
Sebelum rencana perjodohan.
Pagi hari Darmawan sedang menikmati secangkir kopi hangat buatan dari istri nya yaitu Sulastri.
Dirinya menikmati secangkir kopi sambil membaca salah satu berita yang ada di media. Tiba tiba Sulastri menghampiri dirinya.
“Mas bagaimana rasa kopi nya?” tanya Sulastri dirinya duduk di samping suaminya.
“Rasanya tidak pernah berubah. Dari dulu hingga sekarang. Rasanya sangat manis. Sama seperti yang membuatnya,” jawab Darmawan meletakan gelas kopi di genggaman nya.
Meski sudah berumur dan mempunyai anak yang sudah dewasa. Tetapi, Darmawan masih bersikap romantis kepada istri nya.
Mereka hanya bisa berbicara seperti ini saat tidak ada anak anak.
“Mas bisa aja,” kata Sulastri tersipu malu.
“Ibu kenapa malu malu gitu. Kita tidak muda lagi bu. Bahkan kita sudah 33 tahun bersama. Tetapi, ibu tetap saja bersikap malu jika mas berbicara seperti itu.”
“Yang bilang kita masih muda siapa mas?” ucap Sulastri.
“Buruan habisin kopi nya mas. Setelah itu antar ibu ke pasar untuk belanja. Semua bahan di dapur sudah habis,” lanjut Sulastri.
Sulastri adalah wanita yang sangat pemalu dan pendiam saat muda dulu. Pertemuan tanpa di sengaja di sebuah tempat makan di desa mereka. Membuat Darmawan jatuh hati pada gadis itu. Dari pertemuan pertama sudah muncul benih benih cinta antara mereka.
Darmawan menikahi Sulastri pada usia yang cukup muda. Pahit dan getir kehidupan mereka arungi berdua. Suka dan duka mereka selalu bersama.
__ADS_1
***
“Sudah semua di beli Bu?” tanya Darmawan kepada Sulastri yang baru saja keluar dari pasar.
“Sudah mas.”
“Enggak ada yang ketinggalan bu. Atau ada yang mau di beli? Coba cek dulu.”
Sulastri mengecek kantong kresek di tangan nya. Melihat isi yang ada di dalam kantong kresek itu. “Enggak ada mas. Semuanya sudah di beli.”
“Mari bu. Biar mas yang bawain belanjaan nya.” Darmawan mengambil alih kantong kresek dari tangan istri nya.
Darmawan dan Sulastri berjalan beriringan. Mereka saling berbincang bincang menuju parkiran. Tempat di mana kendaraan mereka berada.
Tiba tiba seseorang menubruk tubuh Darmawan tanpa sengaja. Hingga kantong kresek yang berada di genggaman nya terjatuh.
“Maaf, Maaf... Saya buru buru!!!” kata seseorang itu membantu Darmawan mengambil kantong kresek yang terjatuh.
Saat mereka berdiri. Dan melihat wajah satu sama lain. Mereka terdiam sejenak, memandangi wajah satu sama lain.
‘Seperti tidak asing.’ Pikir Darmawan.
“Kamu Aditama???”
“Kamu Darmawan???”
__ADS_1
“Aditama.... akhirnya kita bertemu juga.” Darmawan memeluk Aditama.
Mereka melepas pelukan. Mata Aditama menoleh ke arah istri nya. “Sulastri... istri kamu?” tanya Darmawan.
“Bukan... dia anak ku.”
“Haha.... Ah... kamu tidak pernah berubah Darmawan. Selalu bercanda. Wajah istri mu tidak banyak berubah. Dia terlihat awet muda.”
Sulastri membalas dengan tersenyum tipis.
“Aku selalu membahagiakan nya Aditama. Kamu hanya memuji istri ku. Tidak memuji ku?”
“Aku ingin memuji mu sekarang. Kamu tetap terlihat gagah walaupun wajah mu sudah sangat terlihat kerutan nya,” kata Aditama tertawa kecil.
“Kamu juga terlihat sangat tampan Aditama. Walaupun rambut mu sudah menunjukan warna keputihan nya.”
Aditama tertawa kecil. Dari pertemuan pertama itu mereka semakin dekat dengan saling menukar nomor telepon.
Aditama dan Darmawan adalah sahabat dekat semasa sekolah. Mereka terpisah saat Aditama meninggalkan kampung halaman nya untuk melanjutkan jenjang pendidikan dan setelah itu dirinya menetap di kota.
Setelah puluhan tahun tidak bertemu. Pada akhirnya takdir mempertemukan mereka. Pertemuan yang terjalin tali persaudaraan dengan perjodohan yang di lakukan oleh mereka untuk menyatukan dua insan yaitu Felly dan Reyhan.
Mereka saling bertemu di sela sela kesibukan Aditama. Perkembangan dalam mengajukan pertanyaan satu sama lain membuat mereka mengetahui fakta bahwa mereka mempunyai seorang anak.
Baik Darmawan maupun Aditama mereka sepakat untuk menjodohkan anak mereka. Setelah mereka saling memberi tahu latar belakang dan perkembangan anak anak mereka dari usia balita hingga dewasa.
__ADS_1