
Tidak membutuhkan waktu lama, aku telah selesai Prepare, lalu kami bergegas pergi, Hang out bersama. Navroy bilang, akan pamit ke tempatnya terlebih dahulu untuk mengambil beberapa barang penting lainnya yang diperlukan.
Dia memandangku menggoda saat dirinya telah duduk di sepeda sport itu. Kami memang berada di teras rumah. "Let's go, Baby!" sahutnya mengisyaratkan naik.
Aku tersenyum menggoda, kemudian ikut naik dan duduk tepat di stirnya, sedang wajah dan tubuhku menghadap dirinya sambil memandang ia yang kini tersenyum lebar merona.
"Ada apa?" polosku.
"Duduknya bukan di situ, Babe, di bawah sini atau berdiri di stand kaki belakang," lirihnya sambil menepuk pelan besi di depannya.
"Kalau aku gak mau? Kenapa? Aku hanya mau lihat wajah tampan Mr. Pakistan-ku! Sayangnya aku!"
Kalimatku hanya membuatnya tersenyum lebar. "Dewana!"
Detik berikutnya, tangannya kini menarik wajahku ketika menggenggam lembut pipi ini ini ini tubuhku condong ke depan dan dalam sekejap, bibir tipis itu menyentuh bibirku, menekan perlahan, lalu melumatnya dengan lembut. Sesaat Navroy melepas ciumannya, lalu tersenyum menggoda, kemudian menciumku lagi dan lagi. Selang tak beberapa lama, dia telah melepas dalam senyuman lebarnya seraya mengelus lembut pipiku sesaat.
"Ayo kita pergi!" lirihku yang nyaris berbisik dan kikuk lalu bergegas ke belakangnya. Entah mengapa setiap lelaki itu menciumku selalu selalu membuat diri ini salah tingkah.
Bodoh!
Embusan angin di wajah seketika menerpa saat diri ini berdiri tepat di belakangnya, memunggungiku—sembari menyetir sepeda sport kelabu ini, dengan kakiku bertumpu di atas stand besi berwarna perak ini. Sedari tadi, lelaki ini mengayuh sepedanya dengan santai hingga membuat rambut kami bergoyang di embus angin. Rasa dingin di wajah seketika terasa, seolah menembus ke dalam pori kulit. Cukup sejenak tersenyum, menikmati moment dan pemandangan kota ini yang rupanya pagi ini tak macet oleh padatnya kendaraan. Kedua tanganku masih berpegangan pada bahu kokoh nun tegap itu sembari tetap menikmati pemandangan sekeliling. Rasanya indah dan ada kesenangan tersendiri saat bersepeda di pusat jalan kota ini, terlebih bersamanya.
Terkadang ia tertawa dengan leluconnya, sesekali menelengkan wajah lalu memperlihatkan senyum manis dan mempesona itu. Sepanjang jalan, kami menjadi pusat perhatian setiap orang-orang yang dilalui, tetapi lelaki di hadapanku ini, bahkan tak peduli sama sekali.
Hanya membutuhkan sepuluh menit, kami telah sampai di hotelnya.
Tapi, entahlah, mengapa berhenti di sini?
Bangunan yang cukup besar dengan cat hitam-kelabu, kini tampak tak jauh dariku. Tepat di beranda lobby pintu utama yang tak jauh dari pos security, ada dua orang keamanan tengah berjaga di sana. Navroy melirikku, setelah memandang kedua lelaki di sana. Sedikit kecemasan, tampak dari raut wajahnya. Kami memang berdiri tepat di balik dinding gerbang pintu masuk halaman.
Setelah menghela napas berat, melirikku kembali. Lalu, "Babe, maaf sebelumnya. Tapi sepertinya, kamu hanya boleh menunggu di sini saja," alisku mengernyit. "Please, jangan negative thinking. Sungguh, tidak ada maksud lain. Hanya saja keamanan di sini sangat ketat untuk tidak memasukkan selain imigran kemari. Jadi, aku harap, kamu mengerti, ya?" Jelasnya yang membuat anggukan kecil ini tampak bersama senyuman simpul. Meski sejujurnya belum mengerti, namun setidaknya, pertanyaanku bisa kuajukan nanti.
