
Dua Minggu sudah berlalu sejak hari di mana saat Felly ingin di jodohkan oleh kedua orang tua nya.
Malam ini Felly akan bersiap siap untuk menemui calon suami nya. Felly menatap wajahnya di pantulan cermin. Wajah Felly terlihat sangat sayu. Bagaimana tidak, dirinya tidak mengetahui siapa yang akan menjadi suami nya.
“Sayang.... ayo tersenyum. Kamu terlihat sangat cantik sekali malam ini,” ucap ibu memegang bahu Felly. Ibu menatap wajah anak nya di pantulan cermin. Sangat cantik, pikir ibu.
“Sudahlah bu. Tidak perlu memuji ku seperti itu,” kata Felly.
‘Hhhuuufffttttt.’ Ibu menghela nafas nya.
Tangan nya mengusap lembut bahu Felly. Dirinya paham apa yang di rasakan oleh anaknya saat ini. Memang tidak mudah bagi seorang wanita yang berada di posisi Felly. Menerima lamaran dengan alasan perjodohan yang tidak tau siapa pasangan nya.
Di sisi lain terlihat Darmawan yang sedang berbincang-bincang dengan keluarga mempelai pria.
“Aku panggil anak ku dulu ya.”
“Baik lah. Aku sudah tidak sabar melihat calon mantu ku. Haha,” tawa kecil dari pria paruh baya.
Karna Felly tidak kunjung datang. Membuat Darmawan langsung datang ke kamar untuk memanggil Felly.
“Ibu... Felly, Cepatan!!! Keluarga mempelai pria nya sudah datang!” kata Darmawan saat masuk ke dalam kamar Felly.
“Iya mas. Ibu dan Felly akan segera keluar.”
Darmawan lebih dulu keluar kamar. Di susul oleh Felly dan ibunya. Ibu menggandeng Felly, mereka berjalan beriringan menuruni anak tangga untuk menuju ruang tengah. Tempat di mana keluarga dari calon suami Felly menunggu dirinya.
Suara tawa terdengar di telinga Felly. Baru kali ini dirinya melihat Ayah nya tertawa lepas seperti itu.
“Ini dia putri saya Felly. Kamu sudah mengenalnya kan?” ucap Darmawan kepada pria paruh baya.
Mata Felly membulat kaget. Melihat siapa yang akan menjadi calon suami nya. Reyhan Sanjaya. Bagaimana bisa ayah menjodohkan nya dengan pria itu.
“Kenapa diam nak? Ayo Salim dulu calon mertua kamu,” tegur Darmawan saat Felly diam terpaku. Menghentikan langkah kaki nya.
Felly berjalan ke arah calon mertua nya “Pak Aditama,” lirih Felly.
Felly langsung mengecup pucuk tangan Aditama. Lalu dia duduk di samping ibu nya.
__ADS_1
“Ayah dengar, kalian sudah mengenal?” ucap Ayah.
Felly mengangguk begitu juga dengan Reyhan. Mata Reyhan masih terpaku pada sosok Felly. Kali ini Felly terlihat berbeda dari biasa nya. Aura kecantikan Felly kian bersinar. Di tambah dengan pakaian yang begitu elegan membuat Felly terlihat semakin cantik.
Tanpa sengaja netra mata hitam Felly dan Reyhan bertemu. Mereka saling menatap satu sama lain. Setelah cukup lama saling menatap, pada akhirnya Felly memutuskan tatapan itu.
“Kalian kenapa diam diaman. Ngomong dong!” ucap ibu Felly.
“Mereka seperti kita dulu ya mas. Malu malu,” lanjut ibu tertawa kecil.
“Masih permulaan. Wajar saja, kamu juga dulu seperti itu Lastri. Benarkan Darmawan?” kata Aditama melirik ke arah ibu Felly.
Ibu Felly tertawa kecil. Lastri wanita yang menemani hidup Darmawan. Wajah nya terlihat awet muda. Meski usia nya sudah 47 tahun.
