Terjebak Cinta Sang Imigran

Terjebak Cinta Sang Imigran
Tamu Tampan Di Pagi Hari


__ADS_3

WARNING 17+


MENGANDUNG TEMA DAN MUATAN DEWASA. BAGI PEMBACA YANG BELUM CUKUP UMUR DAN TIDAK NYAMAN DENGAN KONTEN TERSEBUT, DIANJURKAN UNTUK TIDAK MEMBACANYA.


DIHARAPKAN KEBIJAKSANAAN PEMBACA DALAM MENIKMATI LAYANAN NOVELTOON.


SELAMAT MEMBACA!


Pagi-pagi tepat pukul delapan, Navroy telah berdiri di depan pintu. Raut wajahnya telah basah oleh keringat, begitu pun kaus tanpa lengan berwarna hitam yang dikenakannya saat ini kut basah. Dia tersenyum sangat manisnya, meski tampak berantakan seperti itu. Terlebih, rambut spike perunggunya telah basah karena keringat, namun ketampanan lelaki itu seperti permanen, masih saja selalu membuat terpesona pada setiap mata yang melihat. Sepedanya kini terparkir di beranda rumah.


"Kehujanan?" gurauku menggoda setelah sejenak hanya menatapnya di ambang pintu, tanpa mempersilakan masuk. Kekehan lelaki itu terdengar hingga meninggalkan lesung pipit di sana dan sederet gigi putih rapi tampak di balik bibir merah merekahnya.


Apa dia memakai lipstick?


Tawanha terdengar lagi dan menyentakkanku dan baru menyadari telah mengucapkan isi pikiranku yang baru saja terlontar seenaknya dari mulut ini.


"Apa itu selalu kamu pikirkan setiap melihat bibirku?" godanya bertanya penuh selidik hingga meninggalkan semu merah di wajah ini. Navroy tersenyum manis sekali lagi, lalu menarik kepalaku dan mengecup kening ini.


"Pagi, Baby! Itu untuk kudapan sarapanku!" timpalnya asal di akhir kalimat. Senyumku mengembang. "Rumahmu terpasang keamanan larangan untukku, ya?" lanjutnya yang membuatku melongo saat hendak masuk. Alisku mengernyit memandang penuh tanya tak mengerti.


"Tidak, kenapa?"


"Kupikir seperti itu, karena sejak tadi kamu tidak mempersilakanku masuk!"


Aku terkekeh. Humor dalam gurauan dan godaannya selalu saja membuatku tertawa.


"Masuklah, Babe. Welcome to my jungle!" seruku mempersilakan masuk, lelaki itu menyengir.


"Hutan yang cantik, begitu juga penghuninya." timpal lelaki itu asal yang membuatku tersenyum.


"Mau sarapan apa, Babe?" tanyaku saat kami telah berada di meja makan. Dia mengikuti saat hendak masuk kemari.


"Umm, apa saja, Babe. Tapi, jangan yang berat-berat. Omong-omong, kamu sangat cantik memakai dress kimono itu." Pujinya di akhir kalimat yang membuatku cukup terhenyak.


Senyuman lebarnya menguap saat melihat ekspresi ini—entah apa. Aku memang masih mengenakan pakaian tidur dan baru saja beres-beres rumah. Dehemku terdengar untuk menghilangkan kecanggungan.


"Baru selesai latihan workout?" alihku mulai mengobrak-abrik freezer, mencari bahan makanan yang cocok dengan lidah lelaki Pakistan itu.


Dia sudah berpindah duduk, dari kursi meja makan ke bar dapur.


Memangnya harus, ya, memandangku masak? Aku bisa nervous, Mr. Pakistan!


Aku mengambil napas dalam-dalam di balik pintu freezer sambil masih mencari bahan yang kupikirkan.


"Em-hmm, baru saja selesai lalu langsung kemari,"


"Tidak pulang mandi dulu?" tanyaku asal.


