
Kakiku melangkah dengan berat, meninggalkan gedung besar ini, dalam pandangan lurus ke depan, tanpa mengerjap sembari mata yang masih dipenuhi airmata yang mengambang di pelupuk mata. Rasanya hati ini menjerit dan menangis. Luka yang telah lama basah, kini menguar hingga berefek begitu sakit dan perih dengan ngilu, bahkan melebihi dari rasa sakit kemarin yang menyiksa.
Dan dengan segala kesedihan dan kepasrahan di hati ini, dengan segala airmata yang terus tumpah di wajah ini tanpa henti bersama kulepaskan penantian ini, penantian yang begitu mencintainya, penantian yang tak lagi berjuang. Namun menyerah, demi cintaku padanya, demi bahagianya. Dan untuk kali terakhir, aku bertemu dengannya.
“Kamu tahu, terkadang aku ingin membuat sesuatu yang berharga untuk orang yang kucinta, demi bahagianya. Sehancu-hancurnya duniaku, lebih hancur lagi ketika harus melihatmu bersedih dan terluka, dan kurasa itu sudah cukup,”
Aku menatapnya berbinar. “Dan sekelam apa pun hidupku, akan lebih kelam tanpamu,”
Navroy menatapku sejenak. “Jika hujan saja bisa mengindahkan pelangi saat jatuh berkali-kali, lalu mengapa aku tak bisa mengindahkan hidupmu dengan aku mencintaimu? Terkadang, kamu perlu menyeret dirimu ke dalam zona yang paling menyakitkan, agar kamu temui kesudahan itu,”
Aku kini menggenggam wajahnya. “Kamu tahu, sejahat apa pun kamu menyakitiku, bahkan terakui oleh airmata sekali pun, hati ini masih memandangmu terbaik,”
Navroy menghela napas berat, menatapku sejenak, “Kamu tidak akan pernah mengerti apa yang kamu jalani saat ini, Babe,” gumamnya lalu memunggungiku. “Aku tidak ingin menjadi hati dan hidupmu, karena perlahan waktu akan merenggut semuanya. Aku hanya ingin menjadi jiwamu, agar di waktu dan jaman mana pun, kamu tetap ada, cinta itu tetap mengenalku. Pergilah! Dan cobalah untuk melupakanku! Kita ... Broke up,” lanjutnya lirihnya setelah menghela napas berat sejenak di akhir kalimat.
Dan detik itu juga membuat airmata ini mengalir deras tanpa henti. Kalimat terakhirnya itu menjelaskan semuanya.
__ADS_1
Dan, pada akhirnya, luka itu akan tetap sama, tetap menjadi luka yang begitu miris dan menyakitkan!
Lagi, semua kalimat—yang baru beberapa menit terekam di indera dan otakku—itu terputar jelas dipikiran bahkan dalam sekejap mampu mendarah-daging di sana, seolah tertawa mengejek, sepanjang jalan ini, bersama luka yang semakin sesak menguar dan tenggorokan yang begitu terasa sakit dan tercekat.
Terkadang, kau harus menyakiti diri sendiri, untuk mendapatkan yang lebih baik, entah itu untuk dirimu atau orang yang kau cinta.
Cinta memang konyol, namun nyata. Seperti halnya hati, rasa sakitnya begitu nyata. Terkadang ia dijangkau oleh pikiran dan logika, namun anehnya, begitu dirasakan oleh naluri dan hati.
Dan kau tahu, Navroy, hingga saat ini, aku masih begitu mencintaimu, bahkan lebih.
Terima kasih untuk segalanya, Babe, Terima kasih, Lelaki Pakistan-ku.
EPILOG
Gadis itu masih di sana, menunggu dengan sabar. Sesekali mengedarkan pandangan, menyapu seluruh kawasan pantai, berharap ia menemukan lelaki yang telah sedari tadi mengendap sesak di dada dan pikirannya—sejak pertemuan tak sengajanya dengan lelaki yang begitu dirindukannya itu—sesungguhnya. Tatapan kini menunduk dalam mata terpejam, tatkala air bening tak kuasa mengambang lama di pelupuk mata. Meyiratkan bahwa, betapa ia berusaha keras untuk melawan perasaannya, hanya demi kebaikan gadis itu. Demi masa depannya kelak.
__ADS_1
Ini bukan kali pertama lelaki itu diam-diam mengintai gadis itu agar hanya menyakinkan dan menenangkan dirinya, jika gadis itu baik-baik saja. Bahkan, sebelum mereka pacaran pun, ketika Keysa salah paham karena menunggu dirinya di Mall dalam keadaan sakit saat itu, hingga dirinya diam-diam mengikuti taksi yang di tumpangi gadis itu sampai di depan rumahnya.
