Terjeret Ranjang Balas Dendam Mr. Lewis

Terjeret Ranjang Balas Dendam Mr. Lewis
Bab 43 ~ Impervorata


__ADS_3

"Nesha tidak mengalami Menstruasi Karana dia—"


"Aku kenapa, Mommy?" tanya Nesha penasaran.


"Sebelum Mommy jawab, Mommy akan bertanya dulu kepadamu," Daddy Usan dan Lewis terlihat geram seakan ingin menghajar Mommy Asha karena saking gemasnya.


"Bertanya apa, Mommy?" sahut Nesha cepat.


"Apakah kamu masih ... Maaf, apakah kamu masih virgin, Sayang?" Lewis mendekat, tak sabar ingin mendengar jawaban Nesha. Tapi, mau Nesha tidak virgin pun, Nesha tetap istimewa di hatinya.


"Ma-masih, Mommy," jawab Nesha dengan wajah yang memerah karena malu. Daddy Usan memberikan kode selamat kepada Lewis, sedangkan Lewis tersenyum senang.


"Terima kasih sudah menjaga dirimu untukku, Sayang. Aku tidak akan menyia-nyiakanmu seumur hidupku," tutur Lewis berterima kasih, lalu mendaratkan bibir hangatnya di kening Nesha.


Nesha kembali menunduk malu. Tapi, hatinya begitu berbunga-bunga mendengar ucapan Lewis barusan. Kalau tidak ada siapa pun, maka Nesha ingin berguling-guling di lantai saking senangnya. Nesha tak tahu, perasaan bahagia yang teramat juga Lewis rasakan. Pria itu juga ingin berguling-guling di lantai saking bahagianya.


"Kalau begitu kamu tidak perlu khawatir karena kemungkinan jenis selaput dara kamu itu adalah impervorata. Impervorata merupakan jenis kelainan bawaan di mana tidak adanya lubang sehingga darah haid tidak bisa keluar," terang Mommy Asha membuat Nesha menganggukan kepalanya, ia juga pernah membaca artikel tentang hal itu.


"Bukannya kalau Virgin memang tidak ada lubangnya, Mom? Tapi, kalau tidak ada lubang, bagaimana bisa masuk?" tanya Lewis sesuai pengetahuan yang minim tentang perempuan.

__ADS_1


"Kamu itu bodoh wajar tidak tahu," ejek Mommy Asha.


"Mommy," tekan Lewis murka.


"Mommy, apakah ini berbahaya?" tanya Nesha pelan, tapi masih terdengar oleh Mommy Asha.


"Tidak, Sayang. Kamu tenang saja. Dokter Xabell pasti bisa mengatasinya. Lewis, hubungi Xabell," titah Mommy Asha.


"Baik, Mommy." Lewis langsung menghubungi dan meminta Dokter Xabell untuk datang. Mommy Asha langsung memeluk Nesha karena mengerti akan perasaan ketakutan yang dirasakan oleh menantu kesayangannya itu.


Setelah Dokter Xabell datang, Mommy Asha dan Lewis membawa Nesha ke kamar, sementara Daddy Usan memilih untuk kembali fokus pada layar laptopnya. Tiba di kamar, Nesha diminta berbaring di atas ranjang.


"Apa mau aku bantu, Sayang?" tawar Lewis membuat raut wajah Nesha memerah.


"Kamu pria satu-satunya di kamar ini. Jadi, tolong balikkan badan anda wahai Tuan Lewis," titah Dokter Xabell ketus.


"Xabell, Aku ini Suaminya!"


"Maaf, Tuan. Ini demi kenyamanan pasien saya."

__ADS_1


"Tinggal berbalik badan saja apa susahnya Lewis!" geram Mommy Asha membalikkan paksa badan Putranya, ia juga turut membalikkan badannya agar mental sang menantu tetap terjaga.


"Tidak apa-apa, Nona. Tidak perlu malu pada saya," tutur Dokter Xabell lembut saat melihat Nesha yang ragu menurunkan celananya. Sementara Dokter Xabell mulai memasang sarung tangan khususnya.


"Maaf, ya, Nona," izin Dokter Xabell membuka lebar kedua paha Nesha. Nesha mengangguk cepat dengan ekspresi malunya.


"Mommy, bisa bantu aku pegang senternya? Nona tidak perlu malu, ya," Nesha kembali menganggukan kepala. Mommy Asha membantu memegang senter khusus itu, sedangkan Dokter Xabell mulai memeriksa dengan serius.


"Bagaimana Xabell?" tanya Mommy Asha penasaran. Lewis yang masih berbalik badan memasang telinganya lebar. Sedangkan Nesha merasa tak tenang. Bukan karena malu, tapi karena takut mendengar diagnosis yang akan Dokter Xabell katakan.


Dokter Xabell tak menjawab, tapi ia langsung melepaskan sarung tangannya. Sedangkan Nehsa langsung membenarkan posisi dan memasang kembali celananya dengan cepat.


"Setelah saya periksa, ternyata ....


.


.


.

__ADS_1


__ADS_2