"Kupikir, kamu menyukai aroma tubuhku jika seperti ini!"


Aku mengulum senyum mendengar godaan asalnya. "Dasar percaya diri!"


Tawanya menggema di dapur ini setelah menyengir.


Aku hanya menggeleng dalam senyuman. "Omong-omong, Sayang, jangan terlalu keras workout, aku takut kamu bisa cedera. Oh ya, hanya ada roti isi dan cereal, kamu mau?" tanyaku di akhir kalimat sembari berdiri di dekat bar dapur.


Navroy mencondongkan tubuhnya, lalu mengecup pipi ini dengan hangat. Senyumnya melebar ketika senyum merona tak bisa kusembunyikan darinya.


"Itu untuk perhatian spesialnya, Baby, thanks for care with me! By the way, roti isi kedengarannya enak. Well, itu saja, pagi ini bad mood dengan cereal." masih dalam senyum lebar menyentuh mata yang begitu manisnya seraya melipat tangan di bar dapur dengan tatapan intens.


*Sungguh, tatapan eksotik itu benar-benar menggoda.


Ah, Tuhan, lesung pipit itu.


Bisakah sekali saja tak membuatku terpesona? Kau curang, Mr. Pakistan*!


Senyumnya merekah lagi.


Ah, Sial!


Aku semakin kikuk dibuatnya ketika melihatnya bangkit berdiri, memutar bar dapur, hingga berada di sebelahku, menatap dengan sorotan intens, melangkah semakin dekat, bahkan hanya beberapa senti yang kini berdiri di hadapanku, seperti mengintimidasi—terjebak di antara dirinya dan bar dapur dalam kedua tangannya yang sengaja terulur di kedua sisiku, bertumpu di bar tehel ini. Sepasang iris mata kecokelatan bercampur kelabu itu masih tak lepas menatap dengan intens, menggoda. Aroma napas wanginya kini menyentuh kulit wajah. Semakin detik berjalan, meski bagai waktu berhenti sejenak dalam degup jantungku yang berirama cepat saat ini, pula tubuh tegap sixpack itu semakin sengaja mendekat.


"Navroy?" panggilku dengan nada suara cemas dalam inderaku. Terdengar cukup seperti berbisik di telinga ini namun mengandung takut. Tatapanku masih bersamanya, begitu awas, tetapi menyebalkannya ia hanya memasang tampang innocent, begitu santainya dalam tatapan intens yang masih menggoda.


"Navroy?" cobaku lagi memanggil ketika lelaki itu semakin melangkah mendekat, bahkan jarak diantara kami hanya berkisar sesenti.


"Nav—"


"Tadi kamu bilang, aku curang, ya? Karena membuatmu terpesona? Lalu, memintaku berhenti melakukan itu?" tukasnya dalam senyum menggoda yang sengaja di tampakkan, tapi seperti ada sesuatu. "Sepertinya Ms. Indonesia ini tak mengerti arti curang sesungguhnya. Well, mari kita lihat bagaimana curang itu berlaku pada siapa, aku atau dirimu," lanjutnya berbisik di akhir kalimat.

__ADS_1


Mataku melebar ketika melihat senyum liciknya. "Kamu mau lakukan ap—"


Bibir tipisnya kini menyentuh dengan hangat. Berhenti sejenak di sana menunggu reaksi penolakanku, asumsiku, tak lama kemudian mengulum dengan perlahan sembari tangan satunya menggenggam lembut leher ini. Lembab, tapi tak berlebihan hingga begitu terasa nikmat. Lidah kami kini menari-nari di dalam sana, saling bertaut, kemudian kembali ke bibirku dan mengisapnya seraya tangannya kini berpindah menggenggam lembut wajahku. Cukup beberapa detik, sebelum melepaskan ciuman ini, ia sekilas menggigit kecil bibir bawahku. Masih menatap lekat dengan tangan yang tetap menggenggam wajah.


