
Wanita itu menatapku lekat sedari tadi, bertopang dagu sesekali tersenyum. Ia duduk tepat di kursi seberang, di ruang tamu ini.
“Tidak kerja?” tanyanya yang masih menatapku berlebihan.
Jelas saja, pakianku tidak formal, biasanya jika bekerja mengenakan rok mini yang padukan dengan kemeja dan blus, tak lupa diselaraskan dengan heels, namun pagi ini, bertolak belakang. Aku tengah memakai kemeja, jins panjang yang di padukan dengan sepatu kets. Yup, aku lbih nyaman jika tampil sederhana seperti ini, yang biasa Farah menyebutnya ‘puteri tomboy’.
“Iya. Pagi tadi, pak Dion menelepon untuk urusan kerja. Tapi begitu beliau mendengar suaraku dan mengetahui ternyata sakit, bahkan memaksaku untuk tidak masuk. Katanya istirahat saja,”
“Nah, di suruh istirahat kenapa malah hang out? Lagi pula, wajahmu itu sudah pucat, Key, kamu perlu istirahat. Takutnya juga kamu semakin sakit,”
“It’s okay!”
Farah mendesah. “Kadang-kadang kamu salah menempatkan keras kepalamu itu,”
Aku mencebik dan tetap memakai sepatuku. “But by the way, rasanya seperti menyenangkan punya atasan seperti pak Dion, begitu pengertian dan care,” gumamnya lanjut seperti memikirkan sesuatu, sembari tersenyum aneh.
“Astaga, wanita ini!”
“Apa, sih?” dia mengulum senyum menahan tawa sembari memandangku sok polos.
“Aku tahu dipikiranmu, Sayang! Sudahlah, jangan berpikir aneh-aneh pada suami orang Lagi pula dia sudah punya anak, loh, remaja malah,”
Tawanya menggema. “Kan kamu tahu, aku hanya suka dompetnya, bukan orangnya,”
Helaan napasku terdengar. Meraih tas jeans hitamku lalu memakainya, kemudian menghampiri Farah dan menarik hidungnya hingga memerah. “Itu sudah sepaket, Sayang! Dasar gila!” timpalku tersenyum saat ia meringis kesakitan, namun ekpresinya hanya kesal lalu merengut. “Bodoh amat!” aku tertawa kemudian berlalu pergi, setelah melambai dan pamit.
Terkadang, wanita itu membuatku bungkam dan berpikir dalam satu malam. Kalimat-kalimatnya yang biasa di berikan padaku tentang Navroy, entah gila, tidak sehat atau apapun itu sebutannya, aku juga tak tahu mengapa hati ini terkadang bertindak di luar logika. Aku seperti berada di tengah laut dengan arus yang begitu jeram. Di sisi lain, ketika aku menyerah, akan tenggelam, namun jika melawan, akan menyakitkan diri ini. pada akhirnya, ujung apapun yang kutemui suatu saat ini, tetap saja kegelapan itu tercipta. Aku tak tahu bagaimana saat ini, tapi yang pasti, apapun yang tengah kupilih sekarang dan kujalani, hanya berharap, semoga bisa kuat melawan hempasan badai suatu saat nanti.
Butuh setengah jam menggunakan busway, saat menuju ke mall tersebut. Tepat pukul sebelas siang, aku tiba di tempat ini. Mall Ratu Indah, sebuah gedung besar dengan design istana megah. Bangunannya yang luas selaras dengan halaman yang diperindah dengan beberapa pohon palm yang tumbuh di sisi jalan dan tamannya. Sedangkan basemant berada di dekat pintu utara belakang mall, hingga harus melewati halaman depan pintu selatan. Aku menunggu Navroy tepat di sebelah sisi halaman—Taman bagian barat yang tak jauh dari lobby. Sengaja kemari, agar mudah bertemu dengannya karena dekat dari jalan raya—merupakan tempat perhentian taksi dan kendaraan lainnya.
Menit....
jam....
bahkan senja menyingsing dan nyaris tenggelam pun, hidung mancung putihnya masih belum terlihat juga. Entah di mana ia saat ini. bahkan chat dan teleponku pun tak di jawabnya. Rasanya tubuhku mulai demam. Terlebih, napas dan kedua mata ini sudah terasa panas, dan itu membuatku tak nyaman. Aku bersedekap, berharap rasa dingin yang menyelimutiku bisa redam dengan cepat.
Kamu di mana, sih, Navroy?
Kepalaku terangkat dan memutar cepat, saat suara yang tak jauh dari sini—entah berasal dari arah mana, terdeteksi oleh inderaku. Suara yang begitu terasa familiar di telinga, yang kerap membuat jantungku berdegub cepat ketika begitu indah mengalun dalam hati ini. Lagi, suara itu terdengar, namun tak jelas apa yang diucapkannya, seperti bahasa yang tak kumengerti.
Mungkinkah dia? Tapi—
“Hei, ada yang bisa kubantu? Wajahmu terlihat sangat pucat, sepertinya kau.... “ kalimat dalam bahasa inggris yang masih dengan suara asing itu terdengar sesaat, kini tak terdeteksi lagi di telingaku.
