
Felly datang ke kantor Sanjaya Company. Bukan untuk bekerja, melainkan mengantar berkas milik Reyhan.
Saat Felly masuk ke kamar sesudah sarapan pagi. Dirinya melihat map kuning milik Reyhan tertinggal di atas meja rias. Saat Felly amati berkas itu, ternyata berkas itu adalah berkas penting untuk pekerjaan Reyhan.
Dengan inisiatif diri sendiri. Felly mengantarkan berkas itu sendiri tanpa menelpon Reyhan terlebih dahulu.
Felly masuk ke ruangan Reyhan karna pintu tidak terkunci. Tiba tiba tubuh Felly mematung, dirinya enggan melanjutkan langkah nya, denyut nadi nya seakan berhenti saat melihat apa yang ada di hadapan nya.
“Reyhan,” lirih Felly.
Reyhan terkesiap. Tangan nya terulur, mendorong seseorang wanita yang duduk di atas pangkuan nya.
“Felly,” lirih Reyhan.
Reyhan dan Felly saling tatap. Tatapan Felly jelas terlihat sangat kecewa dan sakit hati melihat apa yang di hadapan nya. Reyhan dan Callista sedang berciuman. Ciuman panas yang tidak seharusnya di lakukan oleh seseorang yang bergelar sebagai suami kepada wanita yang bukan istrinya.
Tetapi apakah Felly bisa marah. Tentu tidak! Mengingat pernikahan yang di lakukan adalah kehendak kedua orang tua mereka. Felly seperti tidak mempunyai hak untuk marah atas perlakuan Reyhan.
“Ngapain kamu ke sini? Jangan bilang, kalau kamu ingin memata matai ku!”
Bukan nya meminta maaf. Reyhan malah menuduh Felly yang bukan bukan.
“Siapa yang ingin memata matai mu. Tidak penting!!!” ucap Felly.
Felly mengayunkan langkah kakinya ke arah Reyhan. “Aku ke sini hanya ingin mengantar ini.” Wanita itu meletakan berkas milik Reyhan di atas meja dengan sedikit kasar.
Reyhan mengambil berkas itu. “Kenapa tidak menelpon ku saja. Atau suruh orang lain mengantar nya.”
__ADS_1
“Aku tidak punya nomor mu. Dan aku tidak tau harus menyuruh siapa untuk mengantar berkas itu!”
“Alasan! Bilang saja kamu ingin memata matai ku di kantor dengan berdalih mengantar berkas ini.”
“Terserah mu ingin mengatakan apa Reyhan,” kata Felly. Dirinya sangat lelah jika harus berdebat dengan pria yang di hadapan nya. Walaupun dirinya berkata jujur. Reyhan pasti selalu mencari cara bagaimana bisa menuduhnya dan menyalahkan dirinya.
“Yang pasti, kamu harus tau. Ini kantor, tidak baik berbuat hal menjijikan seperti itu,” sambung Felly.
“Kantor ini adalah tempat berkerja. Bukan untuk bercinta!” lanjut wanita itu dengan nada penuh peringatan.
“Kenapa? Kamu marah? Atau sedang terbakar cemburu, jika suami mu lebih memilih bermesraan dengan wanita lain. Dari pada bermesraan dengan istri nya sendiri. Benar bukan???” Selidik Reyhan.
“Untuk apa aku cemburu. Hal itu hanya menguras energi ku saja. Aku hanya mengingatkan mu Reyhan Sanjaya yang terhormat. Sebagai bos besar di perusahaan ini. Seharusnya kamu bisa memberikan contoh yang baik untuk karyawan mu. Karna kamu adalah pemimpin!!!”
“Jika sikap mu seperti itu. Sama saja, kamu merendahkan dirimu. Membuat citra nama perusahaan buruk. Bagaimana jika kabar mu yang sedang bermesraan dengan wanita lain tersebar di luar sana. Apakah kamu bisa membayangkan bagaimana reputasi perusahaan???”
Reyhan hanya diam mendengar monolog dari bibir Felly. Matanya menatap tajam pada wanita yang sudah berani menggurui nya di depan Callista. Giginya ber gemelutuk menahan amarah. Jari jemari nya mengepal kuat sampai bergetar.
Sementara Callista hanya melihat pertengkaran dari suami istri yang baru saja menikah seumur jagung. Callista memang tidak mencampuri urusan Reyhan dan Felly saat berdebat di depan nya. Tetapi sangat terlihat jika bibir Callista melengkung membentuk senyum tipis.
***
Felly berjalan tergesa gesa meninggalkan Reyhan dan perempuan nakal itu di ruangan milik Reyhan. Dirinya selalu memutuskan untuk pergi dan menyudahi saat dia berdebat dengan Reyhan.
Bukan Felly tidak bisa melawan Reyhan. Hanya saja, dirinya mulai memahami bahwa sifat Reyhan keras dan tidak mau mengalah.
“Felly....” Suara pria menghentikan langkah Felly.
__ADS_1
Felly menoleh ke sumber suara. “Stevan.”
Stevan melangkah mendekati Felly. “Kamu dari mana? Dan ada keperluan apa ke kantor ini. Apakah kamu masih bekerja?”
“Aku dari ruangan Reyhan Stev. Tidak. Aku tidak bekerja lagi. Hanya saja, jika Pak Aditama membutuhkan aku tentang perusahaan. Aku akan membantu nya,” kata Felly.
“Bagaimana kabar mu?” lanjut Felly.
“Seperti yang kamu lihat. Aku baik baik saja.”
“Audrey???” tanya Felly.
“Kenapa dengan Audrey?” balas Stevan.
“Ck... Maksud ku, bagaimana keadaan Audrey. Aku sudah lama tidak berkomunikasi dengan dia sejak aku menikah.”
“Kabar nya baik. Kamu terlalu menikmati menjadi pengantin baru, hingga melupakan sahabat mu sendiri. Haha,” kata Stevan di selingi tawa kecil.
‘Kamu tidak mengerti bagaimana kehidupan rumah tangga ku Stev,’ batin Felly.
“Felly. Kenapa kamu diam? Aku salah bicara ya? Aku melukai hati mu. Maaf!” cicit Stevan saat tiba tiba melihat Felly terdiam.
“Tidak Stev. Maaf ya, aku harus segera pulang.”
“Mau aku antar?”
“Tidak. Terimakasih tawaran nya.”
__ADS_1
Felly meninggalkan Stevan. Mata Stevan masih melihat kepergian Felly dari pandangan nya. Stevan memang berada di kantor Sanjaya Company beberapa menit lalu.
Aditama memerintahkan dirinya untuk mengambil berkas dari salah satu Devisi Pemasaran dari Perusahaan Company.