
SENYUMAN kembali merekah. Tanpa sadar, aku menghirup napas dalam-dalam saat berada di tempat ini. Losari Beach! Yup, tempat eksotik yang selalu menjadi indah dalam kenanganku bersama ayah dan mama. Pantai yang merupakan icon di kota Makassar ini, benar-benar selalu berhasil membuat jatuh cinta dan senang berada di sini. Mataku tak hentinya memandang satu-persatu pantai luas ini yang begitu menakjubkan. Sepertinya sudah banyak renovasi di beberapa titik. Beberapa Tugu khas Makassar di bangun di sini. Suara desiran ombak di laut dan angin yang berembus seketika menerpa lembut wajahku, seolah-olah menyambut. Tugu berbentuk Becak, patung wajah para pahlawan, dan patung kerbau tampak berdiri kokoh menghias Pantai ini. Sesaat, aku lupa tujuan utamaku kemari. Kufokuskan mataku dengan jeli, mencari sosok yang membuatku datang ke tempat ini.
Astaga, mengapa aku bisa sebodoh ini? Aku sampai lupa meminta nomor ponsel Linka.
Lagi-lagi menggerutu sendirian saat menyadari, ketika gadis itu masih belum kutemukan. Bahkan, sudah menyusuri setengah pantai, tetapi gadis itu belum terlihat juga. Aku lalu duduk di salah satu Tugu besar yang entah apa namanya.
Pandangan menerawang, mengamati orang-orang yang berlalu-lalang di depanku. Beberapa orang juga ikut duduk tak jauh dari sebelahku. Tempat ini semakin ramai saja, dan terlebih ada acara Festival besar di sini. Kampung komunitas namanya. Di setiap sudut dan jalan, komunitas-komunitas memenuhi tempat ini. Ada beberapa Pos khusus di bentuk sedemikian rupa sesuai kreativitas komunitas masing-masing yang tampak, bahkan tadi saja saat baru tiba dan memasuki kawasan di sini, beberapa satwa Burung dan Reptil menyambut kami yang sengaja di pajang di area yang menyerupai terowongan yang terbuat dari tenda dan di kelilingi dengan foto-foto member para komunitas. Helaan napas panjang terdengar dariku.
Dimana aku bisa menemukan gadis itu? Oh, sepertinya memang harus menelepon Pak Dion dan meminta nomor puterinya itu.
Poni dan rambutku kini bergoyang menghalangi pandangan di wajah, saat mengambil ponsel di tas dan hendak menelepon.
Dia di sana. Menatap ke arahku dengan raut wajah yang nyaris tersenyum, namun seperti tertahan sembari melangkah ke arahku. Rasanya dunia seketika berhenti sejenak. Suara yang tumpang-tindih sedari tadi karena begitu ramainya, suara embusan angin yang langsung berasal dari pantai, kini tetiba saja berubah hening, sangat hening. Dia berlalu dihadapanku, menatap kedua mata ini dengan mata bulatnya yang begitu eksotik di wajah indahnya, bahkan tanpa berpaling dan berkedip sedikit pun dariku sembari tetap melangkah bersama teman-teman kelompoknya. Aku baru tersadar dan mengerjap saat tubuhku tersambar seketika oleh gadis muda yang bahkan dengan innocent-nya berlalu begitu saja. Seperti tengah terburu-buru hendak mengejar sesuatu.
Mataku melebar riang dan mendesah lega saat sosok yang kucari sedari tadi kini kutemukan.
"LINKA?" teriakku seketika beralih saat melihat gadis dengan menggunakan celana jeans pendek dan kaus putih serta tas kecil tengah berjalan tepat tak jauh dari belakang lelaki itu. Seperti mengikuti. Sesaat, raut wajahnya heran sejenak ketika sekilas menoleh dan sorotan matanya menemukanku, lalu tersenyum saat aku telah berada di hadapannya.
"Kak Keysa?" Serunya tak percaya seketika berhambur memelukku saat mengangguk mengakui asumsinya.
Gadis centil ini benar-benar tak berubah. Tidak peduli pada tatapan aneh orang-orang di sekitarnya, ia bahkan tidak risih akan hal itu.
"Kamu dari mana saja? Dari tadi aku mencarimu, tahu!"
