
Beberapa menit berlalu, Lewis bangkit secara perlahan, kemudian berjinjit mendekati ranjang di mana Nesha terbaring di atasnya.
"Nesha, Nesha," panggil Lewis sambil mengibas telapak tangan di hadapan wajah manis Nesha yang tengah terlelap. Setelah memastikan Nesha telah terlelap dengan nyenyak, Lewis pun kembali duduk di sofa tempatnya berbaring sebelumnya.
Lewis duduk dengan tenang, meraba saku celana dan mengambil ponsel mini yang tersimpan di dalamnya. Ponsel miliknya benar-benar mini, persisi seperti ponsel jadul zaman dahulu sebelum keluarnya android. Lebar ponsel hanya sekitar satu senti meter dengan panjang dua senti meter, benar-benar mini.
Tapi, jangan selalu memandang sesuatu dari luarnya saja atau dari fisiknya saja. Karena jelas ponsel mini itu adalah ponsel pintar yang sudah dirancang khusus. Alat mana pun tak dapat mendeteksinya, karena hal itulah Dayan tak mengetahui jika sang adik mempunyai ponsel canggih di genggamannya.
Ponsel tersebut dapat dioperasikan tanpa harus ada sinyal dan tak perlu mengisi daya. Ponsel super canggih itu tidak dapat difungsikan langsung dengan kontak tangan atau kulit manusia, melainkan hanya bisa difungsikan dengan menggunakan sebuah pen khusus berukuran kurang dari satu senti meter.
Karena sudah terbiasa, Lewis mulai menari-narikan pen tersebut di layar ponsel pintar miliknya, mencari sebuah nomor dengan cepat, lalu membuat sebuah panggilan. Kini, ponsel mini sudah melekat di telinga sebelah kanan.
"Bagaimana?" tanya Lewis pada seseorang di seberang sana.
"Sudah, Mister. Semuanya berjalan sesuai rencana," jawab seseorang dengan suara yang tak siang di seberang sana.
"Kerja bagus," Lewis tersenyum nyalang.
"Oh, ya, wanita yang bersamaku benar-benar dia, bukan?" lanjut Lewis bertanya penasaran, pandangan matanya mengarah pada Nesha yang terlelap membelakanginya.
"Benar, Mister."
__ADS_1
***
Lewis palsu alias Dayan melangkah masuk ke dalan ruangan hitam, ruangan hitam adalah ruangan luas persis seperti aula. Ruangan itu disebut ruangan hitam karena di sanalah mereka akan merencanakan misi dunia hitam atau misi di bawah meja, atau biasa disebut juga misi di bawah tangan. Sifatnya tentu saja rahasia.
Semua pengawal yang berkumpul langsung membungkukkan badan ketika Lewis palsu memasuki ruangan dan duduk di kursi kebesarannya. "Apa mereka masih belum memberikan izin?" tanya Lewis palsu sambil melipat kedua kaki.
"Iya, Mister. Pembukaan cabang bar dan hotel ditolak mentah-mentah, mereka mengatakan negara mereka bebas dari alkohol, narkoba maupun prostitusi," terang salah satu dari mereka yang berdiri di barisan paling depan, dengan tubuh paling kekar dan warna kulit paling gelap serta rambut gondrong diikat asal. Di salah satu sisi pipinya terdapat jahitan bekas luka sayatan pisau, membuat raut wajahnya terlihat semakin mengerikan, dia adalah ketua di Markas. Pengawal lain memanggilnya dengan nama Ketua Milten.
"Persiapkan rencana dan serang mereka!" serunya memberi perintah, perintah yang membuat semuanya menatap heran, terutama Asisten Kent.
"Mister, biasanya tidak begitu, tidak langsung menyerang mereka. Biasanya Mister akan mengirim saya ke sana dan menyelesaikannya secara baik-baik, bila tidak bisa, baru kita serang mereka," tutur Asisten Kent menjelaskan. Karena selama ini hal seperti itu akan dibebankan kepadanya, bila tak dapat dirinya selesaikan seorang diri, barulah anggota lain maju.
Mendengar itu, Lewis palsu atau Dayan langsung memberikan tatapan tajam pada Asisten Kent. Tatapan tak suka yang terlihat seperti ingin membunuh hingga Asisten Kent pun terdiam karenanya.
***
Dayan yang baru memasuki Mansion dikagetkan dengan laporan seorang pelayan pria yang mengatakan kalau Diya tak bersuara sama sekali ketika mereka panggil.
"Dasar bodoh! Kenapa tidak kau buka pintu kamar dan lihat apa yang terjadi kepadanya!" bentak Dayan murka.
"Maaf, Mister. Tapi, Mister melarang kami membuka apalagi sampai masuk ke kamar Mister," Dayan tak tahu kalau sang adik alias Lewis asli membuat peraturan sejenis itu.
__ADS_1
"Dasar bodoh!" Dayan memberikan pukulan tepat di perut pelayan pria itu hingga terkapar di lantai dengan darah mengalir dari mulutnya.
BRAK!
Karena tak sabaran, Dayan langsung menendang pintu kamarnya hingga terbuka lebar. Pandangan Dayan langsung menuju ranjang, akan tetapi tak ada siapa pun di sana. Dayan memeriksa ruangan ganti dan ruangan lain di kamarnya, tapi tak kunjung menemukan keberadaan Diya.
Mendengar kucuran air dari dalam kamar mandi, Dayan yakin Diya sedang berada di dalamnya, dia langsung mendobrak pintu dan betapa kagetnya dia saat melihat ....
.
.
.
Komennya mana ini, Guys. Kok sepi, jadi enggak semangat🥺
Nesha
Diya
__ADS_1