
“Kenapa kamu tetap berbuat baik pada ku?” tanya Reyhan.
“Ha-ah,” kata Felly sedikit bingung dengan pertanyaan yang di lontarkan oleh pria ini.
“Aku bertanya. Kenapa kamu tetap berbuat baik pada ku. Tanpa aku beritahu, kamu tentu sudah merasakan semua sikap ku terhadap mu,” ucap Reyhan.
Reyhan mulai menyadari semua sikap kasar nya terhadap Felly. Bukan hanya sikap kasar, bahkan perkataan kasar juga sering di lontarkan terhadap wanita ini.
Tetapi, kenapa wanita ini tetap mau mengurusnya. Bahkan mengurangi jam tidur malam hanya untuk menjaga dirinya? Banyak pertanyaan yang muncul di kepala Reyhan. Tentang bagaimana karakter asli dari wanita yang telah resmi menjadi istri nya. Karna rasa penolakan saat perjodohan, tentu saja, membuat Reyhan enggan mencari tau sosok Felly.
“Apakah pertanyaan yang kamu lontarkan harus ku jawab?” tanya Felly.
“Tentu,” jawab Reyhan dengan cepat.
__ADS_1
“Kamu pasti sudah sangat tau jawaban nya. Kenapa aku tetap berbuat pada mu. Karna aku adalah istri mu.”
“Istri,” lirih Reyhan.
‘Istri.’ Memang benar Felly adalah istrinya. Istri yang sah di mata hukum dan agama. Tetapi, apakah wanita ini sangat mengetahui, jika Reyhan tidak pernah menganggap Felly menjadi istri nya.
“Istri? Kamu memang istri ku. Istri yang sah di mata hukum dan agama. Tetapi, kamu sangat tahu jika aku tidak mencintai mu,” kata Reyhan. Dirinya mengingat kembali kepada Felly agar apa yang terjalin antara dirinya dan wanita yang di hadapan nya tidak terlalu jauh.
Ada perasaan yang tak dapat di jelas di hati Felly saat Reyhan melontarkan perkataan itu. Bukankah dirinya sangat tahu jika Reyhan tidak mencintainya. Apa yang harus di harap dari pernikahan ini. Tidak ada.
Nada dari ucapan yang Felly lontarkan terdengar sangat lugas. Tidak seperti wanita cemburu. Tetapi, seperti wanita yang berbicara pada teman umum nya.
“Baguslah jika kamu mengetahui bahwa aku tidak mencintai mu. Aku harap, kamu jangan berharap lebih dengan pernikahan yang kita jalani ini!!!” tegas Reyhan.
__ADS_1
Felly menghela nafas nya dengan kasar. Apakah dirinya siap menjadi seorang janda. Entahlah, yang pasti Felly akan menjalani peran istri sebaik baik nya.
“Aku tentu tau. Sudah aku katakan, aku melakukan hal ini bukan karna aku mencintai mu. Aku melakukan hal ini karna aku masih berstatus istri mu,” balas Felly.
“Oh... Ya, bagaimana dengan urusan kantor kamu Reyhan. Kapan kamu akan kembali bekerja?” ucap Felly mengalihkan pembicaraan.
“Besok aku sudah kembali bekerja. Kenapa kau bertanya seperti itu. Apakah kamu sangat menyukai saat aku tidak ada di rumah?”
‘Hedeh.... mulai lagi deh, hawa hawa nya kayak nya akan berdebat lagi,’ batin Felly.
“Bukan seperti itu maksud ku Reyhan. Aku hanya bertanya saja. Apakah itu salah?”
“Tentu salah. Pertanyaan seperti seseorang yang tidak suka dengan keberadaan ku. Apakah saat aku tidak di rumah kamu akan menemui pria yang mengaku teman mu itu?”
__ADS_1
“Apakah kamu sadar apa yang kamu katakan Reyhan. Sudahlah, aku malas berbicara pada mu. Jika sudah mulai berbicara, pasti selalu berakhir dengan berdebat.” Felly meninggalkan Reyhan.
“Sungguh membuat ku sangat pusing dan muak berhadapan dengan pria itu. Dirinya terlalu egois dan tidak mau mengalah. Lihatlah yang di katakan nya tadi. Perkataan nya itu sama seperti merendahkan diriku saja,” gerutu Felly dengan kesal.