"Are you okay?" cemasnya kali ini menggunakan bahasa Inggris, saat tatapan itu seolah tak yakin.
Anggukanku terlihat lagi, tetapi kali ini bersama senyum lebar.
"Sungguh? Tidak apa-apa jika aku tinggalkan di sini sendiri? Aku janji, Baby, tidak akan lama,"
"Astaga, iya! Kamu tidak perlu khawatir seperti itu, Sayang!" Sahutku menenangkan kekasihku ini.
Entah mengapa, ia berlebihan seperti ini.
Helaan beratnya terdengar. "Baiklah, aku masuk dulu, ya. Kabari aku jika terjadi sesuatu denganmu,"
Dan kalimatnya itu berhasil membuatku tersenyum lebar. "Tidak akan ada yang mencuriku, Baby! Sekarang masuklah!"
Dia tersenyum, lalu menghela napas seketika. "Baiklah, tetaplah di sini, okay? Be careful," pesannya yang nyaris berbisik dan membuatku mengangguk mantap.
Setidaknya, untuk menenangkannya yang entah mengapa jadi cemas berlebihan seperti itu.
Dia mengelus kepalaku sejenak, lalu berlalu masuk ke dalam, meninggalkanku di sini bersama sepedanya yang telah terparkir di sebelahku.
Sesaat, ia mengobrol dengan kedua keamanan itu, kemudian masuk ke dalam hotel tanpa sedikit pun menoleh ke arah tempatku berdiri dan menunggu. Seperti tengah bersembunyi saja dari sesuatu yang berbahaya. Aku tak tahu ada apa sebenarnya, tetapi yang pasti, selagi itu membuatnya tenang dan baik-baik saja, why not?
Selang tak beberapa lama, ia kembali dengan mengenakan celana pendek jins yang dipadukan dengan kemeja hijau tosca dan sengaja melipat lengan pakaiannya yang memang panjang, hingga ke siku. Sepatu kets hitam itu menutupi kaki putihnya, sedang rambut perunggu yang di cat orange-kekuningan di setiap sela rambut di depannya—dalam potongan model spike, kini di gel dan di bentuk hingga tampak seperti lelaki maskulin yang perfeksionis.
Sungguh, hari ini ia benar-benar sangat tampan. Bahkan, lebih dari pesonanya yang seperti biasa terlihat. Karismanya benar-benar membuatku meleleh. Selalu saja memiliki cara untuk membuat dirinya tampak menakjubkan.
Benar-benar keterlaluan!
"Apa?"
Aku tersenyum geli saat menyadari melakukannya lagi. Ya, tanpa sadar mengucapkan kalimat dipikiranku. Mulut kini kukatupkan dengan begitu rapat dan mengabaikan pertanyaannya, hingga membuatnya menatap menggoda. Senyum meronaku saat ini melebar yang menular padanya.
__ADS_1
"Bilang apa tadi?"
"Tidak ada!" elakku masih dalam senyuman.
"Apa? Ayo, mengaku! Aku cubit, nih, hidung kamu!" ancamnya menggoda dan tidak menyerah. Ia begitu penasaran.
Senyuman ini semakin melebar, begitu pun dirinya.
"Apa, sih?" elakku masih innocent.
"Satu.... "
"Belajar menghitung, ya, Baby?" selaku berbisik menggoda.
Dia menatapku sejenak dengan sorotan tajam menggoda, namun mengulum senyuman mempesonanya. Lalu, detik berikutnya, "Hahahaha, iya ... iya, oke, aku mengaku," tawaku berderai saat ia mulai menggelitik pinggangku dengan senyum innocent-nya dan menyerah di akhir kalimat.
Yang benar saja, ia melakukannya di pinggir jalan? Bisa dipastikan orang-orang memandang kami. Dasar Mr. Pakistan!
