![Terjerat Pria Manipulatif [ TAMAT ]](https://asset.asean.biz.id/terjerat-pria-manipulatif---tamat--.webp)
Happy reading ✓
💫💫💫💫💫
Surabaya
Delapan tahun kemudian
Tak Tek tak Tek. Suara nyaring yang disebabkan oleh sebuah tongkat berbenturan dengan barang-barang sekitarnya. Nampak tangan mungil yang menggenggam ujung tongkat itu mengayunkan ke kanan dan ke kiri. PRAANGG sebuah pajangan keramik tak sengaja tersenggol olehnya yang menyebabkan barang itu terjatuh kelantai dan membuat suara nyaring.
" Ya ampun Regan kamu gapapa nak Apa ada yang luka " ucap Fayza yang langsung berlari menghampiri putra semata wayangnya.
" Aku gapapa Bu. Maaf yah Regan udah sekian kalinya mecahin barang-barang milik ibu " ucap nya meminta maaf, namun Fayza hanya tersenyum walaupun Regan tidak melihat senyuman itu .
" Gapapa sayang. Yang penting kamu gak terluka kan. Ya sudah sekarang kamu sarapan yah. Sebentar lagi kan kita mau Kerumah sakit "
" Oke bu " ucapnya kemudian sembari tersenyum manis memperlihatkan gigi-gigi kecil nya
Fayza sengaja sedari Regan kecil. Ia membiasakan anak laki-laki itu untuk mandiri dan mengerjakan semua pekerjaan nya sendiri. Fay harus lakukan itu agar nanti jika Regan sudah besar ia sudah bisa melakukan seperti halnya orang-orang normal lakukan. Dan tidak merasa kesulitan dan yang terpenting tidak merepotkan.
Ya. Saat delapan tahun lalu kala dirinya menginjakan kaki di Surabaya. Fayza berperang hebat dengan hatinya. Ia mendadak tidak tega untuk menyerahkan Regan pada orang lain. Seakan hati dan jiwanya menolak keras hal itu. Dengan keyakinan dan tekadnya Fayza pada akhirnya memutuskan untuk tetap membesarkan Regan seorang diri.
Walau itu tidak mudah. Penuh perjuangan dan air mata. Ditambah ia juga harus melawan sakit mental yang saat itu belum sembuh. Dengan terus semangat dan tekadnya Fayza berhasil membesarkan Regan dengan susah payah. Dan untungnya Regan tergolong anak yang pintar dan tidak banyak mengeluh ataupun menuntut.
__ADS_1
Ia juga termasuk anak yang tampan Walaupun dengan kekurangan nya yang tidak bisa melihat. Namun yang sudah dibilang diawal Regan anak yang tidak suka mengeluh. Ia selalu terlihat ceria dan itu seakan menjadi obat pelipur lara untuk Fayza. Tentu saja saat ini Fayza sangat bahagia walaupun hanya hidup berdua dirumahnya saat ini.
******
" Hasil pemeriksaan semuanya bagus. Regan anak yang hebat makin hari kondisi nya makin membaik. Tapi perlu di ingat yah Bu. Jangan membuat Regan merasa tertekan atau memberikan obrolan yang terlalu berat karena itu tidak baik untuk kestabilan jantung nya " dokter itu menjelaskan dengan tersenyum hangat.
" Iya dokter terimakasih banyak, saya pamit dulu mari " ucap Fayza dengan tersenyum balik. Dan ia pun segera keluar dari ruangan dokter tersebut dan menghampiri Regan yang sedari tadi duduk menunggu ibunya.
" Regan ayo. Sekarang kita ke toko yah ibu kan hari ini ada pesenan kue " ujar Fayza sembari merangkul Regan.
" Oke bu let's go " jawab Regan sumringah.
Untuk menghidupi dirinya dan Regan. Fayza sudah tujuh tahun membuka usaha kopi dan kue. Dengan uang modal dari penjualan rumah bekas peninggalan ayahnya. Fayza berhasil membuka gerai cafe yang menyajikan kopi dan aneka kue dan cemilan ringan.
