
Pukul duapuluh lewat tigapuluh menit, aku baru tiba di rumah, seketika tubuh kuhempaskan di sofa. Rasanya lelah sekali.
“Tapi mau sekali lagi, Sayang? Ayolah, sebagai tanda pamit!” Suara rengekan Farah membuatku melongo.
Dia bersama siapa? Sepertinya dari arah kamarnya.
“Farah?” panggilku yang sejenak bunyi gedebuk, lalu ia tersenyum ke arahku dengan raut wajah berantakan. Tatapanku intens menatapnya sambil menyipit.
“Kamu di sini? Sedang bersama siapa? Kamu tidak melakukan—“
“Tadi hanya minta cium, kok,” Helaan napasku terdengar. Sejujurnya, aku bahkan tak tahu lagi harus mengatakan apa padanya.
“Next time, beritahu jika tidak pulang bersama, jadi aku tidak menunggu lama,”
“Astaga, maaf! Aku lupa tadi kabari kamu. Dewa tadi tiba-tiba jemput,” jelasnya.
“Dewa?”
Farah mengangguk dalam senyum lebarnya.
“Masih ingat yang aku ceritakan? ‘Sayangku’ itu?”
“Oh, oke! Ingat kesepakatan kita, ya. Aku mau istirahat, good night!” sahutku ketika hendak naik tangga, saat wanita itu masih mengikuti.
“Oh, oke, night! Tapi, benar tidak mau kenalan dulu sama pacarku?” aku menoleh dan menemukan Farah yang telah berdiri beberapa meter dariku, bersama kekasihnya—sembari tersenyum ke arahku. Lelaki dengan postur tubuh jangkung. Sepertinya tampan, namun tak terlalu jelas karena lampu telah kumatikan di koridor ini, hingga hanya menampakkan keremangan dari arah dapur yang tak jauh dari sini. Senyum lebarnya tampak di keremangan malam. Senyum yang manis dan seperti tak asing.
“Tidak jauh beda, kan, dari fotonya?” aku mengangguk, lalu melambai pertanda menyapa, pada lelaki bernama Dewa itu.
“Aku Keysa, sahabat Farah. Kalian sudah makan, kan?”
“Iya, tadi kami makan di luar,”
“Oh, kupikir Farah masak!” sahutku menekan kosakata yang bisa kurasakan ia menatapku tajam dalam *** senyumnya.
“Lagi malas, Key,” sanggahnya beralasan.
Senyumku tersungging.
“Baiklah! Senang berkenalan denganmu, Dewa. Maaf aku duluan, mau istirahat. Malam, ya.” Sahutku yang membuat mereka tersenyum, lalu Farah melambai, berlalu terlebih dahulu.
“Jadi, Honey, bagaimana kalau itu saja tadi?"
“Kenapa? Kamu tidak suka.... “ samar-samar terdengar suara mereka yang membuatku tersenyum, saat kembali menaiki tangga menuju kamar.
Rasanya senang melihat sahabat bahagia!
Begitu sampai di kamar, aku menghempaskan tubuh di kasur empuk, lalu tersenyum seolah baru merasakan kali pertama tempat tidur ini. Pikiranku kini terpusat pada lelaki itu. Siapa lagi jika bukan Navroy. Hari ini sikapnya berubah manis. Dia lebih banyak tersenyum, dan juga seperti mencoba bersikap tak dingin lagi, terlebih menjawab singkat. Namun anehnya, itu berubah begitu cepat dan kembali ke sedia kala. Entah ada apa dengan dirinya. Jikalau ia salah paham, lalu untuk apa ia sedingin itu? Bahkan seperti tak menganggapku. Setidaknya, toh sebagai temannya.
Lagi, kupandangi profile picture di akun chattingnya. Navroy tampak menawan dengan senyum melebar sembari mengacungkan kamera berlensa keren tepat di samping wajahnya. Aku mendesah, lalu tersenyum.
Terkadang, aku bingung dengan sikapmu, Mr. Pakistan.
Kuputuskan untuk memulai chat lagi dengannya, setelah menghela napas berat yang panjang.
Keysa
Hai, maaf mengganggu. Aku hanya ingin bilang, maaf tidak sempat pamit tadi padamu. Kupikir kamu sibuk dengan teman-temanmu. Dan, terima kasih, sudah membantuku tadi.
21:22, 10 November
Cukup lama aku mengetik kalimat itu, tapi pada akhirnya, jemariku menekan tombol send. Selang tak beberapa lama, wajahku melongo dari selimut yang sedari tadi kutenggelamkan di sana. Denting halus chat itu membuatku seperti bernapas kembali.
