Terjebak Cinta Sang Imigran

Terjebak Cinta Sang Imigran
Cemburu?


__ADS_3

"Jadi, kita kemari untuk nonton?"


Navroy terkekeh mendengar pertanyaan konyolku. "Tentu saja, Babe, kita di sini bukan menggoda para pekerja wanitanya!"


Tatapan prihatin kini ke arahnya, kemudian mencebik dan mencubit hidung ini dengan gemas. Sejenak, kedua bola mataku menikmati pemandangan—indah—itu, adalah ketika tangan besar dan kokoh itu masih di sana, menggenggam dengan begitu erat pada telapak tangan ini yang selalu saja berkeringat saat kedua tangan kami saling menyentuh—entahlah, aku juga tak tahu—dan tidak melepaskan sedikit pun sambil sesekali mengusapnya lembut dengan ibu jari miliknya.


Bioskop ini cukup luas dan ramai sehingga harus mengantre sampai di depan pintu masuk. Terlebih, bar tempat pemesanan tiket mengarah langsung ke pintu utama. Cukup memakan waktu setengah jam, kami baru selesai transaksi membeli dan untunglah, filmnya tak lama lagi akan mulai tayang.


"Mau popcorn atau soft drink?" tawar Navroy saat kami telah berada dalam teater, ketika sejenak melintas pedagang asongan yang berkeliling berjualan dalam ruangan besar ini.


Lampu memang belum padam. Navroy lalu duduk di sebelah kanan, tubuh atletiknya disandarkan di sofa merah itu. Begitu tubuhku ikut duduk di sampingnya, tangannya seketika meraih dan menggenggam hangat tanganku. Senyum khasnya tampak lebar begitu menemukan mataku yang menatap genggaman dan wajah tampannya yang nyaris bersamaan.


"Kamu kedinginan? Tanganmu sangat dingin dan basah." Bisiknya yang membuatku masih dalam senyuman.


"It's okay. Mungkin efek karena sepanjang hari berada dalam ruangan yang dipasangkan pendingin. Dan juga, mungkin itu alasan bosku memasang dua alat 'hipnotis tidur' itu, agar otakku tetap dingin saat mengerjakan tugas kantor!"


Dia terkekeh dengan lelucon di akhir kalimatku, namun seketika mengatupkan rahang dengan rapat saat aku tengah menatapnya tajam—memperingati—namun dalam senyuman menahan tawa.


Aku terpesona dalam tubuh tertegun diam, ketika kecupan lembut itu mendarat di punggung tanganku, tetapi senyum innocent yang melelehkan itu tetap saja selalu membuatku bersemu merona. Lalu, detik berikutnya, menggenggam dengan kedua tangan yang sesekali diusap sembari mendekatkan ke arah mulutnya dan meniup dengan lembut.


"Sekarang sudah hangat?" tanyanya di sela aktivitas mengusapnya.


Senyumanku mengembang dalam anggukan. Tatapan ini bahkan tak lepas dari aktivitasnya yang berusaha menghangatkan sedari tadi hingga membuat semakin terpesona padanya. "Lumayan, thanks."


Navroy mencondongkan tubuhnya, lalu berbisik, "Seorang kekasih atau yang dicintai, tidak mengenal ucapan terima kasih pada pasangannya atau orang yang dicintainya itu. Karena cinta, saling memberi kebahagiaan, bukan sakit!"


Kalimatnya membuatku terhenyak. Bersemu? Terpesona? Tentu saja selalu berhasil! Bahkan, membuatku semakin jatuh cinta.


Beberapa bulan terakhir ini, dia seperti membawa lentera dalam kegelapanku, kemudian menarik ke arah titik terang. Meski, terkadang takut, jikalau mungkin saja suatu hari keliru, bahwa titik terang itu rupanya hanyalah sebuah pantulan cahaya dari hati yang tengah membakar perlahan-lahan karena kerinduan yang telah lama berkecamuk menahan dan menanti.


"Hai, Key!" sapa seorang lelaki tinggi berkulit cokelat dengan rambut cepaknya. Kaus putih dan celana pendek selutut yang dipadukan kets tampak menutupi tubuh gempalnya. Sembari tersenyum lebar, dengan innocent ia melintas begitu saja di depan Navroy, mengabaikan lelaki di sebelahku ini yang tengah menatapnya aneh, lalu duduk di sisi sebelahku satunya sambil bercerita tidak jelas.


"Kak Akbar, kok di sini?"

__ADS_1


"Aku sedang menontonlah, Sayang. Eh, mas mencarimu selama ini, tahu!" timpal Akbar.


