Terjebak Cinta Sang Imigran

Terjebak Cinta Sang Imigran
Menyerah


__ADS_3

Pandanganku lurus ke depan, ke arah jendela sembari memandang kota yang baru saja di guyur hujan dengan menyuguhkan rumah-rumah perkotaan yang cukup menjulang, seolah bak piramida yang berjejer di kompleks ini.


Waktu telah menjelang sore, namun aku hanya berdiam diri di ruangan ini. Hening, hanya suara kipas angin terdengar di ruangan yang telah bercat blue dark, dan suara bising deru kendaraan yang berlalu lalang di depan rumah, atau di jalan raya yang memang letaknya tak jauh dari kontrakanku ini.


Setelah kejadian tadi, gadis itu masih saja mendiamkanku seperti ini. mungkin masih marah. Dan, aku juga tak bisa apapun. Biar bagaimana pun, kenyataannya, toh aku masih sangat mencintai lelaki itu.


Ponselku tetiba saja berdering. Sekali, dua kali ... aku hanya membiarkan. Dan untuk kali ketiga, telepon dari Sadeev itu kujawab.


“Sore, Ms. Indonesia!” senyum kecilku terbit saat mendengar suara riangnya di sana. Dia selalu saja ada, di saat kubutuhkan.


“Sore, Sadeev.” Lirihku pelan masih dalam serak.


“Suaramu ... terdengar aneh. Bersedih lagi?” seulas senyum kurasakan di bibirku, lalu menunduk sembari menyelipkan helai rambut—yang tadinya kubiarkan beterbangan di wajah karena embusan angin—di belakang telinga.


“Lagi di mana?” alihku.


Dia menghela napas sejenak di sana. Lalu, “Di tempat Navroy.”


Kepalaku terangkat begitu mendengar nama itu disebut. Seperti sengatan listrik menyetrum ke dalam pembuluh darah.


“Oh, lagi berkunjung ke sana, ya?”


“Tidak juga. Dia lagi sakit, jadi menjenguknya, sekalian saja menjaganya di sini,”


Deg! ngilu itu kini bertengger tetiba di benakku.


“Sakit apa? Apa dia baik-baik saja?”


Sadeev menghela napas. “Rupanya begitu berpengaruh, ya? Sampai cemas dan kaget begitu. Jangan khawatir, dia sepertinya sudah baik. Setidaknya, perawatan yang di jalaninya selama dua hari belakangan ini, membuahkan hasil. Tapi dia masih lemah, Key, mungkin, harus banyak istirahat dan—“


“Apa yang sebenarnya terjadi padanya, Sadeev?”


lelaki itu terdiam sejenak. Lalu, “Aku tahu kau begitu resah di sana. Jadi, mengapa kau tak menanyakan padanya saja langsung di sini?”


“Maksudmu, kau ingin aku berbicara padanya?” simpulku memperjelas.


“Ya! Datanglah kemari!


“Tapi bagaimana caranya? Kupikir, di sana ada security dan cctv,”


“Kita akan pikirkan nanti bagaimana, tapi yang terpenting sekarang bersiaplah! Beritahu aku jika telah berada di depan hotel. Oh ya, jangan sampai orang lain tahu, terlebih Navroy bahwa aku yang mengabarimu soal ini,” pesannya di akhir kalimat.


“Terima kasih, Sadeev. Kau memang selalu bisa diandalkan, aku akan bersiap dulu.”


“Oke, sampai jumpa di sini.


“Ya, sampai jumpa.” Saat aku hendak menutup telepon, lelaki itu menyela lagi.


“Keysa?”


“Ya, Sadeev? Ada yang ingin kau sampaikan lagi?”


Dia terdiam sejenak, Lalu, “Ini tidak mudah, jadi berhati-hatilah!” sahutnya yang nyaris berbisik di sana.


Senyumku menguap. “Aku tahu, bersamamu pasti selalu aman, “ Sahutku sebelum memutuskan telepon. Kedengarannya seperti menyemangati diri sendiri.