Mataku masih fokus pada lelaki dengan kemeja putih dan celana pendek yang dipadukan dengan sepatu kets—tengah memunggungi sembari menenteng dua kantong besar entah apa isinya. Tubuhnya terputar dan menoleh kemari. Ya, ke arah kami. Dia di sana, dengan raut wajah terkejut memandang kami, terlebih mata itu terpaku pada bola mataku.
“Navroy?”
__ADS_1
“Navroy?” suara orang asing di sebelahku kini mengucap ulang nama yang baru saja kusebut itu.
Aku menghela napas, memejamkan mata setelah mengusap wajahku. Rasanya seperti ingin menangis, Tuhan! Bahkan airmata ini telah berada di pelupuk mata.
“Ayo kita pulang! Kurasa itu bukan urusan kita,” suara Navroy tiba-tiba terdengar dan kali ini sengaja ia menggunakan bahasa Inggris pada lelaki dihadapanku ini, hingga membuatku menoleh. Aku baru menyadari, rupanya mereka saling mengenal dan kini mengajak temannya itu pulang.
“Tunggu! Gadis ini sepertinya sakit, dia tak mungkin sendirian pulang—“
Mereka kembali berbahasa yang tak kumengerti di akhir kalimat. Nadanya terdengar seperti berdebat. Dengan mata masih berkaca-kaca, aku menghampiri mereka, memandang lelaki menyebalkan itu. Lelaki yang dengan bodohnya kutunggu hingga petang seperti ini, tapi ... astaga!
“Kau puas, apa yang telah kau lakukan?” tanyaku menyela di antara perdebatan mereka—dalam bahasa Inggris. Dia menatapku defensive.
“Sudah kubilang, tidak usah datang! Istirahat saja di rumah karena kau sakit!” sahutnya geram menatapku tajam.
“Memangnya apa pedulimu padaku, heh? Kau tahu, aku dengan bodohnya menunggumu dari jam sebelas siang hingga saat ini, tapi kau dengan mudahnya mengatakan itu? Pernah tidak, sih, kau berpikir tentang orang lain? Peduli pada orang lain?” tatapku dalam tetesan airmata, namun dia hanya menghela napas, entah ekpresinya apa saat ini.
“Aku tahu saat ini sedang sakit, tapi kau harus tahu, Navroy, sesakit apapun aku, bahkan di tengah badai sekali pun, aku bukan pengecut seperti yang dipikiranmu yang bisa seenaknya tidak menepati janji. Memang apa salahnya jika aku hanya ingin berteman denganmu? Apa itu salah? Tapi kau, kau seolah menghindar, seolah aku monster dan makhluk paling buruk di dunia ini!" Tatapku geram dalam mata berbinar menahan airmata. Ekspresinya masih sama, Datar, dingin, dengan sorotan mata yang tak lepas dari tatapanku. Senyum Separuhku tampak. "Thank’s, untuk kebodohan ini,” lanjutku sambil menepuk lengannya pelan, mengusap airmataku dalam tatapan datar, meraih tas yang sedari tadi teronggok di lantai, lalu berlalu pergi meninggalkan mereka.
Rasanya perih itu terasa di sini, di hati yang sekian lama telah mati karena kekecewaan, kini kembali basah dengan kekecewaan pula. Mungkin, perlahan akan menjadi luka yang menganga. Menyebalkannya, airmata ini masih saja tanpa hentinya mengalir. Bahkan lebih sial lagi, ketika orang-orang di sekitar menatap kami berlebihan dengan aneh.
Perdebatan mereka terdengar lagi samar-samar dengan bahasa yang tak kumengerti. Lalu tak lama kemudian, “Iya! Tapi seharusnya kau tak memperlakukannya seperti itu! Kau lihat, dia sudah berkorban untukmu, tapi kau malah keras dan marah padanya! Ada apa denganmu, Teman? Biasanya hanya kau di antara kami yang begitu peduli dan menghargai wanita, tapi saat ini, sangat berbanding terbalik!”
“Sudahlah! Aku mau pulang! Jika kau masih ingin membantunya, pergi saja sendiri!”elaknya dingin.
*Sebenci itukah padaku? Hingga dengan mudahnya mengatakan seperti itu?
Aku kini berdiri tepat di tepi jalan raya—masih berada di depan Mall Ratu Indah menunggu angkutan umum atau semacamnya. Kepalaku seperti pening, hendak meledak, terlebih mata ini terasa bengkak, perih dan panas. Sepertinya suhu demamku semakin tinggi.
“Are you okay?” suara asing kini terdengar. Rupanya lelaki tadi yang bersama Navroy. Dia saat ini berdiri di sebelahku, seulas senyum tipis mengembang di sana dan menular padaku ketika aku menoleh lalu mengangguk.
“Kamu tidak ikut pulang?” dia menggeleng saat pertanyaanku dalam Bahasa Inggris terlontar.