Seluas senyum menguap di bibirku. Dia memang teman yang baru kukenal, namun juga tak dekat. Meski begitu, ia memang tipe lelaki yang mudah welcome dengan semua orang, bahkan seakan-akan lupa sedang berada di mana.


"Aku tadi sama teman, dia ke toilet dan.... "


obrolan Akbar kini semakin memanjang hingga kekasihku itu terabaikan. Terlebih, film saat ini mulai tayang dan lampu telah redup, namun temanku ini tetap saja melanjutkan cerita tidak jelasnya dengan nada yang dimulai nyaris berbisik. Aku bahkan bisa merasakan, perasaan protes Navroy dan tidak suka ketika melirik sekilas raut wajahnya yang kini telah berubah defensive dalam diamnya itu. Sepertinya mulai kesal.


"... iya, Key, jadi—"


"Maaf, tetapi dia harus menemaniku mencari toilet," sambar Navroy tetiba saja yang sengaja menekan kosakatanya lalu seketika menarik tanganku pergi, saat masih tengah mengobrol dengan Akbar yang tengah bergosip ria dan bergurau tertawa—tanpa memberikan kesempatan mengucapkan sepatah kata pun—dan tidak peduli.


Navroy menghela panjang kemudian menghirup napas dalam-dalam, ketika kami telah berada di depan teater. Seolah, dia sudah lama menahan dan baru menemukan oksigen.


"Mengapa berhenti? Bukankah mau ke toilet?"


"Aku tidak suka filmnya, aku ingin film lain!"


"Baby—"


"Kamu mau nonton atau tidak?"


Kenapa dia? Seharusnya aku yang bertanya seperti itu, kenapa—


Aku menghela napas panjang saat harus mengikutinya ketika ia menarik tanganku entah ke mana.


Emosionalnya cepat berubah? Padahal, sikapnya tadi manis-manis saja!


Navroy duduk di sofa bangku yang tak jauh dari lobby tiket. Masih dengan raut wajah kesal dan dingin. Asumsiku, dia sedang menenangkan diri dan memikirkan sesuatu.


Lagi, aku menghela napas, lalu kuputuskan untuk duduk di sebelahnya dan menenangkan.


"Are you okay? Apa ada yang membuatmu tidak nyaman, Babe?"

__ADS_1


Navroy sekilas melirik, lalu memutar mata.


Apa dia ngambek?


Mengapa sikapnya jadi kekanakan, sih? Tetapi guratan urat di pelipis dan leher putihnya itu tampak tegang. Apa dia marah?


Aku mendesah saat menatapnya sejenak. Mengusap keringat itu dengan hati-hati di pelipis dan keningnya menggunakan punggung tanganku.


"Maaf." Desahku lirih yang membuat dia melirik ke arahku. "Aku sangat minta maaf," lanjutku. Mata kami saling berpandangan.


"Untuk apa? Tidak apa-apa."


"Baby?" panggilku lagi yang masih menatapnya, meski dalam nada suara nyaris berbisik.


Aku kini meraih tangannya, lalu menggenggam dengan kedua tanganku sembari sorotan mata ini masih terarah padanya. Warna iris matanya seketika mendamaikan. "Karena telah mengabaikanmu dan sibuk mengobrol dengan temanku itu. Tapi, sungguh, Akbar itu hanya teman,"


"Akbar? Oh, itu namanya? Whatever! Memangnya kenapa jika dia bukan teman? It's okay, kamu tidak perlu jelaskan."


Aku mendesah berat. Kutatap wajah itu yang telah menunduk dalam wajah dingin. Tangan yang masih sedari tadi menggenggam tangan putih besarnya itu kini kutarik dan bertumpu di pangkuanku.


"Tidak usah cemburu padanya, Sayang!"


Berhasil! Godaanku membuatnya mengangkat wajah dan memandangku. Raut wajahnya berubah seketika, setidaknya raut dingin itu tak ada lagi di wajah tampannya.


"Aku? Cemburu padanya? Tidak, Babe!" elaknya, tapi seperti menahan senyum, wajahnya merona.


"Benar, kamu cemburu, kan?" Aku semakin menggoda, terlebih melihat ekspresi lucunya itu sembari menyentil lembut hidung mancungnya.


Ekspresinya kini berubah rileks, meski sangat jelas ia berusaha menyembunyikan senyum geli itu, namun tetap saja terlihat hingga menyentuh mata.


Kekehanku terdengar yang membuatnya mencubit gemas pipi ini. Lagi, dia menarikku ke tempat penjualan tiket sambil tangan itu menggenggam tanganku begitu erat, kemudian kami memilih film lain.


* * *

__ADS_1


__ADS_2