Navroy Grey
Ya, tidak apa-apa. Kamu juga sepertinya sibuk dengan pacar Iran-mu itu.
21:23, 10 November
*Pacar? Iran?
Apa maksudnya*?
Keysa
Pacar? Siapa yang kamu maksud?
21:23, 12 November
Navroy Grey
Lelaki Iran tadi! Lelaki yang bersamamu saat aku hendak pulang.
21:25, 10 November
O-oh! Astaga!
Keysa
Sungguh, kamu hanya salah paham. Dia bukan pacarku! Sejujurnya, aku bahkan baru bertemu dengannya tadi. Bahkan, kenal pun tidak! Dia hanya cowok yang ingin berkenalan dan mungkin ingin dekat padaku.
21:26, 10 November
Entah mengapa juga, aku menjelaskan semua itu padanya, rasanya saat ini hanya ingin berusaha meyakinkannya! Tapi, mengapa ia jadi salah paham begitu?
Cukup lama ia membalasnya, bahkan hanya di read. Lalu, detik berikutnya....
Navroy Grey
Yeah. Aku juga menyukaimu!
21:35, 10 November
Cukup lama aku terhenyak. Tubuhku seolah terkunci mati, terperanjat dengan kalimat itu yang baru saja masuk di chatting yang berasal darinya. Pembuluh darahku rasanya berdesir, lalu menyebar di sekitar pipi hibgga membuat tubuhku terasa kaku. Sepertinya dadaku bergetar, bahkan tangan ini pun begitu.
Astaga!
Keysa
Maaf, apa maksudmu?
21:36, 10 November
Belum-belum ia membalasnya, ponselku seketika non-aktif dan membuatku menggerutu tak jelas. Ini bahkan benar-benar mengganggu malamku. Hingga terakhir yang kuingat, rasa kantuk itu mulai menyerang dan memaksaku untuk memejamkan mata sambil menggenggam ponsel.
__ADS_1
* * *
Pagi ini cuaca begitu menghangat. Langit cerah di luar sana, namun entah mengapa, gadis itu telah berada di kamarku. Duduk di kursi meja rias, lalu tersenyum ke arahku sembari bertopang dagu. Raut wajahnya begitu ceria dengan rambut yang kini tergerai rapi. Bibirnya bahkan telah di poles lipstick merah. Senyumku merekah.
“Mimpi apa semalam sampai-sampai sepagi ini sudah segar begitu? Bahkan bibir juga sudah ‘menyala sexy’!”
Farah menyengir. “Masih pagi-pagi sudah komentar, seperti hater’s di sosmed saja! Hater’s, tapi begitu pedulinya sampai hal terkecil pun diperhatikan. Haha!” tawa wanita itu yang sedikit menyinggung para kaum yang hanya memusingkan hidup orang lain di social media.
“Well, weekend ini juga kamu libur?”
Dia mengangguk. “Libur, tapi sama saja tidak,”
Aku mengernyit. “Kenapa? Atasanmu memintamu tetap masuk?”
Senyumnya merekah, lalu menaikkan alisnya menggoda. “Yup! Bos hati!”
Lama aku berusaha mencerna istilahnya, tapi benar-benar pikiran ini korslet. Mungkin wajah idiot terpasang di rautku, sehingga membuat ia seketika menyengir. “Siapa lagi kalau bukan ‘sayang’-nya aku,”
Mataku memutar, namun ia hanya berhambur dengan kekehannya dan menghempaskan tubuh mungilnya seenaknya di atas tubuhku. Begitu aku mengerang dan mengeluh, tawanya berderai innocent.
“Bangunlah! Lalu, habiskn sarapanmu!” Serunya setelah memukulku dengan bantal dan boneka Tazmania-ku.
“Bisakah kamu tidak merusak tidurku? Lagi malas bangun! Lagi pula, ini hari weekend, artinya hari tidur semaunya!” timpalku yang menenggelamkan tubuhku dalam bantal, tapi ia mengabaikan dan tetap menarik tanganku agar bangun.
“Wait!” lanjutku tetiba menyela yang membuatnya berhenti dan menatapku.
“Apa lagi, sih?”
“Kamu sudah pandai masak?” tanyaku saat sekilas melirik sarapan lengkap dengan segelas air di sana.
Farah memutar mata. “Sudah kubilang, apa gunanya orang-orang menjual makanan jika tak di beli? Itu alternatif sekaligus ide briliant yang ada di abad ini! Lagi pula, jika ada yang instan begitu, mengapa ingin repot-repot? Menghabiskan waktu saja,”
Helaan napasku terdengar, lalu menarik hidungnya yang mulai memerah.