“Jangan pikirkan lelaki bodoh itu. Kau tahu, kadang-kadang otaknya korslet! Huft, aku juga tak mengerti, mengapa dia bersikap seperti itu. Biasanya, dia yang paling peduli dan menghargai wanita. Tapi, ini benar-benar berbeda. Sungguh, percayalah, dia sebenarnya baik dan menyenangkan,” aku menunduk lalu tersenyum.
Bahkan lelaki ini sangat berbanding terbalik dengan cowok menyebalkan itu. Begitu cerewet. Cukup membuatku tenang saat ini, terlebih sesak itu mulai meredam.
“Jangan keras-keras, bisa-bisa dia mengamuk jika mendengarnya,” sahutku mulai bergurau, lalu kekehan kami terdengar, bersamaan.
Aku menatap lelaki itu dalam senyuman, yang masih menikmati kekehannya. Dia bahkan begitu mudah dan lepasnya tertawa. Andai yang berada di sebelahku kini adalah Navroy, betapa menyenangkan membuat lelaki itu tertawa, bahagia. Yeah, andai!
“Hei, apa aku melakukan kesalahan?” sedikit tersentak mendengarnya bertanya bingung setelah tawanya mereda. Rupanya ia telah mengamatiku. Alisku hanya mengernyit.
“Umm?”
“Wajahmu, mengapa berubah secepat itu ekspresinya? Seperti sedih. Apa tawaku begitu menakutkan hingga kau bersedih?” guraunya kali ini yang membentuk senyum kembali.
Oke, dia typikal lelaki yang humoris!
__ADS_1
“Kenalkan, aku Sadeev! Dan kau, pasti Keysa, bukan?” alisku mengernyit, lalu meraih tangannya yang telah terulur.
“Bagaimana kau bisa tahu?”
Senyum lebarnya menguap. “Teman satu kelompok workout-nya pernah bercerita, bahwa ada gadis bernama Keysa yang dekat padanya, selain pacarnya. Dan well, saat melihatmu tadi, terlepas dari semuanya, aku yakin kaulah orangnya. Karena, hanya kau satu-satunya gadis yang akrab dengannya saat ini, selain pacar,”
“Aku?” dia mengangguk melihat raut wajah heranku.
Untuk cowok ukuran setampan, keren, dan menjadi idaman para cewek-cewek? Kupikir dia player!
Lelaki itu terkekeh. Aku baru menyadari, rupanya pikiranku terucapkan. Senyuman kulumanku nampak. “Pantas saja tingkahnya kikuk saat itu,” gumamku dengan nada kecil yang bisa kupastikan Sadeev tak mendengarnya.
Senyumanku mengembang geli saat mengingat pertama kali berkenalan dengannya. Tangannya bahkan bergetar saat mengetik id akun sosialnya. Rupanya itu alasannya.
“Dia lelaki baik, kok, Key.” Sahutnya yang membuatku mengangguk. Entahlah, terlepas dari sikap dan sifat perlakuannya padaku, hati ini menyetujui kalimat itu.
Sadeev telah memberhentikan Taksi, lalu menatap ke arahku. “Masuklah!”
“Maaf, apa?” tanyaku dengan alis mengernyit.
Helaan napas lembutnya terdengar. “Kau harus pulang, Key. Sepertinya tenagamu terkuras habis hari ini. Makan dan minum obatlah, lalu istirahat, oke?” aku menatapnya.
Mengapa ia jadi care begitu? Untuk orang yang baru dikenalnya.
Kali ini ia menghela napas berat. “Rupanya benar, kau gadis keras kepala,”
“Apa?”
Lelaki berparas Arabic-Afghanistan ini hanya menyengir. “Masuklah, Keysa. Sungguh, aku baru bisa pulang dengan tenang, jika kau naik taksi ini. Setidaknya, membuatku percaya bahwa kau akan baik-baik saja,” celotehnya yang mulai mendesak, terlebih saat ia mulai membukakan pintu jok penumpang dan memaksaku masuk, meski kutatap dalam raut wajah tak setuju.
“Tapi, Sadeev—“
“Kita bisa memperdebatkan itu hingga pagi di sini, jika kau mau,” selanya cepat yang membuatku bungkam seketika setelah sejenak terdiam dan menghela napas mengalah.
“Baiklah!”
“Good girl!” ringannya lalu tersenyum. Ia lalu beralih ke jok driver, kemudian padaku. “Aku sudah membayarkan argo taksinya. Jaga diri dan hati-hati. See you!” jelasnya akhirnya.
“See you?” senyumanku mengambang menatapnya penuh tanya. Namun, hanya lambaian tangan yang nampak sembari tersenyum lebar.
Sebelum taksi benar-benar hendak meninggalkan tempat ini, mataku sejenak melirik ke arah dalam halaman Mall, namun harapan dalam hati kecilku seketika meredup hingga menciptakan rasa kecewa dan sedih dalam benak.
Ya, dia benar-benar meninggalkanku, di sini, tanpa sedikit pun peduli, bahkan tanpa kata maafnya dan pamit.
Dan kenyataan itu menghantamku dengan aneh. Adalah rasa sakit.
* * * *
__ADS_1