Terjeret Ranjang Balas Dendam Mr. Lewis

Terjeret Ranjang Balas Dendam Mr. Lewis
Bab 11 ~ Api Amarah


__ADS_3

Nesha mendekati pintu baja, tapi tak disangka dia malah mendengar suara-suara aneh dari dalamnya. Semakin Nesha mendekat, semakin terdengar pula suara itu.


"Ahh ... Ah ....


Nesha menutup mulut dengan kedua telapak saat mendengar suara-suara aneh yang berasal dari dalam kamar. Nesha mengerutkan dahi saat merasa tak asing dengan suara tersebut. Untuk memastikan, Nesha pun menempelkan telinganya di pintu baju tersebut.


Betapa kagetnya Nesha, saat memastikan kalau suara itu adalah suara sang adik, Diya. Nesha yang kaget, khawatir, sekaligus panik langsung menggedor-gedor pintu tersebut sambil berteriak histeris.


"Diya!" teriak Nesha dari luar.


"Buka pintunya! Dasar bajingan! Cepat buka pintunya!" Nesha berontak ketika beberapa orang pengawal datang dan langsung menahannya.


"Lepaskan aku! Lepaskan adikku!" para pengawal tak peduli dengan teriakan Nesha, mereka tetap menahan dan akan membawa Nesha pergi.

__ADS_1


"Hentikan," cegat Lewis yang keluar dari kamar dengan jubah mandi yang menutupi tubuh kekarnya. Tak lupa pintu kamar dikunci olehnya.


"Kau iblis! Kau apakan Adikku? Dasar bajingan! Lepaskan Adikku!" jerit Nesha yang benar-benar telah habis kesabaran. Tak hanya adiknya yang koma, tapi Lewis juga menggagahi Diya, adiknya. Nesha tidak akan pernah memaafkan keduanya.


Nesha menatap Lewis lekat-lekat, seakan menyimpan wajah menyeramkan itu dalam memori ingatannya. Mendengar umpatan Nesha, Lewis terlihat begitu murka. Lewis berjalan mendekat, lalu mencengkram dagu Nesha erat hingga darah kembali mengalir dari sudut bibirnya. Perih yang teramat sangat itu berusaha Nesha tahan.


"Beraninya kau mengumpatku! Kau pikir siapa dirimu!" bentak Lewis yang emosinya sudah tidak lagi dapat dikendalikan. Apalagi Nesha berani membuat hasratnya menghilang dalam sekejab. Api kemarahan kini membara begitu besar. Bahkan, otot-otot serta urat-urat di wajah dan tubuh Lewis terbentuk membuatnya tampak semakin menyeramkan.


"Bawa dia ke Markas belakang!" titah Lewis membentak.


Nesha berontak dan menjerit agar mereka melepaskan, tapi tak satupun yang peduli. Bahkan, Asisten Kent pun tak dapat berbuat banyak. Asisten Kent hanya dapat menyaksikan pertunjukan mengerikan tersebut. Walau dalam hatinya sangat menyayangkan perubahan tingkah laku dan sikap Tuannya belakangan ini.


"Lepaskan!" tubuhnya yang lemah, mana mungkin sanggup melawan tubuh kekar dan tenaga kuat dua orang pengawal yang membawanya hingga tiba di dalam markas yang begitu luas. Ya, dari luar terlihat biasa saja, tapi di dalamnya benar-benar luas.

__ADS_1


Di setiap lorong maupun ruangan, ada banyak pengawal yang berjaga maupun berlatih. Semuanya memiliki postur tubuh tinggi menjulang, berwajah seram dengan banyak bekas luka, dan otot-otot yang sangat banyak, juga terdapat desain tato yang sama, di pundak dan leher mereka.


Nesha benar-benar ketakutan, tapi apa yang bisa dilakukan selain pasrah. Sebagai perempuan satu-satunya di dalam sana, tak dapat Nesha bayangkan apa yang akan terjadi kepada dirinya. Nesha hanya mampu berdoa dan memohon kepada Tuhan, agar selalu melindunginya, bila memang belum takdirnya.


Tapi, bila memang sidah saatnya, Nesha ikhlas. Satu yang pasti, Nesha bersumpah tak akan pernah mengakhiri hidupnya sendiri, semenderita dan sebesar apa pun ujian dan cobaan yang Tuhan berikan untuknya.


Dua orang pengawal itu mendorong Nesha hingga tersungkur di lantai berdebu itu. Semua pengawal mendekat, semuanya langsung membungkukkan tubuh mereka, memberi hormat kepada Mister mereka yang baru tiba. Nesha menengadah, menggenggam erat kedua tangan saat pria itu mendekat padanya.


Lewis berjongkok di hadapan Nesha, menjambak rambut Nesha, kemudian bertanya, "Masih punya nyali?" Lewis tersenyum nyalang. Nesha diam membatu, sekuat tenaga menahan sakit dan juga tangis.


"Kalian semua, berikan wanita ini pelajaran!"


.

__ADS_1


.


.


__ADS_2