“Anak muda sekarang memang seperti itu bu. Awal nya aja malu malu. Nanti kalok udah jadi. Jadinya malu malu in. Haha,” kata Ayah tertawa. Ucapan nya sontak membuat ibu dan Aditama ikut tertawa juga.
“Ibu. Aditama. Mari kita ke depan dulu. Ngopi ngopi. Biar anak kita bicara berdua saja,” kata Darmawan kepada Papa Reyhan.
“Ibu... buatkan kopi ya. Manis nya seperti ibu,” ucap Ayah Felly. Aditama tersenyum mendengar penuturan dari Ayah Felly.
Ibu, Ayah dan Papa Reyhan bangkit. “Ayah...,” panggil Felly.
“Jangan pergi, temenin Felly di sini!”
“Kalian bicara berdua saja. Ayah pengen ngobrol sama temen ayah. Sudah lama tak jumpa, kangen ayah,” balas Ayah Felly merangkul bahu Aditama.
“Bu...,” panggil Felly.
“Ibu mau buat kopi dulu nak.”
Mereka bertiga meninggalkan Felly dan Reyhan. Cukup lama Felly dan Reyhan terdiam. Mereka berdua bingung ingin memulainya dari mana.
Setelah cukup lama. Akhirnya Reyhan mengeluarkan suara. “Hemmm,” deheman Reyhan.
Felly menoleh ke arah Reyhan.
“Kamu pasti sangat bahagia di jodohkan dengan ku. Benarkan?” kata Reyhan.
__ADS_1
“Bahagia???? Kamu bilang bahagia???” kata Felly. Dahi nya mengerut.
Mengapa Reyhan begitu percaya diri. Mengatakan bahwa Felly bahagia di jodohkan dengan diri nya. Sementara Felly dan Reyhan saling menyalakan api permusuhan sejak awal pertemuan.
“Iya... kamu pasti sangat bahagia berjodoh dengan ku,” kata Reyhan mengulang ucapan nya.
“Kenapa kamu begitu percaya diri?”
“Jelas aku percaya diri. Aku tampan, gagah, mapan. Pasti nya tidak ada wanita yang menolak diri ku. Pria seperti ku adalah idaman bagi semua wanita.”
“Hahahahahaha.” Felly tertawa saat mendengar ucapan Reyhan.
“Itu wanita lain. Bukan wanita seperti ku. Kamu tau wahai Bapak Reyhan Sanjaya yang terhormat...”
“Aku lebih menyukai pria yang mempunyai sifat dan sikap yang baik. Bukan hanya sekedar tampan dan mapan. Kamu paham!!!”
“Ccciihhhh.... Wanita munafik. Aku sudah banyak dengar omong kosong seperti itu dari mulut wanita. Terutama wanita seperti mu.”
“Seperti ku??”
“Ehem.” Reyhan Mengangguk.
“Ti__”
Ucapan Felly terhenti saat mendengar suara langkah kaki dan suara tawa dari seseorang. Yaitu Ayah dan Papa Reyhan yang kembali ke tempat mereka.
“Bagaimana Felly. Kalian sudah saling berbicara kan?” tanya Ayah Felly.
“Ehm... Su su sudah yah.”
“Jadi.. kapan kalian akan melangsung pernikahan?” tanya Ayah Felly.
Felly dan Reyhan saling diam. Mereka enggan membuka pembicaraan. Bagaimana bisa Ayah nya langsung menanyakan tentang perihal pernikahan.
Sebenarnya Felly ingin menolak. Tetapi, hal itu tidak mungkin. Mengingat jika Ayah nya tidak suka di bantah. Membuat Felly mengurungkan niat nya untuk menolak perjodohan dirinya dan Reyhan.
“Seperti mereka bingung untuk menentukan waktu dan tempat pernikahan mereka. Bagaimana jika kita saja yang mengaturnya Darmawan. Apakah kamu bersedia?”
__ADS_1
“Aku sebagai Ayah dari mempelai wanita akan mengikuti apapun saran dari mempelai pria. Jika memang itu baik. Aku bersedia Aditama.”
“Baiklah... Aku akan meluangkan waktu ku. Kita akan menentukan waktu dan tempat pernikahan mereka yang akan segera berlangsung.”