"Ayo, nanti aku kehilangan dia, kita ngobrol sambil berjalan saja!" Tukasnya yang mengalihkan tanpa memandangku seraya menarik tangan ini pergi entah ke mana.
Matanya menjelajah ke mana-mana, kepala celingak-celinguk seperti mencari sesuatu.
"Linka?"
"Sstt, jangan panggil nama itu, Kak, tapi Alin. Kakak ini sama saja dengan papi!" Pintanya mengoreksi seraya mengoceh di akhir kalimat yang membuatku tersenyum.
Tangannya masih erat menggenggamku di tengah desak-desakkan orang berlalu-lalang. Riuh pengunjung semakin ramai saja, bahkan seolah mengalahkan suara dentuman music house orkestra yang sengaja di pasang dengan panggung besar tepat di sebelah barat untuk performance perkenalan serta pertunjukkan komunitas-komunitas lainnya.
Entah anak ini mencari siapa?
"Baiklah, Alinka Segeevia Diondra, kita mau ke mana? Ayahmu sudah khawatir mencarimu,"
"Papi? Oh, kakak sudah ketemu dengan papi?"
Aku memutar mata. Anak ini bahkan tidak bisa di ajak bicara.
Menarik napas dalam-dalam sejenak, lalu, "Aku bekerja di kantornya dan sekarang—"
"Oh, ayolah, Kak, ini baru jam berapa! Aku masih ingin melihatnya, ya ya ya?" Pintanya merengek.
Bisa-bisa aku di rekomendasikan untuk di pecat kalau begini!
"Kak?" Rengeknya lagi mencoba yang membuat aku tersentak saat ia menyentuh tanganku. Raut wajahnya memelas begitu yang tampak berlebihan, seperti di buat-buat. Kemudian, "Memangnya mau melihat siapa?"
Langkahnya terhenti bersamaan dengan desahan leganya yang membuatku berhenti juga namun menatapnya heran yang tak menyadariku. "Tuh!" tuding Linka menunjuk ke arah lelaki yang berdiri tak jauh dari kami.
*Dia? O-oh!
Apa itu pacarnya Linka*?
Tawa sumbang gadis di sebelahku terdengar yang membuatku menyadari, aku mengucapkan kalimat yang ada di pikiran.
"Maunya, sih, tapi kenal saja belum!" sela Linka menjawab. "Oh." Singkatku. "Kenapa? Kak Key juga suka?" pertanyaan gadis belia ini membuatku sejenak terperangah. Tetapi, mata Linka tetap ke arah lelaki itu.
Aku menggeleng cepat, lalu memandang wajahnya yang begitu berbinar tengah menatap lelaki itu dari kejauhan yang tengah bersama kelompoknya dan kami berdiri di antara orang-orang yang mengerumuninya juga dalam decak kagum.
"Dia tampan, kan, Kak? Dan juga keren? Perform-nya juga keren tadi. Kak, minta nomor atau akun sosial medianya, dong?"
Kalimat terakhir gadis ini membuatku melongo dan terhenyak.
Dia bilang apa? Oh, yang benar saja, Linka?
mataku memutar seketika karena mulai kesal.
"Kak, please?" mohonnya lagi yang memulai memelas, dan tahu sendiri aku tak bisa menolak seseorang yang memohon seperti itu.
Benar-benar sial! Keras kepalanya kumat di waktu yang salah, ugh!
Lagi pula, aku tahu betul sifat gadis ini. Kami beberapa kali bertemu dan jalan saat di Jakarta dahulu. Jika sudah berkeinginan, bahkan batu pun tak sanggup menggoyahkan keinginannya itu. Benar-benar keras kepala dan ambisius.
"Baiklah!" desahku akhirnya mengalah setelah mendecakkan lidah.
Dan itu membuatnya melompat kegirangan, lalu berhambur memelukku dengan senangnya. Tanpa mengatakan apapun, gadis ini langsung menarikku di tengah kerumunan, mendekat, dan semakin mendekat hingga sangat jelas terlihat lelaki itu yang saat ini tengah perform.
