
WARNING 17+
MENGANDUNG TEMA DAN MUATAN DEWASA. BAGI PEMBACA YANG BELUM CUKUP UMUR DAN TIDAK NYAMAN DENGAN KONTEN TERSEBUT, DIANJURKAN UNTUK TIDAK MEMBACANYA.
DIHARAPKAN KEBIJAKSANAAN PEMBACA DALAM MENIKMATI LAYANAN NOVELTOON.
SELAMAT MEMBACA!
Taksi berwarna hitam itu melaju dengan kecepatan normal di tengah gerimisnya kota, meninggalkan tempat—saat kali pertama menunggu untukku, hanya untukku. Aroma parfum khasnya yang ia pakai kini menyerbak harum di hidung. Terlebih, kami duduk bersebelahan dan cukup dekat. Jaketnya juga terasa lembab, mungkin karena kehujanan tadi.
Waktu terasa berhenti, mobil terasa melambat dan gilanya, aku bahkan merasakan melayang di udara bersamanya. Lagi, syarafku kaku, tubuh ini terasa terkunci mati, terlebih rahangku terkatup rapat tanpa mengeluarkan sepatah kata pun. Anehnya, terkadang dorongan untuk mengatakan sesuatu itu begitu mendesak di kerongkongan. Namun terkadang pula, ia membuatku seperti orang idiot, ketika hendak bersuara, yang tak mampu mengatakan apa pun, seolah rangkaian kata-kata itu lenyap seketika dipikiran, bahkan membuat fungsi otak ini berhenti bekerja tetiba, seakan tak bisa mendeteksi apa yang dikatakannya. Meski, suaranya masih bisa terdengar olehku, seolah indera ini hanya khusus pada kata demi kata dalam lisan indahnya. Atau pun, lebih konyolnya lagi, aku diam seribu bahasa seperti sekarang ini, tanpa mampu memandang wajah mempesona itu yang telah begitu dekat denganku—memang sengaja memalingkan wajahku, memandang ke luar jalan yang sepi.
Hening. Tak ada suara apa pun. Hanya ada suara kendaraan di luar sana dan hujan yang kini menembus dingin kulit pori tubuhku dengan suhu pendingin mobil ini yang telah mendukung. Aku tak tahu, apa yang ada dipikirannya saat ini. Pun, tak tahu ia sedang apa sedari tadi di sebelahku.
“So, kita mau ke mana?” dia mengangkat suara, sepertinya hendak mencairkan suasana yang mulai canggung.
“Kamu yang mengajakku. Well, mau ke mana?”
Tetiba saja Navroy menghadapkan tubuhku ke arahnya, memegang kedua lengan ini, memandang penuh teduh. Raut wajahnya begitu serius, namun ada secercah kecemasan di sana. Rasanya debaran jantungku begitu cepat.
Astaga!
Tangannya kini terangkat dan menggengam lembut wajahku. Raut wajah kami begitu dekat, sangat dekat. Seketika, seluruh pembuluh darahku berdesir, pipi seperti memanas karena malu.
“Baby?” sahutnya yang nyaris berbisik.
Untuk kali pertama, mataku tak mampu berkedip, bahkan bernapas pun tak bisa. Sungguh, wajahnya benar-benar eksotik dengan rahang kokoh di sana.
“Kamu percaya aku, kan?”
Alisku kini mengernyit. “Ya, tentu saja.”
Tangannya kini menggenggam telapak tanganku yang mulai berkeringat, lalu disusupkan di antara sela jemari ini.
“Baby, sebelumnya aku meminta maaf. Aku tak bermaksud, tapi sungguh, jangan berpikiran negatif dulu.” Sahutnya, lalu mengambil napas setelah kepala menunduk dalam mata terpejam, kemudian menarik napas, lalu memandang dengan penuh kecemasan, seperti tak yakin. “Babe, aku tak bermaksud menjatuhkan kehormatanmu atau pun tak menghargaimu. Bukan! Tapi jika boleh, aku ingin mengobrol lebih lama denganmu, mengenal satu sama lain,” jelasnya hati-hati yang nyaris berbisik, kali ini dalam bahasa Inggris.
Aku masih terdiam, menatapnya tak mengerti. Dia menghela napas berat, memejamkan mata, lalu menatapku lagi yang masih menggenggam tanganku. “Bisakah kita bersama di Hotel?”
Deg! Jantungku rasanya berhenti. Ada rasa kecewa kurasakan yang menyembur dengan deras, namun berefek sakit dan kini melepas genggamannya di tanganku.