"Kamu yang curang, Baby! Kamu yang selalu membuatku terpesona dan jatuh cinta," bisiknya lalu menarik kepalaku kemudian mengecup kening ini.


Dia benar-benar membuat pipi ini memanas dan kikuk. Diam-diam aku mengambil napas dalam-dalam.


Sial! Benar-benar tahu cara menggodaku!


"Okay, time to take shower! Pergilah, Babe! Aku tidak ingin pakaianmu yang basah membuatmu masuk angin. Kamar mandi berada dalam kamarku, dan itu tepat di lantai atas. Hanya ada satu kamar di sana, masuk dan lakukanlah privasimu. Aku menunggu di sini sambil menyiapkan sarapan."


"Kamu yakin? Maksudku, memangnya tidak apa-apa?" tanyanya ragu. Aku mengangguk mantap dalam senyuman.


"Tidak apa-apa, kami memang memiliki kamar mandi masing-masing di kamar, tidak ada yang tidak terpisah."


"Kami?" Alis tebalnya mengernyit.


"Yup, aku tinggal berdua dengan sahabatku, tapi dia sekarang lagi pergi, tidak di sini. Aku pernah cerita padamu, kan, tentang ini?"


Dia mengangguk dalam senyuman. "Maaf aku lupa."


Sekali lagi, ia mengecup pipi dan mengusap rambut ini. "Aku mandi dulu, Istriku. Selamat masak!" serunya tersenyum lebar dengan istilahnya itu yang membuatku terhenyak, lalu pergi berlalu.


Dia selalu saja punya cara membuatku tidak berdaya dan terpesona, entah wajah atau tingkahnya. Tetapi, aku senang, sikap manis atau terkadang manjanya itu membuatku senang.


Aku menghela napas panjang.


Andai saja, Navroy, andai itu bisa terjadi, andai saja itu benar bahwa kau adalah suamiku!


Aku mendecakkan lidah, mengenyahkan dan menepis pikiran ini yang mulai memasuki pikiran yang melantur ke mana-mana.


Sarapan hari ini, membuat roti isi seafood sesuai keinginannya. Sebelum mengukus roti, daging ayam yang telah kucincang bersama bumbu lainnya kini kutumis.


Aku kembali melanjutkan memasak setelah memasukkan jamur, brokoli, udang dan juga irisan cumi ke dalam sana yang sengaja kutambahkan dengan putih telur cincang, berhubung ia telah berolahraga.


"Aromanya enak sekali, aku baru tahu kalau kekasihku ini pandai memasak." Celetuknya tiba-tiba yang kini telah bertumpu di meja dapur sembari memperhatikan masak.


Kulirik sekilas sembari tetap melanjutkan memasak. Dia bagai malaikat, begitu bersinar dan mempesona. Sangat terlihat segar dengan kausnya yang masih basah. Aktivitasku terhenti seketika, alisku mengernyit.


"Kamu tidak berganti pakaian?"


Helaan napas panjangku berembus. "Astaga, aku lupa! Tunggu di sini! Just five minutes!"


"Ada apa?" alisnya mengeryit saat aku bergegas berlalu.


Aku hanya mengacungkan tangan sesaat, lalu berlari naik ke lantai atas, menuju kamarku. Setelah memilih beberapa pakaian untuknya, aku lalu kembali ke dapur.


"Done! Sekarang pergi dan berganti pakaianlah! Di sana telah kusiapkan pakaian kemeja, kaus dan juga celana yang sudah kuletakkan di tempat tidur, kamu bisa memilih salah satunya, jika kamu mau. Itu masih baru dan bersih, kok, belum pernah kugunakan." Jelasku.


"What? Tapi, Baby, sungguh itu tidak perlu—"


"Tidak ada alasan, sehatmu lebih penting! So, do it now, please!" seruku ringan yang kini memaksanya mengikuti keinginanku.


