar-benar anak ini!


Bukannya aku tak mau membantunya sebagai ‘sahabat’-nya, tapi cara konyolnya itu sama saja menipu. Katanya kekasih, tapi hal sekecil itu saja tak berani jujur dan bahkan tega membohonginya. Bukankah jika mencintai seseorang, hal paling terbaik adalah mengakui kelemahan? Kurasa disitulah letak kesempurnaan, saling melengkapi dan menutupi. Aneh!


Dia masih menunggu sambil menatapku cemas penuh harap.


“Makanya, belajar masak! Aku sudah bilang, kan, suatu saat kamu pasti akan membutuhkan keahlian itu,” ocehku sembari menyambar hidungnya dan menariknya yang membuat Farah meringis kesakitan dan berusaha menjauhkan tanganku dari hidung mungilnya.


“Ih, Key, ah, tidak pake tarik hidung juga! Intinya, ya atau tidak? Sekali pun tidak, itu tetap harus ya!”


“Siapa yang tanya, siapa yang jawab! Tapi aku tidak menyangka, kamu benar-benar mencintainya, ya? Sampai segitunya berjuang untuknya,”


“Ada saatnya kamu mengerti semuanya, Key. Kau tahu, terkadang cinta itu membuat hati memahami, namun logika tidak, begitu pun sebaliknya. Dan ketika kau menemukannya, percayalah, kau hanya mendengarkan kata hati, dan meutup rapat-rapat telinga,”


“Kedengarannya seperti aneh, memang!”


“Ya, begitulah! Lagi pula, kau menutup hati untuk hal seperti itu selama empat tahun, mengapa seperti amnesia?” aku tertawa renyah. Entah menertawakan diriku, atau istilah sahabatku ini.


“Entahlah, Far. Tapi kau tahu, terkadang aku takut menemukan kembali. Takut, pada akhirnya aku semakin tak memahami dan tak menemukan jalan pulang, hingga tersesat,”


“Makanya, pakai Map atau ojek online, Sayang!” timpalnya tertawa, lalu mengacak-acak rambutku lalu berlalu. Sebelum ia berbelok menuju koridor kamarnya, ia sekilas berteriak. “Jadi, kau membantuku, kan?”


“Iya, menyebalkan!” teriakku tersenyum lalu menggeleng kepala prihatin.


Dasar!


* * *


Pagi menyambut begitu dinginnya. Semalam hujan deras, bahkan selimut pun tak mengalahkan rasa dingin itu. Lagi-lagi hidungku berair karena cuaca. Entahlah. Mengapa tiap musim hujan seperti ini, rentan terkena flu. Berulang kali bersinku terdengar, dan itu benar-benar menyebalkan sekali. Terlebih, flu itu telah mulai berefek pada kepalaku yang menimbulkan nyeri dan sakit pada syaraf mata. Sepertinya, aku absen kerja hari ini. Meski, telah dapat izin dari pak Dion—bahkan beliau yang memaksaku untuk absen dan beristirahat hari ini—saat meneleponku di pagi buta tadi dengan tujuan mengingatkan untuk menyiapkan berkas terlebih dahulu untuk bahan meeting nanti. Namun, ya, ia tetaplah atasan yang terbaik. Selalu mengerti keadaan keryawannya dan mendahulukan kesehatan karyawan. Mungkin itulah alasannya mengapa di mana pun ia mengelola atau memegang perusahaan, semua orang segan padanya. Perhatian, sikap bijak dan lembutnya itu selalu melekat. Atasan yang seperti itu jarang di dapatkan di antara ketegasannya.


“Yakin, mau masak hari ini?” tanya Farah di sela aktivitasku yang tengah mencuci sayuran dan bahan-bahan lainnya.


Benar-benar, obatnya tak bekerja!


Aku mengangguk cepat. “Dan membiarkan usahamu untuk ke supermarket di pagi buta menjadi sia-sia? Lagi pula, asal kau tak takut tertular, aku mengusahakannya,” parauku dengan serak sembari memakai masker.


Dia tersenyum terharu padaku. “Aku percaya padamu. Lagi pula lulusan kesehatan pasti tahu kebersihan dengan baik, bukan?” ringannya yang masih memelukku.


“Oh ya, dia suka makanan apa?” tanyaku saat mencuci sayuran dan semua bahan, lalu buah.


“Apa saja, Key. Dia tidak memilih-milih, kok.”


“Oke, baiklah! Sepertinya aku sesuaikan bahan di sini dan seleramu,”


Dia mengangguk antusias. “Aku percayakan padamu, Sayang! Sementara kamu memasak, aku ingin mandi dulu. Selamat membantu!” serunya lalu mengecup pipiku sebelum berlalu yang membuatku tersenyum.


Dia tampak begitu bahagia. Aku baru menyadari, rupanya seperti itu penampakan dari hati yang kasmaran. Ia bahkan sangat begitu manis. Meski, sikap manja wanita itu memang tak berubah, di usianya yang setua itu masih saja seperti itu. Memang benar, terkadang cinta dengan mudah mengubah seseorang. Benar-benar aneh. Tetapi, mungkin mama benar, cinta itu seperti permen karet. Begitu elastis dan lembut. Kau bisa melakukan apapun sesuka hatimu, tersenyum saat terasa manis, tapi ketika hambar telah tiba, saat itulah membuatmu tak nyaman. Namun di balik itu semua, ada pengganti yang membuatmu kembali merasakan hal dan waktu yang sama. Terasa aneh, tpi terkadang menyenangkan.


