
Di bawah teriknya sinar matahari siang itu, Nesha menyeka keringatnya yang bercucuran. Setelah itu kembali fokus mencabut rumput liar dengan menggunakan kedua tangannya. Ya, Lewis tak mengizinkannya menggunakan satu pun alat kebun.
Baju Nesha yang semula basah, kini mengering di badan saking teriknya siang itu. Entah bisa atau tidak dirinya membuat bersih kebun dalam waktu tiga puluh menit. Tapi, Nesha harus berusaha semampunya, karena kalau tidak berhasil. Maka, Diya yang akan jadi sasaran. Nesha tak ingin hal itu terjadi.
Dua puluh menit berlalu, tapi Nesha baru mencabut rumput liar seperempat dari kebun yang luas. Waktu yang tersisa hanya sepuluh menit, rasanya sangat tak mungkin Nesha bisa menyelesaikan tugasnya sesuai yang Lewis inginkan. Apalagi saat ini tenggorokannya terasa sangat kering. Nesha membutuhkan air untuk diminum, kalau tidak dia bisa mengalami dehidrasi.
Nesha mendelik, mencari keberadaan selang atau keran air yang kemungkinan tersedia untuk menyirami tanaman. Namun, Nesha tak menemukan apa pun. Nesha benar-benar kelelahan, tubuhnya bahkan bergetar dengan sendirinya.
Nesha kembali terduduk di padang rumput liar. Namun, seorang pelayan pria mendekat dan menyeret Nesha kembali masuk ke dalam Mansion. Seketika Nesha membelalakkan matanya, kala melihat Diya adiknya tengah duduk tepat di sebelah Lewis. Diya duduk sambil menundukkan wajahnya. Sementara Lewis mengusap kepala Diya seraya tersenyum smirk ke arah Nesha. Nesha mengepalkan tangannya murka.
"Lepaskan Adik saya, Tuan. Saya mohon jangan lakukan apa pun padanya, dia tidak bersalah, saya yang salah," tangan yang semula terkepal kini melemah, Nesha berlutut di lantai. Memohon agar Lewis tak menyakiti adiknya tersayang.
__ADS_1
"Bukankah kau gagal membersihkan kebun dalam waktu setengah jam?" tanya Lewis santai.
"Saya masih punya kesempatan waktu sepuluh menit, izinkan saya keluar dan menyelesaikannya segera. Tapi, saya mohon jangan sentuh adik saya," Nesha menyatukan kedua tangannya memohon, tapi Lewis terlihat tak peduli.
"Sepuluh menitmu sudah habis dan kau gagal. Adikmu yang akan menerima hukuman," Lewis mengangkat wajah Diya, membuat wajah cantik itu menatapnya. Di depan mata Nesha, Lewis menyentuh kening, kedua mata, hidung, dan terakhir menyentuh lembut bibir ranum Diya.
"Jangan!" Nesha bangkit dan siap akan menerkam Lewis. Tapi, gerakannya kalah cepat dari pengawal yang langsung menahannya.
"Lepaskan!" teriak Nesha berontak, tapi pengawal justru menahannya semakin erat.
"Saya saja, Tuan. Hukum saja saya! Tapi, lepaskan Adik saya!" teriak Nesha memohon dengan berlinang air mata. Rasa haus yang tadi dia rasakan seketika hilang, digantikan dengan perasaan khawatir dan menyesal. Khawatir akan keselamatan Adiknya dan menyesal karena dia telah salah mengambil keputusan.
__ADS_1
Jika saja Nesha lebih memilih mendekam di penjara hingga mati, mungkin Diya tak akan menjadi korban seperti yang terjadi saat ini. Tapi, apalagi yang bisa dilakukan, penyesalan memang selalu datang belakangan.
"Hukum saja saya, Tuan. Saya mohon sentuh saya sepuasnya, tapi jangan adik saya," mohon Nesha kembali tersungkur ke lantai. Ya, itulah yang harus dia lakukan. Adiknya masih di bawah umur, Nesha tak ingin adiknya terkena gangguan mental bila kembali diperkosa.
Nesha sudah memutuskan, dia akan merelakan dan menyerahkan dirinya sendiri. Lagi dan lagi Nesha akan menggantikan posisi adiknya tercinta. Bukankah itu janjinya, janji kepada kedua orangtuanya untuk selalu menjaga adiknya.
Mendengar perkataan Nesha, Lewis tersenyum miring dan langsung melepaskan Diya.
"Bawa dia ke kamarku."
.
__ADS_1
.
.