Lelaki berpostur tinggi itu sedang melakukan pull-up dan senam chalistenic di atas besi yang melintang panjang dan tinggi. Berbagai variasi workout itu di tunjukkan. Sesekali juga tubuh dan kakinya seperti tengah melakukan dance di udara, dengan tangan berpegang erat pada besi yang menahan bobot tubuhnya yang atletis—kutahu itu chalistenic. Lalu, terakhir tubuhnya terangkat di udara, lalu meliuk-liuk laksana bersalto di atas sebatang besi, kemudian mendarat mulus di tanah—dengan senyuman manis khas—di tengah lompatan dia di udara yang pada tumpuan tangannya di besi panjang itu. Riuhan tepuk tangan pengunjung yang menonton membuatku sekejap tersenyum juga dan yeah, cukup kagum dibuatnya. Kuakui, dia memang cukup mempesona, bahkan dibandingkan dengan lelaki mana pun yang pernah kulihat dan jumpai selama ini.
Lantunan musik denim dari seorang Disk Jokie di panggung sana kini terdengar lagi dan menghias malam yang semakin dingin dan disesaki pengunjung pantai ini yang semakin ramai saja. Topi hitam yang dikenakannya kini ia lempar ke arah temannya lalu menyengir dengan khas.
Lagi-lagi Linka menarikku untuk menghampiri lelaki itu, saat ia menepi dan menonton teman-teman kelompoknya yang kini mendapatkan giliran perform sembari sesekali mengobrol pada seseorang di sampingnya, sepertinya itu juga bagian dari teman kelompoknya.
"Ayo, Kak!" Bisik Linka padaku dengan riang namun nada mendesak dan membuatku memandangnya tak yakin. Berharap gadis itu berubah pikiran. Namun, ketika Linka melempar senyum dan menatap dengan tudingan ke arah lelaki itu, saat itu harapanku benar-benar sia-sia saja. Mataku memutar, memejamkan mata, lalu mengembuskan napas dengan kasar, berusaha mengumpulkan semua keberanianku dan menepis rasa malu yang mulai menjalar ini hingga berefek pada pipiku yang mulai memerah.
"Em—hi." Sapaku dengan bahasa Inggris sembari berusaha tersenyum semanis mungkin, saat tubuhnya berbalik dengan pandangannya berhasil teralih ke arahku. Linka berdiri tepat di belakangku, seolah-olah tengah bersembunyi dari rasa malunya.
Sial! Benar-benar terjebak dengan ambisi gadis ini! Andai saja bukan kerana pak Dion, aku sudah kabur dari sini.
"Oh, ya, hi?"
Oh, Tuhan, suaranya begitu lembut dan—
Gadis itu menyikutku di belakang hingga sekilas aku menoleh ke arahnya dengan tatapan kikuk. Kemudian, "Umm, can you help me? I mean, do you have Id or social media? " tanyaku kikuk setelah berdehem dan menghela napas berat saat permintaan itu harus kulakukan yang dengan susah payahnya menelan ludah.
*Sungguh, pipiku benar-benar memanas karena malu, bahkan seperti tak memiliki wajah saat ini.
Mengapa tiba-tiba nervous begini, sih*?
"Yeah, do you want?" akuinya canggung, menatapku sembari tersenyum kikuk yang sejenak membuatku terperangah dan tak menyangka.
Sungguh?
__ADS_1
Anggukan pelan nan kikuk terlihat dariku ketika Linka kembali menyikut yang membuatku tersentak. Baru menyadari, bahkan mataku tak mengerjap.
Tangannya sedikit bergetar, saat mengotak-atik ponselnya dan itu berhasil membuatku tersenyum dan sedikit rileks. Cukup menjadi hiburan tersendiri. Entah apa yang terjadi dengannya.
Rambut hitam indahnya kini di embus angin hingga menutupi kening. Sarung tangan putih-biru tampak membungkus telapak tangan kokoh dan lebarnya senada dengan sepatu sporty. Tubuh tegap itu serasi dengan kaus hitam dan celana sport pria. Aku bahkan baru menyadari, sedari tadi aku terpesona dengan mata yang nyaris kelabu dengan iris mata bercampur kecokelatan emas itu.
"Biar aku saja!" sela Linka tiba-tiba, lalu mengambil ponsel dari tangan lelaki itu hingga membuatnya sekilas memandang gadis itu, kemudian menatapku dan masih dalam senyuman kikuknya.
"Aku foto kalian, oke? Take a picture?" tukas temannya yang seketika menyela, lalu beralih memandang lelaki di hadapanku ini di akhir kalimat dan membuatnya mengangguk tersenyum lebar.
