
“Percayalah pada ku Clarissa. Papa ku akan menerima mu sebagai menantu Sanjaya. Jika kamu tidak percaya juga. Bagaimana jika malam ini kita bertemu Papa ku. Apakah kamu bersedia Clarissa?”
Reyhan berusaha meyakinkan gadis yang berada di hadapan nya. Bahwa jika Clarissa bersama dirinya, hidupnya akan baik baik saja. Dan soal Papa nya, Papa nya pasti akan menerima Clarissa sebagai menantu di keluarga Sanjaya.
Clarissa hanya diam. Dirinya tidak berbicara apapun. “Clarissa... Apa kamu mendengar apa yang aku katakan?”
Clarissa menoleh ke arah Reyhan. Menatap wajah tampan pria di samping nya. “Reyhan... Maaf aku tidak bisa.”
“Oke... Kalau kamu tidak bisa malam ini. Bagaimana esok hari Clarissa. Apa kamu bersedia?” ucap Reyhan. Dirinya berusaha untuk mengerti keadaan wanita itu.
Clarissa menarik nafas nya dalam dalam lalu menghembuskan nafas nya. “Reyhan... Aku tidak bisa. Tidak bisa menikah dengan mu!!!”
Ddddeeegggg....
Ada rasa nyeri menjalar di hati Reyhan. Saat wanita yang telah membuat nya jatuh hati dan mengisi hari nya selama dua tahun ini menolak hidup bersama dengan diri nya.
“Maksud apa Clarissa. Kenapa kamu tidak bisa menikah dengan ku? Bukankah dulu kamu sangat ingin hidup bersama dengan diri ku?”
“Aku memang ingin hidup bersama mu Reyhan. Tetapi aku belum siap menikah.”
“Aku masih ingin berkarir. Aku masih ingin bekerja. Aku masih ingin bebas. Aku masih ingin menikmati masa muda ku.”
Di benak wanita itu, pernikahan adalah sebuah kekangan untuk hidup nya. Jika dirinya menikah, dirinya akan di batasi oleh berbagai hal. Dirinya akan mengabdi seluruh hidup nya kepada suami nya. Dan yang pasti dirinya tidak bisa bebas dan mengikuti segala aturan pria yang hidup bersama dengan dirinya.
“Untuk berkarir dan bekerja. Aku tidak akan membatasi mu Clarissa. Aku tetap akan memperbolehkan mu dan mendukungmu dalam berkarir dan bekerja.”
__ADS_1
“Tidak bisa Reyhan. Maaf aku tidak bisa!”
Reyhan menghembuskan nafas nya dengan kasar. Seperti nya, dirinya tidak mempunyai harapan lagi untuk meminta Clarissa agar ingin menikah dengan dirinya. Tolakan yang Clarissa lakukan berkali kali sudah membuat Reyhan sadar diri. Jika gadis itu benar benar belum siap membina rumah tangga bersama diri nya.
“Baiklah Clarissa jika kamu memang tidak menerima niat baik ku untuk mengajak mu menikah.”
“Maafin aku Reyhan. Aku harap kamu mengerti diri ku. Aku memang sangat mencintai mu. Tetapi, untuk menikah... Aku tidak bisa. Hal itu terlalu cepat Reyhan. Aku belum siap.”
“Aku mengerti Clarissa. Baiklah Clarissa. Setelah aku berpikir, hubungan dua tahun yang kita jalani semua nya hanya buang waktu dan sia sia.”
“Sia sia... maksud mu apa Reyhan? Kamu memang pria egois. Tidak bisa mengerti dan memahami diri ku,” ucap Clarissa dengan kesal. Dirinya langsung pergi meninggalkan Reyhan sendiri.
‘Benarkah apa yang di katakan Clarissa. Apakah dia benar benar belum siap menikah. Jika seperti ini. Mau tidak mau, suka tidak suka. Aku terpaksa menerima perempuan tua itu,’ batin Reyhan.
***
Reyhan mencari keberadaan Papa nya. Tetapi tak kunjung menemukan pria paruh baya itu.
“Bi... Bibi....,” jerit Reyhan.
Wanita paruh baya berlari ke arah Reyhan. “Iya den. Ada apa aden memanggil Bibi?”
“Kemana Papa. Aku tidak melihat nya sejak aku pulang Bi. Bukankah ini sudah malam. Kemana dia pergi nya bi?”
“Tadi tu––”
__ADS_1
Suara Bibi terhenti karna mendengar suara pintu rumah terbuka.
“Ada apa Reyhan. Kenapa kamu mencari Papa?” ucap Aditama. Bibi yang melihat tuan besar nya masuk, dirinya langsung bergegas meninggalkan mereka berdua.
Reyhan melihat pakaian Papa nya yang tampak kotor. Mata Papa nya terlihat memerah. Seperti nya Papa nya baru saja mengunjungi makam ibu nya pikir Reyhan.
Reyhan pernah memergoki Papa nya secara tidak sengaja saat ingin mengunjungi makam ibu nya. Dirinya melihat Papa nya yang memegang batu nisan dengan tetesan air mata.
Sudah 17 tahun ibunya pergi. Meninggalkan dirinya dan Aditama. Tetapi, bagi Papa nya, wanita yang menjadi ibu dari Reyhan. Begitu melekat dalam hidup dan hati nya.
“Ada yang mau katakan Reyhan?”
“Apakah Papa baik baik saja?” tanya Reyhan. Walaupun saat ini suasana hati sedang buruk. Tetapi tidak seburuk suasana hati dari pria paruh baya di hadapan nya.
Suasana hati pria baya itu tidak hanya sedang buruk. Tetapi juga sepi dan sedih pasti nya. Pikir Reyhan.
“Papa baik baik saja.” Aditama tersenyum tipis kepada anak nya. Lalu mengayunkan langkah kaki nya untuk meninggalkan Reyhan.
“Pa...,” panggil Reyhan.
Aditama menghentikan langkah kakinya. Lalu menoleh ke arah Reyhan.
“Aku menerima perjodohan yang Papa katakan!!!”
Aditama tersenyum. Senyum dari pria itu tampak tulus. Seperti merasakan ada sedikit kebahagiaan di hati nya.
__ADS_1
“Kita akan segera menemui wanita yang Papa pilihkan untuk mu.”