Dia mendesah, menatap sejenak, lalu tersenyum. "Baiklah, azizm! Kekasihku ini mengapa sangat Kontrol?" sungutnya di akhir kalimat setelah menggenggam wajah ini sejenak, namun hanya kubalas dengan menyengir dan membuatnya tersenyum lebar.


Sementara lelaki Pakistan itu kembali pada privasinya, aku kini mempersiapkan makanan untuknya yang telah selesai dan menata di meja makan. Roti isi untuk dua porsi—aku dan dia, segelas susu segar untuknya dan juga yoghurt serta air putih.


"Wow! This is so yummy!"


Kepalaku melongo, tertegun memandang lelaki tampan itu yang sedang berdiri tepat di sebelahku sembari tersenyum lebar dengan puas mencium aroma yang tersaji di hadapannya. Tangannya bertumpu pada kepala kursi meja makan. Entah sampai kapan ia berhenti membuatku terpesona. Terlebih, ia tampak segar dengan rambut basahnya yang berantakan, terlihat begitu eksotik. Dalam balutan kaus kelabu dan jins pendek yang ia sengaja pilih, semakin menampakkannya bak dewa Yunani. Biar bagaimana pun, apa pun yang dikenakan lelaki itu, tetap saja selalu tampan terlihat dan begitu cocok. Kausnya benar-benar mencetak dada bidang atletisnya itu. Aku tak menyangka, ukuranku cocok dengannya.


Suara derit kursi yang bergeser dengan lantai membuatku menoleh dan kening berkerut. "Duduklah!" pinta Navroy saat mempersilakan duduk tepat di kursi yang berada di depannya.


Dia tersenyum manis saat meliriknya setelah duduk lalu menular padaku.


"Trim's, Baby."


"Trim's? For what?"


Dia meraih tanganku begitu duduk di sebelahku, mengusap sesaat punggung tangan, dalam tatapan hangatnya. "For everything," alisku mengernyit. "Untuk perhatiannya, terlebih pakaiannya, makanan lezat ini dan maaf merepotkanmu pagi ini!" jelasnya setelah memandang semuanya.


"Tidak repot sama sekali. But by the way, thanks dengan kehadiranmu di sini, Babe. Thank's for everything also! So, selamat makan!" seruku di akhir kalimat.


Senyumnya merekah. "Selamat makan, My Lovely!"


Navroy kini meminum air putihnya, lalu melihat isi rotinya.


"Kamu benar-benar tahu yang tubuhku butuhkan, ya?" tukasnya setelah memandang roti itu dalam senyuman, lalu mulai memotong dan makan.

__ADS_1


"Kamu suka?" tanyaku meliriknya setelah menyuap.


Dia mengangguk. "Sangat lezat! Aku suka isian dan rotinya, bisa-bisa aku setiap hari kemari sarapan!" godanya yang membuatku tersenyum.


Dia makan lahap sekali, tetapi tetap pelan-pelan dan begitu menikmati. Bahkan, tanpa menggunakan garpu dan pisau. Tatapanku terpaku sejenak padanya, terhenyak, ketika suapan itu terulur ke arahku. Begitu makanan berhasil masuk ke mulutku dalam suapannya, ia tersenyum lebar yang masih menatapku sendu. Rasanya pipiku memanas. Aku bahkan bisa merasakan senyuman ini begitu berseri dengan lebarnya merekah karena senang.


"Omong-omong, Babe, jadi sejak kapan fotoku terpajang di meja riasmu?" lanjutnya.


Aku berhenti mengunyah saat mendengar pertanyaannya dan telah meneguk susunya.


Sejenak menatap Navroy, namun hanya *** senyuman yang tertahan tampak di sana dengan raut wajah berseri tetapi menggoda dan menunggu jawabanku.


