
Hari mulai gelap. Reyhan yang sudah tiba di rumah, tampak gusar. Matanya menoleh ke arah jam dinding.
‘Sudah pukul delapan malam. Tetapi, dia belum juga pulang?’ batin nya. Bercacak pinggang. Pikiran nya berkecamuk karna Felly belum juga kembali.
Entah kenapa hati Reyhan merasa bersalah terhadap Felly. Tetapi untuk perasaan bersalah itu hadir? Bukankah dirinya tidak mencintai Felly.
“Lebih baik aku jemput saja dia?” kata Reyhan mengambil kunci di atas meja. Saat Reyhan hendak membuka handle pintu, tiba tiba telinga Reyhan menangkap suara kendaraan yang sedang berhenti.
Dengan rasa penasaran, Dirinya melihat dari celah jendela. Ternyata suara itu adalah suara taxi dan tampak seseorang yang keluar dari taxi itu. Dia adalah Felly.
Reyhan bernafas lega. Saat melihat wanita itu membawa barang belanjaan, Reyhan berinisiatif untuk membantu nya, namun detik berikutnya, Reyhan mengurungkan niat nya. Ego nya ternyata lebih tinggi.
Reyhan menunggu kehadiran wanita itu tepat di depan pintu. Setelah beberapa menit, Felly tampak membuka pintu dan langsung masuk kedalam rumah.
Dengan gerakan cepat, Reyhan mendekati Felly. Tangan nya terulur hendak mengambil kantong kresek di tangan Felly. Namun detik berikut Felly memberi tatapan tajam kepada Reyhan.
__ADS_1
Kaki Felly mundur, menjauhi diri dari Reyhan. Tatapan matanya mengintimidasi, seakan berkata ‘Kamu tidak perlu membantu ku!’
Lalu Felly melanjutkan langkah nya ke dapur. Sementara Reyhan mengikuti Felly dari belakang.
“Em... Felly,” tegur Reyhan saat wanita itu meletakan barang barang yang baru saja di belinya di atas meja.
Felly tidak menggubris teguran dari Reyhan. Entahlah, rasanya Felly sangat malas berhadapan dengan pria ini.
“Felly... Aku tau kamu marah pada ku. Aku tau aku salah sudah meninggalkan mu dengan barang barang sebanyak ini!” lanjut Reyhan mengikuti langkah Felly yang tampak sibuk menyusun barang barang belanjaan di dalam kulkas.
“Aku bantu!!!” kata Reyhan.
Felly menghentikan kegiatan nya. Lalu menatap tajam pada pria di hadapan nya. “Tidak perlu!!!” jawab Felly.
Mendengar penolakan dari wanita itu. Tentu saja membuat Reyhan semakin menjadi. “Walaupun kamu menolak, aku tetap ingin membantu mu!” Reyhan mengambil buah dari meja itu dan hendak memasukan nya ke dalam kulkas.
__ADS_1
“Kembalikan buah itu!” perintah Felly.
“Seharusnya kamu berterimakasih pada ku. Aku dengan suka rela membantu mu,” balas Reyhan. Dirinya benar benar tidak suka dengan sikap Felly kali ini.
“Aku tidak perlu bantuan mu. Kembalikan!!!” kata Felly.
“Kamu kembalikan buah itu. Atau aku tinggalkan semua ini dan membiarkan kamu sendiri yang menyusun nya!!!” lanjut Felly. Dirinya benar benar sudah sangat muak menghadapi sikap Reyhan.
Mendengar penuturan Felly, Reyhan langsung meletakan buah itu kembali. Ancaman seperti apa itu. Kenapa Reyhan malah menuruti perkataan Felly. Biasanya, Reyhan akan membangkang dan marah jika mendengar ancaman dari Felly. Tetapi kali ini sangat berbeda.
“Felly... Aku minta maaf. Aku tau aku salah, kamu sangat tau jika posisi ku tadi sangat sulit,” kata Reyhan berusaha menjelaskan pada Felly.
Felly hanya diam, dirinya terus menyusun barang barang itu sampai selesai. Setelah selesai Felly mencuci tangan lalu meninggalkan Reyhan.
“Heiiii.... Perawan tua. Kamu tuli ya. Aku sedang berbicara. Dan kamu malah meninggalkan ku!!!” teriak Reyhan dengan kesal saat melihat Felly menaiki anak tangga.
__ADS_1
Tinjuan Reyhan melayang ke udara. Dirinya meremas kasar rambut nya. ‘Kenapa wanita sulit di mengerti. Sungguh ini lebih sulit dari pada mengerjakan suatu proyek!!!!’ batin Reyhan.