“Please, jangan berpikir negatif dulu, Baby—“
“Maksudmu, cek in?” selaku memotong kalimatnya dalam raut wajah kecewa. Memperjelas.
Dia mendesah lagi. “Kau tahu aku seorang imigran, dan kau tahu betul, dengan mudahnya aku bisa di deportasi dan di penjara selamanya di sini,” lirihnh yang masih dalam bahasa Inggris, mencoba menjelaskan.
Aku kini menatapnya sejenak, mencerna kalimatnya yang baru saja diakuinya. Dia masih tertunduk, Lalu desahan berat itu lagi-lagi terdengar.
“Aku tahu ini salah, Babe, tapi bisakah kau memberiku kepercayaan? Meski hanya sedkit? Aku janji. Jika kau tak bisa, oke tidak apa-apa. Kau harus tahu, Babe. Kau bisa saja datang ke kantor imigran, jika kau—“
“Oke.” Desahku akhirnya memutuskan.
Kepalanya terangkat menatapku.
Ya, ini memang tidak sehat! Benar-benar gila!
Namun, entah mengapa hati ini mengakui. Rasanya konyol jika aku mengatakan, benar aku mempercayainya dan mengakui ia takkan mungkin melakukan hal negatif, namun itulah kenyataannya. Hatiku mempercayainya!
Dia masih menatapku penuh tanya.
“Semoga kau benar-benar tak mengecewakanku,” desahku dalam bahasa Inggris setelah menghela napas.
“Aku janji, demi apa pun, demi hidupku,” bisiknya. “Thank’s sudah percaya padaku,” lanjutnya.
Mobil kini melaju begitu cepat, setelah lelaki ini mengatakan tujuannya hendak ke mana.
Terkadang, kau akan meyakini sesuatu yang tak masuk dalam logikamu. Terkadang pula, kau tak mempercayai, apa yang telah masuk dalam logikamu. Bukan apa dan bagaimana, namun ada kalanya, kau tak menjadi dirimu sendiri, jika suatu hari kau sangat mempercayai sesuatu. Kedengarannya mengerikan? Ya, itulah kenyataannya!
* * *
__ADS_1
Kami kini telah berada di kamar, setelah dia cek in tentunya. Navroy booking kamar yang cukup luas di hotel bintang tiga ini. Ruangan yang di cat putih polos dengan hanya perabotan meja rias berada tepat di sisi selatan, tak jauh dari Tv Lcd yang menempel di dinding—menghadap ke arah tempat tidur king size berselimut satin putih. Tepat di sebelah dinding yang tak jauh dari pintu, sebuah kamar mandi berukuran sedang, lengkap dengan toilet, wastafel dan bathubnya.
Sedang aku, aku hanya duduk mematung sedari tadi, bahkan masih memakai sepatu dan jaket, dengan wajah tertunduk dalam tatapan kosong.
Entah apa yang kupikirkan saat ini. Entah mengapa aku berada di sini, terlebih bersama orang yang bahkan belum menjadi suamiku. Ya, beberapa bulan terakhir ini, lelaki itu telah berhasil mengangguku, bahkan mampu membuatku jatuh cinta padanya, dan membuka hati yang telah lama mati dari sanubari seorang gadis trauma akan cinta. Dan pada akhirnya, lelaki yang sekaligus pujaan hati itu kini meminta sendiri untuk dimiliki. Konyol, bukan? Rasanya seperti mimpi, berada di hidupnya. Meski, saat ini ia meminta begitu konyolnya cek in hanya dengan alasan mendalami karakter masing-masing, namun tetap saja hatiku pada akhirnya menyetujui. Ya, menyetujui dan meyakini, bahwa ia akan menjagaku. Bahwa ia bukan lelaki bedebah yang seenaknya merampas kehidupan dan virgin hanya karena keegoisannya. Entah karena cinta ini yang mulai membutakan, atau aku yang yang kelewat dan terlanjur tolol, hingga bisa sampai berada di sini dan menyanggupi permintaannya. Berdua dalam satu ruangan, rasanya benar-benar bodoh dan murahan kedengarannya. Aku mulai tidak sehat dan gila. Benar-benar murahan! Tetapi, pun, pada akhirnya, kuakui, ada rasa bahagia yang terbersit di sana, rasa yang tak mampu kuungkapkan dan menjadi kebahagiaan tersendiri. Meski, untuk kali pertama, aku melakukan seperti ini, berada seruangan dengan lelaki yang bukan suami dan hanya berdua. Terlebih, cek ini di hotel.
