
Entah mengapa, aku ingin ke pantai. Hanya ingin kenangan itu benar-benar bebas membudakkanku malam ini, untuk kali terakhir. Aku hanya ingin, menikmati setiap kejadian tentang dirinya di sana. Bagaimana pertama kali kumenemukannya, pertama kali mengenalnya, pertama kali tanpa sengaja waktu membuat mata kami saling bertemu dan menatap di antara tumpang-tindih ratusan orang di sana berlalu-lalang.
Dadaku mulai terasa sesak, kala tempat itu berada tepat di hadapanku. Terasa ngilu, saat setiap potongan adegan demi adegan terpampang nyata dalam pikiranku hingga menciptakan delusi dalam pandangan ini.
Terasa sakit, sangat perih saat semuanya bercampur dengan kehancuran itu. Aku baru merasakan airmata ini mengalir deras, saat wajahku sedari tadi dingin di terpa angin pantai ini.
Tawa itu menggema, tawa khas dari seorang Navroy terdengar jelas di inderaku. Begitu dekat, sangat dekat, dan saat pandanganku ke arah timur, dia di sana! Tertawa begitu riangnya pada gadis ramping dengan pakaian minim dan rambut blonde. Tertawa seakan tanpa beban dan kesedihan sedikit pun. Lepas sekali! Sesekali tubuhnya terjatuh di bahu gadis itu, lalu melangkah lagi sembari tertawa. Ya, tepat beberapa meter tak jauh dariku, mata eksotik yang setiap saat melumpuhkanku itu berhasil terpaku dalam beku. Ia berhasil menyadari kehadiranku, melihat wanita yang begitu rapuh dan tak berdaya tengah menatapnya dari kejauhan sini, dalam mata kelam yang lagi-lagi di banjiri airmata.
*Mengapa rasanya begitu sesak saat melihatnya bersama gadis lain?
Mengapa semudah itu, Navroy*?
Saat itulah kakiku berlari secepat mungkin, mengutuk diriku yang hadir di sana. Berlari kuat untuk menepis kenyataan itu seperti seorang pengecut.
Apa ini jawabannya atas desakan hatiku mengunjungi pantai ini?
__ADS_1
Dan apa sekarang kau puas, heh? Dasar bodoh! rutukku mengutuk diri sendiri.
Aku tak peduli, aku berlari sejauh mana pun. Tak peduli orang-orang menatapku aneh. Dan pun tak peduli airmata ini terus mengalir. Yang kutahu adalah, aku ingin mengenyahkan bayang-bayang yang mulai menyesaki pikiranku, bayang tentang dirinya bersama gadis itu. Tepat di jalan sepi dengan hanya penerangan lampu jalan, tubuhku ambruk dan berlutut di sana, ketika secara bersamaan suara tembakan terdengar yang membuat detik berikutnya seketika terasa ngilu dan panas di bahu. Suara tembakan itu terdengar lagi hingga membuat tubuhku tersentak ke depan bersama ambruknya di jalan aspal ini dalam detik berikutnya hingga pipiku menyatu dengan aspal hangat yang terasa kasar. Sejenak, suara cekikikan itu menggema.
"Haha dan aku puas pacarmu terkena, Navroy! Good job, Honey!" Teriak suara lelaki—entah dari arah mana—yang seakan menggema dalam telinga ini, di sela-sela dengingan indera ini.
Disinilah aku, dengan sejuta kenangan yang kumiliki tentangmu, bersama kenangan-kenangan ini yang begitu miris menohok hari-hariku. Terjebak dengan waktu dan mimpi yang bersamaan dan tak berkesudahan, waktu dimana sangat kupercaya saat ini dan meyakini tidak akan berkhianat.
Mereka bilang, suatu saat waktu akan membunuhmu kerana cinta dan harapan konyol itu. Benar! Saat aku meyakini dan percaya pada waktu, saat itulah tanpa kusadari telah membunuhku. Membunuh hatiku yang naif hingga tak berdaya bangkit dari apa yang telah di laluinya, meski telah dikhianati, meski telah di lukai.