Kuhirup udara dalam-dalam, meyakinkan diri sendiri. Airmata mengambang di pelupuk mata. Aku tahu ini bisa saja berbahaya, mengingat informasi Navroy dahulu saat menceritakan tentang kondisi tempat yang ia tinggali saat ini. Benar, tempat itu memang di jaga security dan dipasangi cctv hingga tidak sembarangan orang bisa masuk dengan leluasa atau berkunjung di sana jika bukan imigran terlebih wanita. Dan syaratnya pun, hanya ada dua. Pertama, hanya sesama imigran dengan memperlihatkan tanda pengenal id card yang diberikan oleh pihak imigrasi atau setidaknya bergender sama dengan mereka, adalah lelaki. Atau yang kedua, bisa saja jika atas persetujuan dari pihak atasan hotel yang menjaga di sana karena ada kepentingan yang memang sengaja di undang. Entah itu menjadi guru mereka untuk kelas khusus seperti kelas bahasa, musik atau lainnya. Dan tentu saja, tempat itu hanya dipenuhi oleh pria-pria seperti mereka yang tengah berimigran—terlepas dari menjalani masa camp di tempat berbeda di suatu kota selama beberapa bulan bahkan ada yang beberapa tahun. Dan jika sampai diketahui ada penyusup yang tidak sepantasnya berada dalam lingkungan mereka, maka bersiaplah dipukuli atau mungkin saja di penjara. Dan imigran yang terkait dengan penyusup pun bisa saja di deportasi atau di penjara dalam kurung waktu berbulan lamanya bahkan bertahun.


*Egokah aku, Tuhan? Tapi aku ingin melihat kondisinya! Rasanya tak tenang mendengarnya mengalami seperti itu. Terlebih, aku ingin melihatnya yang mungkin saja untuk kali terakhir. Setidaknya, jika pun terjadi apa-apa padaku, aku tak ingin melibatkan siapa pun nantinya.


Semoga waktu dan Tuhan mendukung dan berpihak padaku saat ini*!


Tidak membutuhkan waktu lama, aku telah sampai pada bangunan tinggi berwarna hitam itu. Bangunan yang cukup mewah.


Parkirannya tak terlalu luas, namun beberapa tanaman hias sengaja menghiasi tempat ini yang diletakkan di dekat beranda pintu dalam pot bunga yang besar nun megah dengan corak modern. Ini kunjungan kali keduaku kemari, namun bedanya hanya menunggu di parkiran waktu itu, saat menemani Navroy kembali mengambil dompetnya.


Bangunan itu memang telah di jaga oleh dua orang security tegas. Sesekali mereka mengobrol sambil tertawa cekikikan.


Sebelum masuk ke kawasan itu, tak lupa meninggalkan pesan untuk Sadeev. Dan benar saja, tidak membutuhkan waktu lama, ia keluar dalam balutan celana pendek jins dan kaus lengan pendeknya. Matanya sekilas melirikku sebelum menghampiri dua orang security tersebut yang belum sadar atas keberadaanku di sini. Cukup lama mereka mengobrol—entah apa—lalu security yang satu berjalan keluar dari area ini dan membuatku seketika bersembunyi dengan hati-hati di balik pohon yang berada di dekat gerbang hotel itu. Setelah Sadeev kembali mengobrol begitu lama, denting halus terdengar dariku.


Sadeev


Masuklah dengan hati-hati, usahakan jangan sampai terkena cctv atau membuat orang-orang curiga di dalam sana. Jangan bicara pada orang lain, jika pun harus, cukup menggeleng atau mengangguk. Dan tunggu aku tepat di belakang tangga tehel sebelah barat, yang tak jauh dari lift. Kabari aku jika sudah berada di sana.


Setelah membaca pesan chatnya, aku merapikan kembali kemeja hitam berlengan panjang yang tengah membalut tubuhku, memakai topi sembari menyelipkan rambut panjangku di dalam topi biru bermodel cowok ini, lalu memakai masker. Aku sengaja mempersiapkan itu untuk penyamaran ini dan berusa sekeras mungkin tak menimbulkan kecurigaan. Setelah menghirup napas dalam-dalam, mengatur napas dan menenangkan diri, aku lalu menghela napas berat dan melangkah menyelinap masuk dengan hati-hati, tapi tetap berlaku orang normal seperti mereka.


