Terjeret Ranjang Balas Dendam Mr. Lewis

Terjeret Ranjang Balas Dendam Mr. Lewis
Bab 16 ~ Terengut


__ADS_3

"Aaakh!" teriak Diya kala Lewis menarik handuknya dengan kasar, lalu membuangnya ke sembarang arah. Diya hanya mampu menutupi bagian sensitifnya dengan kedua tangan seadanya.


Lewis tersenyum nyalang, sementara Diya terus memohon agar Lewis tak lagi melakukan hal itu kepadanya. Tapi, Lewis tak peduli. Dia melepaskan ikat pinggangnya dengan satu tangan, sementara tangan sebelahnya menahan Diya agar tak bisa kabur darinya.


Setelah berhasil melepaskan ikat pinggangnya, Lewis pun mengangkat kedua tangan Diya paksa, kemudian mengikat tangan Diya hingga kulit Diya memerah karena saking kencangnya diikat.


"Mister, tolong lepaskan, sakitt Mister," Diya meringis kesakitan dan memohon agar Lewis mau melepaskannya. Namun, Lewis benar-benar tak peduli. Hasratnya yang sudah memuncak perlu untuk dilepaskan, bisa pusing seharian bila kepuasan tidak digapainya.


"Diam, kita lanjutkan apa yang memang harus dilakukan," bisik Lewis ditelinga Diya. Tubuh Diya menegang saat Lewis men ji lat cuping telinganya, memainkan lidah dan sesekali menggi gitnya. Diya mengatup bibir dengan erat, agar tak ada suara erotis yang lolos dari mulut mungilnya.


"Uhh ..." sayangnya, sekuat apa pun Diya menahan, tapi lenguhan itu tetap lolos saat Lewis mulai mere mas kedua bongkahan gundukannya yang sintal, padat, mulus dan berisi walau ukurannya tak terlalu besar.


"Miss ah," lenguh itu semakin menjadi saat Lewis tak hanya menji latnya, tetapi juga meng ulum, memelin tirnya dan meng gigit lembut. Seketika Lewis menghentikan permainannya saat mendengar lenguhan Diya yang malah menyebutnya Miss.


"Sebut namaku," pinta Lewis meraih dagu Diya dengan paksa. Air mata Diya yang mengalir membasahi tangan kekar Lewis.

__ADS_1


"Le ... wis ..." tutur Diya dengan suara bergetar.


"D...n Lewis Talsen Baldev. Panggil aku D...n," ucap Lewis menyebut nama panjangnya sambil menatap Diya tajam, pemilik bola mata berwarna kemerahan di sebelah kiri itu membuat Diya semakin ketakutan. Menatap Lewis bagaikan menatap iblis pencabut nyawa baginya.


Author : Sengaja kasih titik-titik, biar kalian makin pusing🙊💃. Yuk, tebak, yuk nama depan Lewis🙈.


"D...n," lenguh Diya menyebut nama depan Lewis, Lewis tersenyum senang, kemudian kembali melu mat bibir manis Diya.


Saat ini Diya hanya pasrah, kedua tangannya yang terikat akan perih bila berontak. Gadis bertubuh polos itu hanya bisa menangis, menyalahkan Tuhan yang memberikannya cobaan luar biasa berat.


Diya menangis sekaligus marah, marah pada tubuhnya yang malah merasakan nikmat yang luar biasa ketika usapan itu semakin bertenaga. Diya benar-benar merasa jijik dan membenci dirinya sendiri. Di situasi seperti itu, bagaimana dia bisa merasakan kenikmatan tersebut, padahal jelas hatinya tak menerima atas apa yang Lewis lakukan.


"Ahh, jangan, Mister!" mohon Diya berteriak sambil menggelengkan kepalanya saat Lewis berusaha menerobos pertahanannya dengan salah satu jarinya.


"Jadi, kau masih perawan," Lewis tersenyum nyalang dan mengurungkan niatnya menerobos dengan jari.

__ADS_1


Lewis bangkit, membuka pakaian dengan terburu-buru seraya memandang tubuh indah Diya yang polos tak berbalut sehelai kain pun. Lewis dibuat tergila-gila akan keindahan yang ada pada inchi demi inchi tubuh Diya.


Benar-benar membuatnya tergoda walau hanya memandang saja. Apalagi merasakannya, Lewis takut nyawanya yang melayang saking nikmatnya.


Diya mengalihkan pandangan karena takut saat tak sengaja melihat betapa perkasanya senjata Lewis yang sudah berdiri dengan sempurna. Bulu-bulu halus yang ada di tubuhnya bangkit, bergidik ngeri saat membayangkan benda besar, panjang, dan berurat itu akan menerobos dan merobek-robek tubuhnya.


"Kau akan jadi milikku, Diya Sayang," Lewis mulai memposisikan dirinya, tak sabaran ingin segera merasakan kenikmatan tubuh Diya. Kenikmatan yang belum pernah dirasakannya, karena ini adalah pertama kali bagi Lewis merasakan wanita yang masih perawan. Untuk itu, Lewis pastikan tak akan melewatkan kenikmatan itu.


"Mister jangan, saya mohon jangan," tangis Diya memohon, namun percuma karena Lewis seakan tuli tak mendengarkan apa yang Diya ucapkan. Yang Lewis pedulikan hanya kenikmatan dan kenikmatan.


"Aaakh! .....


.


.

__ADS_1


.


__ADS_2