Disinilah aku, dengan cinta yang begitu menyakitkan dan entah salahku dimana. Namun, toh, pada akhirnya, hati ini tetap bersikeras untuk mencintainya dan tidak bisa membencinya.
Untukmu cinta, yang seperti ibarat bunga mawarku, indah namun menyakitkan kerana durinya,
Hari ini, akan kuberitakan padamu tentang satu hal. Akan kuberitahukan dirimu tentang yang hingga saat ini aku pun tak mampu mengatakannya di hadapanmu.
__ADS_1
Aku adalah wanita sederhana yang tak bisa indah di matamu sampai kapan pun. Tapi ketahuilah, ragaku memang sakit dan rapuh ketika kau membuktikan bahwa mimpi buruk itu ternyata ada. Pikiran dan mataku bahkan tumpul dan tanpa daya kerana tak bisa mencegah untuk tidak merindukan dan memandangmu diam-diam. Tapi hatiku, Hatiku ini hanyalah segumpal daging yang dibalut dengan cinta dan kasih yang di ciptakan oleh Tuhanku. Hati yang begitu naif dan dikendalikan oleh Tuhan, yang bahkan di pondasikan dengan kejujuran. Ya! Aku tak berdaya dan sungguh tak bisa mengendalikannya untuk menghapus kenangan-kenangan yang masih bersikukuh menemani hari-hariku. Bahkan, untuk melupakan bahwa aku pernah mencintaimu hingga saat ini.
Maafkan aku yang tanpa daya dan tak bisa berbuat seperti harapan dan keinginanmu.
Melalui surat Danau Gersang Hati ini, menyadarkanku, bahwa cinta yang kuyakini dan waktu kupercaya pun, bisa saja menjebak dan menjadikan mimpi buruk belaka. Bahkan di saat orang mengatakan bodoh pun, hati tetap dengan kelapangan dan senyuman mirisnya mengatakan bahwa itu, tidak apa-apa. Dan disinilah aku, dengan cinta yang mirisnya masih berakar kuat di hati bersama kenangan ini.
Aku tak pernah tahu, mengapa waktu salah mempertemukan kita. Aku tak tahu, harus bagaimana lagi menyikapinya. Aku pun tak tahu, entah mengapa hati ini tetap bersikukuh masih mencintaimu, untuk tetap tinggal dan menikmati itu. Meski, luka ini masih menjerit dan menohok tiada hentinya. Bahkan, detik ini kau hempaskan luka itu di hidupku, terlebih pada kenangan kita. Toh, biar bagaimana pun, rasa ini tetap sama dan akan terus sama.
Seandainya pun, jika memang harus dibayar dengan nyawa dan kehidupan ini, mirisnya hati kecilku berteriak keras untuk menyetujuinya dan menikmati detik-detik itu dalam senyuman konyol hingga bahkan membawaku dalam kematian sekali pun.
Pandangan kini mulai buram, bersamaan dengan kenangan-kenangan miris yang masih terasa pahit dengan efek perih itu menari-nari di mataku dan menampakkan seberkas cahaya dalam penglihatan ini. Hingga kali ketiga, suara memekakan telinga itu terdengar, rasa perih dan terbakar yang menembus kulit dan bahuku saat ini hanya sekilas terasa.
Dan di sudut ruang gelap, kutemukan diriku, bahwa benar, aku masih sangat mencintainya!
Samar-samar sirine ambulance dan polisi masih terdengar olehku, lalu diikuti suara tumpang-tindih orang-orang. Sebelum mata ini benar-benar memaksaku terpejam, sekilas melihat di seberang jalan sana, di kegelapan malam, sosok Linka tengah berdiri menatap ke arahku. Yeah, kilauan yang di tempa cahaya yang berasal dari gelangnya itu yang meyakinkanku.
__ADS_1
* * * *