Bukankah itu terdengar tolol dan murahan? Ugh! Entah ada apa denganku!
“Baby?” suara lembut itu terdengar di inderaku dan berhasil membuatku mengangkat wajah , lalu menoleh.
Aku memang duduk tepat di tepi tempat tidur, sedang Navroy duduk bersandar dan sedikit berjarak denganku —sambil memandang dengan teduh di sana, tepat di bagian kepala tempat tidur—yang bersebelahan dengan lemari kayu silver.
“Ada apa, Babe? Kamu baik-baik saja? Kita bisa pulang jika kamu—“
“Tidak apa-apa. Aku baik-baik saja!”
“Sungguh? Babe, kamu tahu betul, kita bisa pergi jika kamu tak nyaman di sini,” lirihnya yang masih memandangku teduh.
Aku menuduk, tersenyum, lalu meliriknya.
*Entah hatiku menertawakan ketololan diriku, atau Kebahagiaan ini.
Tidak nyaman? Ya tentu saja, aku memang tidak nyaman dengan tempatnya, tapi bersamamu, bukan hanya sekadar nyaman, Navroy, tapi lebih dari bahagia. Bahagia telah memiliki orang yang kucinta*.
“Tidak apa-apa, sungguh,” lirihku menggeleng.
Navroy menghela napas. Kemudian, detik berikutnya, tersenyum. Tangannya kini menepuk-nepuk kasur empuk itu tepat di sebelahnya, bermaksud memintaku duduk di dekatnya. Senyum simpulku menguap. Rasanya pipiku memanas. Aku lalu bangkit setelah melepaskan sepatu, menghampiri dan berdiri di dekatnya, di hadapan lemari.
Setelah melepas jaket dan menggantungnya di lemari tak berpintu itu, aku lalu duduk di sebelahnya. Tersentak dan meliriknya, saat tangan lelaki ini seketika menyusup ke telapak tanganku, di antara sela-sela jemari, kemudian menggenggamnya dengan erat. Senyum manis khas nan lebarnya merekah ketika tatapan mata ini berhasil ditemukannya. Ia mengelus sejenak tangan yang digenggam ini, kemudian mengecupnya lembut. Terkejut. Bukan karena apapun, tapi sikap manisnya itu membuatku meleleh. Aku bahkan tak menduga, sikapnya padaku bisa semanis ini.
Mimpikah ini? Benarkah dia Navroy? Sikap dingin yang selalu ia tampakkan padaku, kini berbanding terbalik saat ini. Seperti tak nyata. Bahkan, ia begitu dekat padaku hingga kulit tubuh kami saling bersentuhan. Hangat dan lembut.
“Maafkan aku,” lirihnya yang nyaris berbisik dan membuat kepalaku terangkat dan menoleh. Ia kini telah bersandar dengan manja di bahuku, masih duduk bersama. Matanya kini melirik sambil menengadah.
“Untuk ini. Maaf telah meminta dan membawamu kemari, Baby,” tukasnya setelah melihat raut wajah penuh tanyaku. Sorotan matanya benar-benar seperti bersalah dalam tatapan teduh di sana.
Senyumku menguap, lalu mengangguk sembari mengelus rambut halus spike-nya.
“Terima kasih juga, telah memberiku kepercayaan untuk bisa bersamamu,” sahutku tersenyum.
Dia menggangguk, lalu mencondongkan kepalanya. Bibir merah itu kini mengecup di pipiku dan seketika menciptakan warna merona di sana.
Navroy tersenyum melihat responku dan kemudian kembali bersandar di bahu dengan tangan masih saling menggenggam erat. Aroma parfum khas maskulinnya kini menyeruak di hidungku, aroma tubuh yang kini jadi favorit. Tangannya kini terangkat dan mengacung di hadapan kami.
“Aku janji, akan menjagamu, bahkan merusak atau menyakitimu pun, takkan kulakukan,” sahutnya yang masih mengacungkan jari kelingkingnya saat memandang wajahku, setelah terbangun dari sandarannya.
Cukup lama aku menatapnya, menatap dan meyakinkan diriku. Tetapi benar, raut wajahnya begitu serius dan bersungguh-sungguh. kelingkingku kini mengacung, mengaitkan ke kelingkingnya, lalu ia memandu mengaitkan jari telunjuk kami dan menyatukan ibu jari. Senyum lebarnya kini nampak dan menular padaku, mengecup kening ini seketika lalu menarikku dalam pelukannya.
“Dostit daraam,” lirihnya yang kini semakin memelukku erat.