Jantungku terasa berdegub cepat saat melesat ke dalam lobby. Security itu benar-benar teralihkan oleh lelaki itu. Lobby yang luas dengan interior modern tampak cukup sepi, hanya beberapa orang yang sedang mengobrol di sofa panjang merah di sebelah barat, di timur tepat di sofa hitam tampak seorang lelaki yang sibuk dengan gadget-nya dan beberapa lainnya tengah mengobrol seru sembari berdiri tepat tak jauh dari lemari aksesorie yang terpajang mewah di sebelah selatan hingga kontras dengan corak design dan warna dindingnya dengan cokelat perunggu. Sebagian menyadari keberadaanku saat masuk dan melirik lalu kembali pada kesibukan masing-masing. Saat aku berbelok ke arah barat hendak ke belakang tangga, seorang lelaki berparas imut yang baru saja keluar dari hotel tersenyum ke arahku. Aku hanya mengangguk dalam senyuman dan bisa kurasakan, meski ia tak melihat senyuman ini yang tertutupi oleh masker, mataku memperlihatkan.


“Salam.” Sapa lelaki itu dengan sopannya, sebelum berlalu. Itu memang ucapan sopan salam jika bertemu dengan teman satu negara mereka.

__ADS_1


Tetap stay cool, Keysa! Semangat, kau pasti bisa! Seruku dalam hati yang mengingatkan terus diriku.


Aku seketika melesat bersembunyi di balik tangga dan dengan cepat mengirim pesan ke Sadeev dan mengabari lelaki itu—memanfaatkan waktu yang aman menurutku, sembari berusaha mengatur napasku yang mulai berderu tidak karuan.


Sungguh, Ini sama saja kasus kriminal! Bahkan kengerian yang kurasakan seperti hendak melakukan pencurian di sebuah istana.


Begitu ada yang menepuk bahuku, aku nyaris menjerit. Untung saja lelaki ini seketika membekap mulutku saat aku berbalik melihatnya.


“Tenanglah! Kita harus bersikap biasa saja agar tidak ada yang curiga, oke?”sahutnya mengingatkan sembari berbisik. Aku mengangguk.


“Ayo, ikut aku! Berhati-hati!” titahnya yang membuatku mengangguk dan bergegas ke tempat tujuan.


Aku lalu melangkah di belakangnya, mengikuti entah di mana tempatnya tapi membawaku pada lelaki pujaanku itu. Kami melesat masuk di lift yang kosong. Begitu pintu tertutup.


Satu....


dua...


Hingga angka ke empat .... lampu orange pada tombol angka yang menempel di samping kanan lift itu berhenti tepat di angka tersebut, lalu detik berikutnya, begitu suara denting halus berbunyi, pintu terbuka dan tampak sebelah kiri yang tak jauh dari lemari besi besae ini, sebuah sofa hitam berada di sana dengan vas indah yang dipasangi dengan bunga plastik hias. Begitu kami melangkah keluar dari lift, jantungku berdegub cepat.


Langkah yang sebenarnya harus terasa ringan, namun anehnya, setiap menjejaki kaki jenjangku di lantai bertehel corak cokelat ini, rasanya seperti terasa berat menapak dan melangkah. Lelaki itu masih berjalan tepat di sebelahku, mengiringi langkah, entah berujung ke mana membawaku. Ketika baru berselang tak lama kami berbelok ke arah kiri, tepat di koridor yang berjejer kamar-kamar yang sedang tertutup rapat, langkah kami terhenti pada suara berat paruh baya di belakang. Suara beckground itu benar-benar menampakkan kecemasan dan syok di wajah kami yang sekilas saling melirik dan saling berpandangan. Sepertinya suara yang memanggil Sadeev itu baru terdengar oleh kami, namun dengan bahasa yang benar-benar tak kumengerti. Saat kami berbalik, seorang lelaki paruh baya bertubuh gempal dengan paras wajah chineese memandang ke arah kami sembari menghampiri.


“Tunggu!” sahutnya dalam bahasa Inggris.


Raut wajah yang begitu datar dan menatap dengan intens. Sekilas melirikku lalu beralih memandang lelaki di sampingku itu. Atmosfernya tetiba berubah kikuk, canggung namun juga cemas. Sejujurnya, degub jantungku semakin cepat berdetak. Rasa panik sekaligus takut mulai menyerangku.


Sadeev melirik dengan tatapan seakan menenangkan.


“Kau Sadeev, bukan?” tanyanya menebak yang diakui asumsi lelaki itu saat seketika mengangguk, lalu berjabat tangan.


