
Setelah berhasil membuat adik kembarnya menikahi seorang gadis yang dia pilih, Dayan alias Mr. Lewis palsu langsung memberi perintah kepada pengawalnya untuk kembali, karena dia telah puas menyaksikan apa yang dia inginkan terjadi. Dan lift yang terbuat dari kaca itu pun perlahan mulai naik ke atas.
Sementara Nesha masih terduduk di lantai dingin dengan Diyan alias Mr. Lewis asli menggenggam erat dagunya. Nesha tak bisa melakukan apa pun selain pasrah, gadis cantik itu pasrah tentang apa yang akan terjadi selanjutnya.
Bila memang harus disiksa lagi, dia pun tak lagi peduli. Bahkan, air mata yang tadinya tumpah ruah, kini juga tak lagi mengalir. Mata sembab itu perlahan mengering, wajah itu kian memucat. Tapi, pandangan Nesha pun mulai kosong, Nesha benar-benar tak lagi punya semangat untuk hidup.
"Hukuman apa yang pantas untuk wanita pembunuh sepertimu!" bentakan Diyan tak lagi membuat Nesha ketakutan, melainkan tersenyum pilu dengan pandangan kosong.
"Terserah padamu mau memberikan hukuman apa, mau langsung membunuhku sekarang atau mau menyiksaku lebih dulu. Silahkan," jawab Nesha tersenyum menyedihkan, benar-benar menyedihkan hingga membuat Diyan melonggarkan dan pada akhirnya melepaskan genggaman tangannya di dagu Nesha.
Merasakan dagunya tak lagi sakit, Nesha pun menengadah, menatap heran pada sosok pria kekar di hadapan, yang justru mengulurkan tangan sambil tersenyum manis.
Benar-benar manis, terlihat sangat tampan dan lembut. Tapi, ke mana sosok iblis yang tadi ingin memberikannya hukuman? Tidak mungkin bisa berubah secepat itu.
"Bangunlah," ucapnya mengulurkan tangan, jangan lupakan senyuman manis yang dapat meneduhkan hati itu.
Melihat Nesha yang masih kebingungan dan tak meresponnya, Diyan pun kembali duduk bertumpu pada telapak kaki, kemudian memegang kedua pundak Nesha dengan lembut seraya berkata, "Bangunlah, Dayan sudah pergi dan di ruangan ini tidak ada kamera cctv," ajak Diyan tapi Nesha masih membatu. Gadis malang itu masih mencerna kata demi kata yang Diyan ucapkan.
__ADS_1
Geram karena Nesha tak kunjung bangkit, Diyan pun merangkul Nesha lalu menggendongnya, kemudian membaringkannya ke atas ranjang dengan begitu perlahan seakan tubuh Nesha adalah keramik yang mudah pecah.
Ketika dibaringkan di atas ranjang, Nesha masih terlihat linglung. Wanita dengan wajah dan gaun berlumur darah itu masih belum sepenuhnya mengerti akan hal yang terjadi. Kenapa Diyan tiba-tiba bersikap lembut kepadanya? Apakah kekerasan yang Diyan lakukan sebelumnya hanya untuk diperlihatkan kepada Dayan sang kembarannya? Atau Diyan sedang merencanakan sesuatu? Apa yang sebenarnya terjadi?
"Tenanglah dan tidak perlu takut kepadaku. Aku tidak akan memberikan hukuman kepada seorang wanita, sebesar apa pun kesalahannya. Dengan syarat, dia mau bercerita tentang yang sebenarnya kepadaku," tutur Diyan membuat Nesha tercengang.
Ternyata benar dugaannya, Diyan berbeda dengan kembarannya. Kemungkinan besar dia juga kejam, tapi syukurlah karena Diyan masih punya perasaan. Berbeda dengan sang kakak yang jelas-jelas adalah seorang Psycho.
Senyuman tipis akhirnya terbit di bibir pucat Nesha, air mata kebahagiaan mengalir tanpa sanggup dia bendung. Nesha merasa senang dan lega karena setidaknya masih ada seseorang yang baik kepadanya.
"Aku membu—"
"Ssstt ... Tidak perlu sekarang, aku akan menunggu hingga kamu siap bercerita kepadaku. Sebentar," potong Diyan menuju dapur dengan berlari kecil.
Beberapa saat kemudian, Diyan kembali dengan membawa semangkuk air hangat dan handuk mini. Diyan meletakkan mangkuk itu di atas nakas, lalu duduk di pinggir ranjang dan mulai melepaskan ikatan di kening Nesha. Nesha meringis merasakan sakit, Diyan pun melakukan dengan perlahan.
"Aku akan membersihkannya dengan perlahan," ujarnya mengelap darah di wajah dan rambut Nesha, Diyan bahkan tidak memedulikan luka di tangannya. Nesha kembali menangis haru. Setelah selesai membersihkan sisa-sisa darah, Diyan mulai meneteskan obat yang dia ambil dari kotak p3k, setelahnya pria tampan itu membalut luka di kening Nesha dengan menggunakan perban yang juga dia berikan obat.
__ADS_1
"Apa yang mau kamu lakukan?" cegat Nesha kaget.
"Melepaskan pakaianmu."
.
.
.
Diyan Lewis
Nesha
__ADS_1