Dia lalu menyambar topi di temannya sembari menyengir, kemudian memakainya dengan terbalik, berdiri mendekat ke arahku dengan senyuman manis saat seruan temannya mengambil gambar kami.
Rasanya dunia ini kembali berhenti dan hening. Lelaki bule ini berdiri sangat dekat denganku, sangat dekat hingga jarak tak ada dan kulit kami bersentuhan.
* * *
"Jadi, itu yang membuatmu senyum-senyum sendiri?" godaan Farah membuat aku menoleh seketika sembari memandangnya dengan terkejut.
Dia menyengir, lalu mengerling padaku sebelum roti selai cokelat itu berhasil masuk ke mulutnya dan ia kunyah. Aku yang hendak menyesap teh tawarku, menjadi terperangah sejenak.
Senyum-senyum? Aku?
"Apa aku terlihat se-mengerikan itu akhir-akhir ini?" tawanya menggema di ruang tamu yang kecil ini, lalu mengerling menggoda ke arahku saat memandangnya dengan menyipitkan mata.
"Oh, ayolah, akui saja, Sayang? Aku tahu kamu menyukainya, kan, sejak pertemuanmu yang tanpa sengaja malam itu? Terlebih ia mengambil akun id social-mu dan chat pertama kalinya saat itu untuk menyapa. Bahkan kamu harus sampai menelan gengsi hanya untuk memulai obrolan duluan dengan sikap dinginnya itu yang begitu singkat membalas,"
Oh, astaga!
"Kamu memeriksa ponselku lagi?" alisnya terangkat satu, lalu tersenyum dengan innocent.
Dasar Farah!
Desahan beratku keluar begitu saja dan kuputuskan untuk menyesap teh setelah bola mataku memutar. Itu memang sudah jadi kebiasaannya. Jadi, abaikan saja. Memang tidak sopan, tetapi meskipun itu sudah hal biasa yang dilakukannya padaku, toh ia selalu saja berhasil membuatku terkejut.
Tapi baiklah, kali ini apa lagi yang ia cari tahu?
"Jadi, kalian mulai melakukan 'pendekatan', ya?" Tanya Farah lagi yang mulai mencoba mengorek hubunganku pada lelaki itu dan sengaja menekan kosakata terakhirnya.
Oh, ayolah?
"Kami hanya mengobrol via chatting, Far, hanya itu,"
"Tapi sama saja, itu namanya pendekatan dan ending-nya juga nanti kalian pacaran," timpalnya asal yang membuatku memutar mata.
"Lalu, sejak kapan kamu mengalah seperti itu? Sampai rela memulai obrolan duluan dengan cowok yang baru kamu kenal setelah dia hanya menyapa lalu mengabaikan, bahkan dia bersikap dingin dengan membalas chat dengan singkat pun, kamu masih tetap memulainya,"
Dan itu, berhasil membuatku terhenyak. Ya-ya, gadis itu memang benar. Tapi entahlah, ada apa denganku saat ini. Bahkan aku tak peduli dengan kegengsian itu.
"Mungkin dengan cara itulah menghadapi lelaki tak acuh seperti dia!" asalku lalu menyesap tehku.
"Hanya kerana kamu ingin terus dekat dengannya dan tidak hilang dari hidupmu?" kalimat Farah berhasil membuatku bungkam dan mulai merecoki pikiran dan benak ini.
"Tapi, dia memang sangat tampan, sih." Gumamnya lagi lalu mengigit roti selainya.
Desahanku terdengar lagi dan membuatku tanpa sengaja memutar mata.
Memang kuakui, aku cukup takjub dibuatnya. Tapi, dia tidak lebih dari sekadar orang asing yang baru kutemui!
"Sepertinya, kamu mulai membuka hati untuk seseorang setelah tiga tahun itu, dan itu bagus untukmu dari pada menyendiri terus,"
"Mandi, sana! Mungkin kerana kamu belum keramas dan bersih-bersih, pikiranmu itu jadi keruh pagi-pagi begini!"
Farah menyengir, lalu menggigit rotinya lagi yang entah sudah porsi ke berapa. "Jadi, bila tidak suka dengan dia, biar aku yang handle, ya?" racau wanita itu yang mulai lagi dan membuatku tersenyum. Pikiran gilanya kumat lagi.