“Menghabiskan waktu tapi menguntungkan, Sayang! Pertama, dalam hal ekonomi. Kedua, pengetahuan. Dan ketiga, dirimu, lingkungan dan orang di sekitarmu. Terlebih, ada kebanggaan tersendiri jika menikmati makanan lezat dan disukai orang lain juga tapi berasal dari tangan sendiri,”
“Jadi ... intinya, tidak mau bubur ayamnya?” godanya menyimpulkan setelah memutar matanya, lalu melipat tangan di dada.
Mataku seketika beralih memandangnya yang sedari tadi kembali memejamkan mata dalam baring. “Bubur ayam? Serius?”
Farah menggangguk dalam senyuman menang dan membuatku seketika bangkit dan berhmabur menghampiri meja.
“Astaga, baunya benar-benar enak! Bahkan, seperti masakan favorite-ku saat di Jakarta dulu! Beli di mana?” lirikku memandangnya di akhir kalimat.
“Katanya menguntungkan, jika di buat sendiri. Well, dapur sepertinya kosong di bawah! Ini buat aku saja!” sarkasmenya yang seketika membuatku memukul tangannya perlahan, begitu mangkuk putih itu hendak di bawanya. Kekehan sahabatku ini seketika menggema.
“Intinya ... seperti itu! Aku mau makan! So, tidak boleh berbagi!” seruku yang membuatnya mendengus lalu tersenyum.
Cukup hening sejenak, saat ia memberiku waktu untuk makan, menikmati bubur favoritku ini. Farah hanya memandangku tersenyum yang sesekali menggeleng saat makan di hadapannya dengan lahap sekali, di tepi tempat tidur, sembari memegang sendiri mangkukku.
“Baguslah kalau kamu menyukainya, jadi Dewa tidak sia-sia membelinya,”
Suapanku seketika terhenti, lalu meliriknya.
“Dewa?
Wanita itu mengangguk. “Dia yang membelikan itu, tadi ia sempat mampir kemari sebelum jogging pagi dan membawakan kita sarapan. Lagi pula katanya sebagai permintaan maafku yang diwakilkannya untuk kemarin,”
“Oh.”
“Kamu tidak marah?”
Senyumku tersungging di antara kunyahan. “Untuk apa? Tidak apa-apa! Santai, Bro!”
Dia tertegun sejenak dengan responku saat aku meliriknya diam-diam di balik poni, sembari tersenyum.
Dia benar-benar merasa bersalah? Haha
Seulas senyum menguap diantara kunyahanku. “Serius tidak apa-apa. Lagi pula, dibalik ‘kedzoliman’ pasti ada ‘keindahan hikmah’-nya, kok,”
Kali ini alisnya yang mengernyit dengan raut wajah penuh tanya. “ Kedzoliman? Keindahan hikmah?”
Anggukku cepat dalam senyum lebar yang polos. “Aku bertemu Navroy di sana!
“Apa? Serius?”
“Wait!” selaku seketika, lalu menyimpan mangkuk—yang masih terisi—di atas meja, lalu membolak-balikkan bantal dan selimut di tempat tidur, hingga tampak begitu berantakan. Raut wajahku kini mulai cemas, ketika benda yang sedari tadi berada dipikiranku kini tak kutemukan.
“Mencari apa, sih? Ponsel?”
Mataku kini beralih padanya. “Kamu melihatnya?” tanyaku yang cemas.
Masalahnya bukan ponselku yang kucemaskan, tapi isi chat yang menggangguku hingga ketiduran. Isi chat yang masih membuatku bertanya-tanya sekaligus deg-degan hingga saat ini.
“Astaga! Aku pikir apaan! Lihat, tempat tidurmu seperti kapal pecah karena mencari! Maaf, tapi saat aku hendak membangunkanmu untuk sarapan, kulihat kamu masih tertidur sambil memegang ponsel. Well, tahu sendiri, kan, aku bagaimana penasarannya? Jadi, saat hendak ‘iseng’ mengecek ponselmu, tidak bisa menyala. Berhubung Dewa tadi belum pulang, aku menitipkan untuk membawanya ke tempat service. Malam ini ponselmu bisa di ambil,” sahutnya sedikit ragu menceritakan, sesekali sorotan was-wasnya dalam secercah cemas, melirikku.
“Astaga! Terima kasih, Farah! Kamu sungguh baik! Rupanya, keingintahuan berlebihanmu itu ada manfaatnya juga!” seriuku riang yang seketika berhambur memeluknya.
“Kamu tidak marah karena kelancanganku?” kagetnya saat melihat responku.
