
Stevan duduk di samping Felly. Tangan nya langsung membuka laptop dan mencari file yang akan di bahas bersama Felly.
“Jadi begini Felly. Proyek yang kita bicarakan sudah setengah jadi. Sesuai yang kamu katakan, bahwa kamu sudah meriset tempat nya dan sangat cocok jika Apartemen di bangun di tempat itu.”
“Kamu lihat gambar ini.”
Felly menggeser tubuh nya. Jarak antara dirinya dan Stevan sangat dekat saat ini. Stevan menarik nafas nya. Aroma parfum Felly sangat di sukai oleh Stevan karna tidak terlalu menyengat seperti parfum wanita lain.
“Setelah ini selesai. Kita akan melakukan penjualan yang akan menguntungkan perusahaan. Bagaimana Felly, apakah kamu sudah mengerti apa yang harus kamu lakukan!” kata Stevan.
Felly mengangguk. Walaupun dirinya sudah menjadi Seketaris Reyhan. Tetapi, Felly tetap di butuhkan di perusahaan Sanjaya Group. Karna dirinya sudah sangat ahli dalam hal pemasaran proyek dari perusahaan.
Interaksi antara Felly dan Stevan tak luput dari pandangan Reyhan. Sesekali Reyhan melihat Felly yang tertawa dan tersenyum kepada Stevan. Felly sangat hangat saat berhadapan dengan Stevan. Berbeda saat berhadapan dengan Reyhan. Wajah Felly kaku dan datar. Tak ada senyuman dan candaan seperti saat Felly bersama Stevan.
‘Ccccciiihhhh.... lihat lah wanita tua itu. Dirinya tersenyum kepada asisten papa ku. Apa hebatnya asisten papa ku. Sehingga dirinya selalu tersenyum kepada pria itu,’ gerutu Reyhan dalam hati.
Setelah cukup lama Felly dan Stevan saling berbincang bincang perihal pekerjaan dan perusahaan. Akhirnya drama tentang pekerjaan pun selesai.
Stevan menutup laptopnya. “Felly... kamu sudah makan?” tanya Stevan kepada Felly.
“Kebetulan aku belum makan Stevan. Bagaimana dengan mu?”
“Aku juga belum makan Felly. Bagaimana jika aku mentraktirmu. Apakah kamu ingin makan siang bersama ku?”
“Aku sih mau mau aja. Apalagi kalau di traktir. Aku sangat menyukai nya Stevan.”
“Tetapi... Aku bertanya dulu kepada pria itu. Apakah aku sudah bisa istirahat.”
Felly berjalan ke arah Reyhan. “Pak... apakah saya sudah bisa istirahat. Kebetulan saat ini jam meeting kosong.”
“Kamu ingin kemana?” tanya Reyhan.
“Ingin makan siang.”
“Baiklah.” Stevan melihat arloji yang melingkar di tangan nya.
__ADS_1
“Aku beri waktu 30 menit!” lanjut Reyhan.
“Terimakasih pak. Saya pamit makan siang dulu.”
“Stevan... yuk!”
Stevan bangkit dari tempat duduk nya. Lalu berjalan ke arah Felly. “Bapak ingin ikut makan bersama kami?” tanya Stevan.
“Tidak.”
“Baiklah jika seperti itu pak. Saya dan Felly pamit dulu.”
“Ehm,” balas Reyhan dengan deheman.
Stevan dan Felly meninggalkan ruangan Reyhan dan keluar dari kantor untuk mencari makan siang.
“Hhhuuuufffffftttt.” Reyhan menghembus kan nafasnya dengan kasar. Menyandarkan dirinya di kursi kerja nya. Matanya menatap langit langit ruangan milik nya.
“Sedikit melegakan saat tidak ada wanita tua itu. Ini semua karna papa. Kenapa papa harus memilih wanita itu menjadi seketaris ku.”
Reyhan mengambil benda pipih miliknya. Lalu menekan salah satu nomor yang ingin dia tuju.
“Selamat siang sayang.... aku sangat merindukan mu,” kata Reyhan.
“Aku juga honey. Aku sangat merindukan mu. Aku ingin sekali menemui mu di kantor. Tetapi kamu melarang nya,” balas seseorang yang berada di sebrang telpon. Dirinya adalah Callista. Pacar dari Reyhan.
“Maaf sayang.... aku bukan melarang mu. Tetapi kamu sudah tau bukan. jika sekarang papa mengirim seseorang memata matai ku. Aku tidak bisa melakukan apapun karna papa mengancam ku. Jika aku bermain main dalam pekerjaan fasilitas ku akan di ambil papa.”
“Jika fasilitas ku di ambil papa. Bagaimana aku ingin memberi mu uang untuk belanja.”
“Ehm... Honey... kamu sudah transfer uang yang aku minta untuk beli tas kan?”
“Sudah. Aku sudah mentransfer nya tadi pagi. Kamu sedang apa sayang?”
“Aku sedang berbelanja. Sudah dulu ya honey.”
__ADS_1
“Ehm... baik lah.”
***
Di sisi lain Felly dan Stevan sedang menikmati makan siang. Seperti teman pada umumnya mereka saling melontarkan pertanyaan di selingin dengan candaan.
“Bagaimana dengan posisi baru mu Felly?” tanya Stevan.
“Yaaaa begitu lah Stevan.” Felly menaikan bahu nya. Dirinya juga tidak tau ingin menjawab apa dari pertanyaan Stevan.
“Sejak kamu pindah ke kantor Sanjaya Company. Aku merasa ada sesuatu yang berbeda di perusahaan Sanjaya Group.”
“Sesuatu yang berbeda? Maksudnya bagaimana Stevan?”
“Maksudnya seperti ada yang hilang Felly. Karna sejak kamu pergi aku seperti kehilangan seseorang yang aku cintai.”
Felly tertawa kecil. “Stevan Stevan.... kamu berbicara apa sih,” ucap Felly memasukan makanan ke dalam mulut nya.
“Serius Felly. Kamu mungkin menganggap apa yang aku bicara kan adalah sebuah candaan. Tetapi sebenarnya tidak! Semua benar nyata Felly. Aku sangat merindukan mu.”
“Bahkan waktu pak Aditama memerintahkan aku untuk menemui mu di kantor. Aku sangat senang Felly. Karna bisa bertemu dengan mu.”
Suasana sedikit tegang. Felly terdiam sejenak. Dirinya bingung ingin menjawab apa dari pertanyaan Stevan. Menurut Felly apa yang Stevan katakan barusan seperti seseorang yang berbicara dengan kekasihnya.
Felly bukan lah kekasih Stevan. Dirinya hanya berteman baik dengan Stevan.
“Hahahahahahaha.” Tawa Stevan pecah. Tangan memegang perutnya.
“Kenapa kamu diam Felly? Gak perlu tegang seperti itu. Aku hanya bercanda,” lanjut Stevan.
“Iiihhhh.... Stevan.... kamu tuh dari dulu ya gak pernah berubah. Aku udah mode serius kamu nya bercanda,” balas Felly.
“Stevan... habiskan makanan mu. Aku harus segera balik ke kantor. Waktu ku tidak lah banyak,” lanjut Felly.
Mendengar penuturan Felly. Stevan enggan ingin berbicara kembali. Dirinya langsung menghabiskan makanan yang saat ini berada di hadapan nya. Stevan sangat memahami bahwa Felly sangat di siplin soal waktu dan sangat profesional dalam pekerjaan.
__ADS_1