
"Bunuh saja saya, Tuan!" teriak Nesha yang telah habis kesabaran.
Mendengar itu, Lewis menghentikan langkahnya, kemudian menatap Nesha serius. "Kau memang akan mati, tapi tidak semudah itu," Nesha bergidik ngeri melihat raut wajah Lewis yang begitu mengerikan.
Nesha baru menyadari perubahan bola mata sebelah kiri Lewis yang terlihat berwarna kemerah-merahan. Nesha ingat sebelumnya kedua bola mata pria itu berwarna biru. Apakah warna bola matanya dapat berubah ketika sedang marah? Kalau iya, Nesha sangat meyakini pria di hadapannya ini adalah jelmaan iblis.
"Aakhh! Sakit Tuan!" jerit Nesha saat Lewis menjambak rambutnya kencang, sangat kencang hingga mengalirkan darah dari sela-sela rambut panjang Nesha. Nesha memegang tangan kanan Lewis yang mencengkram rambutnya, berharap pria itu mau melepaskannya.
"Kenapa? Sakit? Bukankah kau ingin mati?"
"Aw!" ringis Nesha saat Lewis melepaskannya, lalu mendorong Nesha kasar hingga tersungkur di lantai. Nesha terduduk dengan salah satu tangan meraba pinggulnya yang terhentak kuat, sedangkan tangan satunya merasai darah segar yang mengalir.
"Kent!" teriak Lewis dan Asisten Kent pun datang.
"Ada apa, Mister?" tanya Kent mengerutkan alisnya ketika melihat warna bola mata Lewis yang tak seperti biasanya.
"Kau bawa ja la ng ini dan berikan di pekerjaan!" titah Lewis kemudian pergi dengan terburu-buru. Asisten Kent membungkukkan badannya, kemudian menatap Nesha dengan raut wajah yang tampak kasihan.
"Apa Nona baik-baik saja?" tanya Asisten Kent mendekat, bukannya menjawab Nesha justru tersenyum miring.
"Apa saya terlihat baik-baik saja?" Nesha melempar kembali pertanyaan Asisten Kent.
__ADS_1
"Kalau begitu saya akan membantu Nona."
"Tidak perlu! Saya bisa sendiri," jawab Nesha mencoba bangkit secara perlahan.
"Saya mau dibawa ke mana?" tanya Nesha yang berjalan tertatih dan mengekor di belakang Asisten Kent.
"Silahkan masuk, Nona," Asisten Kent mempersilahkan Nesha masuk ke sebuah kamar. Nesha mengerutkan keningnya. Tidak mungkin Asisten Kent berbaik hati dan membolehkannya istirahat.
"Silahkan Nona masuk, di dalam kamar ada pakaian bersih. Nona harus mengganti pakaian lebih dulu, saya akan menunggu di sini," titah Asisten Kent dan Nesha pun mengerti.
Sebelum mengganti baju, Nesha masuk ke dalam kamar mandi, Nesha menyempatkan membersihkan dirinya yang sangat kotor dan berantakan. Ketika tersiram air, rasa perih datang dari sekujur tubuhnya, terutama di bagian kulit kepala dan sudut bibirnya. Ketukan pintu terdengar, Nesha langsung mengakhiri mandi dan memasang pakaian dengan cepat.
"Saya sudah selesai, Tuan," ujar Nesha yang wajahnya jauh lebih bersinar daripada sebelumnya.
"Kalian semua boleh istirahat," titah Asisten Kent mengusir semua pelayan maupun chef yang ada di ruang masak.
"Nona bersihkan saja ruangan ini. Kalau sudah selesai, Nona boleh beristirahat," Nesha menatap Asisten Kent dalam, tampaknya Asisten Kent berbeda dengan pengawal maupun pelayan lainnya.
"Tuan," cegat Nesha.
"Ada apa, Nona?"
__ADS_1
"Adik saya ada di mana, Tuan?" tanya Nesha khawatir kala mengingat sang adik.
"Nona tidak perlu khawatir," balas Asisten Kent langsung pergi begitu saja, meninggalkan Nesha yang harus membersihkan ruangan masak yang benar-benar berantakan.
Sebelum bersih-bersih, Nesha melihat ke kiri dan ke kanan. Setelah memastikan tidak ada satu orang pun, Nesha mengambil gelas, membuat kulkas dan mengambil minuman. Nesha minum hingga hausnya reda.
Melihat ada roti tawar di atas meja, Nesha langsung melahapnya tanpa dioleskan apa pun. Bodoh dengan rasa, yang terpenting adalah dia tak akan mati kelaparan. Nesha melahap roti dengan cepat agar tak ketahuan oleh siapa pun. Setelah merasa cukup, barulah Nesha mulai bersih-bersih.
Cukup lama Nesha berkutat dengan peralatan masak yang kotor, sapu, dan juga kain pel hingga pada akhirnya semuanya telah Nesha bersihkan. Nesha sudah terbiasa dengan pekerjaan sejenis itu, karena itulah pekerjaan yang dia lakukan selama ini.
Nesha mulai meninggalkan ruangan masak, kemudian menyusuri Mansion secara diam-diam. Tujuan Nesha adalah mencari di mana keberadaan adiknya, Diya. Nesha sangat yakin adiknya ada di kamar Lewis di lantai atas. Nesha menuju ke sana dengan menaiki satu persatu anak tangga.
Tiba di lantai tiga Mansion itu, Nesha
berjalan dengan ujung jari kaki saja yang berjejak, agar langkahnya tak terlalu terdengar. Nesha berhenti ketika sudah berada di depan sebuah pintu kamar yang terbuat dari baja, sangat kokoh.
"Aah ahh ....
"Diya!"
.
__ADS_1
.
.