Aku menggeleng cepat. “Untuk apa marah? Bahkan sangat membantuku saat ini! di sana ada chat penting yang mengggangguku sep—sudah, ah! Buburku belum habis, tahu! Aku ingin melanjutkan sarapanku dulu. Well, thanks so much sekali lagi!” riangku lalu tetiba kukatupkan bibirku dan menggigitnya saat mata binar berserinya tampak, seperti senang dengan informasi baru yang di dapatnya. Jelas sekali rasa ingin tahu berlebihannya kumat.
“Kenapa?” tanyanya dalam sorot mata kecewa seraya mengikuti gerak-gerikku.
“Tidak ada apa-apa, hanya mau sarapan, lalu mandi. So, please, can you give my privacy?” sarkasmeku tersenyum. Lalu, mengecup pipinyanya. “Thank’s sekali lagi!” lanjutku setelah mendorongnya keluar dari kamar. Ia hanya masih memandangku dengan penasaran dan berteriak penuh tanya tentang yang kumaksud begitu aku menutup pintu dan mengunci kamar.
Senyum lebarku mengembang sesekali menggeleng. Rasanya lega.
* * *
Tubuhku tertegun dan diam dalam dudukku di tempat tidur ini, saat membaca isi chat dari Navroy. Rasanya seperti mimpi belaka. Mataku tak mengerjap saat berulang kali masih membaca chat mengejutkan itu dan berulang kali pula terekam dan terucap dalam pikiran dan hatiku.
Benarkah ini, Tuhan? Aku bahkan masih tak percaya, ia benar-benar mengirimkan seperti itu?
Sungguh, ia berhasil membekukanku, bahkan membuat hati ini bergetar hingga menyebar ke seluruh pembuluh darah. Untung saja Farah hang out dengan pacarnya, jadi aku tak perlu susah-payah menjelaskan topik yang membuat pipiku bersemu merah dan berseri ini.
Navroy Grey
Yeah, aku memang menyukaimu, mencintamu. I love you, Keysa.
21:37, 10 November
__ADS_1
Berulang kali kalimat itu kubaca, tapi tetap saja rasa itu tetap sama. Rasa yang menakjubkan yang membuat degub jantungku berdetak cepat dan membuat pipi ini merona. Pembuluh darahku masih berdesir hingga bisa kurasakan.
Ya, ampun, mimpikah ini? Dia benar-benar mengucapkannya?
Aku berusaha mengatur napas. Menghela napas berat dan berusaha mengontrol diri.
Tidak! Aku tak boleh besar kepala dulu! Mungkin saja hanya salah paham!
Kulayangkan jemariku di layar keyboard ponsel, membalas pesan lelaki itu yang sedetik saja mampu memabukkan hingga merenggut damaiku.
Oh, sial! come on, Key, tahan!
Keysa
Hai. Maaf, baru membalas chatmu. Tapi mungkin kamu salah mengirim chat untuk seseorang. *It’s okay!
19:27, **11 November***
Navroy Grey
Hai. Malam. Tidak, aku sungguh tidak salah kirim. Itu memang untukmu. *I’m really love you. So, do you want to be my girlfriend?
**19:28, 11 November***
Lagi, ia berhasil membuatku tertegun dan terkejut.
Ini benar, kan? Ya, Tuhan!
Raut wajahku benar-benar memerah. Selang tak beberapa, deringan telepon yang berasal darinya membuatku semakin terperanjat. Sungguh, rasanya pipiku sangat memanas karena malu.
Cukup lama aku menatap layar ponsel yang menampakkan panggilannya itu di video call sembari berusaha mengatur napas dan setenang mungkin.
Sial! Jantungku berdegub kencang!
Aku menghela napas panjang, lalu menjawab panggilannya. Raut wajah mempesona, menawan dan tampan itu terlihat segar dan berseri dalam senyum lepasnya yang lebar.
Dia terdiam sejenak memandangku, lalu senyum itu tampak lagi.
Oh, God! Benar-benar melelehkan! Sial!
Oksigenku seperti nyaris habis. Detak jantungku semakin tak beraturan dengan pipi terasa masih merona.
“Hai. “ desahnya tersenyum, menatap kali ini.
“Hai. “ Lirihku hati-hati.
Shitt! Bisakah kau tenang sedikit, Heart? Please, keep stay cool! Jangan mempermalukanku!
“Are you okay?” tanyanya yang kali ini dalam bahasa Inggris, masih tersenyum menatap.
*Entah ia tersenyum mengejekku karena raut wajah bodoh ini, atau entah apa!
Mengapa ini lebih seram dari film horror, sih? Merinding, oh-sial*!