“Salam. Iya, Pak. Saya teman Navroy yang kemarin menjaganya, saat bapak berada di sana juga menjenguknya,”


Lelaki itu mengangguk-angguk mengerti, lalu matanya kemudian menatapku dengan menuntut dalam pandangan penuh tanya.


“Dan dia siapa? Sedang apa kalian di sini?” tanyanya lalu kembali memandang lelaki itu.


“Teman satu kelompok pull up dan gym-nya Navroy, Pak,” sela Sadeev.


Aku lalu berjabat tangan. Cukup lama ia menggenggam tanganku, menatap dengan tatapan aneh. Aku bahkan mulai merasa cemas kalau-kalau ia sampai curiga.


“Bisa kau buka maskermu?” tantangnya masih menatap aneh ke arahku. Saat aku dengan ragu hendak membuka, tetiba Sadeev menyela. “Umm, Pak, kupikir itu tidak perlu,”


“Baiklah! Aku percaya padamu, Nak. Lagi pula kau sering berkunjung kemari, jadi itu cukup menjadi alasan mengapa aku percaya. Pergilah! Maaf meragukanmu, Anak muda!” sahutnya pada Sadeev, lalu memandangku dalam seulas senyuman di akhir kalimat. Aku mengangguk.


Rasanya aku baru saja bernapas. Kurasakan bahuku merosot rileks karena suasana tegang tadi. Saat Pria paruh baya itu berbalik, hendak berlalu meninggalkan kami di koridor, seketika kami berbalik dan Sadeev memegang lenganku untuk cepat-cepat berjalan.


“Syukurlah, ia mudah percaya,” gumamku yang membuat lelaki itu menyengir.


“Semuanya tergantung akal, jika penyamaranmu ingin sukses,” senyumanku melebar. “Kau terdengar seperti profesional saja,”


Sadeev terkikik.


“Tunggu, Sadev!” suara berat itu terdengar lagi dan membuat kami terperanjat.


Apa lagi Sekarang?


Ia berjalan kembali menghampiri kami, masih wajah datar dan ekspresi yang tak kusukai.


“Bisakah aku membelikannya permen lollypop? Agar sekali-sekali ekspresi menyebalkannya itu berubah lebih enak di pandang sedikit!” sungutku berbisik yang rupanya masih terdengar oleh Sadeev, ia mengulum senyumnya.


“Lelaki tua itu tidak seperti kau, Dewana,” aku berusaha menahan senyumku mendengar timpalan lelaki di sebelahku ini, terlebih pria paruh baya itu telah melenggok begitu dekat pada kami.


“Ya, Pak, ada apa?” Tanya Sadeev berusaha masih sopan.


“Anak-anak sepertinya mendapat perpanjangan waktu untuk kelasnya masing-masing, jadi kemungkinan tak ada yang menjaga Navroy. Aku hanya ingin meminta bantuanmu, tolong jaga dia untuk beberapa saat sampai yang lain selesai kelas dan bisa menggantikanmu berjaga. Apa kau bisa?”


Sadeev tersenyum lebar. Tentu saja, Pak, dia sudah seperti keluargaku, yeah kami sudah seperti keluarga. Jadi, bapak jangan khawatir soal itu,”


“Baguslah! Jadi, tidak ada masalah! Dan kau, jangan bosan-bosan berkunjung kemari, ya? Mereka semua menyenangkan, kok,” desahnya, lalu beralih memandangku di akhir kalimat sembari tersenyum lebar sambil menepuk-nepuk lengan kananku.


Seketika, raut wajah menyeramkannya sirna.


Nah, kan, lebih baik seperti itu!


“Terima kasih, Pak!” sahut Sadeev.


Lelaki itu hanya mengangkat tangan kanannya di hadapan kami. “Baiklah! Saya harus kembali ke ruangan. Salam untuk Navroy, semoga dia lekas sembuh!” sahutnya lalu berbalik.


Kami menunggu pria itu berlalu pergi terlebih dahulu. Setelah berbelok di koridor kiri, lalu lenyap dalam pandangan, baru kami bergegas menuju kamar Navroy.

__ADS_1


Kamarnya tak jauh dari sini, hanya melewati lima pintu, kemudian berbelok di koridor sebelah kanan, maka pintu bercat perunggu itu akhirnya nampak. Pintunya terbuka lebar, tak tertutup. Kakiku berdiri terpaku tepat di ambang pintu saat hendak melewati masuk—Kakiku terasa berat tiba-tiba, seperti terkunci.