Cafe nya Cukup ramai. Dan penghasilan nya pun sangat cukup untuk memenuhi kebutuhan Regan dan diri sendiri. Tak hanya itu Fayza juga harus bisa memanage keuangan dari usahanya. Itu karena ada karyawan yang harus ia gaji. Namun nampaknya sejauh ini usahanya lancar-lancar saja bahkan terbilang mulus.
Dan selama itu pula Fayza tidak pernah dekat dengan lelaki manapun. Walaupun terkadang ia bingung harus menjawab apa saat tiba-tiba Regan menanyakan tentang sosok ayahnya.
Pasalnya Fayza harus hati-hati kala memberikan jawaban. Itu karena Regan anak yang cukup perasa. Ia tidak mau membuat Regan sedih dan berdampak buruk pada kesehatan nya.
Saat sudah sampai di cafe. Suasana cafe sudah lumayan ramai. Letak posisi nya juga terbilang strategis diapit oleh gedung universitas dan tak jauh dari situ ada alun-alun yang sangat ramai. Dan kebanyakan pengunjung cafe nya para mahasiswa dan mahasiswi yang menghabiskan waktu saat setelah pulang kuliah.
Fay nampak sibuk duduk dimeja kasir. Dengan cekatan dan teliti ia memeriksa lagi Catatan pemasukan dan pengeluaran setiap rinciannya. Sedangkan Regan hanya duduk-duduk sembari membaca buku. tentu saja buku yang Regan baca berbeda dengan buku yang biasa orang normal baca.
__ADS_1
Tak lama berselang. Masuklah seorang bapak dan anak laki-laki yang mungkin seumuran dengan Regan. Keduanya nampak bercanda gurau sembari mencari tempat duduk pada bangku cafe tersebut. Dari meja kasir Fayza memperhatikan namun bukan dengan kedua orang tadi. Namun netranya sibuk memperhatikan Regan. Yang semula sedang membaca
Saat dirinya mendengar suara ayah dan anak tadi. Fokusnya menjadi teralihkan dengan sumber suara yang masih terdengar canda tawa. Walaupun tidak bisa melihat namun Fay yakin. Regan bisa merasakan. Melihat itu Fayza menghela nafas panjang dan membuang nya perlahan.
Fayza bangkit dari duduknya dan menghampiri Regan lalu ikut duduk disebelah putranya.
" Ekhem" Fayza berdehem pelan dengan maksud tidak ingin mengagetkan Regan.
" Eh ibu ngagetin aja deh " jawab Regan tersenyum
" Serius banget merhatiin apaan sih " tanya Fay seolah olah tidak tahu dengan apa yang sedang diperhatikan anaknya.
" Engga ko Bu. Aku lagi ngebayangin aja gimana sih rasanya punya ayah " jelas Regan dengan masih tetap tersenyum manis
Fayza langsung menunduk. Ia menggigit bibirnya kuat ada rasa sesak tersendiri direlung hatinya. Kala seusai mendengar ungkapan dari Regan putranya.
" Nanti suatu saat Regan pasti akan dipertemukan lagi ko sama ayah " ujar Fayza sekenanya. Tentu saja mendengar jawaban ibunya Regan langsung kembali tambah sumringah
💫💫💫💫
" Dan pada akhirnya pangeran pun hidup bahagia bersama keluarga kerajaan nya " suara Fayza yang sedang membaca penggalan kalimat terakhir dalam buku cerita. yang entah sudah berapa ribu kali ia bacakan untuk Regan.
Begitulah rutinitas yang fayza lakukan. Seperti saat ini dikala malam hari menjelang tidur. Regan pasti menginginkan Fayza membacakan dongeng untuk pengantar tidur. Apa lagi jikalau Regan sedang rindu dengan sosok ayah . Dirinya pasti akan meminta Fayza membacakan buku dengan alur cerita seperti penggalan kata diatas. Seperti pangeran kecil yang merindukan seorang ayah yang menjadi raja.
__ADS_1
Akan tetapi Fayza tetap konsisten. Ia tidak akan memberikan Cerita atau jawaban yang muluk-muluk pada Regan. Jikalau ia mulai bertanya tentang sosok ayahnya. Pasalnya Fay juga sudah tidak mengharapkan apapun lagi pada sosok lelaki yang kini diharapkan kehadirannya oleh Regan.
Bersambung . .