Aku mengangguk, mengulum senyum. “Yeah.”
Lagi, dia menatapku, seolah menikmati. “So, Do you wanna be my girlfriend?”
"Apa?"
"Apanya yang apa?"
“Kamu sehat, kan? Maksudku, mungkin kamu bisa mempertimbangkan untuk—“
“Key, really, i love you!”
Deg! Jantungku seperti berhenti berdetak, tak bernapas ketika kalimat memabukkan terdengar jelas di suara khas merdunya. Dia menatapku hangat, bahkan tatapan itu seolah melumer di mataku dan mendamaikan. Sangat tulus tampak di sana.
Kepalaku menunduk, berusaha menyembunyikan senyum berseriku dengan wajah yang bisa kupastikan sangat merona. Lagi-lagi aku menanyakan hatiku bahwa ini delusi atau nyata sembari masih berusaha menenangkan diri.
“Jika ya, kamu ikut menghubungkan jemarimu di layar ini, tepat di arah jemariku, yang di bentuk setengah hati. Tapi, jika tidak, kamu cukup katakan, nice dream sebagai pertanda pamit. So, let’s do it!” jelasnya memberi arahan.
Aku menatapnya sejenak, dalam senyuman. Dia memang cukup membuat dunia dan hariku terganggu, bahkan damaiku terenggut olehnya hingga duniaku hanya berpusat tentangnya. Empat tahun menutup diri dengan cinta dan mengubur dalam-dalam luka itu, meski kapan saja bisa berbekas, tapi mungkinkah tak ada salahnya jika melepaskan bayang masa lalu itu dan percaya pada apa yang saat ini terjadi? Ya, mungkin. Pun, ketika dunia ini mulai terpaut dan beralih padanya, tentangnya, mungkin saat itulah cara Tuhan membangkitkanku dan menginginkan aku untuk belajar dari masa lalu, dari kepahitan. Meski pada akhirnya, aku tak tahu, kisah ini akan ber-ending seperti apa.
Pacaran dengan imigran dan berbeda negara? Hmm!
Navroy masih menatapku, menunggu jawaban itu. Tatapannya masih melebur dalam sorotan mata senduku. Lalu, detik berikutnya, kubiarkan senyum itu terbit hingga tampak alisnya mengernyit heran.
"Hmm. Nice.... " Raut wajah yang tadinya datar ketika aku mulai membuka suara, kemudian seketika berubah dan menerbitkan senyuman yang lebar saat jemariku menghubungkan ke layar ponsel, ke arah jemarinya yang terbentuk setengah hati, hingga keduanya menampakkan hati yang menyatu. Matanya melebar, lalu tersenyum lepas.
“Really?” tanyanya tak percaya.
Aku mengangguk masih dalam senyuman, jelas pipi merona masih bersamaku. “Yeah, I love you, Mr. Pakistan.”
“Thank’s so much, you want to stay with me.” Dia tersenyum berseri.
“No, but me, thank’s so much!” elakku dalam senyuman. “Jadi, kita Pacaran?” lanjutku memandangnya tanya.
“Yeah. Aku dan kamu, menjalani hubungan, adalah pacaran,” Angguknya membenarkan sembari menatapku berseri penuh teduh.
“*Okay. Thank’s again!”
Kekehan kikuknya terdengar dan membuatku tersenyum kikuk. “Okay! Sekarang saatnya kamu istirahat! Nice dream, Baby*!” dan panggilan yang kali pertama terdengar di inderaku itu semakin membuatku bersemu merah di pipi.
Sepertinya harus terbiasa!
“Okay. Take a rest! Night, nice dream.” Desahku tersenyum.
“See you!” tatapnya.
“See you!”
Telepon terputus seketika. Kubenamkan dalam-dalam wajahku pada selimut, rasanya pipiku sangat memanas karena malu.
Aku pacaran padanya? Really? Seriously? Astaga! Benar-benar mimpi terindah! Ya, ampun, Thank’s God!
Mata ini mencoba terpejam dan tertidur di jam yang masih terbilang cepat menurutku, tapi rasanya baringku begitu nyaman hingga enggan bangun. Sepertinya tidurku akan nyenyak malam ini. sesekali senyumanku menguap dalam mata terpejam.
Sial! Baru beberapa menit lewat, dia sudah berhasil mempengaruhiku!
Kubenamkan kepalaku dalam selimut, lalu kembali mencoba tidur.
“Nice dream, Navroy-ku!” desahku berguman dalam mata terpejam di antara senyuman lebarku, sebelum mata ini benar-benar tertidur.
* * * *
__ADS_1