Tampak ia tengah mengobrol dengan lelaki seusianya, tersenyum sesekali sembari terbaring di atas kasur empuk berukuran sedangnya. Dan temannya itu duduk di kursi besi yang terletak tepat di tepi tempat tidur, di sebelahnya. Ruangan luas yang nyaris di cat kelabu dengan nuasa corak cokelat putih, kini menghias kamar lelaki itu. Aku kini membuka masker saat matanya kini beralih ke arahku l dan menemukanku. Senyumnya sirna, wajahnya terpaku kala memandangku yang masih berdiri mematung di sini, memandangnya kelam, tanpa mengerjap. Hanya beberapa detik, airmata itu telah menggantung di pelupuk mata. Aku hanya berusaha keras menahan air mata ini untuk tak menangis di hadapannya.


Navroy sedang berbisik pada temannya sejenak, lalu kembali menatapku saat temannya itu berlalu. Sedang Sadeev, menghampiri dua lelaki yang duduk tepat di tempat tidur sana—tiga kasur dari sini. Mereka memang memiliki beberapa bed dalam ruangan ini yang tentunya saling berbagi dalam satu ruangan. Namun, tak berlangsung lama, lelaki juga itu keluar dari ruangan yang saat ini mulai terasa menyesakkan itu—berlalu bersama teman-temannya entah ke mana dan membiarkan kami hanya berdua di kamar ini.


Lagi, kakiku masih terperanjat di sini, memandanganya. Rasanya sesak dan perih itu semakin memberontak di benak. Wajah pucat dan polosnya masih terlihat tampan di sana.


“Hai.” Suaranya bagai cambuk yang seketika membuat hatiku bergetar sekaligus perih.


Sepertinya dunia dan napasku berhenti seketika. Tapi, ngilu itu masih terasa.


Aku benar-benar rindu suara itu. Rasanya hatiku telah menangis.


Navroy menepuk-nepuk tepi tempat tidurnya, meminta menghampiri dalam senyuman khasnya. Kenangan saat bersamanya di hotel dahulu, yang memperlakukanku seperti itu seketika menari-nari dipikiran. “Kemarilah! Jangan berdiri di sana!”


Lagi, aku masih hanya memandangnya dalam mata berkaca-kaca, menunduk sembari berusaha keras untuk mengontrol diriku agar tak menangis. Sangat sesak! Senyumnya di sana, menatapku dengan teduh yang masih berdiri terhenyak memandang lelaki itu.


“Babe?” panggilannya seketika membuat airmata ini tumpah deras seketika yang tak dapat kubendung lagi, lalu berhambur memeluk tubuh kekar itu. Sakit, perih, kelam, hampa, sesak, pedih, semuanya bercampur menjadi satu dalam dekapan erat ini.


“Hei, tenanglah!” bisiknya menenangkan dalam pelukannya.


Isakanku masih terdengar, ia memandangku dalam mata binarnya, lalu tersenyum ke arahku. “Tidak apa-apa, aku baik-baik saja. Duduklah!” lirihnya setelah melepas pelukanku.


“Apa kabar?” tanyanya saat aku mulai terlihat tenang sembari mengusap airmataku dan memandangnya. Tatapan hangat itu menempa iris mataku.


“Sangat buruk, jika melihatmu seperti ini,”


Dia menyengir. “Dewana!”


kami kembali terdiam.


“Apa yang membuatmu kemari? Siapa yang memberitahumu tentang hal ini?”


Gelenganku hanya membuatnya mendesah.


“Apa yang terjadi?”


“Hanya kecelakaan.”


“Hanya kecelakaan? Bagaimana bisa? Apa kamu sudah makan? Minum obat?” cecarku memberinya pertanyaan yang kelewat cemas sembari melakukan pemeriksaan vitalnya seperti pernapasan, detak nadinya dan—


“Kamu seharusnya tak di sini,” lirihnya menatapku yang membuat kepalaku seketika mendongak memandangnya dan berhenti melakukan pemeriksaan.


“Apa?”


“Kau lupa apa yang kukatakan dulu? Kau bisa berbahaya di sini!” aku menatapnya nanar.


“Kau masih membenciku, ya?”


Dia menghela napas. “Tidak ada yang membencimu, Key. Pergilah, komohon?”