Navroy masih menatapku menunggu, melipat tangan di dada, lalu selang tak beberapa lama melirik jam di pergelangan tangannya.
"Satu jam berlalu.... " gumamnya berseru setelah melirik jamnya, lalu kembali menatapku menggoda.
Alisku mengernyit, mendesah menyerah, lalu berdehem. "Well, aku tadi mengatakan, kamu benar-benar memanfaatkan ketampananmu itu, ya?"
Dia terkekeh. "Jadi, itu yang selalu ada di pikiranmu saat aku berhasil membuatmu terpesona?"
Alisku kembali mengernyit. O-oh, dia tahu yang kumaksud?
Navroy menghela napas, menatapku sejenak, lalu, "I'm yours, Baby," bisiknya menggenggam tangan ini. Dan kalimatnya membuatku seketika tersipu. Dia berhasil membuat hati ini bersorak bahagia.
"Ayo, kita nanti terlambat!" ajaknya lalu menarikku pergi menghampiri sepedanya.
"Kita naik sepeda lagi?"
"Boleh aku meminta sesuatu?" tanyaku yang membuat alisnya berkerut.
"Apa saja,"
"Umm ... apa kita bisa naik busway saja?"
Navroy terdiam sesaat, seperti memikirkan sesuatu sembari bersedekap dan menatap sepedanya, lalu melirikku sekilas, kemudian anggukan kepalanya membuat senyum ini menguap, saat senyuman lebar itu menular padaku.
"Terima kasih!"
Dia mengangguk dalam senyuman dan mengusap lembut kepalaku.
"Tapi, kamu yakin? Maksudku, kupikir wanita tidak suka panas. Jadi, akan lebih baik jika kita naik taksi saja?"
Senyumku merekah. "Sebuah kenyamanan bukan diukur dari kendaraan, Babe. Namun, kebersamaan orang yang dicintai dan juga bagaimana kita bisa peduli dan memperhatikan orang-orang di sekeliling kita. Tidak hanya hang out saja, tapi belajar dari lingkungan sekitar, itu juga semakin lebih baik."
Dia menatapku dengan senyuman lebarnya. "Mungkin ini alasannya, mengapa aku menilaimu berbeda dengan gadis lain," gumamnya yang hanya membuatku terhenyak.
Mata itu, tatapan itu? Ah, Tuhan, lagi-lagi dia membuatku terpesona!
Navroy menyentakkanku kala tetiba menarikku pergi dari tempat itu. Rupanya ia telah mengamankan sepedanya ke dalam hotelnya.
Matahari mulai menghangat dan lelaki itu masih berada di sebelahku, berusaha mengimbangi langkahku yang begitu lamban. Senyum manis menyentuh mata tampak seketika, saat sesekali kulirik dirinya yang mulai berpeluh dengan udara yang cukup menggerahkan.
"Kamu yakin ingin memenuhi permintaanku?" pandanganku tak tega padanya.
Dia menyengir, lalu mengangguk tersenyum. Genggaman tangannya kini semakin erat. "Really, it's okay, Baby, don't worry,"
Aku menghela napas menyerah, mengikuti keinginannya. Aroma parfum yang berasal dari tubuhnya itu benar-benar kuat menghipnotis, terlebih senyuman dan tatapan itu. Orang-orang yang dilalui menatap kami dengan aneh, entah apa yang mereka pikirkan. Kami memang berjalan sekitar delapanpuluh meter, agar bisa sampai di Halte Busway dan menggunakan kendaraan itu.
__ADS_1
"Kita mau ke mana?" tanyaku setelah sejenak saling terdiam.
"Kamu mau ke mana? Kuliner?" tawarnya di akhir kata sembari menatapku dengan sedikit menyipitkan mata, karena cahaya matahari yang menyilaukan.
"Kupikir kamu sudah tahu tujuannya. Bagaimana kalau nanti sore saja kulinernya?"