“Dostit daraam?” tanyaku saat menengadah memandangnya.
Lagi, senyuman itu merekah dan tak hentinya membuatku terpesona. “Itu bahasa Favoritku, Afghanistan,”
“Dan artinya?”
Pelukannya terlepas, menatapku sejenak yang masih menatapnya penuh tanya. Kekasihku ini kini menggenggam wajahku, mengusapnya sesekali, namun dalam senyuman manisnya. Iris mata kelabu yang di tempa cokelat keemasan itu bahkan nyaris melelehkan, begitu dekat memandangnya.
“Aku cinta kamu.”
“Apa?”
Navroy terkekeh. “Itu artinya, Baby!” serunya lalu tersenyum, kemudian kembali menarikku dalam pelukan hangatnya. Memeluk begitu erat tubuh sexy dan atletis ini.
Aku mencintaimu juga, Mr. Pakistan!
“Sekarang, tidurlah! Kamu pasti kelelahan karena baru pulang kerja. Kita masih punya waktu tiga jam di sini. Aku janji tak mengganggumu,” gumamnya setelah melepas pelukan.
Ia lalu menyetel Tv dan mencari channel kesukaannya. Sedang ia sibuk menonton, kubaringkan tubuhku di kasur empuk ini. rasanya benar-benar menyenangkan. Baru berselang beberapa menit, dia kembali menggangguku—duduk di dekatku sembari menggenggam tangan ini dengan erat.
__ADS_1
“Baby, bisa aku ikut baring di dekatmu?” senyumku menguap, lalu menggangguk. Dia kemudian ikut menyusup di dalam selimut, lalu baring di sampingku.
"Well, sesuai yang kukatakan tujuannya kemari, mari kita mengenal satu sama lain!” sahutnya saat kami baring bersama dan kini kembali menggenggam erat tanganku.
“Baiklah! Apa yang ingin kamu ketahui?” tanyaku menatapnya, setelah memperbaiki posisi agar bisa memandangnya lepas.
“Jadi, kamu bekerja di dekat karebosi?” pertanyaan lelaki itu di mulai.
Aku mengangguk. "Ya, di sebuah hotel sebagai Accounting, tapi juga di hospital, i'm Asistant doctor. "
"Hospital? Wow!" senyum Navroy melebar. "Aku juga bekerja, Babe," akuinya memberitahu.
"Oh, really?"
Anggukan anstusiasnya membuatku semakin penasaran. "Di mana?"
"Di Karebosi." Matanya melebur, teduh.
"Karebosi?" alisku mengernyit.
"Ya!" angguk Navroy mengakui. "Kerja pull-up!" serunya sambil menirukan gaya ketika mengangkat beban dengan mengangkat satu lengan kekarnya dan menggoyangkan naik-turun berulang kali.
"Oh, astaga, itu workout, Babe! " timpalku menebak dan mengerti gurauannya. "
Tawa kami seketika berderai. Lalu, mengkeret tubuhku semakin dalam memeluk.
Bersamanya saat ini, rasanya bener-benar menyenangkan. Meski, moment ini sebenarnya salah, namun tetap saja ego mengalahkan segalanya. Aku belum sepenuhnya mengerti, gaya hidup yang dijalaninya saat ini, dengan 'status' itu. Sedikit-banyak, ia perlahan-lahan bercerita tentang kehidupannya sebagai imigran itu. Tetapi, satu hal yang kumengerti adalah, ia hanya sementara di sini dan suatu hari akan pergi dari Indonesia, ke negara lain. Aku tak ingin memikirkan sesuatu ke depannya yang tentu saja menyakitkan. Tidak! Yang kuinginkan saat ini hanya menikmati kebersamaannya. Hanya itu! Bagiku, bersamanya saat ini sudah cukup untukku.
Jemari telunjukku kini menyusuri dalam usapan lembut di tangan kekarnya, hingga sampai batas kelipatan siku. Berhenti di sana sejenak, lalu berbalik arah kembali mengelus hingga sampai ke pergelangan tangan dan menangkup tanganku, kemudian menggenggam erat. Kami terdiam dalam keheningan. Sekilas melirik mata indahnya itu, hanya tatapan hangat yang kudapatkan di tengah-tengah raut wajah berseri nan menawan. Mataku saat ini tak tinggal diam, hanya sibuk menatap setiap inci demi inci lelaki bak porselen yang begitu sempurna dan indah. Aku bahkan masih seperti berada dalam tidurku—dunia dongeng yang begitu indah. Hingga, mataku berhenti pada sebuah benda yang berada tepat di tengah dada bidang itu ketika mengitari tatapan leher jenjang kokohnya. Benda berwarna putih dengan bentuk pipih memanjang menyerupai....
