Terjeret Ranjang Balas Dendam Mr. Lewis

Terjeret Ranjang Balas Dendam Mr. Lewis
Bab 22 ~ Berita Duka


__ADS_3

"Aku bersedia!" tegas Diyan menggepal erat kedua tangan membentuk satu tinjuan. Sedangkan Nesha merasai dadanya yang sesak, air matanya mengalir deras. Nesha menangisi kisah hidupnya yang tragis, dia sudah sah menjadi istri seorang pria yang bahkan tidak dikenalnya. Benar-benar sudah hancur, masa depan yang dia rancang sedemikian rupa telah hancur tak bersisa. Sekarang tidak ada secuil pun kebahagiaan yang akan dia dapatkan, hanya akan ada air mata, kesakitan, dan juga penyesalan.


Nesha kaget saat Diyan merangkul kedua pundaknya, mengangkat wajahnya, kemudian menatapnya dengan tatapan tajam. Netra berwarna biru terang itu mampu membuat jantung Nesha berdebar tak beraturan. Nesha menengadah, menatap sayu pria yang dua puluh senti lebih tinggi darinya itu. Nesha menggelengkan kepala berharap pria itu tak lagi melanjutkan ucapannya.


"Aku bersedia ... Aku akan mencintai Nesha, menghibur Nesha, menghormati Nesha, melindungi Nesha dan setia pada Nesha selamanya sampai mati," ucap Diyan tepat di hadapan wajah Nesha. Air mata kembali lolos dari kedua sudut mata Nesha kala mendengar ucapan Diyan yang terdengar begitu lantang di telinganya. Sudah terlambat, masa depannya yang cerah tak bisa lagi kembali. Semuanya benar-benar sudah hancur. Nesha tak kuasa menahan tangis, isakan tangis itu terdengar begitu pilu.


"Selamat kepada Tuan Diyan dan Nona Nesha. Sekarang pengantin pria harus mencium pengantin wanita!" ucap pendeta langsung kembali ke posisi semula. Nesha terbelalak mendengar apa yang pendeta ucapkan, sejak kapan berciuman diharuskan.


"Lakukan, aku ingin melihatnya," pinta Dayan yang masih berada dalam kotak kaca di hadapannya. Pria bengis yang selama ini menyiksanya tersenyum miring, tampaknya dia sudah tak sabaran ingin melihat Nesha hancur, benar-benar hancur berkeping-keping. Nesha tidak tahu apa kesalahan yang dia buat pada Dayan, hingga ia begitu membenci gadis tak malang seperti Nesha.

__ADS_1


Diyan menarik pinggang ramping Nesha dengan tangan kekar sebelah kanan, lalu mengangkat wajah oval Nesha dengan tangan sebelah kiri. Pria kekar dengan wajah tegas itu mulai mendekati wajah cantik Nesha, mengikis jarak dengan perlahan.


Sedangkan Nesha langsung memejamkan mata, berharap segera terbangun dair mimpi buruknya. Saat ini benar-benar adalah titik terendah dalam hidupnya, dinikahi dan ciuman pertamanya akan direbut oleh pria yang tidak dicintai juga tidak mencintainya,


"Diya, kakak harap kamu tidak merasakan hal yang sama seperti yang kakak rasakan. Kakak harap kamu selalu bahagia. Tuhan, terserah padamu ingin menyiksaku seperti apa. Tapi, aku mohon jangan adikku," suara hati Nesha yang begitu pilu dan pasrah. Andai dia tahu kalau sang adik juga tak kalah menderita dari dirinya.


Ketika tetesan air mata Nesha mengenai ujung hidungnya yang lancip, saat itu pula Diyan langsung melepaskan Nesha. Entah kenapa Diyan merasa bersalah atas apa yang barusan dia lakukan kepada Nesha, padahal jelas Nesha sudah sah menjadi istrinya.


Nesha hanya mampu terisak, menangisi kisahnya yang begitu malang. Setelah ini, entah kemalangan apa lagi yang akan dirinya dapatkan.

__ADS_1


"Bagus, Adikku benar-benar hebat. Pendeta kau sudah boleh pergi," seorang pengawal datang lalu membawa pendeta pergi. Jangan tanya apa yang akan terjadi kepada pendeta itu. Karena pastinya akan sama seperti Suster yang sebelumnya memeriksa Nesha.


"Oh ya, aku hampir lupa. Aku ingin memberikan berita duka kepadamu. Lihatlah layar di belakangmu."


.


.


.

__ADS_1


__ADS_2