Terjeret Ranjang Balas Dendam Mr. Lewis

Terjeret Ranjang Balas Dendam Mr. Lewis
Bab 07 ~ Budak


__ADS_3

Nesha dan Diya dikawal oleh empat orang pelayan pria menuju ke sebuah kamar. Benar-benar aneh, Mansion sebesar itu semua pelayannya hanya para laki-laki. Satu pun tidak ada pelayan perempuan. Hal itu membuat Nesha merasa was-was.


"Masuk!" paksa pengawal itu mendorong paksa Nesha dan Diya masuk ke sebuah kamar yang masih ada di lantai dasar. Nesha dan Diya pun tersungkur di lantai dingin kamar itu.


BRAK!


Suara pintu kamar yang ditutup sekuat tenaga, membuat Nesha dan Diya kaget.


"Kamu tidak apa-apa, kan, Sayang?" tanya Nesha mengkhawatirkan keadaan Diya.


"Aku baik-baik saja, Kak. Kakak bagaimana?" tanya balik Diya karena tahu bahwa Nesha didorong lebih kasar.


"Kakak juga baik-baik saja, ayo bangunlah," Nesha bangkit lebih dulu, lalu membantu adiknya berdiri.


"Kak, Diya tidak suka tempat ini," ujar Diya seraya memandang kamar cukup luas yang akan mereka tempati.


"Sabar, ya, Sayang. Kita pasti bisa keluar dari tempat ini. Kakak berjanji akan membawamu pergi dari tempat ini, percayalah pada kakak oke," meski tak tahu bagaimana bisa keluar dari neraka itu, tapi Nesha tetap berusaha agar adiknya tenang dan tak ketakutan.


"Tapi, ke mana kita akan pergi kak? Rumah kita sudah jadi abu," tutur Diya seketika kembali menangis saat mengingat rumahnya yang telah menjadi abu dilahap si jago merah.


"Pria jahat itu, aku yakin pria jahat itulah yang telah membakar rumah kita. Satu-satunya harta peninggalan Ayah dan Ibu," lanjut Diya.


Nesha menuntun Diya untuk duduk di pinggir ranjang. "Dengarkan Kakak baik-baik, semuanya akan baik-baik saja, percayalah kepada kakak," Nesha bingung harus melakukan apa? Dia juga tahu kalau yang membakar habis rumahnya adalah pria bejat itu. Tapi, apa yang bisa mereka lakukan saat ini. Bahkan, dia dikurung di dalam kamar dan tak bisa berbuat banyak.

__ADS_1


"Tapi kapan, Kak?"


"Bersabarlah sedikit lagi, ya." Nesha memeluk Diya dengan erat.


"Kak," panggil Diya melonggarkan pelukannya.


"Ada apa, Sayang?"


"Aku lapar, Kak."


"Lapar? Sebentar," balas Nesha meraba saku celananya, hingga menemukan sebungkus roti berukuran sedang.


"Ini, makanlah," Diya menyambutnya.


"Kakak tidak lapar, Sayang. Kamu makan saja, ya, setelah itu kita istirahat bersama. Kamu pasti lelah," Diya menganggukkan kepala sambil membuka bungkus roti. Kemudian Diya membagi dua roti, lalu mengulurkannya untuk sang kakak.


"Kakak tidak lapar, Diya. Kamu makan saja," tolak Nesha halus.


"Diya tahu kakak lapar, ayo kita makan bersama, Kak. Kalau kakak tidak mau, Diya juga tidak akan memakan roti bagian Diya," Diya terpaksa mengancam, karena kalau tidak begitu. Maka sang kakak tidak akan menerima roti pemberiannya.


Tak punya pilihan, Nesha pun menerima roti tersebut dengan tersenyum manis. Kakak beradik itu makan sebungkus roti berdua. Kenyang? Tentu saja tidak. Tapi, setidaknya bisa sedikit mengganjal rasa lapar yang menghantui. Selesai makan sebungkus roti berdua, Nesha dan Diya naik ke atas ranjang dan istirahat bersama.


Byyurrr!

__ADS_1


Seember air membasahi sekujur tubuh Nesha, beruntung tak mengenai tubuh Diya yang masih terlelap dengan jarak yang agak jauh dari Nesha. Nesha yang kaget langsung bangkit, seseorang pria berwajah menyeramkan di samping ranjang membuatnya menelan saliva bersusah payah.


Saat pelayan itu akan menyiram adiknya, Nesha langsung mencegatnya, "Saya mohon jangan lakukan kepada adik saya. Dia sedang tidak enak badan, lagipula dia tidak bersalah dalam kasus ini. Sayalah pembunuhnya, jadi saya mohon hukum saja saya," pinta Nesha memohon sambil terisak pelan.


"Kalau begitu ayo ikut!" bentak pelayan pria itu langsung menyerat Nesha keluar dari kamar.


Nesha pasrah saat diseret hingga tiba di halaman Mansion, tepatnya di sebuah kebun bunga yang tak terurus dan banyak ditumbuhi rumput liar. Nesha melihat sekeliling, benar-benar tak ada cela baginya untuk kabur. Pengawal maupun pelayan pria berada di mana-mana.


Nesha kebingungan saat semua orang membungkukkan badan mereka serentak. Nesha membalikkan badannya, rupanya ada Lewis yang baru muncul.


"Apa yang kau lihat? Cepat bersihkan kebun ini sampai bersih. Jika dalam setengah jam tidak bersih, maka aku akan menghukum adikmu," titah Lewis tersenyum nyalang.


"Dia membebaskanku dari penjara hanya untuk menyiksaku perlahan." batin Nesha.


"Kamu ingin menjadikan aku istri atau budak?" tanya Nesha dengan tangan yang terkepal membentuk sebuah tinjuan.


"Istri? Cih! Menjadi mainan ranjangku saja kau tak pantas!"


.


.


.

__ADS_1


__ADS_2