Aku menggeleng kuat. “Aku masih ingin menemanimu di sini,”


“Tidak usah, Keysa, ada banyak yang menjagaku di sini,”


“Babe, Please?” Mohonku sembari menangkupkan tangan di depannya. Dia menatapku kelam. Kemudian, menepis tangan ini.


“Mengapa kau tidak pernah mengerti bahwa aku tidak pernah mencintaimu? Hanya mempermainkanmu,”


Airmataku seketika mengalir mendengar kalimatnya itu, kepalaku menunduk berusaha menguatkan diri dengan sisa daya yang kupunya.


“Terkadang, cinta itu hanya bisa dirasakan oleh nalar, meski terasa gila dalam pikiran. Kau masih bertanya mengapa? Karena hatiku masih mencintaimu, meski kau tak pernah. Jika kau mengatakan gila, yeah, aku sudah lebih gila sebelum kau menyadarinya, bahwa betapa segalanya kau begiku,” tukasku yang hanya membuatnya mematung terdiam.


Aku lalu mengusap air mata, tersenyum simpul, lalu bangkit dan mengecup bibirnya sekilas, kemudian mengecup kening itu begitu lama.


“Berjanjilah kau akan bahagia, jaga dirimu,” Lirihku yang nyaris berbisik, mengusap lembut wajah itu sambil masih menatap wajah yang pastinya akan kurindukan, kkubiarkan senyumku melebar di hadapannya yang hanya beberapa senti itu, kemudian berlalu setelah mengusap lembut kepalanya. Tanpa menoleh ke belakang, tanpa berhenti.


Melangkah sejauh apa pun mengikuti kedua kaki ini, bersama sesak dan perih yang kini menyengat tiada hentinya sembari dengan pandangan menunduk saat memakai topi dan menyamar lagi.


Sakit itu pasti ada, ketika aku telah berani mencintaimu. Meski kau berulang kali menghempasku dalam luka yang berdarah-darah, namun tetap saja, toh pada kenyataanya, rasa ini akan tetap sama dan akan terus sama, Navroy. Ya, aku di sini, dengan segala cinta yang kupunya, walau kehancuran beberapa kali telah menghantamku.


Sekarang, kau ibarat seperti imajinasi dan bayangan di depanku dalam kehidupanku. Aku hanya bisa berkhayal kau ada dihadapanku, dan masih bersamaku. Tapi sekarang, hanya menjelma menjadi sebuah khayalan konyol yang penuh kemirisan.


Aku tak dapat lagi melihatmu di hadapanku, tersenyum laksana lentera kemirisan hidupku. Aku tak dapat lagi mendengar dendang dan nyanyian cintamu, nyanyian cinta yang selalu kau tebar di segala penjuru hidupku. Nyanyian cinta seperti kau mengoceh dengan kepedulianmu padaku. Nyanyian cinta seperti kau tanpa hentinya mengingatkanku menjaga kehidupan kesehatanku. Nyanyian cinta, seperti kau begitu menjagaku hingga tak ada duka sedikit pun yang berani terdampar di hidupku. Laksana petikan senar dari kecupan hangat darimu. Laksana genggaman erat pada gitar dari genggaman hangat tangan dan pelukanmu. Kini, semuanya telah sirna dan benar-benar telah sirna! Hingga pada akhirnya, memang benar, akan ada suatu titik dimana nyanyian telah selesai di lantunkan, petikan gitar selesai di dendangkan, dan cinta telah selesai pada bahagianya sehingga sadar atau tidaknya, semuanya seketika berubah menjadi hening, sunyi senyap, hampa dan duka yang menyelimuti.


Aku di sini, bukan karena tidak mencintaimu lagi, tetapi mencoba menemukan kembali kebahagiaan lagi. Kebahagiaan tanpaku.


Kakiku kini melangkah keluar meninggalkan hotel ini dan dengan segala sisa daya kupunya, mencoba untuk mengikuti keinganannya. Jika pada akhirnya itu yang membuatnya bahagia di sini, setidaknya mungkin itu cara satu-satunya aku bisa membuatnya bahagia. Rasa sakit dan berusaha mencoba membuat kebahagiaanmu dengan menjauhimu—seperti sepaket. Mencintaimu dan menghancurkan hidupku, itu juga adalah sepaket. Dan kusebut itu adalah kekonyolan indah!

__ADS_1


* * *


__ADS_2