Navroy mengangguk. "Tujuannya memang sudah ada, Baby, tapi itu rencana spesialnya. Aku hanya ingin tahu, kamu menginginkan ke mana,"
Diam-diam aku tersenyum. Rencana spesial? Dia mau memberi kejutan? Cukup dibuat takjub, dia masih memikirkan keinginanku.
Genggamannya masih erat di tangan sembari melangkah di sampingku.
"Ke Mall atau nonton film?"
Aku menggeleng. Kecemburuannya beberapa waktu lalu itu seketika melintas dipikiranku. Aku tidak ingin membuat hari dan mood-nya jelek saat ini. Ini hari kita, jadi sebisa mungkin membuatnya tersenyum.
"Kenapa?" alisnya mengernyit.
"Aku tidak suka Mall, Baby." Tukasku ringan setelah menaikkan bahu.
Itu memang salah satu alasanku juga. Rasanya membosankan melihat sederet butik-butik yang membuatku muak.
"Kupikir, itu tempat 'favorit kalian'," gumamnya yang membuatku menoleh dengan kata terakhirnya itu.
"Favorit? Kalian?"
Anggukannya begitu antusias. "Bukankah memang senang hang out di sana? Kalian para gadis dan wanita, kan, senang 'menghabisi' pasangan kalian di sana,"
Istilahnya itu membuatku tertawa geli.
Kesannya terdengar seperti menyiksa.
Memangnya separah itu, ya, wanita?
"Tidak! Semua orang berbeda persepsi, Baby. Ada yang memang benar matrealistis, ada juga yang menganggap sebuah kewajiban karena kebutuhan, dan ada juga yang tidak seperti itu namun tetap enjoy. Tapi, tentu saja mereka punya alasannya masing-masing. Wanita, cinta, dan hubungan itu memang sepaket, namun bukan berarti menghancurkan. Hanya saja, jika kalian memahami, pasti akan mengerti. Mereka memiliki sudut pandang masing-masing dan berbeda. Jadi, tinggal diri sendiri bagaimana menjalaninya."
Dia tersenyum saat sejenak aku meliriknya, lalu menghela napas. "Tapi, terlepas dari semua itu, bukankah pasangan dan hubungan juga seperti partner? Akan melakukan diskusi dan sharing satu sama lain agar saling memahami keinginan masing-masing. Dan, bukankah cinta juga dasar ketulusan? Jadi, mengapa harus takut menyampaikan persepsi? Dia akan mengerti dan menerima, jika cinta itu ada di hatinya," lanjutku yang membuatnya melirikku dalam senyuman.
Kecupan hangat di punggung tanganku membuat mata ini melebar yang hanya di balas dengan senyuman lebar.
"Ini depan umum, Babe!" bisikku yang hanya membuatnya nyengir, lalu mengerling dengan innocent sambil masih tersenyum lebar.
"Lalu mengapa? Kritikan merupakan Kecemburuan yang tak dapat dijangkau alias iri!" tukasnya menimpali.
"Astaga!"
Dia terkekeh yang membuatku tersenyum seraya menggeleng prihatin berulang kali.
"Jadi, kita mau ke mana?" alihku.
Kami telah berada di Halte. Begitu sampai, ia seketika menarikku duduk di bangku besi ini.
"Nanti kamu akan lihat." Sahutnya dengan nada aneh.
"Jadi tetap di rencana 'spesial'-mu itu?"
Dia mengangguk dan tersenyum seolah menyembunyikan sesuatu. Alisku berkerut.
Entah apa yang direncanakannya.
Aku mendesah dan memilih diam. Tangannya masih menggenggam erat tanganku sembari sesekali melirik ke sebelah kiri, memastikan kendaraan itu melintas atau tidak dan masih menunggu.
Halte terbuka ini tak besar. Seperti halte-halte pada umumnya yang berada tepat di tepi pusat jalan kota. Sisi kanan dan kirinya terdapat sebuah tangga masuk, sedang di tengah-tengah di pasang dua bangku panjang yang terbuat dari besi putih.
__ADS_1
* * *