"Iya! Foto berbingkai gold berukuran besar yang gambarnya saat kita berfoto di pantai losari waktu itu ketika baru pertama kali bertemu. Kamu lupa, ya? Aku melihat bingkai itu di meja rias kamu sedang terpajang, bingkai yang sengaja kamu selipkan tulisan 'I love you' di antara foto itu." Jelasnya memandangku, lalu meneguk air putihnya. Rupanya ia telah selesai dengan sarapannya.


*O-oh! Dia benar-benar melihatnya!


! Tentu saja dia melihat bingkai sebesar itu di sana! Aku bahkan lupa menyembunyikan tadi*.


Pipiku memanas dalam pandangan tunduk. Kembali mengunyah tanpa melirik sedikit pun ke arahnya. Aku bisa merasakan, dia menatapku, menunggu jawaban tentunya.


"Baby—"


Senyuman melebarnya sengaja di tampakkan. "Apa? Jangan berpikir untuk mencoba mengalihkan, ya, itu tidak akan kubiarkan!" tukasnya seolah membaca pikiranku, masih dalam senyum lebarnya, menunggu sambil tengah menatap. "Aku bisa seharian menatapmu seperti ini, jika kamu mau," tambahnya lagi tersenyum menggoda yang membuatku mendesah.


Kuteguk air putih, lalu kembali memotong roti dengan pelan, tanpa memandangnya.


Dia seperti mengawasi! Calm, please!


Diam-diam mengembuskan napas di sela-sela gigi.


"Dua hari setelah kita bertemu waktu itu,"


Hening, tak ada suara apapun. Aku menunggu reaksinya, tapi masih hening. Mataku benar-benar tak bisa lagi menahan untuk tidak melirik. Dia masih menatapku sambil kedua tangannya terlipat di atas meja, tersenyum lebar menyentuh mata.


Apa yang dipikirkannya sekarang?


Sikapnya itu benar-benar membuatku kikuk saat ini dan salah tingkah.


"Tidak dihabiskan?" tanyanya saat bunyi gesekan antara piring dan garpu serta sendok kembali kuletakkan, lalu meneguk air putih.


Aku lalu menggeleng. Rasanya susah menelan, seperti tengah di interogasi polisi dengan kasus berat. Dia masih menatapku saat diam-diam meliriknya dan membuatnya tersenyum lebih lebar lagi ketika melihat mata ini. Aku mendesah berat.


Oke, sudah cukup!


"Aku minta maaf," sahutku angkat bicara.


"Apa?"


"Iya, aku minta maaf atas foto itu,"


"Kenapa? Itu bahkan membuatku senang dan tak menyangka,"


Kepalaku memutar, memandang ke arahnya.


Apa?


"K-kamu tidak marah?"


Kekehannya menggema di ruangan ini.


"Untuk apa? Karena telah membuatku tersanjung dan happy?"


"Babe?" cobaku tak percaya.


Navroy terkekeh. "Really babe, i'm serious, "


Entah raut wajah bagaimana lagi saat ini, tapi rasanya berseri dan bersemu yang telah mendengar pengakuannya lagi. Navroy kini mengacak lembut rambutku, berdiri lalu menyambar yoghurt-nya.


"Pergi dan mandilah! Aku menunggu di sini." Titahnya kini berdiri di belakangku.


"Kita mau ke mana?" tanyaku memandangnya yang saat ini kepalanya berada dekat wajahku, aku bahkan bisa merasakan embusan napasnya itu menyentuh kulit leher dan wajahku.


"Jalan-jalan seharian bersamamu! Omong-omong, terima kasih atas semuanya, terlebih fenomena indah itu di kamarmu, itu foto yang paling menakjubkan yang pernah kulihat," bisiknya di akhir kalimat.


Senyumku merekah dan mengangguk.


Dan terima kasih juga atas kebahagiaan ini, Navroy!


Aku lalu membereskan piring-piring kotor itu membawanya ke wastafel, kemudian mencucinya. Setelah semua selesai, lalu pamit menuju ke kamar, sedang ia menunggu di ruang tamu.

__ADS_1


* * *


__ADS_2