"It's tooth," selanya memberitahu yang membuatku mendongak ke arahnya, memandang penuh tanya.
"Tooth?"
Dia mengangguk. "Yeah, gigi, kamu tahu, kan?" aku mengangguk.
"Aku tidak tahu pasti ini gigi apa, tapi aku mendapatkannya saat ke pulau dulu. Orang-orang bilang, akan menjagamu dari sihir mana pun dan tak mengganggu. Tapi, kurasa mereka keliru,"
Alisku mengernyit menatapnya. "Kenapa?"
"Karena, terlepas dari semuanya, itu terjadi sampai sekarang ini!" timpalnya mengerling.
"Terjadi sampai sekarang?" tanyaku masih bingung.
Kini, senyum menggodanya tampak. "Ya, Kamu!"
Tawaku tergelak, Lalu diikuti dirinya. Rupanya bergurau.
Oh, astaga!
Navroy lalu memelukku erat sambil menatapku begitu dalam hingga tatapan kami bertemu. Entah siapa yang memulai, tapi bibir tipis dan lembutnya itu saat ini berada di sana. Mengulum dengan perlahan, mengisap dengan lembut, kemudian mengecup dengan hati-hati hingga kurasakan menyentuh di hati, begitu romantisnya. Jantungku mulai berdegub cepat, dengan napas yang seolah berirama, seakan begitu menikmati dalam setiap ciuman manis itu. Lagi-lagi ia menggigiti bibir penuhku ini yang telah dipolesi lipstick, lalu kembali mengulum dan mencium dengan lembut dan perlahan. Suara jantungnya bahkan terdengar olehku, dalam dekapan hangat yang mulai semakin erat.
"Tubuhmu mulai panas, apa kamu demam?" tanyaku polos yang hanya di balas dengan senyuman nakalnya yang lebar. Ia menggeleng kecil. "Kamu yang membuatnya, Babe,"
"Aku?"
"Ya, Honey," desahnya yang nyaris berbisik lalu membiarkanku tenggelam dalam senyuman mautnya.
Dia kemudian mulai menggigiti hidungku. Kepalanya mendongak mengecup kening ini, lalu kembali mencium lembut bibirku sembari jemarinya menyusup ke sela-sela rambut, dan berpindah beberapa saat menggengam tanganku. Ciumannya masih di sana, tanpa jeda, mengulum dengan erotis, sesekali menggigit lalu kembali mengecup perlahan berulang kali.
Detik kemudian, entah bagaimana, seketika tubuhku dibalikkan hingga tubuhnya telah berada di atasku, menindih dengan bibir hangat itu masih di sana sibuk mengulum dan menikmati bibir ini. Sesekali lidah kami saling berpagut di sana, mengisap, lalu mengulum bibir. Matanya seketika terbuka dengan tangan yang entah sejak kapan telah berada di sana—pada salah satu kancing bajuku—tepat berada di dada. Dia seperti tersentak kemudian meremas erat bajuku—seolah menghentikan aktivitasnya—lalu melempar tatapan penyesalan ke arahku. Wajahnya kini ambruk di leherku. Bisa kurasakan, napas memburunya masih terasa di sana dengan suhu tubuh yang begitu hangat.
"Maafkan aku," desahnya penuh penyesalan yang masih menenggelamkan wajahnya di leherku. Tubuhnya masih menindih.
Senyum simpulku mengembang dan mengusap kepalanya. "Tidak, aku yang terima kasih. Thanks your control," bisikku.
And your promise, Sayang.
Kepalanya sesaat terangkat dan mundur agar bisa memandangku, lalu mengecup pipi ini, kemudian menjatuhkan tubuh atletisnya di sebelahku dan kembali menarikku dalam pelukannya yang begitu erat.
"Tidurlah! Aku di sini bersamamu." Lirih Navroy yang nyaris berbisik. Ia mendekatkan kecupannya di keningku dan di bibir ini, kemudian kembali memelukku erat dan mengusap kepalaku yang telah membuatku mulai memejamkan mata dalam senyuman sesat.
__ADS_1
Kepalaku kini bersandar di dadanya—menjadikan suara detak jantungnya itu sebagai alunan musik 'nina bobo', untukku. Sedangkan dia, menyandarkan kepalanya tepat di ubunku, yang sesekali mengecup, sebelum kami larut dalam tidur.
* * *