Aktivitas memotong sayuranku seketika berhenti, saat melihat gadis itu masih berdiri tak jauh dari bar dapur, menatap ke arahku seperti mengamati. Tapi raut wajahnya terlihat seperti kesal.


“Ada apa?”


Dia mencebik, “Jangan pikir aku tak tahu, ya, isi di kepalamu itu. Aku kenal betul ekspresi itu! Jadi, berhentilah mengoceh dalam hatimu!” timpalnya menyipit yang membuatku terkekeh.


Rupanya, selama ini dia mengamati. Aku memang beberapa kali mengucap kalimat tentang dirinya secara langsung, rupanya ia tahu.


“Memangnya, aku pikir apa?” tantangku yang mengulum senyum menahan tawa.


Desahannya terdengar berlebihan. “Kamu bahas tentang tua dan manja, kan?” tawaku menggema.


“Sudahlah, mandi sana!” dia mendengus, lalu mencebik kemudian berlalu.


Aku lalu memotong dadu kentang setelah mengupas, cabai dan juga bawang merah. Karena bahannya hanya ada tahu, ayam dan juga cumi, jadi sepertinya akan mmbuaat steak tahu ayam pedas, cumi goreng tepung dan barbaque cumi kukus.


Entah sejak kapan, namun ponsel itu telah berada di dekatku dan gilanya lagi, telepon video call telah tersambung dengan .... Navroy? Astaga!


“Hai.” Sapanya ringan dengan seulas senyum, saat telepon sudah tersambung begitu aku hendak mematikan. Aku menunduk dalam mata terpejam. Rasanya benar-benar malu.


Sial!


Suaranya kini terdiam, lalu senyum kecil itu tampak di sana, saat aku memberanikan diri mengangkat wajah dan memandang layar ponsel—setelah berulang kali mengambil napas, lalu melepas maskerku.

__ADS_1


“P-pagi, Mr. Pakistan.” Sapaku kikuk.


Senyum simpulnya merekah. Senyum refleks itu memng selalu terjadi jika aku memanggilnya dengan istilahku itu.


“Pagi, Ms. Indonsia.” Senyumku menguap. Cukup membantuku rileks.


Aku kembali memotong bahan makanan, setelah meletakkan ponsel di hadapanku, agar tetap bisa melihatnya.


“Kau di mana?” tanyaku masih dalam bahasa Inggris. Aku lalu memotong tipis daging ayam. Aku sengaja mengambil dada dan paha atasnya agar teksturnya sempurna.


“Di tempatku.” Background-nya dindingnya memang indah. Bercorak seperti batik bunga dengan warna cokelat-putih. Terlihat keren.


“Bagaimana kabarmu?”


“Baik.”


“Oh.”


“Iya. Dan kamu? Suaramu terdengar aneh, apa sakit?”


Aku mengangguk. “Sedikit. Hanya flu, mungkin efek cuaca.”


“Oh. Semoga cepat sembuh.”


“Terima kasih, Navroy. Oh ya, aku mengganggumu?”


Dia menggeleng. “Tidak juga.”


“Oh, oke.”


“Ya.”


Hening.


Entah mengapa, suasana seperti ini selalu ada di antara obrolan kami.


Sungguh, Tuhan, makhlukmu itu benar-benar menyebalkan!


“Mm, Key, kau sedang masak, ya?” aku mengangkat wajah. Berusaha mengontrol ekspresi, setenang mungkin. Stay cool, Man!


“Iya! Ini lagi buat makanan untuk lunch nanti. Sahabatku itu akan kedatangan tamu nanti. Jadi, ya, sedikit membantu.”


“Oh, baguslah!”


Hening kembali.


Hanya itu? Bisakah ada yang lebih singkat lagi dari itu?


Aku menghela napas berulang kali yang mulai kesal, saat menundukkan tubuh di bar dapur, agar tak melihat usaha mengatur napasku.


“Sudah makan?” tanyaku lagi saat kembali muncul.


“Ya, sudah. Terima kasih!”


Aku mendesah.


Terserahlah!


“Oh ya, hari ini kamu sibuk?” tanyaku yang mulai acuh dengan jawaban singkat dan sikap dinginnya itu.


“Tidak juga. Hanya mau ke toko buku.”


“Oh, ya? Di mana? Aku juga rencana akan membeli beberapa buku,”


“Di Mall Mari. Tapi kupikir kamu sakit, jadi lebih baik istirahat saja,”


“Tidak apa! Lagi pula hari ini aku free kerja, jadi bersama tidak apa-apa!”


“Tidak perlu! Lagi pula aku sudah berjanji padamu. So, see you! Aku akan tetap menunggumu di sana, di pekarangan mall,” sahutku lalu memutuskan telepon.


* * * *

__ADS_1


__ADS_2