Pulanglah, Keysa, kumohon? Bisik Navroy itu dalam hati.
Tangannya terkepal erat, menahan gejolak yang telah lama membuncah dan berkecamuk dalam benaknya. Diam-diam dia membenci dirinya sendiri. Sakit! Ia juga sakit melihat orang yang dicintainya itu harus menghadapi dan mengalami seperti itu. Dia benci harus melakukan itu. Melihat wajah tanpa dosanya yang tak tahu apa-apa dengan semua ini, melihat tatapan sendunya yang sedikit pun tak ada kebencian untukku dalam dirinya, rasanya ... terlalu jahat. Ya, terlalu jahat dirinya pada gadis itu. Kepalannya mengerat hingga buku-buku jari nampak begitu memutih di sana. Tetapi, cepat atau lambat, yang akan lebih sakit adalah gadis malang itu. Dia memang menyadari, ketulusan dalam cinta Keysa, memang tak pantas diberikan untuk lelaki seperti dia.
Setahun belakangan ini, memang tak mudah di jalaninya. Rindu yang harus ia redam setiap harinya—kadang-kadang melihat foto gadis itu dalam koleksi miliknya; atau stalker akunnya yang berakhir menatapnya duduk mematung dalam beberapa menit sambil mendekap kaki dengan hampa; pun berpura-pura menjadi pasien dokter lain agar bisa melihat gadis itu yang sedang dinas di rumah sakit tempat gadis itu bekerja; bahkan tak pernah absen dari workout, meski sakit, hanya untuk melihat gadis itu yang mungkin saja sedang jogging dan melintas di depannya. Tak jarang, ia melihat gadis itu menyendiri, terdiam mematung seperti mengenang sesuatu. Pedihnya lagi, airmata itu bahkan ditemukan di wajah sayunya dengan mengalir perih. Melihatnya seperti itu saja, bagai tombak menghujam jantung yang dirasakan lelaki itu, apalagi harus menyaksikan gadis itu menderita selama beberapa minggu ini, itu sama saja membunuhnya perlahan-lahan. Membuat harinya tak tenang.
Setiap seperdua malam, dia nekat memanjat rumah berlantai dua itu, memanfaatkan keahlian pull up-nya. Bergelantungan dari balkon ke balkon, lalu mencapai jendela gadis itu—hanya untuk mengecek keberadaannya di sana, apa dia baik-baik saja atau tidak. Dan itu memang satu-satunya cara. Setidaknya, menenangkannya sejenak dari rasa cemas, resah dan juga rindu. Meski tak jarang, lelaki itu harus terpukul dengan pedih dan pilu, ketika gadis yang dicintainya itu lagi-lagi terisak dalam tangisan yang tak berkesudahan karena tak kuasa menahan rasa sakit yang menderanya. Ingin sekali rasanya ia menarik dalam pelukannya. Namun, kenyataan yang mencegatnya. Kenyataan yang harus disadari demi kebaikannya dan saat ini, itulah yang terpenting. Dia memang menyadari, cinta gadis itu bahkan melebihi darinya. Itulah mengapa, tekadnya sudah bulat.
Dan di sinilah aku. Di sudut gelap keremangan di sebelah lemari. Hanya bisa memandangmu, dalam duduk mematung penuh diam
Mencintaimu dalam diam, pada zona kekejamanku, mungkin akan lebih baik untukmu. Untuk kau terjaga dari rasa sakit yang akan membelenggumu selamanya kelak. Ketika tiba saatnya diri ini pergi darimu, saat harus menghancurkan kenangan kita dan kutinggalkan di sini—karena nasib sialan ini, untukmu duhai wanita yang begitu kucintai dalam setiap deru napas ini, biarkan aku membahagiakanmu dengan cara melepas “kita”. Karena kutahu, jika memang Tuhan menakdirkan, kelak, jalan kita pasti sama, meski berawal berbeda arah. Waktu akan mempertemukan lagi, percayalah. Bukan dalam kekelaman seperti di tiga waktu yang lalu itu, tetapi dalam sempurnaan sumpah janji pernikahan.
* * *
__ADS_1
**Yeay, akhirnya novel ini selesai. Sekali lagi makasih yang sudah mampir. Yang like, komen bahkan ngasih support+semangatnya. Betewe makasih juga viewersnya udah mencapai 1K—perdana, loh ini😍semoga menjadi vitamin penyemangat lagi untuk terus menulis. Jangan lupa mampir jugs di karya-karya lainku, ya. 😘😘
Salam sayang dari Author😘**