"Ambil saja jika dia mau!" timpalku asal.
"Sungguh? Kamu tidak terluka atau jealous? Tapi, ah, tidak! Itukan cinta pertamamu dan aku tidak sejahat itu untuk merebutnya,"
Glek! Rasanya teh baru saja yang kuminum, terasa susah tertelan saat melewati tenggorokan.
Apa-apaan ini?
"Maaf, aku hanya—"
"Tidak apa-apa. Aku harus berangkat. Ini sudah jam tujuh, bisa-bisa aku terlambat." Pamitku yang tidak ingin membahasnya lagi dan membuat sahabatku itu tersenyum kikuk, saat tangan ini mengusap lembut rambutnya.
* * *
Pandanganku lurus menatap keluar jendela. Cuaca siang ini begitu terik di luar, tanpa ada apapun dan hanya ada bangunan-bangunan yang menjulang tinggi. Untuk sekian lama, aku kembali mengingatnya. Tapi kali ini, rasanya berbeda. Tak ada sesak lagi kurasakan, perih, bahkan tangis di hatiku, tak ada lagi! Ya, semuanya telah hilang, pergi untuk selamanya. Meski terkadang kenangan tentang dirinya kembali mengusik, tapi setidaknya, rasa itu telah tiada. Alan. Lelaki yang bersamaku tiga tahun silam, namun hancur sekejap hanya dengan orang ketiga. Tapi toh, biar bagaimana pun, pada akhirnya, memang dirinya bukan untukku. Sejak saat itu, aku sudah memutuskan untuk melangkah, tanpa menoleh. Meski suatu saat waktu mempertemukan, tapi itu hanya cerita usang yang takkan bisa kembali lagi sampai kapan pun.
Denting halus seketika berbunyi di ponselku. Dan itu adalah chat dari akun id sosialku.
Navroy Grey
Hai juga. Maaf aku baru membalas pesanmu, baru bangun.
07:56 August, 18
Alisku mengernyit.
Keysa
Maaf, aku mengganggumu.
07:58 August, 18
Navroy Grey
Tidak apa-apa. Well, bisa kamu memperkenalkan dirimu?
08:01 August, 18
__ADS_1
Keysa
Aku pikir kamu sudah tahu. Umm, baiklah.
Aku Keysa, dan biasa juga di panggil Key.
08:02 August, 18
Navroy Grey
Iya, maaf, tapi aku hanya jelas saja. Bagus. Baiklah, aku panggil Key.
Bagaimana dengan pekerjaanmu dan tempat tinggalmu?
08:10 August, 18
Saat aku hendak membalasnya, denting halus di ponselku berbunyi lagi.
Navroy Grey
Lupakan saja! Maaf.
08:10 August, 18
Alisku lagi-lagi mengernyit.
Ada apa dengan dia? Aneh.
Keysa
Tidak apa-apa. Aku accounting di salah satu Hotel yang berada dekat Karebosi. Dan well, tentang rumahku, aku tinggal di dekat Pettarani. Tak jauh dari pusat kota, kamu pasti tahu, kan.
08:12 August, 18
Navroy Grey
Yeah, itu bagus.
08:17 August, 18
Keysa
Bagaimana denganmu?
08:17 August, 18
Navroy Grey
Aku Navroy, bisa lihat sendiri, kan nama di akunku?
Yeah, itu namaku. Dan, dari Pakistan.
08:25 August, 18
Keysa
Oh. Kamu sibuk?
08:25 August, 18
Navroy Grey
Tidak.
08:26 August, 18
Keysa
Lagi apa?
08:26 August, 18
Navroy Grey
Tidak ada, hanya menonton film.
08:30 August, 18
Keysa
Hanya sendiri?
08:31 August, 18
Navroy Grey
Yeah.
08:32 August, 18
Keysa
Oh.
08:32 August, 18
Navroy Grey
Yeah.
08:32 August, 18
Aku menghela napas panjang, kemudian menyandarkan tubuh di punggung kursi.
Benar-benar singkat
__ADS_1
Dengan kesal, lalu mematikan ponsel dan memasukkannya dalam tas, kemudian kembali mengerjakan laporan kantorku. Perkenalan yang konyol memang. Kami baru memperjelas identitas satu sama lain setelah beberapa hari chat.
* * * *