
Pagi ini Felly bangun lebih awal dari biasa nya. Dirinya harus mengambil alih pekerjaan Bibi. Karna, Bibi yang membantu untuk urusan pekerjaan rumah tangga mereka balik ke kampung.
Reyhan menuruni anak tangga, dirinya melihat Felly yang begitu lihai dalam memasak. Mata Reyhan terpaku melihat pekerjaan dari wanita nya. Begitu cepat dan telaten. Jelas terlihat jika Felly seperti sudah biasa dalam hal memasak.
Reyhan mendekati Felly. “Ehm...,” deheman dari Reyhan. Seketika Felly menghentikan aktifitas nya lalu menoleh ke arah pria itu.
“Ada apa?” Felly melanjutkan memasak.
“Kemana bibi? Aku tidak melihat nya. Dan kenapa kamu yang memasak hari ini. Untuk hal memasak itu bukan tugas mu,” kata Reyhan. Sedari keluar dari kamar. Reyhan tidak melihat Bibi.
“Bibi sedang pulang kampung. Anak nya sedang sakit. Dan dia sudah meminta izin padaku untuk pulang dan menjenguk anak nya. Dan aku mengizinkan nya,” jawab Felly.
“Ohhhh,” ucap Reyhan manggut manggut.
“Kamu sedang memasak apa. Dari aroma masakan mu, seperti nya sangat lezat,” puji Reyhan. Menghirup aroma makanan yang di masak oleh Felly.
__ADS_1
“Ikan kecap pedas dan sayur bening. Hanya makanan sederhana. Dan aku pastikan kamu tidak menyukai nya,” kata Felly.
“Kata siapa aku tidak menyukai. Aku bahkan belum mencoba masakan mu. Bagaimana bisa kamu bilang aku tidak menyukainya.”
“Coba.... Aku ingin merasakan mu.”
“Aaaaaaa.” Reyhan membuka mulut nya.
Tanpa ragu, Felly mengambil sendok lalu menyuapi Reyhan. Lidah Reyhan mulai menganalisir rasa dari masakan wanita nya.
Felly memerhatikan Reyhan yang tampak diam mengunyah makanan dari tangan nya. Ucapan apa yang akan di lontarkan oleh pria ini? Apakah dirinya akan menghina masakan Felly. Batin Felly.
“Bagaimana rasanya?” tanya Felly was was.
“Rasanya tidak terlalu buruk. Apakah kamu sudah selesai memasak. Jika sudah selesai, cepat siapkan di meja makan. Aku sudah lapar,” kata Reyhan meninggalkan Felly.
__ADS_1
Reyhan memang tidak memuji rasa dari masakan nya. Akan tetapi, dirinya juga tidak menghina masakan nya. Itu sudah lebih dari cukup. Batin Felly.
Hari ini mereka tampak akur. Makan bersama di atas meja makan. Bahkan Felly mengambil alih menyediakan makan Reyhan.
“Kamu tidak bekerja?” tanya Felly karna melihat Reyhan dengan pakaian casual.
“Tidak. Papa menyuruhku untuk istirahat,” ucap Reyhan. Dan Felly membalas dengan mengangguk.
“Dirinya selalu menganggap ku seperti anak kecil. Kamu tau, aku memberitahu Papa ku saat aku sakit dan dirinya begitu sangat khawatir terhadap ku. Lucu bukan? Aku sudah sangat dewasa, tetapi... dirinya menganggap aku seperti anak kecil,” batin Reyhan. Saat dirinya mengingat kembali bagaimana Papa nya begitu sangat mengkhawatirkan nya.
“Papa mu sangat menyayangi mu Reyhan. Anak nya cuma kamu. Harapan hidupnya cuma kamu. Aku harap, kamu tidak mengecewakan dirinya. Bekerja lah dengan baik. Bangun bisnis sebaik mungkin. Buatlah Papa mu bangga Reyhan. Karna Papa mu sudah begitu sangat menyayangi mu,” kata Felly.
Mengingat Reyhan anak tunggal, sudah pasti banyak harapan dari Aditama untuk Reyhan.
“Aku tau Papa sangat menyayangi ku. Tetapi, dirinya sangat egois. Aku tidak bisa memilih apa yang aku inginkan. Aku harus menuruti apa perkataan dia.”
__ADS_1