Terjeret Ranjang Balas Dendam Mr. Lewis

Terjeret Ranjang Balas Dendam Mr. Lewis
Bab 14 ~ Bunuh Preston


__ADS_3

"Apa yang kau lakukan?" tanya seorang pengawal yang memergoki aksi Nesha. Nesha yang kaget tak menjawab, tapi hanya terdiam membatu. Pengawal itu membawa Nesha masuk ke dalam penjara. Nesha menghela napas berat karena gagal membuka pintu misterius tadi. Di dalam penjara sempit itu, tidak ada hal yang dapat Nesha lakukan, selain termenung memikirkan nasibnya dan juga nasib adiknya yang entah akan seperti apa.


***


Di kamar super luas milik Lewis. Ada seorang gadis bergaun tipis transparan, tengah meringkuk memeluk lutut di pojokan yang diapit dua dinding.


Air mata masih mengalir deras, kala mengingat adegan di mana Lewis menjelajahi tubuhnya. Walau adegan inti tak terjadi, tapi tetap saja pria itu sudah berhasil mencicipi senti demi senti dan inchi demi inchi tubuh gadis yang jelas masih di bawah umur tersebut.


Diya. Ya, dialah gadis malang itu. Gadis malang yang menjadi korban kelicikan seorang Lewis. Diya diancam, diberikan pilihan, tapi pada akhirnya dia tetap dijebak dan berhasil terjerat. Yang sebenarnya berkorban bukan hanya sang kakak yaitu Nesha. Tetapi juga Diya. Diyalah yang pertama kali berkorban.


Flashback On


Di ruangan VIP sebuah restoran terkenal. Duduk seorang gadis cantik dengan tubuh langsing, kulit putih, wajah oval, hidung lancip, bibir tipis, bulu mata lentik dengan dua pasang netra berwarna biru.


__ADS_1


Gadis berseragam SMA itu menundukkan kepalanya dengan tubuh bergemeretak ketakutan, kala melihat beberapa pria kekar di hadapannya. Apalagi pria yang memiliki tubuh paling kekar yang duduk tepat dihadapannya. Senyuman nyalang serta tatapan tajam membuat gadis cantik itu tak berani mengangkat wajahnya.


Hingga pada akhirnya sebuah tangan berotot mengangkat dagunya dengan pelan. Diya. Ya, Diyalah gadis cantik yang ketakutan itu. Diya dibawa ke sebuah restoran dengan iming-iming ada sesuatu yang ingin pria itu sampaikan tentang Kakaknya Nesha.


"Wanita ini benar adalah Kakakmu, bukan?" Seketika tubuh Diya menegang, matanya membulat sempurna, napasnya seolah berhenti, dan bibirnya kelu tak dapat digerakkan sama sekali ketika salah satu pria lain yang berdiri di sampingnya menodongkan pistol tepat di kepalanya.


"Kenapa diam? Jawab, wanita ini benar adalah Kakakmu, bukan?" kembali pria paling kekar itu bertanya sambil memperlihatkan sebuah laptop yang menampilkan video sang kakak yaitu Nesha, tengah menyapu di dalam kamar sebuah hotel. Ya, Kakaknya memang bekerja di hotel.


"I-iya." jawab Diya pelan, pria itu tersenyum miring mendengar jawaban Diya.


"Sa-sayang," jawab Diya dengan keringat dingin membasahi wajah dan juga tubuhnya. Diya berusaha tak bergerak sedikit pun, takut bila saja dirinya bergerak. Maka peluru akan bersarang di kepalanya.


"Bagus. Seorang adik memang harus menyayangi Kakaknya yang sudah banyak berkorban. Karena kamu adalah gadis baik yang sangat menyayangi Kakakmu, apakah kamu akan membiarkan pistol itu tertanam di kepala Kakakmu?" tanpa Diya sadari, setetes buliran bening meluncur begitu saja.


"Jangan, saya mohon jangan lakukan itu," rintih Diya dengan air mata yang mengalir deras.

__ADS_1


"Baiklah, aku tidak akan melukai Kakakmu. Tapi, kamu harus melakukan sesuatu untukmu, bagaimana?" tanya pria itu dan Diya langsung menganggukan kepala cepat tanpa memikirkan apa yang akan pria itu minta dia lakukan.


"Bagus. Kalau begitu, kau kenal pria ini?" Diya kembali menganggukan kepala saat pria itu memperlihatkan foto Preston yang juga memakai seragam sekolah yang sama dengannya.


"Pria ini adalah Adikku dan aku minta kamu untuk membunuhnya. Kalau tidak, maka nyawa kakakmu yang akan melayang. Bagaimana? Terserah padamu ingin pilih yang mana." Diya meneguk salivanya kasar. Apakah pria dihadapannya ini adalah orang gila? Bagaimana mungkin dia tega ingin membunuh Adiknya sendiri. Dan apa yang bisa Diya lakukan? Bagaimana mungkin seorang gadis polos dan baik sepertinya menjadi seorang pembunuh.


"Cepat jawab!" bentak pria di sampingnya mendorong kepala Diya dengan pistol.


"Akan saya lakukan!"


.


.


.

__ADS_1


__ADS_2