
“Akhirnya... Aku kenyang juga,” kata Stevan.
“Bagaimana Felly. Bukankah rasanya sangat lezat?” tanya Stevan.
Felly menghapus sisa makanan di sudut bibirnya dengan tisu. “Kamu benar Stevan. Rasanya sungguh lezat sekali.”
Felly dan Stevan saling berbincang bincang sebelum meninggalkan tempat makan itu. Namun, pada detik berikutnya, tanpa sengaja mata Felly menatap pada salah satu sosok yang sangat di kenalinya.
“Reyhan,” lirih Felly. Netra hitam matanya melihat Reyhan yang sedang berjalan berdua dengan sosok wanita yang waktu itu berada di ruangan Reyhan. Tangan wanita itu menggandeng lengan Reyhan. Mereka terlihat sangat mesra.
Tiba tiba tanpa sengaja Reyhan menoleh ke arah Felly. Pandangan Reyhan dan Felly saling bertemu. Tatapan pria itu seketika berubah, bukan tatapan benci seperti biasa. Tetapi, tatapan yang sangat berbeda. Hanya saja Felly tidak bisa menafsirkan tatapan dari Reyhan.
Dengan gerakan cepat, Felly membuang pandangannya ke arah lain. Memutuskan tatapan dari Reyhan.
“Stevan... Sebaiknya kita segera pulang. Ini sudah sore,” kata Felly.
Suasana hati Felly berubah. Kenapa harus seperti ini? Bukankah dirinya harus terbiasa dengan sikap Reyhan yang seperti itu. Bermesraan dengan seseorang yang di cintai nya.
__ADS_1
Mengingat pernikahan yang di jalani oleh mereka bukan di landasi dengan cinta. Felly hanya bisa pasrah dan berlapang dada saat melihat apa yang di lakukan oleh Reyhan.
Felly ingin sekali menegur perbuatan Reyhan. Jika yang di lakukan oleh Reyhan adalah kesalahan. Tetapi, pria itu pasti menyangkal apa yang di katakan oleh Felly. Karna Reyhan sangat keras kepala dan egois.
Stevan melihat arloji yang melingkar di tangan kirinya. “Baiklah... Aku akan membayar makanan kita terlebih dahulu. Dan kamu bisa menunggu aku di mobil saja Fel,” kata Stevan.
Stevan membayar semua makanan mereka. Sementara Felly keluar dari tempat makan itu, lalu menuju ke parkiran, tempat di mana mobil yang mereka tumpangi berada.
Lagi dan lagi mata Felly melihat Callista dan Reyhan. Tampak nya mereka ingin masuk ke dalam mobil. Seperti nya hari ini adalah hari buruk untuk hidup Felly. Secara bersamaan, mata Callista juga menangkap sosok Felly.
Ide jahat Callista keluar, dirinya merangkul lengan Reyhan. Lalu mengecup bibir Reyhan di depan umum. Dan detik berikutnya, bibir wanita itu melengkung membentuk senyuman ke arah Felly. Menandakan satu kemenangan untuk dirinya.
“Siapa yang tidak tau malu Felly?” tanya Stevan.
“Ste ste stevan. Aahh tidak apa apa. Kamu sudah selesai membayarnya. Yuk kita segera pulang!!!” kata Felly langsung masuk ke dalam mobil.
Mata Stevan melihat ke arah di mana saat Felly mengatakan ‘Manusia tidak tau malu.’ Tetapi, Stevan tidak mendapati apapun, matanya hanya melihat beberapa mobil dan pohon rindang.
__ADS_1
“Felly...,” tegur Stevan melihat Felly yang hanya diam sejak mereka masuk ke mobil. Pandangan wanita itu fokus ke depan.
Felly tidak menggubris ucapan Stevan. “Fely...,” tegur Stevan sekali lagi.
Tik tik tik...
Stevan menjentikkan jari jemarinya di depan pandangan Felly. Seketika Felly kaget dan sadar dari lamunannya.
“Ada apa Stevan?”
“Kamu yang ada apa Felly? Aku lihat sejak kamu masuk ke dalam mobil, kamu hanya diam. Apakah ada hal yang mengganjal di hati mu?”
“Atau... ada sesuatu hal yang menyakiti hati mu.”
Felly membalas ucapan Stevan dengan menggelengkan kepalanya. Lalu bibir Felly tersenyum.
“It's Okay Stevan. Hanya saja, hari ini aku sangat lelah.”
__ADS_1
Felly sangat lihay menyembunyikan apa yang di rasakan oleh hatinya. Bibir wanita itu memang tersenyum, tetapi apakah ada yang mengetahui dasar hati wanita itu? Tidak ada.